
Setelah proses bersalin dan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) telah dilakukan Khaira dibawa ke ruang perawatan, sementara bayinya dibawa ke ruang perawatan bayi untuk dibersihkan dan mendapat pemeriksaan menyeluruh lainnya.
Radit masih saja menggenggami tangan istrinya dan menciumi punggung tangannya. "Melihat perjuanganmu, aku ketakutan banget Sayang. Sekarang aku lega, karena kamu berhasil. Kamu wanita yang hebat Sayang." ucapnya tulus.
Khaira yang sudah dibersihkan, walaupun ia kesakitan dan kelelahan, tetapi semuanya sebanding ketika melihat buah hatinya telah terlahir ke dunia.
"Kamu ketakutan tadi ya Mas?" tanyanya kepada suaminya.
Radit segera menganggukkan kepalanya. "Banget. Apalagi saat pandangan mata kamu mulai meredup dan kamu bilang tidak kuat, sesak banget di hati aku, Sayang. Jangan seperti itu lagi, aku benar-benar gak bisa Sayang." ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Khaira tersenyum. "Makasih Mas, sudah menemaniku berjuang. Aku tadi juga sebatas menguatkan diri saja sih, Mas. Aku sudah lemes banget. Eh, enggak ngabarin Ayah dan Bunda, Mas? Sekarang kan udah selesai prosesnya."
Radit melihat pada istrinya. "Kamu enggak pengen istirahat dulu? Masih kecapean enggak? Aku baca pasca bersalin, wanita perlu waktu istirahat Sayang. Beri waktu sejenak buat diri kamu sendiri." ucap Radit dengan serius.
Khaira tersenyum pada suaminya. "Makasih udah memperhatikanku ya Mas, tapi dikabarin aja gak apa-apa kok Mas. Kan aku tetap istirahat ini."
Mendengar istrinya, Radit segera menghubungi orang tua dan mertuanya. Dia hanya mengabarkan bahwa Khaira telah melahirkan bayi perempuan dengan sehat, lengkap, dan selamat.
Tidak lama setelahnya bayi mereka kembali diantar oleh Perawat di dalam box bayi dan ditempatkan di sisi Khaira.
"Baby nya sudah dibersihkan ya Bu, sedang bobok bayinya."
Begitu bayi yang berkulit bersih itu di tempatkan di sisi brankar Khaira dalam sebuah box bayi, keduanya langsung menatap bayi mungil yang tertidur dalam bedongan itu.
"Bulu matanya lentik kayak kamu Sayang." ucap Radit mengamati bayinya yang tengah tertidur itu.
__ADS_1
"Tapi sisanya keliatannya kayak kamu semua deh, Mas." ucap Khaira sembari mengerucutkan bibirnya. "Mama cuma dapat bulu matanya aja sih." ucapnya.
Radit tertawa. "Karena waktu hamil, nempel Papa terus sih. Jadi begitu lahir wajahnya kayak Papa ya..." ucap Radit.
"Radit junior banget..." Ucap Khaira. "Namanya Arsyila siapa Mas?" tanya Khaira menelisik pada suaminya.
Radit hanya tersenyum, lalu duduk di tepi brankar istrinya. "Arsyila Kirana Putri Raditya, gimana menurut kamu Sayang?"
Khaira hanya mengernyitkan keningnya, ia tidak mengira suaminya akan memberikan nama yang begitu bagus untuk anaknya. "Okay, setuju. Halo Arsyila Sayang, nama kamu bagus banget Sayang. Anaknya Papa banget ini...." ucap Khaira gemas walaupun bayinya masih saja tertidur.
Beberapa saat kemudian Ayah Wibi dan Bunda Ranti, Ayah Ammar dan Bunda Dyah bersamaan datang ke Rumah Sakit. Mereka tidak menyangka bahwa Khaira telah melahirkan. Bahkan Radit baru memberitahu setelah proses persalinan selesai.
Begitu datang, Bunda Ranti langsung memukul lengan anaknya. "Kamu memang nakal ya, Dit. Baru ngabarin setelah persalinan selesai. Jantung Bunda rasanya mau copot mendapat kabar Khaira sudah melahirkan." ucap Bunda Ranti.
Sementara Khaira tengah memeluk Bunda Dyah. "Terima kasih dulu sudah berjuang melahirkan Khaira ya Bunda, sekarang Khaira mengalami sendiri bagaimana sakitnya." ucap Khaira yang menangis dipelukan Bundanya.
Dengan cepat Khaira menggelengkan kepalanya. "Mas Radit selalu menemani Khaira kok, Bunda..."
Pandangan mata orang tua dan mertuanya langsung tertuju kepada Radit. "Terima kasih sudah mendampingi Khaira ya, Dit. Semua wanita akan bahagia di saat hidup dan mati memperjuangkan anaknya ditemani oleh suaminya. Sekarang kamu tahu bagaimana perjuangan Istri kamu kan, Dit. Jika kamu masih berani nyakitin Khaira lagi, Bunda akan benar-benar memisahkanmu dari Khaira."
"Iya Bunda ... Radit adalah saksi begitu besarnya perjuangan Khaira. Iya Bunda, Radit sudah benar-benar berubah. Radit mengabdikan hidup Radit sekarang untuk Khaira dan Arsyila." ucap pria itu dengan penuh keyakinan.
"Jadi anak kamu, namanya Arsyila ya?" tanya Ayah Wibi.
Radit segera menganggukkan kepalanya. "Arsyila Kirana Putri Raditya, dengan panggilannya Arsyila, Yah...." ucapnya dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
Sontak orang tua dan mertuanya langsung melihat bayi perempuan yang begitu cantik tertidur di dalam box bayi itu.
"Mengingatkan kita pada Khaira waktu masih bayi ya, Yah...." Ucap Bunda Dyah kepada Ayah Ammar.
"Iya ... Khaira dulu juga sekecil ini. Sekarang dia sudah jadi Ibu, dan kita menjadi Kakek dan Nenek." ucap Ayah Ammar sembari matanya berkaca-kaca.
"Berat badan dan panjangnya berapa Khai?" giliran Bunda Ranti yang bertanya kepada Khaira.
"Berat badannya 3 kilogram dan panjangnya 50 centimeter, Bunda." jawab Radit dengan cepat.
"Cantiknya cucu Eyang ... nanti panggil kami Eyang Kakung dan Eyang Putri saja ya Arsyila, Sayang...." ucap Bunda Ranti.
Khaira tersenyum melihat kebahagiaan yang tercetak jelas di wajah orang tua dan mertuanya. Mengingat Arsyila adalah cucu pertama bagi Keluarga Ammar dan Keluarga Wibisono sudah pasti kasih sayang dan perhatian dari dua keluarga dicurahkan penuh untuk Arsyila.
"Bikin satu lagi, Khai ... jadi nanti satu bisa nitip di rumah Eyang Wibi. Satu lagi nitip di rumah Kakek Ammar." ucap Bunda Dyah yang mengundang tawa dari semuanya.
Khaira lantas menggelengkan kepalanya. "Khaira sudah trauma, Bun ... sakit banget, Khaira mampir menyerah di tengah jalan. Untung Mas Radit selalu menyemangati Khaira." jawab Khaira sembari menggenggam tangan suaminya.
"Radit juga sudah kapok, Bunda ... kasihan Khaira. Enggak tega, melihat Khaira kesakitan seperti itu." ucap Radit dengan mata berkaca-kaca mengingat kembali beberapa jam yang lalu bagaimana istrinya yang nyaris saja menyerah saat melahirkan Arsyila, putrinya.
"Nemenin istri melahirkan kapok, tetapi buatnya enggak kapok ya, Dit." celetuk Ayah Wibi yang membuat semua orang terkekeh geli.
Radit mengambil tempat di sisi Khaira. "Kakek dan Eyang nya baru seneng menyambut cucu pertama. Sini Mama nya dipeluk Papa saja." ucapnya sembari merangkul bahu istrinya.
"Euhm, makasih Papa ... aku jadi enggak merasa dicuekin karena Ayah dan Bunda lebih perhatian ke Arsyila. Dia lahir langsung semua kasih sayang tertuju padanya ya, Mas." ucap Khaira.
__ADS_1
Radit menganggukkan kepalanya. "Iya, karena cucu pertama Sayang. Sudah dinanti cukup lama oleh dua keluarga. Akan tetapi, jangan khawatir aku tetap sayang dan cinta sama kamu, Sayang ... selamanya kamu adalah Khaira nya Mas Radit... Iya kan?"
"Euhm, iya ... dan, hari ini kita officially menjadi Papa dan Mama nya Arsyila...." ucap Khaira sembari bersandar di lengan suaminya.