
Berhasil mengalihkan pembicaraan guna mempertahankan mood Istrinya itu tetap baik, Radit nampak menghela napas dan berharap, istrinya tidak menagih jawaban. Bukan berniat menghindar, tetapi permintaan seorang wanita yang tengah hamil terkadang memang terdengar aneh. Sementara jika suami tidak menurutinya, bisa-bisa sang Istri menangis dan mengambek seharian penuh.
Beruntung bagi Radit, karena Khaira seolah lupa dan dia dengan tersenyum turun dari mobil. Wanita itu kemudian membantu Arsyilla juga untuk turun dan mengambil kue yang sudah dia buat sendiri di rumah sebagai buah tangan untuk Mertuanya.
"Selamat sore Eyang...." sapa Khaira dan Arsyilla bersama kepada Bunda Ranti dan Ayah Wibi.
Memang sejak memiliki Arsyilla, Khaira juga sering kali memanggil kedua mertuanya itu dengan sebutan Eyang, untuk membahasakan penyebutan kepada Arsyilla.
"Eh ... Syilla cantik sudah datang sama Mama dan Papanya. Masuk Sayang...." ucap Bunda Ranti sembari menggandeng tangan Arsyilla dan membawanya masuk.
Akan tetapi, saat dari saja memasuki pintu dan melihat di ruang keluarga, Khaira nampak tertegun dengan keberadaan Fanny di sana. Fanny adalah putri dari sahabatnya Bunda Ranti di Jogjakarta yang saat itu berkuliah di London, Inggris.
Beberapa tahun yang lalu, saat Khaira masih berkuliah S2 di Manchester, Bunda Ranti sempat meminta tolong kepada Khaira untuk membantu Fanny mencari sebuah apartemen tipe studio di kota London. Akan tetapi, saat itu Fanny justru bersikap seolah tertarik pada Radit. Sehingga Khaira pun dengan terang-terangan mengatakan pada Fanny bahwa Radit adalah suaminya.
Melihat raut muka Khaira yang berubah, Radit pun menyadarinya. Pria itu kemudian merangkul bahu Istrinya itu dan menuntunnya ke dapur. Berdalih untuk menaruh buah tangan yang Khaira bawa. "Kita taruh kue nya di dapur dulu yuk Sayang."
Bumil itu pun mengangguk dan mengikuti suaminya menuju dapur. Radit kemudian, mendekap tubuh Istrinya itu dari belakang. "Jangan badmood Sayang ... baru datang kok sudah badmood sih. Mau kita pulang sekarang aja?" tawarannya kepada Khaira.
Kemudian Khaira menghela napasnya sembari menaruh ke dua tangannya di atas tangan suaminya yang tengah mendekapnya itu. "Enggak sih Mas ... Ya udah yuk, kita ke depan. Pasti ditungguin Bunda."
Radit kemudian membalik sejenak posisi badan Istrinya, hingga kini keduanya saling berhadap-hadapan. "Percaya sama aku Sayang ... Aku gak akan bakalan macam-macam. Janji." ucapnya sembari mengangkat jari kelingkingnya.
Khaira mengangguk dan menautkan jari kelilingnya di jari kelingking suaminya itu. "Janji loh ya...."
__ADS_1
"Iya. Janji Sayang...." jawabnya dengan penuh keseriusan.
Tidak berselang lama kemudian Radit dan Khaira bergabung di ruang tamu bersama Bunda Ranti, dan tamu yang datang dari Jogjakarta itu termasuk Fanny. Dengan bahagia, Bunda Ranti pun mengenalkan Radit dan Khaira kepada sahabatnya saat SMA itu.
"Jadi Radit ini anakku, dan Khaira itu menantuku, Sari...." ucap Bunda Ranti kepada temannya yang bernama Sari itu.
Perempuan paruh baya itu nampak tersenyum, sementara Fanny hanya mengamati Radit dan Khaira dengan wajah datar.
"Fanny, sudah pernah bertemu dengan mereka di Inggris kan?" tanya Bunda Ranti kepada Fanny.
Wanita itu nampak menganggukkan kepala. "Iya Tante ... waktu itu ketemu sama Kak Radit dan Khaira. Aku pikir mereka kakak-adik, ternyata Suami Istri." jawab Fanny sembari menatap Radit.
Wanita itu kemudian berdiri, dia meminta izin untuk ke kamar mandi. Akan tetapi, saat melewati Radit entah mengapa Fanny bisa terjatuh, hingga wanita itu terjatuh tepat di kursi sofa di sebelah Radit.
Merasa ada wanita lain yang bersikap ganjen kepada suaminya, Khaira benar-benar harus memasang alarm siaga sekarang ini. Pengalaman di masa lalu, benar-benar membuat Khaira tidak akan membuka cela bagi wanita mana pun untuk mendekati suaminya.
Sementara Radit nampak risih dengan perilaku Fanny yang nampak sengaja jatuh di sisi. Pria itu sejak tadi memilih duduk berdempetan dengan Khaira dan merangkul pinggang Istrinya dengan posesif.
Begitu Fanny telah kembali dari kamar mandi, Khaira dengan sigap berdiri dan menggeser posisi tempat duduknya. "Mas, aku yang duduk di sini saja ya. Di sini kan kena AC, lebih dingin. Gerah." ucapnya yang sesungguhnya hanya mencari alasan supaya Fanny tidak menempati sofa yang kosong di sebelah suaminya itu.
Bak gayung bersambut, Radit pun mengangguk dan tersenyum. "Iya ... kamu gampang gerah ya Sayang. Bumilku Cantik emang ya. Penting duduknya jangan jauh-jauh." sahut Radit yang kemudian berganti posisi duduk dengan Istri.
Sikap anak dan menantunya seolah tidak wajar, tidak seperti biasanya, Bunda Ranti lantas melihat pada sosok Radit, Khaira, dan juga Fanny.
__ADS_1
Sebagai seorang Ibu, entah mengapa Bunda Ranti merasakan ada sesuatu yang tidak beres. "Begini Jeng Sari, karena sudah malam, sebaiknya Jeng Sari dan Fanny segera pulang. Lagipula kasihan, Khaira yang baru hamil muda. Duduk lama-lama pasti tidak membuatnya nyaman."
Sekalipun dalam hatinya Bunda Ranti merasa tidak sopan karena telah meminta tamu untuk pulang lebih dulu, tetapi bagi Bunda Ranti itu jauh lebih baik. Dia tidak ingin ada masalah lagi di dalam kehidupan rumah tangga anak-anaknya. Biarlah dia akan dinilai tetap sopan, tetapi biduk rumah tangga anaknya bisa tetap berjalan langgeng.
Tidak berselang lama Tante Sari dan Fanny pun berpamitan. Seperti yang sudah-sudah, wanita itu nampak genit dan menatap Radit dengan sensual. Hal yang sungguh dibenci oleh Khaira. Bukan kepada suaminya, tetapi kepada wanita bernama Fanny itu.
Usai kepulangan mereka, Bunda Ranti lantas menatap Radit dan Khaira berganti. "Maaf ya ... Bunda tidak tahu." ucap Bunda Ranti yang sangat tahu dengan situasi yang tidak enak barusan.
Keduanya pun lantas menganggukkan kepalanya. "Tidak apa-apa Bunda. Khaira rasa, setelah dulu memaafkan Mas Radit dan menerimanya kembali, Khaira harus menutup celah dari berbagai arah. Selain Mas Radit yang harus membentengi diri, Khaira juga mau aktif bergerak tidak akan membiarkan Mas Radit jatuh lagi seperti dulu. Di London dulu, Fanny nampak menggoda Mas Radit dan menatapnya dengan sensual. Khaira benar-benar tidak suka Bunda." sebuah cerita lama yang akhirnya diungkapkan Khaira kepada Mertuanya itu.
Bunda Ranti pun membelalakkan matanya mendengar cerita dari Khaira. "Maafkan Bunda ya Sayang ... Bunda tidak tahu dengan sikap Fanny yang seperti itu kepada Radit. Lebih baik memang Bunda membiarkan mereka pulang. Bagi Bunda, itu jauh lebih baik. Sekalipun terasa tidak sopan, setidaknya Bunda tidak mau membuat rumah tangga kalian berdua dalam masalah. Terkhusus, sekarang kamu tengah hamil, harus dijaga baik-baik."
Mendengar ucapan dari Bunda Ranti, Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Iya Bunda ... Maaf juga jika tadi Khaira seolah bersikap tidak sopan kepada tamu. Maaf. Sayangnya, Khaira harus melakukan itu supaya Fanny tidak ganjen pada suami orang." ucapnya.
"Apa yang kamu lakukan sudah benar Sayang ... Jadilah sebuah perisai buat suamimu." nasihat dari Bunda Ranti kepada Khaira.
Sementara Radit semakin merangkul pinggang Istrinya itu dengan erat. "Makasih Sayang ... Bagaimana pun aku tidak akan berubah." ucap pria itu yang berkata dengan sungguh-sungguh bahwa dirinya tidak akan berubah.
"Dijaga baik-baik kepercayaan yang diberikan oleh Istrimu, Dit ... Lagipula, kamu sudah menjadi seorang Papa, anak kamu sudah mau dua. Kalau bersikap apa pun hati-hati. Sebagai pria, tidak dipungkiri godaan di luar itu banyak. Pandai membawa diri dan menjaga diri. Jangan merusak kepercayaan yang sudah Khaira berikan kepadamu." nasihat dari Bunda Ranti kembali beliau ucapkan untuk putranya itu.
"Iya Bunda ... Radit selalu ingat nasihat dari Ayah dan Bunda. Radit janji tidak akan merusak kepercayaan yang sudah Khaira berikan. Seumur hidup, hanya ada Khaira di hati Radit. Tidak akan ada yang lain. Radit ingin menua bersama Khaira." ucap Pria itu dengan sungguh-sungguh sembari menatap wajah cantik istrinya dengan begitu lekat.
Merasakan pengakuan dan ucapan yang tulus dari suaminya, Khaira pun tersenyum. Hatinya terasa begitu hangat dengan keinginan suaminya yang ingin menua bersamanya. Pun demikian dengan Khaira, dia juga memiliki keinginan yang sama. Keinginan untuk menua bersama pria yang paling dicintainya itu.
__ADS_1