
Di hari weekend ini Radit memutuskan untuk menjual rumah yang semula ia beli untuk Felly. Sejak peristiwa talak yang ia ucapkan atas Felly, pria seolah merasa bebas tanpa tekanan, hubungan toxic yang membelenggunya berakhir sudah. Setelah semuanya selesai, Radit kembali pulang ke rumah yang sebelumnya ditinggali Khaira. Rumah hadiah pernikahan dari kedua orang tuanya kembali ia diami seorang diri. Lebih dari itu, Radit pun juga menempati kamar tidur Khaira.
Suratan takdir yang berbarengan dengan berjalannya waktu seolah nampak mempermainkan manusia sebagai pelakunya. Jika dulu Khaira yang seorang diri menghuni rumah minimalis dua lantai berteman sepi, kini Radit lah yang menjalani itu. Jika dulu saat malam pertama, Radit mengatakan tak akan menempati kamar Khaira, usai kepergian Khaira, justru ia sendiri yang menempati kamar Khaira. Lantaran hari ini weekend, Radit bertujuan untuk mengunjungi kediaman orang tuanya.
Sore hari, Radit tiba di rumah Ayah Wibi dan Bunda Ranti. Ini adalah kunjungan pertamanya ke rumah orang tuanya sejak Khaira pergi ke luar negeri.
"Ayah, Bunda... Radit pulang." sapanya ketika memasuki pintu rumah orang tuanya.
"Masuk-masuk. Anak Bunda pasti kesepian kan? Masuk...." suara renyah dan hangat dari Bunda Ranti terdengar menyapa kepada putra semata wayangnya itu.
Radit pun masuk, lalu ia menuju ruang keluarga.
"Sudah lama ya Dit, gimana rumah sepi?" tanya Ayah Wibi yang juga berada di ruangan keluarga.
"Iya Yah. Sepi...."
"Ya sabar Dit, Long Distance Married memang berat. Yang penting dijalani dengan komitmen. Tanpa komitmen akan sulit untuk bertahan. Mereka yang berhasil saat menjalani Long Distance Married tentunya juga berkomitmen penuh untuk menunggu dengan setia." Nasihat Ayah Wibi sangat bijak. Sementara Radit hanya diam dan menganggukkan kepala mendengar petuah dari Ayahnya.
"Hmm, Ayah dan Bunda ... sebenarnya ada yang ingin Radit bicarakan kepada Ayah dan Bunda." Ucap pria itu sambil menundukkan kepalanya.
Sontak perhatian Ayah Wibi dan Bunda Ranti langsung tertuju pada Radit yang wajahnya nampak cemas.
__ADS_1
"Ayah, Bunda..." Radit menjeda ucapannya sejenak, ia mengamati wajah kedua orang tuanya yang nampak menunggunya berbicara. "Radit mau meminta maaf kepada Ayah dan Bunda. Karena Radit sudah melakukan kesalahan besar. Radit menyakiti Khaira, Yah... Bun..."
Mendengar ucapan Radit, Ayah dan Bunda nampak berpikir apa yang sesungguhnya terjadi dengan rumah tangga keduanya yang tidak mereka ketahui.
"Menyakiti bagaimana? Bukankah selama ini rumah tangga kalian berdua adem-ayem. Maksud kamu apa?" Ayah Wibi nampak tidak sabar dengan anaknya tersebut.
"Radit sudah menyakiti Khaira sejak awal pernikahan kami. Tanpa sepengetahuan Ayah dan Bunda, Radit menikahi Felly secara siri, dan usai itu Radit juga membawa Felly tinggal di rumah yang Ayah belikan sebagai hadiah pernikahan untuk Radit dan Khaira."
Bunda Ranti seketika menangis mendengar pengakuan Radit. "Kenapa kamu bisa bertingkah laku seperti itu Dit? Bunda malu, Dit. Malu dengan diri sendiri karena tidak bisa mendidik kamu dengan baik. Bunda juga malu dengan Khaira karena tak pernah sedikit pun Khaira mengatakan keburukanmu. Bunda malu, karena anak Bunda sendiri bisa menyakiti istrinya sendiri seperti itu."
Radit yang semula duduk di kursi, kini ia bersimpuh di hadapan Ayah dan Bundanya.
"Maafkan Radit ... Radit benar-benar menyesal."
"Karena dari awal pernikahan ini, Radit tidak mencintai Khaira, Yah ... Bahkan sebelumnya Radit pernah mengenalkan Felly kepada Ayah dan Bunda tetapi respons Ayah dan Bunda langsung tidak baik saat itu. Radit kecewa karena harus menjalani pernikahan dengan gadis yang tidak pernah Radit kenal. Tetapi kini, Radit menyesal Ayah. Felly nyatanya cuma memanfaatkan Radit dan kami sudah berpisah, Radit sudah mengakhiri hubungan dengan Felly."
Tak ada lagi yang Radit tutupi, pria dewasa itu dengan terbuka mengakui kesalahannya.
"Ayah dan Bunda sudah tahu dari awal kamu membawa Felly kesini pasti dia tidak benar-benar mencintaimu. Sekarang kamu tahu sendiri motifnya, walau terlambat."
"Iya Ayah. Radit sangat menyesal. Radit lebih menyesal sekarang karena Radit gagal menjadi suami yang baik untuk Khaira. Mungkin karena sudah terlalu tersakiti dengan Radit, Khaira sampai meninggalkan Radit tanpa pamit dan pesan."
__ADS_1
Ayah menggeleng mendengar perkataan Radit. Tidak menyangka rumah tangga anaknya nampaknya adem ayem justru banyak masalah di dalamnya.
Kembali Ayah nampak berpikir dan menimbang-nimbang sebelum berkata kepada Radit. Ayah Wibi juga memikirkan Khaira, yang ternyata pergi dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Baiklah Dit, kalau begitu. Sekarang Ayah minta kamu ceraikan saja Khaira. Jangan menambah luka di hatinya. Lagipula perbuatanmu ini tidak termaafkan." ucap Ayah Wibi dengan bibirnya yang bergetar, orang tua pasti berharap kebahagiaan anaknya. Mendoakan rumah tangga anaknya berjalan dengan baik, tetapi saat mengetahui bahwa anaknya sendiri yang telah menyakiti Khaira, justru Ayah Wibi berpikir memutuskan pernikahan keduanya adalah langkah terbaik. Ayah pun memikirkan untuk membebaskan Khaira dari jerat pernikahan dengan putranya sendiri, Radit.
Mendengar perkataan Ayah Wibi, Radit sontak menggelengkan kepalanya. Air mata juga keluar dari pelupuk matanya.
"Tidak Ayah. Radit tidak akan menceraikan Khaira. Radit tidak mau berpisah dengan Khaira. Tidak Ayah...." ucapnya pilu yang justru membuat Bunda Ranti semakin terisak dalam tangisnya.
"Yang kamu lakukan sudah kelewatan Radit, bebaskan Khaira, dia berhak bahagia. Sekali pun pernikahan kalian berakhir, Ayah dan Bunda tetap menjadikan Khaira sebagai anak kami. Kami tetap menyayangi Khaira." ucap Ayah Wibi.
"Tidak Ayah. Radit tidak mau, karena perasaan Radit sudah berubah, Yah. Radit cinta sama Khaira. Radit mau minta maaf sama Khaira."
"Begitu banyak luka yang kamu berikan, apa kamu yakin Khaira akan memaafkanmu? Ayah dan Bunda pun tak yakin bahwa Khaira akan memaafkanmu." kini giliran Bunda Ranti yang berbicara.
"Radit kehilangan Khaira, Bun... Radit banyak salah sama Khaira, Radit harus meminta maaf kepada Khaira."
"Meminta maaf secara langsung itu mustahil, Dit. Kalian terpisah jauh antara Jakarta dan Manchester. Tidak mungkin kamu bisa meminta maaf secara langsung." Sanggah Ayah Wibi.
"Radit bisa meninggalkan semuanya Ayah, tapi jangan pisahkan kami. Radit benar-benar menyesal. Radit cinta sama Khaira, Yah. Radit bisa mati kalau sampai berpisah dengan Khaira. Sekarang saja Radit hanya bertahan hidup, Yah. Radit kehilangan Khaira, Radit harus lakukan sesuatu untuk menebus dosa-dosa yang sudah Radit lakukan." ucapnya lirih sembari bersimpuh di kaki kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Sudah terlambat, Dit. Nasi sudah menjadi bubur. Dan, kami pun tidak tahu apa Khaira bisa memaafkanmu setelah semua yang kamu lakukan pada Khaira."