Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
New Year Resolution


__ADS_3

Keesokan harinya merupakan hari terakhir di tahun itu, sebelum tahun akan berganti dengan tahun yang baru.


"Kamu mau ke mana, Khai? Ini sudah malam." tanya Radit kepada Khaira yang tengah bersiap mengenakan coat, syall, dan sarung tangannya.


"Aku mau ke pusat kota, mau lihat kembang api di sana," jawabnya dengan nada yang masih terdengar ketus di telinga Radit.


"Aku ikut...." Radit pun berdiri dari duduknya, sama seperti Khaira, ia segera mengenakan jaket tebalnya dan mengenakan sarung tangan.


Khaira hanya diam, enggan berdebat dengan Radit. Paling tidak pergantian tahun bisa ia lalui dengan sedikit kedamaian di hati. Melepaskan sejenak masalah rumah tangganya, melupakan sejenak masalah di dalam hatinya, dan menyongsong tahun baru yang tinggal beberapa jam lagi dengan sedikit ketenangan.


Ya Khaira tidak mengharapkan hal yang muluk-muluk. Ia hanya menginginkan ketenangan dalam hati dan jiwanya.


Khaira keluar dari apartemen dan Radit mengekorinya. Ke mana langkah kaki Khaira, ke situ lah Radit akan mengikutinya. Walau pun Khaira hanya diam dan hatinya juga jengah, tetapi Radit nyatanya tidak terusik. Pria itu tetap mengikuti ke mana pun Khaira pergi.


Menyongsong tahun baru ini, Khaira memutuskan untuk pergi ke Piccadilly Garden, Manchester. Di tempat itu terdapat sebuah bianglala raksasa yang disebut "The Wheel of Manchester." Bangunan ini menjadi pilihan bagi warga kota Manchester untuk menikmati keindahan kota Manchester dari atas ketinggian kurang lebih 53 meter. Bianglala raksasa yang berada di Marble Street ini berada di pusat kota Manchester, berdekatan dengan Manchester Cathedral dan National Football Museum.


Waktu telah menunjukkan jam sepuluh malam waktu Manchester saat Khaira tiba di tempat jni. Hingga akhirnya Khaira memilih duduk di beberapa anak tangga yang berada di sekitar The Wheel of Manchester.


Radit pun turut duduk di samping Khaira, sesekali matanya mengedar, melihat-lihat kondisi di Marble Street yang sudah sangat ramai. Tidak hanya muda-mudi, pasangan paruh baya pun juga berkumpul di area itu.


"Kamu mau lihat kembang api di sini? Mau menikmati malam tahun baruan di sini?" tanya Radit sembari menatap wajah Khaira. Dengan hidungnya yang memerah, lantaran musim dingin di Manchester saat itu.


"Hmm..." jawabannya singkat. Bahkan Khaira masih enggan menatap wajah Radit.


Merasa gayung tak bersambut, akhirnya Radit turut duduk menemani Khaira. Tanpa berusaha mengeluarkan suaranya lagi, ia hanya takut salah bicara justru membuat suasana hati gadis yang dicintainya itu semakin bertambah jelek. Risiko terburuk justru ia benar-benar didepak oleh Khaira. Tentu tidak. Radit tak akan membiarkannya.


Khaira masih cuek, ia melihat situasi pusat kota yang semakin ramai. Warga berlalu lalang tanpa henti, gedung-gedung pencakar langit juga bersolek dengan lampu yang berwarna-warni. Beberapa warga bahkan sudah meneriakkan ucapan "Happy New Year!"


Sesekali Khaira tersenyum sendiri menikmati suasana tahun baru pertamanya di negeri asing. Hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Dulu ketika ia masih berada di Jakarta, ketika tahun baru tiba Khaira hanya berdiam di dalam rumah menonton televisi dan menyantap jagung bakar di rumah. Merasakan euforia tahun baru Ibu Kota yang berada di Bundaran Hotel Indonesia pun, Khaira belum pernah merasakannya. Akan tetapi kini, ia justru berada di Kota Manchester. Salah satu Kota impiannya, dan berada di pusat kota menjelang perayaan tahun baru merupakan sesuatu yang spesial bagi Khaira.

__ADS_1


Sembari duduk, Khaira mengeluarkan handphone dari sling bag nya. Beberapa kali juga Khaira mengabadikan suasana di sekitar Wheel of Manchester itu dengan kamera handphone nya.


Dari duduk, Radit sesekali mencuri pandang pada Khaira. Hatinya menghangat melihat senyuman Khaira, bahkan ia begitu takjub mengapa gadis yang saat ini duduk di sebelahnya itu bisa dengan mudahnya bahagia dengan mengamati hal-hal sederhana di sekitarnya.


Bagi Radit saat ini, Khaira lah kebahagiaannya. Khaira lah tujuan hidupnya. Seolah netra sepekat malam miliknya tak pernah jemu untuk memandangi gadis cantik yang begitu mudahnya bahagia dengan hal-hal sederhana.


Kurang lebih selama 1,5 jam Khaira duduk di anak tangga yang berada di tepi Marble Street itu. Kemudian Khaira pun bangkit berdiri, tentunya Radit dengan sigap juga turut berdiri.


Khaira melangkahkan kakinya untuk mendekati bianglala raksasa yang bersolek dengan lampunya yang begitu gemerlap di malam hari. Seolah mengetahui gerak-gerik Khaira, Radit pun mengikutinya lalu mendahuluinya untuk membeli dua buah tiket bianglala raksasa itu.


"Please, give me two tickets (Tolong berikan aku dua tiket)," ucap Radit kepada penjual tiket di bawah bianglala raksasa Kota Manchester itu.


Tidak berselang lama, dua tiket untuk menaiki Wheel of Manchester itu sudah berada di tangan Radit.


"How much does it cost? (berapakah harganya?)" tanyanya.


"One ticket is £9, so two tickets are £18 (satu tiket harganya 9 Poundsterling, jadi harga dua tiket 18 Poundsterling)," jawabnya.


Sepuluh menit sebelum tahun berganti, Radit dan Khaira tengah menaiki bianglala raksasa itu. Khaira berusaha menahan nafasnya, mengurangi ketegangan di dalam hatinya ketika wahana berupa roda raksasa itu hendak dijalankan.


Greeekkk....


Suara guncangan dari wahana yang ia naiki saat ini, seolah menjadi pertanda bahwa roda itu akan segera diputar dan dimainkan. Semula roda itu berjalan pelan-pelan, hingga akhirnya semakin cepat, dan cepat membuat Khaira refleks dan tangannya memegang erat pion kursi.


Melihat ekspresi lucu di wajah Khaira, Radit berusaha menahan tawa. Ekspresi takut dan panik, dan terkesan cuek terlihat jelas di wajah Khaira.


"Jangan takut, begitu sampai di atas kita bisa melihat Kota Manchester dari ketinggian. Kita tidak akan rugi melihat hingar bingar pergantian tahun baru dari Wheel ini." ucap Radit yang sejujurnya ia hanya mencoba mengalihkan ketakutan yang dialami Khaira saat ini.


Berusaha tenang, walau pun dalam hati Khaira begitu takut. Gadis hanya memegang erat pion kursi, tanpa enggan menjawab perkataan Radit.


Bianglala raksasa itu kembali dijalankan dan Khaira sesekali memejamkan matanya, mengatur nafas, dan menstabilkan emosi karena jujur Khaira takut dengan ketinggian.

__ADS_1


Menjelang jam 12 malam, kerumunan warga yang berada di bawah Wheel of Manchester mulai berteriak. Dua puluh detik menjelang pergantian tahun baru, semua orang di sana menghitung mundur mulai dari angka 20, 19, 18, 17, ... 5, 4, 3, 2, 1.


Happy New Year!


Semua berteriak menyerukan pergantian tahun baru disertai dengan kembang api yang menghiasi langit Kota Manchester.


Dooorrr....


Dooorrr....


Begitulah kembang api itu terdengar, memancarkan cahaya yang begitu indah.


Dari atas ketinggian, Khaira tertegun betapa indahnya malam pergantian tahun itu. Mengabaikan rasa takutnya akan ketinggian, Khaira justru mengabadikan momen dengan kamera handphone. Tak luput Radit mencuri kesempatan dan mengajak Khaira untuk berswafoto dengan handphonenya. Berada di atas ketinggian sekitar 53 meter dan kembang api yang membuat langit Kota Manchester begitu indah.


"Selamat tahun baru, Khaira. Dengan bergantinya tahun ku harap kita berdua bisa membereskan permasalahan pelik di antara kita itu. Resolusiku di tahun yang baru ini aku ingin hidup bersamamu, Khai... Izinkan aku tinggal bersamamu ya... Kumohon, biarkan aku tinggal bersamamu. Aku tak memiliki resolusi lainnya, harapanku hanyalah dirimu. Jadilah pusat hidupku, Khaira...."


***


Dear All Reader,


Aku mengucapkan terima kasih banyak untuk seluruh Pembaca yang selalu mengikuti cerita ini. Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta.


Aku mengucapkan "Selamat Tahun Baru" bagi seluruh Pembaca semuanya. Di Tahun yang Baru, kiranya kita senantiasa sehat, bahagia, dan harapan kita akan terkabul.


HAPPY NEW YEAR TO ALL OF YOU


STAY HAPPY & HEALTHY.🎉


Seperti biasanya. Like, Komentar, & Vote ditunggu ya...


Selalu ikuti dan dukung karya ini.

__ADS_1


Love U All... ❤💜❤💜


__ADS_2