
Sudah tiga hari lamanya, Radit berada di Rumah Sakit. Hari ini berdasarkan hasil pemeriksaan dari Dokter, dirinya diperbolehkan pulang ke rumah. Kakinya masih mengenakan gips, dan dia masih harus melakukan cek up setiap awal minggu.
Dengan dijemput oleh orang tua dan mertuanya, Radit langsung minta diantar ke rumah.
"Ayah, Radit langsung pulang ke rumah saja. Sudah kangen sama Arsyila...." ucapnya.
Tak dipungkiri memang sudah tiga hari dia tidak melihat Arsyila. Selama di Rumah Sakit, hanya beberapa kali saja Radit melakukan panggilan video kepada bayi kecilnya itu. Selebihnya hanya Khaira saja yang bolak-balik mengunjungi suaminya.
"Iya ... ini Ayah langsung mengantar kamu ke rumah. Istri dan anakmu sudah menunggu." sahut Ayah Wibi yang sedang mengemudikan mobilnya.
Perasaan lega yang dirasakan Radit saat ini karena dia akhirnya akan pulang ke rumah. Pria itu tidak sabar bisa kembali bersama dengan keluarga kecilnya, melihat istrinya yang cantik dan sederhana, juga Arsyila, putri kecilnya yang menjadi cahaya yang menyemarakkan kehidupan rumah tangganya bersama Khaira.
Seperti biasa, senyum bahagia menyambut Radit ketika hampir empat hari, pria itu kembali ke rumah. Khaira yang menggendong Arsyila menyambut suaminya dengan antusias.
"Welcome Home Papa...." ucapnya sembari membukakan pintu rumah bagi suaminya.
Tidak menunggu lama, Ayah Ammar dan Ayah Wibi sama-sama menapah Radit untuk bisa menaiki tangga dan masuk ke kamarnya terlebih dahulu. Dengan susah payah, kedua pria paruh baya membawa Radit hingga memasuki kamarnya.
"Terima kasih Ayah, sudah menjemput dan membantu Mas Radit naik ke kamar atas...." ucap Khaira berterima kasih kepada kedua Ayahnya.
"Sama-sama, Khai ... kamu yakin bisa mengurus Radit dan Arsyila sendirian? Kenapa enggak pakai ART atau tinggal dulu saja di rumah Ayah." ucap Ayah Wibi yang mengkhawatirkan menantunya itu.
__ADS_1
Khaira hanya tersenyum. "Khaira masih bisa melakukan semua sendiri, Yah ... semoga Khaira bisa mengurus semua." ucapnya yang tetap bersikeras untuk mengurus rumah, suaminya yang sedang sakit, dan Arsyila yang masih Batita.
"Kalau gitu, biar Bunda kalian sering-sering gantian ke sini. Setidaknya sampai Radit sembuh, nanti kalau terapi dan kontrol, biar supir yang mengantar. Kalau ada apa-apa hubungi Ayah ya." Ucap Ayah Ammar.
Khaira pun mengangguk tanda setuju. "Baik Ayah... Terima kasih."
Kemudian Khaira mengantar Ayah Ammar dan Ayah Wibi hingga ke pintu depan. "Dada Kakek dan Eyang...." ucapnya sembari memegang tangan Arsyila untuk melambaikan tangan kepada Kakek dan Eyangnya itu.
Setelah mobil yang dikendarai Ayahnya telah berlalu, Khaira lantas menutup pintu dan dia membuat terlebih dahulu Teh hangat untuk suaminya. Dia akan membawa teh tersebut ke kamar atas dan memberikannya untuk suaminya.
"Teh hangat Mas ... diminum dulu." ucap Khaira sembari menyerahkan secangkir Teh hangat kepada Radit.
Pria itu pun menerimanya, dan meminumnya perlahan. "Makasih Sayang...." ucapnya sembari menaruh cangkir itu di nakas.
Khaira turun sebentar ke dapur untuk mengambil MPASI Arsyila, tetapi di dalam kamar bayi berusia enam bulan justru menangis. Sementara Radit dengan cidera di kakinya tidak bisa membantu sama sekali. Sebagai seorang Papa, Radit saat ini hanya bisa memanggil nama putrinya dan mengajaknya bernyanyi, sekalipun putrinya ada di playmart dan dia ada di atas tempat tidur.
Selang beberapa menit kemudian, Khaira kembali masuk ke kamar dan mendapati Arsyila tengah menangis. Seketika Khaira memangku bayi kecilnya itu.
"Cup ... Cup ... Sayang ... nyariin Mama ya tadi? Mama ke dapur sebentar ambilin makannya kamu." ucap Khaira yang seketika membuat tangis bayi itu terhenti.
Mata Radit berkaca-kaca melihat Khaira yang harus berjibaku seorang diri mengurus rumah, Arsyila, dan juga dirinya. Radit merasa benar-benar menjadi pria tak berguna saat ini.
__ADS_1
"Maaf Sayang ... aku gak bisa bantuin. Aku pasti jadi bebanmu ya?" ucap Radit dengan wajahnya yang menunduk dan matanya yang memandangi kakinya yang masih mengenakan gips.
Khaira menggeleng. "Jangan berkata begitu Mas ... nanti kalau Mas Radit sudah sembuh kan bisa bantuin aku lagi. Bisa gendong Arsyila lagi. Aku enggak merasa direpotkan." ucap Khaira sambil menyuapi Arsyila makan.
"Aku merasa tak berguna saat ini, anakku menangis saja aku tidak bisa menenangkannya dan menggendongnya." ucap Radit dengan hati yang teramat pedih.
Khaira lantas menaruh sejenak MPASI-nya Arsyila. Dia membawa Arsyila mendekat ke Papanya. "Papa dicium dulu Sayang ... di-sun dulu Papanya...." Sembari mendekatkan wajah putrinya ke wajah suaminya.
Dengan segera bibir Arsyila menempel di wajah suaminya. Hati Radit pun menghangat. "Maaf ya Sayang ... Papa belum bisa gendong Arsyila. Doakan kaki Papa segera sembuh ya, nanti Papa gendong Arsyila lagi ya ... main sama Papa lagi ya."
"Oke Papaku Sayang...." sahut Khaira sembari menirukan suara bayi.
Radit kemudian mengelus sisi wajah Khaira. "Maafkan aku ya Sayang...."
Khaira segera menggelengkan kepalanya. "Jangan minta maaf Mas ... aku senang, kamu udah boleh pulang. Kita tinggal rawat jalan aja. Aku akan temenin kamu sampai kamu sembuh. " Setelah itu Khaira mendekatkan Arsyila lagi ke wajah Papanya. "Kita temenin Papa ya Syila ... Yuk, Papa disayang lagi biar Papa semangat. Papa harus semangat ya ... Biar cepat sehat karena semangat yang patah mengeringkan tulang. Semangat Papa nya Syila...." ucap Khaira sembari beberapa kali membuat bayi berpipi chubby itu mencium pipi papanya sembari tertawa.
"Makasih Sayang ... Kalian berdua sangat sayang dan peduli padaku. Iya, aku akan sembuh untuk kamu dan juga Arsyila." ucap Radit sungguh-sungguh.
Khaira lantas mendekat dan menggenggam satu tangan suaminya. "Kamu harus sembuh untuk diri kamu sendiri, Mas ... bangun motivasi untuk diri kamu sendiri. Setelah itu baru untuk kami berdua. Banyak yang sayang sama Mas Radit ... kami dan keluarga mendoakan Mas cepet sembuh. Jangan sedih-sedih lagi, jangan merasa tidak berguna. Bagaimana pun aku selalu membutuhkanmu, Mas ... Arsyila juga membutuhkanmu. Semangat Papa...." ucapnya sembari mengepalkan satu tangan sebagai tanda memberi semangat kepada suaminya itu.
Radit akhirnya bisa kembali tersenyum. "Makasih Sayang ... rasanya jika bukan kamu yang menjadi pasangan hidupku, aku akan terpuruk dan tidak tahu caranya bangkit lagi. Terima kasih selalu mensupport aku. Terima kasih selalu mencintaiku dengan tulus, bahkan kamu juga merawatku tanpa mengeluh. Semua ini tak akan bisa aku bayar."
__ADS_1
Khaira menggerakkan alis matanya. "Kamu bisa membayarnya, Mas ... Bayarannya cintai aku dan mari kita hidup bahagia hingga di ujung usia kita." ucapnya sembari kembali mendekatkan wajah cantik Arsyila ke pipi Papanya.
Happy Reading🥰💜