
Jangan bermain api, apabila tidak mau terbakar.
Sebuah pepatah yang cukup popular untuk menggambarkan bagi setiap orang jangan memicu permasalahan, apabila tidak ingin menanggung konsekuensinya.
Di sebuah restoran yang menjual berbagai menu khas Korea, Dimas melihat keberadaan Khaira yang tengah duduk sendirian dengan memegang buku di tangannya, sontak menyapa gadis itu.
"Hey Khai... Ketemu lagi di sini." sapa Dimas yang langsung menghampiri meja Khaira.
"Loh, Kak Dimas lagi rupanya..." sahut Khaira.
"Iya, ketemu lagi ya. Sendirian aja nih?"
"Hem, iya. Kak Dimas sama siapa?"
"Tuh, temenku si Radit sama pacarnya." Dimas menunjuk Radit dan Felly yang berada di belakang Dimas.
Sementara Khaira nampak tidak terlalu menghiraukan perkataan Dimas. Sebab, ia sudah tahu hubungan Radit dan juga Felly.
"Kalau tahu kamu makan di sini, barengan aja kita tadi."
"Hem..." sahut Khaira singkat.
"Eh, aku boleh gabung enggak. Keliatannya penuh deh."
Khaira nampak mengamati berbagai meja di sekelilingnya dan memang semua meja telah penuh.
"Terserah Kak Dimas aja."
Dimas pun akhirnya duduk di sebelah Khaira, lalu Radit dan Felly duduk di hadapan Khaira. Melihat keduanya duduk bersama dan berada di hadapan Khaira membuatnya merasa dejavu dengan pemandangan ketika sarapan mau pun makan malam. Di mana Khaira selalu melihat kebersamaan keduanya di meja makan.
"Kamu sudah pesan, Khai?" tanya Dimas.
"Sudah Kak..." jawabnya.
"Radit sama Felly mau pesan apa? Ayo makan dulu, gue udah lapar. Jangan pacaran melulu."
Radit dan Felly pun nampak jengah mendengar ucapan Dimas yang mengatakan keduanya hanya pacaran terus. Entah pacaran atau menikah siri, bagi Khaira itu sama saja. Faktanya suaminya memang bukanlah pria yang setia.
Akhirnya pesanan mereka berempat sudah tersedia. Empat porsi Ramyun dengan berbeda-beda varian telah tersaji di meja itu. Khaira pun segera mengambil Ramyun pesanannya dan ingin segera menyantapnya, saat akan menyantap makanannya, tiba-tiba saja handphone Khaira berdering..
__ADS_1
Ddrrrttr.... Ddrrrrrrttr...
Bunda Ranti Calling
Khaira agak kaget melihat siapa yang menelponnya, sebab sejak menikah baru kali ini mertuanya menghubunginya.
"Maaf, permisi mau jawab telepon dulu."
Dimas dan lainnya hanya menganggukkan kepala. Sementara Radit menelisik dengan matanya menatap tajam Khaira, siapa yang tiba-tiba menelpon istrinya itu.
[Assalamualaikum Bunda Ranti...]
[Wassalamu'alaikum Khaira...]
[Iya ada apa Bunda?]
[Besok kan weekend, kalian main ke rumah Bunda yah. Tadi Bunda beberapa kali telepon Radit, tapi enggak diterima. Jadi Bunda meminta nomormu ke Bunda Dyah.]
[Besok kami harus ke rumah Bunda jam berapa Bunda?]
[Sore saja ya Nak, nanti makan malam sama Ayah dan Bunda di sini.]
Panggilan dari Bunda pun telah berakhir, dan Radit masih menatap dengan sorot mata yang tajam kepada Khaira.
Selesai menelpon, Felly pun segera bersikap manis kepada Radit. Seolah Felly ingin menaburi garam di atas luka yang menganga di hati Khaira.
"Ay, enggak dimakan Ramyun nya keburu dingin loh..." Felly berbicara dengan mulut manisnya.
"Eh, iya... Ini aku makan kok."
"Sini aku suapin, biar makin enak Ramyun nya. Aaaa....." Felly menyuapkan mie ramyun dengan sumpitnya ke mulut Radit.
"Makasih Sayang..." Balas Radit sembari memberikan senyuman kepada Felly.
"Ehem... Yang pacaran sampai gak ngerasa ada orang di sini, ya gak Khaira? Serasa dunia milik berdua, yang lain ngontrak." Sahut Dimas dengan ketus sembari menoleh kepada Khaira.
Khaira pun hanya diam tak ingin membalas perkataan Dimas. Bagi Khaira pemandangan seperti itu adalah hal yang sudah ia selama seminggu ini.
"Makanya kalau pengen, pacaran dong Dimas. Jangan jomblo melulu." Sahut Felly.
__ADS_1
"Pacaran itu bukan kompetisi ya, gue maunya begitu ada yang cocok langsung nikah aja gak usah pake acara pacaran-pacaran. Terlalu lama pacaran justru nambah dosa."
"Tergantung lah, tidak semua pacaran itu nambah dosa kali, Bro." Giliran Radit yang menyahut ucapan Dimas.
"Gue sih berharapnya bisa ketemu sama cewek yang bisa langsung klik di hati gue, abis itu gue seriusin. Ajak nikah aja, pacaran halal sehabis nikah."
Mendengar jawaban Dimas, Khaira mendadak teringat perkataan Ayah Ammar dan Bunda Dyah yang mengatakan padanya seminggu sebelum pernikahan, lebih baik pacaran sehabis menikah, sehingga pacarannya halal dan diridhoi Allah. Khaira tak mengira Dimas memiliki pemikiran seperti Ayah dan Bunda nya.
"Kalau kamu gimana Khaira? Mending pacaran lama atau nikah dulu sehabis itu baru pacaran?" Tanya Dimas yang tiba-tiba bertanya kepada Khaira yang sejak tadi hanya diam tak bersuara.
"Hem, aku gak kepikiran semuanya. Fokus selesain kuliah dulu." jawab Khaira, sekaligus ia tidak perlu mengatakan status dan pandangannya kepada orang lain.
"Bener sih, anak kecil mending selesain kuliahnya dulu." Radit tiba-tiba nyeletuk, menyahut jawaban Khaira.
Khaira lagi-lagi tidak merasa dihargai oleh suaminya sendiri. Suaminya selalu menyebutnya cengeng bahkan di hadapan temannya, dia menyebutnya anak kecil. Perasaan tidak dihargai lagi-lagi menyayat hati Khaira, tetapi Khaira tetap tenang. Dia tidak ingin larut dalam permainan yang diciptakan suaminya itu.
"Udah merasa tua ya Bro? Jadi lihat Khaira bilangnya anak kecil."
"Gue enggak tua dong Bro. Masih muda lah. Sayang, emang aku udah tua ya?" Radit merajuk kepada Felly.
"Enggak dong Ay... Kamu masih muda kok, baru juga 27 tahun, mana cakep lagi, dan yang paling penting kamu cintanya cuma sama aku. Ya gak Ay??" ucap Felly dengan manis.
Giliran Felly yang berkata manis kepada Radit, keduanya seolah-olah menjadi pasangan paling romantis sedunia.
"Tuh Felly aja gak bilang gue tua kok, lo aja kali yang tua, Dim." Ejek Radit kepada Dimas.
"Enak aja, gue juga masih seumuran lo kali. Kalau Khaira umurnya berapa sih?" Tanya Dimas kepada Khaira.
"Aku masih 22 tahun." Khaira menjawab singkat.
"Oh, masih muda berarti ya... Baru 22 tahun, seumuran sama adik aku berarti. Tapi, gak lama lagi aku bakalan jadi kakak kelasmu loh, Khai... Aku udah mendaftar di kampusmu itu, tapi memang harus ngikutin mata kuliah matrikulasi dulu."
"Oh, mulai kapan kuliahnya?" tanya Khaira.
"Masih menunggu jadwal, nanti ada jadwal via email katanya. Khaira, minta nomormu dong kalau aku mau tanya-tanya tentang kuliah bisa lewat kamu, apabila buat mata kuliah matrikulasi." Dimas berinisiatif meminta nomor Khaira.
Radit yang mendengar bahwa Dimas sedang meminta nomor Khaira pun, terlihat tidak suka dengan sikap Dimas. Dia sebagai suaminya saja tidak memiliki nomornya, tetapi Dimas yang baru kenal beberapa hari sudah berani meminta nomor Khaira.
Khaira pun, memberikan nomornya kepada Dimas. Tanpa sepengetahuannya, rupanya Radit juga turut menyimpan nomor Khaira ke handphone nya. Radit menguping nomor yang Khaira sebutkan, lalu mulai mengetiknya dengan cepat di handphonenya.
__ADS_1
(Minta langsung aja gengsi ya Dit...😆)