Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Senja di Candi Prambanan


__ADS_3

Keesokan harinya, Khaira dan Radit memilih mengikuti kedua pasang orang tuanya untuk menghadiri pernikahan kerabat mereka. Namun, Radit sudah mengatakan kepada orang tua dan mertuanya bahwa jam 3 sore, mereka akan pergi ke Candi Prambanan.


Baik Keluarga Ammar dan Keluarga Wibisono pun mengizinkan dengan syarat bahwa Khaira yang tengah hamil tidak boleh kelelahan. Jika perutnya terasa kencang, maka mereka harus segera kembali ke hotel untuk beristirahat.


Pasangan muda itu pun hanya mengangguk dan mendengarkan setiap nasihat dari para Ayah dan Bundanya.


Khusus hari ini, Radit dan Khaira memilih untuk tidak sarapan di hotel. Si Bumil sudah memiliki agenda ingin menikmati Gudeg di Sentra Gudeg Mijilan, Jogjakarta. Radit pun tidak keberatan, dia justru senang hati membawa istrinya menuju Mijilan, dan sarapan Gudeg di sana.


Begitu sampai di Mijilan, Radit dan Khaira memilih salah satu warung penjual Gudeg yang berderet hampir sepanjang malam. Kini di hadapan mereka telah tersedia sepiring nasi Gudeg yang lengkap dengan sambal goreng, ayam, telor, dan tentunya Gudegnya itu sendiri terbuat dari buah Nangka muda.


Khaira nampak memakan lahap sepiring nasi Gudeg itu. "Ini enak banget, Mas." ucapnya sembari menyuapkan sesendok nasi Gudeg ke dalam mulutnya.


Radit hanya tersenyum. "BM nya Bumil udah kesampean ya? Ada yang mau diminta lagi sebelum ke rumah kerabat yang punya hajatan?" tanya Radit.


Dengan segera Khaira menggelengkan kepalanya. "Untuk kali ini udah dulu, aku malahan enggak enak di Jogjakarta malahan aku banyak maunya."


"Gak papa Sayang, kan mumpung di Jogjakarta lagian yang kamu inginkan masih normal kok. Terus ada yang bikin aku seneng, karena kamu sehat, enggak susah makan. Cuma kadang aku juga khawatir karena kamu gak seperti wanita hamil yang lemes, mual, muntah, gitu-gitu. Kamu sehat banget malahan." ucap Radit jujur.


"Makasih ya Mas. Jujur kamu yang bikin masa-masa kehamilanku lebih menyenangkan dan bahagia tentunya." Khaira melemparkan senyuman dan menatap wajah suaminya.


"Iya Sayang, aku cuma bisa mendampingimu dan terus menjadi support system buat kamu. Aku tahu yang kamu jalani sekarang lebih berat, kita jalani semua bersama ya." ucap pria itu dengan tulus.


Usai menikmati makanan tradisional khas Jogjakarta, Radit dan Khaira menuju ke Kota Gede untuk mengunjungi tempat pernikahan kerabatnya. Di sebuah gedung pertemuan yang sudah didekorasi sedemikian rupa dan sebuah janur yang melengkung, mereka berdua memasuki tempat itu.


"Jadi inget waktu nikahan dulu." ucap Radit begitu mereka sudah duduk berdua.


Khaira sontak menoleh pada suaminya itu. "Emang kamu ingat acara pernikahan kita?" tanya Khaira.

__ADS_1


"Inget lah. Semua tentang kita gak akan aku lupa, cuma dulu di tempat kita enggak memakai Janur itu ya Sayang. Tapi ada satu yang paling aku ingat waktu pernikahan kita." ucap Radit sembari mengenang momen pernikahan mereka.


"Apa?" sahut Khaira.


"Kamu ... Kamu cantik banget saat pernikahan kita itu, Sayang. Pengantin wanita paling cantik yang pernah ku lihat." Radit menoleh pada istrinya dan menggenggam tangan lembut milik sang istri.


Khaira hanya mengerucutkan bahunya. "Gombal..."


Radit terkekeh geli. "Serius, kamu cantik banget waktu pernikahan kita."


Obrolan mereka terus berlanjut, hingga acara telah usai. Tidak lupa mereka berkenalan bersama kerabat yang lain dan mengambil foto bersama.


Menjelang jam tiga sore, keduanya pamit lantaran ingin menuju ke tempat selanjutnya yaitu Candi Prambanan.


Jalanan Kota Jogja yang tidak macet, hanya kurang lebih setengah jam mereka telah sampai di Candi Hindu yang tersohor dengan keindahannya dan Kisah Roro Jonggrang yang begitu dikenal oleh masyarakat Jawa.


Usai membeli tiket, kedua berjalan menuju Pelataran Candi Prambanan. Beberapa kali Radit meminta istrinya untuk mengambil pose dan ia sudah layaknya seorang fotografer pribadi untuk istrinya.


"Mau masuk ke Candi Durga (Candi terbesar yang ada di dalam kompleks Candi Prambanan) boleh Mas?" tanya Khaira kepada suaminya.


Radit tidak langsung mengiyakan, ia melihat berapa banyaknya anak tangga yang tingkat kemiringan cukup curam. Dengan berat hati, ia tidak mengizinkan istrinya untuk memasuki Candi itu. "Sayang, itu anak tangganya banyak banget, kemiringannya juga curam. Kamu sedang hamil, kasihan Baby A. Ditahan dulu ya?"


Khaira menghela nafasnya, padahal ia hanya ingin memasuki Candi Durga itu saja. Karena di dalamnya terdapat patung Durga, namun entah mengapa masyarakat mengembangkan oral tradition bahwa itu adalah Roro Jonggrang yang dikutuk menjadi batu oleh Bandung Bondowoso.


Ia turun mengamati anak tangga yang banyak dan cukup curam itu, akhirnya ia memilih menuruti suaminya. "Ya sudah deh, cari tempat duduk aja yuk Mas. Sambil nunggu sunset. Emang sunset di sini bagus Mas?"


Dengan menggandeng erat tangan istrinya, "iya ... di sini salah satu spot untuk melihat Sunset, Sayang. Sekarang kita duduk di Candi Sewu, duduknya menghadap ke arah Barat. Bentar lagi udah Senja kok." ucapnya sembari membawa istrinya ke pugaran batu-batu candi yang disebut Candi Sewu itu.

__ADS_1


Keduanya pun lantas duduk bersama, menghadap ke arah Barat, menunggu hingga surya terbenam dan langit yang semula biru akan berubah menjadi oranye kemerah-merahan. Ditemani angin yang bertiup sepoi-sepoi, dan surya yang seolah bergerak lambat menuju peraduannya.


Begitu telah duduk, Khaira langsung menyandarkan kepalanya di lengan suaminya. Wanita hamil itu hanya diam dan bersandar sepenuhnya di lengan suaminya.


"Kenapa Sayang, kamu capek? Atau perutnya kenceng?" tanya Radit khawatir lantaran Khaira hanya diam dan bersandar padanya.


Khaira sedikit mendongakkan kepalanya melihat wajah suaminya. "Aku enggak capek kok Mas, seneng aku malahan. Bisa ke Candi Prambanan sama kamu. Mas Adit nya Aira...." ucapnya dengan tersenyum manis kepada suaminya itu.


Radit pun merangkul bahu istrinya itu. "Kamu ingat masa kecil kita dulu ya Sayang? Aira nya Mas Adit..." ucapnya sembari satu tangannya mengelus perut istrinya. "Gak nyangka ya, aku sudah kenal Istriku sejak kecil. Dulu di Pelataran Candi Prambanan kita lari-lari, maen-maen, sekarang kita di sini bersama Baby A yang tidak lama lagi akan menyempurnakan kebahagiaan kita berdua. Khaira memang hanya untuk Radit, dan Radit hanya untuk Khaira. Love U Sayang...."


Khaira tersenyum, ia menggenggam jari jemari suaminya. "Love U Too Mas Raditku Sayang...."


Khaira kembali mendongakkan kepalanya, lalu mencuri satu ciuman di pipi suaminya itu.


Cup.


Khaira lantas menarik wajahnya sambil tersenyum malu-malu.


Radit berbisik di telinga istrinya. "Kamu berani banget sih Yang, ini di tempat umum loh."


Khaira hanya mengedikkan bahunya. "Dulu kamu juga menciumku di bawah Menara Eiffel, Mas. Sekarang giliran aku menciummu di bawah megahnya Candi Prambanan. Lagipula itu Baby A yang nyuruh aku buat nge-sun Papanya."


Keduanya tertawa bersama sembari menatap eloknya Senja yang menghiasi langit Kota Jogjakarta.


"Mas...." lagi Khaira memanggil suaminya.


"Hmm, apa?" Radit menoleh dan melihat istrinya.

__ADS_1


"Aku tresna sliramu (aku cinta kamu dalam bahasa Jawa)." ucapnya dengan wajahnya yang memerah lantaran menggodai suaminya.


"Iya Bumilku Cantik, I Love U So Much...."


__ADS_2