Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Pijar Harapan


__ADS_3

Beberapa jam usai mengikuti prosedur kuretase dan efek obat bius pun telah hilang. Perlahan kelopak mata Khaira mengerjap hingga bulu matanya yang lentik nampak bergerak beberapa kali. Hingga akhirnya mata itu pun terbuka. Membiarkan pandangannya masih berkabut, hingga retinanya menangkap dengan jelas seorang pria yang duduk di sebelah brankar dengan menggenggam erat tangannya. Genggaman yang seolah tidak akan membiarkan Khaira seorang diri. Genggaman tangan yang begitu hangat hingga menyentuh sanubari Khaira.


"Mas...." dipanggilnya lah suaminya itu.


Radit yang menaruhkan kepalanya di tepi brankar pun perlahan mendongak dan menatap Khaira. "Sudah sadar Sayang? Gimana masih sakit?" tanya Radit sembari mengusap lembut perut Khaira.


Khaira menggelengkan kepalanya, tetapi air matanya berderai membasahi kedua pipinya. "Mas, calon anak kita...." ucapnya dengan lidah yang terasa kelu dan air matanya berlinang begitu saja.


Begitu sadar, Khaira masih ingat dengan prosedur kuretase yang diucapkan oleh Dokter Indri saat Khaira mengikuti proses Dilatasi atau pemberian obat atau menempatkan alat bernama Laminaria yang mampu melunakkan leher rahim dan membuatnya melebar. Usai itu, Khaira sudah tidak sadarkan diri lagi.


Menyadari kesedihan yang dialami oleh istrinya, Radit kemudian menggeser posisinya. Kini dia mengambil tempat duduk di tepi brankar Khaira, pria itu dengan cepat memeluk erat tubuh istrinya yang sedang rapuh. Menyalurkan kasih sayang, kekuatan, dan ketulusan melalui pelukan dan usapan di punggung istrinya.


"Tidak apa-apa Sayang ... Allah lebih menyayanginya. Dia sudah menjadi malaikat di surga sana." ucap Radit yang berusaha menguatkan istrinya.


"Kamu yang kuat ya ... kita jalani ini bersama-sama. Menangis boleh aku peluk." lagi ucapnya dengan masih memeluk Khaira.


Radit kemudian diam, dia memberi waktu kepada istrinya untuk menangis. Pria itu hanya memeluk dan mengusap lembut punggung Khaira. Di dalam kamar Rumah Sakit itu hanya terdengar isakan Khaira yang seolah memenuhi seluruh kamar.


Sekian menit berlalu dan Khaira masih saja terisak. "Sabar ya Sayang...." ucap Radit dengan begitu lembut.


Khaira menenangkan sejenak hatinya. "Aku rasanya sedih dan kehilangan banget, Mas ... walau aku tidak ingin menangis, tetapi air mataku keluar dengan sendirinya." ucap Khaira sembari terisak.

__ADS_1


Radit kemudian mengurai sejenak pelukannya dengan kedua tangannya memegang kedua bahu istrinya. Pria itu menatap wajah istrinya, lalu jarinya merapikan rambut istrinya, setelah dia menyeka air mata yang masih saja berlinangan. "Itu perasaan berduka karena kehilangan Sayang ... gak papa. Dalam harimu yang mendung dan berkabut mendung pun, aku ada untuk menemani kamu, Sayang. Kamu mau menangis lagi boleh ... aku peluk."


Tanpa banyak bicara, Khaira kembali membenamkan wajahnya ke dalam dada suaminya. Menumpahkan semua kesedihan dan rasa kehilangan dalam pelukan suaminya.


Begitu lama Khaira menangis, hingga dia tertidur di dalam pelukan suaminya. Duka kehilangan dan menangis sekian lama membuat Khaira begitu kecapean, hingga dia pun tertidur dengan masih terisak.


Pelan-pelan Radit menidurkan istrinya, lalu menyelimutinya. Tidak dipungkiri perasaan seorang Ibu yang begitu kehilangan dengan bakal bayi mereka. Duka itu pasti ada, kecewa juga pasti. Akan tetapi, dalam semua yang berada di bawah kolong langit ini ada kedaulatan Sang Pemilik Alam Semesta. Saat Dia menghendaki sesuatu terjadi maka itulah yang terjadi, sementara jika tidak juga itulah yang terjadi.


Radit memandangi wajah istrinya yang terlelap sayu, bahkan wanita itu beberapa kali masih terisak. Radit mengelus lembut puncak kepala Khaira.


"Semua yang terjadi atas izin Allah, Sayang ... Dia mengizinkan kita, mengizinkan kamu merasakan semua ini karena Dia yakin bahwa kita mampu, kamu mampu. Istirahatlah Sayang...." ucapnya kemudian mendaratkan kecupan di kening Khaira.


Radit kemudian memilih tidur di sofa yang berada tidak jauh dari brankar Khaira. Radit sungguh berharap, esok ketika sang Surya menyapa, Khaira bisa melupakan kesedihannya.


Saat surya menyapa perlahan, menunjukkan senyuman yang samar-samar hingga sinarnya masuk melalui setiap tirai jendela berwarna putih itu. Khaira perlahan mengerjapkan matanya. Kelopak matanya terbuka perlahan, dan pemandangan pertama yang dia lihat adalah suaminya yang tengah duduk dengan sorot mata yang seolah memindai Khaira.


Radit perlahan tersenyum dan berjalan menghampiri Khaira. "Morning...." ucapnya seraya mengelus puncak kepala Khaira.


Khaira hanya mampu tersenyum pias. "Pagi Mas...." jawabnya dengan suara yang lirih.


"Sudah baikan? Atau masih sakit?" tanya Radit yang mengkhawatirkan istrinya itu.

__ADS_1


Khaira menggelengkan kepalanya. "Aku baik-baik saja kok." sahutnya dengan lirih.


Radit kemudian kembali merangkul bahu istrinya. "Kamu pasti kuat, Sayang ... kita hadapi bersama ya. Di kemudian hari, kalau kita sudah sama-sama siap, kita bisa program hamil lagi. Jangan sedih, kamu punya aku. Kita terus berdoa karena doa adalah pijar harapan bagi kita berdua."


Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Iya ... terima kasih sudah mendampingiku di hari terburukku." ucapnya.


Radit pun menganggukkan kepalanya. "Tentu Sayang ... tentu, aku akan mendampingimu selalu. Kita nunggu pemeriksaan Dokter ya, kalau semua sudah baik, kita bisa pulang hari ini. Kamu kangen kan sama Arsyila?"


"Iya ... aku kangen sama Arsyila." jawabnya.


"Sekarang kita sama-sama fokus pada Arsyila dulu ya Sayang ... bersyukur kita sudah memiliki Arsyila, memiliki seorang bayi saat hari kita mendung seperti ini, senyuman dan tawa seorang bayi memberikan angin sejuk buat kita berdua." ucap Radit sembari menggenggam tangan Khaira.


Tidak berselang lama, Dokter Indri kembali visiting dan memastikan keadaan Khaira.


"Apa masih sakit Bu?" tanya Dokter Indri kepada Khaira.


Khaira menggelengkan kepalanya. "Tidak Dok ... sudah baikan."


"Kondisi Ibu sudah baik ya ... selama 6-8 jam, juga tidak terjadi pendarahan. Jadi, Ibu sudah bisa pulang. Nanti perawat akan datang untuk melepas infus dan masih ada obat yang harus diminum ya Bu." Penjelasan dari Dokter Indri yang diangguki oleh Khaira.


"Dok, di lain waktu selesai kuretase apa saya masih bisa hamil, Dok?" Khaira bertanya karena dia adalah orang awam. Memastikan di kemudian hari dia masih bisa hamil dan memberikan seorang adik untuk Arsyila kelak.

__ADS_1


Dokter Indri pun tersenyum. "Bisa Bu ... sebab banyak pasien pasca melakukan kuretase juga bisa hamil. Justru rahim Ibu sudah bersih sekarang, tidak ada jaringan maupun sisa plasenta yang tertinggal di rahim karena sudah bersih."


Mendengar langsung jawaban dari Dokter Indri, Khaira merasa lega. Kelak di kemudian hari dia masih ingin merasakan kehamilan sekali lagi, dan memberikan seorang adik bagi Arsyila nanti. Memang tidak dalam waktu dekat, tetapi Khaira menyimpan harapan di kemudian hari nanti.


__ADS_2