
"Khai, kamu di sini?" Sapa cowok tampan yang baru saja turun dari kuda besinya Dan sedang melepas helm full-facenya. Ya, dia adalah Tama.
"Tama..." ucap Khaira perlahan.
Radit yang masih duduk di dekat Khaira hanya memandangi pertemuan keduanya. Namun, Radit pun curiga siapa pria yang mendatangi Khaira. Pria yang mengendarai motor besar itu rela turun dan menyeberang jalan hanya untuk menyapa Khaira.
"Namanya Tama, dia siapanya Khaira?" Radit hanya berkata dalam hatinya, dan keningnya berkerut seketika.
"Khai, ngapain kamu di sini? Waktu lewat aku perhatikan, ternyata bener kamu, Khai. Jadinya aku putar balik deh." ucapnya dengan penuh antusias dan senyuman mengembang di wajah tampannya.
"Iya, Tam... Tadi abis makan siang di warung Ketoprak di depan itu." jawab Khaira sembari jari telunjuknya menunjuk warung Ketoprak yang ada di depan pintu gerbang.
Tama lalu mengedarkan pandangannya, lalu matanya menangkap Radit yang tengah duduk santai di samping Khaira. Pemandangan langka, karena Khaira nyaris tak pernah berdekatan dengan pria. Gadis itu jika di kampus selalu menempel dengan Metta.
Khaira yang melihat ke mana arah pandangan Tama pun, menyadari bahwa pria itu kini sedang memperhatikan Radit yang sedang duduk di sampingnya.
"Oh, iya Tama... Kenalin, dia suamiku, namanya Mas Radit. Dan Mas Radit, dia Tama, temen Khaira."
Tama pun menganggukkan kepalanya perlahan, lalu menjabat tangan Radit.
"Tama, temannya Khaira."
"Radit, suaminya Khaira."
Terasa hawa yang dingin di antara keduanya. Khaira pun juga merasa tidak enak, di satu sisi suaminya, di sisi lain adalah pria yang beberapa minggu lalu pernah mengutarakan suka kepadanya.
"Jadi, dia suami kamu ya Khai?" tanya Tama, tetapi entah mengapa nadanya terdengar ketus.
"Iya, Tama. Aku pernah bilang kalau aku sudah bersuamikan." sahut Khaira tenang.
Tama menganggukkan kepalanya perlahan, sebelumnya Tama juga tidak yakin kalau Khaira telah menikah, tetapi hari ini gadis yang disukainya itu mengatakannya secara langsung dan mengenalkannya pada Tama. Ada hati yang tersakiti, namun Tama menutupinya dengan tersenyum menatap Khaira, "Bahagiamu bahagiaku juga, Khai." gumamnya dalam hati.
Lalu Tama, mengenakan kembali helm full-facenya, "Ya udah, aku langsung ya Khai. Titip jagain Khaira ya Kak, Khaira gadis yang sangat baik, bahagiakan dia ya." ucap Tama dengan matanya menatap tajam Radit.
"Iya, pasti gue jagain. Tenang saja, gue suaminya." sahut Radit tak kalah dengan suara yang terdengar penuh penekanan dalam setiap katanya.
"Bye Khai, cabut ya..." ucapnya sembari berjalan dan melambaikan tangannya kepada Khaira.
Khaira hanya tersenyum dan mengangguk melihat kepergian Tama.
__ADS_1
"Ehem... Ehem... cakep juga ya temennya?" celetuk Radit sembari menoleh melihat Khaira.
"Apa Mas? Cuma temen." sahut Khaira dengan tegas.
"Yakin cuma temen? Tapi kok liat kamu di sini sampai belain nyamperin sih? Sample puter balik loh." tanya Radit yang terlihat ingin menyelidiki sesuatu.
"Karena sudah kenal lama, Mas. Dia juga dulu yang anterin aku pulang ke rumah waktu kakiku terkilir."
Khaira langsung menutup mulutnya, bagaimana bisa ia menceritakan bahwa Tama yang mengantarnya pulang ketika Khaira dari fisioterapi yang ternyata adalah Bundanya Tama.
"Oh, yang nganterin malam-malam itu ya? Oh... Jadi namanya Tama." Radit menyebut nama Tama, tetapi seperti ada percikan api dalam matanya.
"Iya..." jawab Khaira cepat.
"Kalau Mas boleh bilang, jangan deket-deket sama dia, keliatannya dia ada rasa sama kamu."
Deg.
Seketika jantung Khaira berdegup kencang, bagaimana Radit bisa tahu kalau Tama menyukainya. Tetapi tentu Khaira akan menyembunyikannya, tidak mungkin Khaira mengatakan kepada Radit bahwa beberapa minggu yang lalu Tama pernah mengutarakan perasaannya. Toh, nyatanya Khaira sudah menolaknya dan berkata jujur bahwa statusnya sudah bersuami.
Akan tetapi, di satu sisi ada kekesalan juga di hati Khaira. Semudah itu Radit mengatakan kepadanya untuk tidak deket-deket dengan Tama, sementara Radit sendiri telah mendua hati. Ironis bukan?
Khaira menoleh sejenak pada Radit, ia menghela nafasnya perlahan. "Tanpa Mas Radit bilang pun, aku sudah melakukannya. Bagaimana pun aku tahu kalau aku sudah menikah dan memiliki suami. Tidak mungkin juga aku berdekatan juga dengan pria lain, apalagi di belakang suamiku. Aku sangat tahu, Mas. Terima kasih sudah diingatkan."
"Tidak." jawabnya singkat.
"Tetapi Mas mendengar kemarahan dalam perkataanmu."
"Mas pikir saja sendiri. Apa boleh aku pergi sekarang?" tanya Khaira sembari mengangkat map dan sling bagnya.
Saat Khaira tengah berdiri dan hendak berjalan, Radit menahan tangan Khaira. "Jangan pergi, di sini dulu. Jangan pergi dalam keadaan marah."
Lantaran di tempat umum dan masih dalam lingkungan kampus, akhirnya Khaira mengalah, ia kembali duduk di sisi Radit. Lagi-lagi kenapa pria selalu bertindak impulsif dan sesukanya sendiri, jelas-jelas ia tahu bahwa dia lah yang salah, tetapi seenaknya memberitahu kepada Khaira. Khaira sebenarnya bukan marah, ia lebih merasa kecewa. Kecewa diduakan, kecewa tidak dianggap, kecewa ditinggalkan sendirian, ya kekecewaan yang ia rasakan kian hari kian menumpuk hingga membuat hatinya terasa sesak. Sayatan demi sayatan terpampang nyata dalam hatinya, hanya saja sayatan itu tak berdarah.
"Makasih sudah mau menemaniku lagi di sini. Tunggulah sebentar lagi, kalau emosimu sudah turun, kamu boleh pergi."
Khaira hanya diam, dia enggan merespons setiap ucapan Radit.
Melihat Khaira yang duduk dan hanya diam, membuat Radit berusaha mencari topik pembicaraan yang lainnya.
__ADS_1
"Jadi kapan mau ambil kursus Bahasa Ingrris nya?" tanya Radit yang sedang mengalihkan emosi Khaira.
"Mungkin minggu depan." jawabnya singkat.
"Malam minggu, kita nobar lagi mau enggak? Kalau mau nanti Mas jemput." kali ini Radit menawarkan sesuatu yang disukai Khaira yaitu nonton bareng sepak bola. Radit berharap tawarannya bisa meredakan kemarahan Khaira.
Mendengar kata nobar tentu membuat Khaira sangat senang, terlebih melihat sepak bola secara nonton bareng membuatnya bisa melupakan sejenak kesepian dan kesendiriannya di rumah. Tetapi Khaira tidak mau langsung mengiyakan ajakan Radit.
"Gimana mau enggak?" Radit lebih berusaha untuk meluluhkan Khaira yang seketika menjadi gunung es.
"Tidak usah, Mas. Nanti ada yang marah, aku tidak mau dianggap yang tidak-tidak."
"Jangan hiraukan itu, faktanya Mas kan juga suamimu. Dan, Mas akan pastikan tidak akan ada yang marah. Jadi gimana mau enggak nobar malam minggu nanti?"
"Lihat saja nanti, Mas." ucap Khaira masih dengan nadanya yang dingin.
Saat mereka terlihat masih berbicara satu sama lain, tepatnya Radit yang berusaha mencairkan suasana. Dimas ternyata sudah tiba dengan map di tangannya dan beberapa buku yang ia pinjam di perpustakaan.
"Hai Khai, di sini?" sapanya ramah. "Nemenin Radit ya? Oh, iya sampe lupa, kita kan beberapa kali ketemu ya, jadi pasti kamu kenal Radit." kembali Dimas mengingat bahwa Khaira pernah melihat Radit beberapa kali, jadi pasti sudah tahu.
Khaira hanya tersenyum saja mendengar ucapan Dimas.
"Ya udah Bro, balik kantor yuk jam istirahat udah mau habis ini." ajak Dimas pada Radit.
Radit melemparkan kunci mobil Dimas yang semula ia pegang, "Lo ambil mobilnya ya Bro. Gue tunggu di sini."
"Oke, aman. Ya udah Khai, duluan ya aku ambil mobil dulu." pamit Dimas pada Khaira.
"Iya Kak." sahut Khaira singkat.
Usai Dimas berjalan mengambil mobilnya, Radit dan Khaira juga mulai berdiri dari bangku yang mereka duduki.
"Ya sudah, aku juga balik ya Mas." ucap Khaira sembari mengalungkan sling bag di bahunya.
Radit menganggukkan kepalanya, sorot matanya tak pernah lepas untuk menatap Khaira.
Khaira mulai berjalan, tapi lagi-lagi Radit menghentikannya.
"Tunggu..."
__ADS_1
Khaira kembali berbalik. "Ada apa?"
Radit mengangkat tangan kanannya lalu mengusap pelan puncak kepala Khaira dengan tangan kanannya itu. "Hati-hati ya..."