
Sepulang dari mengajar kurang lebih setengah hari, dia menghabiskan waktu untuk di kampus. Malam harinya usai menidurkan Arsyilla, Khaira lantas mengambil duduk di sisi suaminya. Wanita itu lantas menatap wajah suaminya sejenak sebelum memulai berbicara, lebih tepatnya konsultasi karena suaminya itu terkadang terlihat seperti mentor bagi Khaira. Mungkin karena perbedaan usia yang selisih 4 tahun membuat suaminya sering dijadikan Khaira sebagai tempat berkonsultasi, selain itu Radit juga sebagai pria lebih bisa berpikir dengan otaknya secara logis, sementara Khaira lebih menggunakan hati dan perasaannya. Oleh karena itu, terkait pekerjaannya pun Khaira tidak ragu untuk berkonsultasi dengan suaminya itu.
“Mas, aku mau cerita boleh,” ucapnya hendak memulai ceritanya.
Satu anggukan yang diberikan suaminya cukup menjadi sinyal bahwa Khaira akan memulai ceritanya, “tadi, pas usai mengajar yang mahasiswa tingkat 1, aku dipanggil Kepala Prodi. Aku diminta untuk membimbing dan mengemban tugas baru sebagai Dosen Pembimbing Praktik Lapangan dan Dosen Pembimbing Skripsi, kata Kepala Prodi sih, aku memenuhi kualifikasi untuk mengemban dua tugas tersebut.” Khaira bercerita pelan-pelan kepada suaminya tersebut.
Sementara Radit pun nampak mendengarkan cerita istrinya itu perlahan, tidak bermaksud menyela, tetapi dia mendengarkan cerita dari Khaira terlebih dahulu. Membiarkan istrinya bercerita hingga usai, barulah dia akan mulai memberikan saran dan nasihatnya untuk istrinya itu.
Melihat suaminya yang diam, Khaira nampak menghela nafasnya perlahan, dia kemudian kembali melanjutkan ceritanya, “aku belum memutuskan apa pun kok Mas ... bagiku, lebih baik jika aku diskusi dengan kamu dulu. Aku juga sudah bilang kepada Kepala Prodi kalau aku mau ngobrol sama suami dulu, terlebih saat ini aku sedang hamil. Sudah tentu, saranmu pasti yang terbaik buatku. Apa pun saranmu, aku akan ikut.”
“Kamu sendiri maunya gimana Sayang?” Tanyanya kepada istrinya itu.
__ADS_1
Khaira nampak diam dan berpikir sejenak tentang kemauannya, wanita itu lantas kembali membuka suaranya, “ya, kalau untukku ini satu peningkatan yang baik buat karier mengajarku sih Mas ... karena kapan lagi dipercaya menjadi Dosen Pembimbing Praktik Lapangan dan Dosen Pembimbing Skripsi. Di kampus itu, aku tergolong masih muda kan, tetapi sudah dipercaya untuk tugas yang lain. Tentu saja aku senang. Akan tetapi, sejak awal kan aku sudah bilang, kalau aku bekerja Cuma untuk menyalurkan hobiku mengajar aja. Insyaallah, kalau untuk materi, aku kan tinggal minta sama kamu.”
Seolah tenang, Radit pun tertawa, “kamu bisa saja, buktinya kamu jarang banget minta ke aku ... semua yang aku kasih cuma kamu tabung. Pakai aja Sayang ... beli apa yang kamu mau, makan apa yang kamu suka, aku enggak keberatan kok. Kan dari dulu aku bilang, semua uangku itu milikmu.”
Khaira pun menganggukkan kepalanya, “iya Mas ... nanti juga bakalan aku pakai. Lha abis buat semua kebutuhan rumah sudah kamu kasih, dapur juga terus mengepul, mau apa lagi coba? Mending aku tabung untuk menyekolahkan Arsyilla dan adiknya nanti sampai tinggi. Aku pengen anak-anakku menjadi orang yang sukses dan berhasil di kemudian hari nanti.”
Pemikiran Khaira pun begitu realistis, ke depannya biaya sekolah anak itu sangat mahal. Tidak jarang, harus merogeh kocek dalam-dalam untuk biaya pendidikan anak, karena itu Khaira lebih memilih menabung dan mengalokasikan uang yang diberi suaminya untuk sekolah Arsyilla dan adiknya kelak.
Khaira lantas nampak mengehal nafasnya sejenak, beberapa kali wanita itu mengernyitkan keningnya sebagai tanda dia sedang berpikir, “sekarang aku lebih ingin menjaga kehamilanku, Mas ... apalagi beberapa tahun lalu sempat keguguran, aku jadi lebih takut. Kalau mengambil tugas baru, bisa aku tunda hingga setelah melahirkan. Aku tidak apa-apa mengorbankan karierku demi anak-anakku kok.”
Apa yang disampaikan Khaira adalah dilema para wanita masa kini, di saat terdapat tawaran untuk bisa mengejar karier setinggi mungkin bisa diraih, tetapi ada pula suami dan anak di rumah yang harus terus dijaga. Situasi yang terkadang membuat para wanita yang sepenuhnya bekerja, hingga akhirnya memilih mengorbankan masa kini untuk investasi terhadap tumbuh kembang anak. Hal yang sama juga terjadi pada Khaira, dia merasa bahwa dia masih bisa menunda untuk mengejar kesempatan itu setelah melahirkan nanti, atau di waktu yang akan datang.
__ADS_1
Radit nampak memandang wajah istrinya itu dalam-dalamnya, menatapnya dan kemudian merangkul bahu istrinya itu, “kamu tidak pernah berubah dari dulu Sayang ... selalu lebih memprioritaskan aku dan anak-anak. Sekalipun peluang itu bisa membawamu menuju kesuksesan kariermu. Aku yakin, ke depannya kamu pasti bisa jadi Dosen yang hebat di kampusmu itu. Kalau aku, memang sebenarnya ingin kamu fokus dulu dengan mengajar sekarang dan ke kehamilan kamu. Nanti saat anak-anak sudah lebih besar, sudah mulai masuk sekolah lah, kamu bisa terbang tinggi mengejar cita-citamu dan keinginanmu yang lain. Itu saranku Sayang, kamu keberatan enggak?”
Dengan cepat Khaira menggelengkan kepalanya, tangannya kini justru melingkari pinggang suaminya, “enggak ... aku enggak keberatan kok. Keluarga bagiku nomor satu, Mas ... karier bisa dikejar di lain waktu. Asalkan kamu dan anak-anak tidak protes, aku bisa mengejarnya dengan tenang. Sekarang cukup seperti ini dulu gak apa-apa kok.”
“Makasih Sayang ... pengorbanan kamu luar biasa. Aku sangat bersyukur memiliki istri seperti kamu, tidak ambisius untuk mengejar karier, tetapi justru lebih memprioritaskan kami bertiga. Makasih ya...” Radit berterima kasih dengan sungguh-sungguh kepada istrinya itu.
“Bukan berarti aku menghalangimu untuk maju, tetapi dijaga dulu babynya. Dia butuh Mamanya yang sehat dan bahagia, biar tumbuh kembangnya di rahim kamu juga sehat dan bahagia. Aku janji, saat Arsyilla dan adiknya sudah mulai besar nanti, aku akan mendukungmu selalu Sayang. Kamu mau mengejar kariermu boleh, kamu mau sekolah lagi mengambil S3 juga boleh, pokoknya aku akan selalu mensupport kamu,” ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Khaira pun tertawa, “serius aku boleh ambil S3 nanti? Kalau boleh, aku mau ambil S3 di luar negeri boleh Mas? Nanti aku mau ambil program beasiswa lagi kalau boleh.”
“Boleh ... itu berarti kamu harus siap aku tempelin 24 jam, karena nanti aku bakalan terus nempelin kamu selama 24 jam sama kayak waktu di Manchester dulu, dan kamu tidak boleh protes,” ucap pria itu sembari mendaratkan kecupannya di kening istrinya.
__ADS_1
Berdiskusi atau sekadar konsultasi dengan pasangan adalah salah satu kunci untuk mengetahui pendapat dan saran yang diberikan suami kepada istri atau sebaliknya, dengan berdiskusi dan menyampaikan keinginan masing-masing bisa menjadi kunci untuk selalu mempertahankan keharmonisan rumah tangga. Sebab keharmonisan rumah tangga dibangun tidak hanya dengan kehangatan di ranjang, tetapi juga dengan obrolan dan diskusi untuk mengetahui keinginan masing-masing.