
Setelah selesai untuk melepas alat kontrasepsi dan berbincang-bincang sejenak di dalam mobil, tiba-tiba ponsel Radit berdering.
"Aku angkat teleponnya dulu ya Sayang...." Radit meminta izin terlebih dulu kepada Khaira untuk mengangkat telepon yang masuk ke dalam handphonenya.
Khaira mengangguk. "Angkat aja Mas...."
Dimas
Calling
Segera Radit menggeser ikon hijau di layar handphonenya.
[Iya Dim, ada apa?] ucap Radit begitu mengangkat telepon itu.
[Udah di Indonesia, Bro? Ketemuan yuk.] jawaban Dimas di seberang sana.
[Boleh, sekarang?] tanya Radit.
[Yuk, di kafe di dekat kantor kita dulu aja Bro.] jawan Dimas.
[Oke, gue ke sana ya...]
Panggilan telepon pun berakhir, Radit segera menyimpan kembali handphonenya ke dalam saku celananya.
"Kenapa Mas?" tanya Khaira dengan sedikit menatap wajah suaminya.
"Ikut aku sebentar ya? Dimas ngajakin aku ketemu. Kangen mungkin dia." jawabnya sembari tersenyum.
Khaira menganggukkan kepalanya. "Eh, lha tapi aku gimana, Mas?"
Radit balik menatap Khaira sembari tangannya tetap mengendalikan stir mobil dan kakinya mengendalikan pedal dan rem di bawah sana. "Ya aku ikut dong Sayang. Kita kan udah sepaket sekarang. Kenapa? Hmm."
"Aku malu Mas..." ucapnya sembari menolehkan pandangannya pada pemandangan di balik jendela mobilnya.
Satu tangan Radit meraih tangan Khaira. "Jangan malu, cuma Dimas aja kok. Biar dia kenal juga sama Istri kesayangan aku ini."
"Kan sudah kenal." jawab Khaira sembari mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Jangan digituin bibirnya, nanti kalau aku sun, ngambek. Kamu sih Sayang yang godain." jawabnya sembari tersenyum sendiri.
"Isshhh, apa-apaan sih Mas. Bicaranya gitu terus. Malu tahu."
Perbincangan absurb keduanya berlanjut hingga akhirnya mereka telah sampai di kafe yang sudah dijanjikan Radit dan Dimas sebelumnya.
Radit kemudian turun, mengitari mobil dan membuka pintu untuk Khaira. Setelah menutup pintu mobilnya, ia menggenggam tangan Khaira membawanya masuk ke dalam kafe yang berada di daerah pusat Ibu Kota itu.
Mereka berdua memasuki kafe dengan mengedarkan pandangan matanya, mencari-cari sosok Dimas yang sudah berada terlebih dahulu di kafe itu.
"Hei Bro, sini...." suara Dimas yang memanggil Radit cukup terdengar.
Akhirnya Radit dengan masih menggandeng tangan Khaira berjalan menuju meja yang sudah ditempati Dimas.
Kedua sahabat lama itu memberikan tos dengan adu kepala tangan, kemudian memberikan pelukan sembari menepuk punggung masing-masing.
"Lo gila ya, udah di Jakarta enggak ngasih kabar." ucap Dimas yang masih menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu.
Radit justru tertawa. "Gue baru seminggu di Jakarta, Bro. Gimana sehat?"
Radit kemudian melihat Khaira yang masih berdiri di sebelahnya. "Kenalin Bro, Istri gue. Ah, gak usah gue kenalin, lo juga udah kenal."
Dimas dan Khaira pun saling berjabat tangan dan tersenyum kikuk. Canggung. Dahulu mereka tiap bertemu biasa aja, enter kenapa sekarang terasa canggung.
"Hai Khai, apa kabar?" sapa Dimas.
"Baik Kak... Kak Dimas apa kabar? Sehat?" sahut Khaira.
"Sehat dong...," ucapnya sembari tertawa. "Yuk, duduk dulu. Kalian pesen gih."
Ketiganya pun duduk sembari Khaira membuka-buka buku menu yang sudah berada di atas meja.
Dimas nampak mengamati pasangan bahagia di depannya itu. Dia tersenyum akhirnya sahabatnya bisa benar-benar bahagia sekarang. Bahkan terlebih lebih bahagia, dibandingkan dahulu.
Pasangan kita mencerminkan siapa kita. Bersama Khaira, Radit terlihat bahagia dan memancar aura positif. Begitupun Khaira, bersama Radit ia bahagia, dalam banyaknya waktu yang telah mereka jalani bersama membuat tangki air cinta mereka benar-benar penuh, meluap, dan keduanya terlihat bahagia bersama.
"Bro, kok lo bisa nikah sama Khaira sih? Itu pertanyaan yang sering kali melintas di kepala gue. Dan Khaira, bukannya waktu dulu kita ketemu nobar kamu bilang udah punya suami ya? Apa jangan-jangan suami lo itu Radit? Jelasin lah, gue masih penasaran banget." Dimas memberondong keduanya dengan berbagai pertanyaan, sementara Khaira justru tertunduk malu sembari sesekali melirik suaminya.
__ADS_1
Radit menghela nafasnya sejenak. "Kami dijodohkan kedua orang tua, Bro. Awalnya gue pokoknya ngelakuin salah lah sama Khaira, akhirnya gue resign untuk ngejar dia ke Manchester. Pelik hidup gue Bro, tetapi bersyukur sekarang gue udah bahagia bersama Khaira."
Dimas nampak mendengarkan cerita Radit, walau pun tidak detail tetapi paling tidak dia tahu kenapa keduanya bisa menikah.
"Terus di Manchester kerjaan lo apa? Lo itu gila, ninggalin kerjaan yang udah mapan, yang dapat bonus laba tiap tahunnya begitu aja." cibir Dimas sembari meminum kopi yang sebelumnya sudah ia pesan.
Radit terkekeh sebelum menjawab pertanyaan Dimas. "Kerjaan gue cuma satu Bro, jagain istri full-time 24 jam."
Dimas menggelengkan kepalanya mendengar jawaban sobatnya itu. "Gila lo. Itu namanya pengangguran." Dimas ikut tertawa. "Gitu kok keliatan bangga."
Radit mengedikkan bahunya. "Itu pekerjaan mulia tahu, ya kan Sayang?" berusaha mendapat pembelaan dari Khaira, istrinya itu.
Khaira enggan menjawab, dia hanya tertawa.
"Kalian pesan dulu, kebanyakan ngobrol sampai belum pesen." Dimas menginterupsi supaya Radit dan Khaira segera memesan makanan.
"Pesen yang mana Sayang? Es Cokelat atau apa?" tanya Radit kepada Khaira yang masih membolak-balikkan buku menu di tangannya.
"Es cokelat aja Mas..." jawaban Khaira.
"Sudah kutebak...." sahut Radit.
Hingga akhirnya Radit memesan dua es Cokelat untuk Khaira dan dirinya. Berselang lima menit kemudian, waitress mengantarkan pesanan mereka.
"Tumben lo enggak pesen kopi? Biasanya kan kopi." tanya Dimas seolah nampak menyelidiki wajah Radit.
"Gue udah enggak minum kopi, karena punya asam lambung. Khaira enggak ngebolehin gue minum kopi lagi, ya sudah deh. Gue berhenti, demi Istri tercinta." jawabnya sembari tersenyum.
Dimas geleng-geleng melihat tingkah absurb sahabatnya. "Lo banyak berubah ya Bro, tapi gue seneng sih liat sahabat gue bahagia. Bener kan gue bilang dulu kalau hubungan yang sehat memberi pengaruh positif. Sementara kalau hubungan toxic ya cuma menyakiti, Bro. Ibarat lo memasang pasung di badan lo sendiri. Seneng sih gue lihat lo bahagia seperti ini. Gue saksi hidup lo dulu, Bro."
Khaira nampak tertarik dengan ucapan Dimas, tetapi dia mempercayai satu hal bahwa hubungan toxic memang ibarat mengenakan tali kekang pada diri kita sendiri.
"Emang dulu Mas Radit kayak gimana Mas?"
"Gak usah gue buka kartu dia di sini, Khai... sedikit banyak pasti lo udah tahu juga kan gimana Radit. Udah jangan bahas masa lalu, bahas sekarang aja. Pokoknya gue bahagia melihat kalian berdua. Tulus gue berkata ini."
Radit menganggukkan kepalanya. "Makasih ya Bro, untuk semuanya. Lo emang sahabat gue. Tapi, lo jangan kelamaan sendiri Bro. Menikah itu ibadah Bro...."
__ADS_1