
Hari ini Khaira resmi pindah ke rumah barunya. Rumah yang dibeli Radit dengan uang deposito hasil penjualan rumah hadiah pernikahannya yang dahulu. Rumah dengan desain minimalis dua lantai itu terlihat begitu hangat dan pas bagi Radit dan Khaira.
Sementara untuk perabotan rumah, orang tua dan mertuanya lah yang mengurusnya. Melengkapi rumah itu sedemikian rupa. Rumah mereka memang bukan rumah besar layaknya mansion yang megah dan mewah, tetapi rumah sederhana yang membawa mereka untuk selalu pulang dan merenda rumah tangga berdua.
Di rumah ini, Khaira memilih untuk tinggal hanya bersama dengan Radit. Ia merasa masih bisa mengurus rumah dan memasak, karena ia sangat sehat tidak pernah mengalami mual dan muntah. Usia kandungan yang sudah memasuki bulan ketiga, membuat perutnya sedikit membuncit. Tetapi, Khaira tetap aktif bergerak dan ia masih mengajar di hari Selasa dan Jumat.
Siang ini usai mengajar di kampusnya, Khaira menelpon suaminya, meminta izin untuk menemui sahabat lamanya, Metta.
[Halo Mas Radit....] sapanya melalui panggilan selulernya.
[Iya Sayang, udah selesai ngajarnya? Dijemput sekarang?] tanyanya kepada sang istrinya.
[Euhm, enggak Mas. Aku mau minta izin. Mau ketemuan sama Metta boleh enggak? Metta temenku kuliah dulu Mas.] ucapnya sembari merapikan buku dan hand bagnya.
Radit di seberang sana nampak berpikir, ia sebenarnya khawatir membiarkan istrinya dalam kondisi hamil harus keluar sendirian tanpa dirinya. Akan tetapi, Radit pun tidak bisa seenaknya sendiri keluar masuk kantor walau pun itu adalah perusahaan Ayahnya.
[Kamu naik apa?] tanyanya kepada Khaira melalui sambungan teleponnya.
[Naik taksi online aja sih, Mas. Udah janjian sana Metta di Plaza Indonesia. Boleh ya?] rayunya kepada suaminya.
Walau pun enggan, Radit pun akhirnya memperbolehkan Khaira untuk menemui sahabatnya.
[Ya sudah boleh, nanti kalau mau pulang kabarin aku ya. Nanti Mas yang akan jemput. Hati-hati, begitu sampai PI jangan lupa kabarin aku ya. Hati-hati Bumilku cantik.]
Akhirnya Khaira memesan taksi online melalui aplikasi di handphonenya. Setelah ia akan menuju salah satu mall di pusat Ibu Kota itu untuk menemui Metta.
Begitu sampai di Mall itu, Khaira mencari-cari Metta. Sahabatnya itu hanya berkata bahwa ia berada di salah satu coffee shop. Khaira yang tentu sudah hafal dengan coffee shop favorit sahabatnya itu langsung menuju ke sana.
__ADS_1
Ia mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling. Hingga akhirnya matanya menangkap sosok sahabatnya yang sudah lama tidak ia temui sekian tahun lamanya.
"Metta...." sapanya sembari melambaikan tangan dan berjalan mendekat ke tempat duduk sahabatnya itu.
Metta pun begitu bahagia melihat sahabatnya selama menempuh pendidikan S1 dulu. Matanya takjub melihat perut Khaira yang agak membuncit.
"Khai... Akhirnya kita ketemu." Keduanya berpelukan melepas rindu. "Ya ampun, kamu sudah jadi Bumil sekarang. Pangling loh aku." ucap Metta sembari mengurai pelukannya.
Mata Metta turun ke arah perut Khaira. "Boleh aku elus perutnya? Ihh, gemas deh."
Khaira tertawa sembari menganggukkan kepalanya. "Boleh dong..."
Metta mengelus perut sahabatnya itu. "Hai debay, kenalan ya. Ini Onty Metta..." sapanya kepada bayi yang masih di dalam rahim Khaira itu.
Usai itu, Khaira pun duduk. Wajahnya begitu bahagia bisa kembali bersua dengan sahabatnya.
"Onty Metta sekarang kerja di mana nih?" tanya Khaira kepada Metta.
Khaira pun mengangguk. "Iya, lulusan Teknologi Pendidikan bisa buat jadi guru TIK. Jadi guru biasa juga bisa kok. Udah punya pacar belum? Lo udah dewasa, masak mau jomlo terus."
Metta mengedikkan bahunya. "Gue mau menikmati masa muda dulu, baru juga mau 25 tahun. Masih muda lah, Khai ... Gue juga enggak mau dijodohin sama orang tua." jawabnya sembari menyedot minuman kopinya. "Pesen Khai, biar gue yang traktir. Lo mau Caramel Macchiato seperti biasanya?"
Metta masih ingat bahwa selain Teh tubruk dan Cokelat, Caramel Macchiato.
Khaira segera menggelengkan kepalanya. "Aku enggak minum kopi, Ta. Kata Dokter, Ibu hamil harus mengurangi minuman berkafein. Aku pilih Strawberry Smoothie aja deh."
"Karena sekarang ada debay, yang dimakan harus dipikirkan ya Khai?" tanya Metta.
__ADS_1
Khaira menganggukkan kepala. "Iya, asupan sari makanannya kan buat debaynya. Biar sehat Onty."
Metta pun memesankan Strawberry Smoothie untuk Khaira, tak lupa ia memesan beberapa cake yang akan menemaninya mengobrol.
"Sudah berapa bulan kehamilannya Khai? Hubungan sama suami baik?" tanya Metta.
"Sudah 3 bulan ini, Ta ... Alhamdulillah, aku sama Mas Radit baik." jawab Khaira.
Khaira pun meminum Strawberry Smoothie itu. Merasakan rasa manis dan asam dari minumannya itu. "Kamu seriusan belum punya pacar, Ta? Kalau udah tuh ya kenalin lah ke aku."
Metta segera menggelengkan kepalanya. "Gue ngejar karier dulu, Khai. Nanti kalau udah ada, gue kenalin deh ke lo." Metta nampak menjeda sejenak ucapannya. "Khai, lo masih ingat Tama?"
Menaruh gelasnya, Khaira menatap mata Metta. "Kenapa emangnya?"
"Sejak lulus kuliah dulu, beberapa kali Tama nanyain kabar lo ke gue. Keliatannya cowok itu belum move on deh dari lo." ucap Metta sembari menghela nafasnya.
Khaira nampak kembali berpikir, untuk apa Tama masih menanyakan kabarnya, padahal beberapa bulan yang lalu dia sudah bertemu dengan Tama di kampusnya. "Beberapa bulan lalu, gue ketemu Tama di kampus kok. Waktu gue selesai ngajar. Tama ambil S2 di kampus kita."
Metta memincingkan matanya. "Jadi, kalian sudah pernah ketemu?" tanyanya.
"Iya, sengaja aja ketemu waktu gue nungguin Mas Radit jemput." jawab Khaira.
"Hmm, menurut gue kok Tama masih menyimpan perasaan deh sama lo. Masih belum bisa move on tuh orang. Sayang banget cakep-cakep tapi gagal move on." ucapnya sembari menatap wajah Khaira.
Khaira memincingkan matanya. "Kenapa lo gak coba pendekatan aja sama Tama. Cocok kok lo kalau mau sama Tama. Toh, kalian masih saling bertukar pesan. PDKT aja sekalian."
Seketika Metta menggelengkan kepalanya. "Mana bisa gue ngegantiin posisi lo di hati Tama. Enggak bakalan bisa Khai? Justru kalau gue lakuin itu, takutnya gue bakalan sakit hati karena Tama gak bisa nerima gue dan lebih parah lagi kalau dia memandang gue sebagai lo. Gue gak mau itu." ucapnya dengan sorot mata yang tidak bisa dijelaskan.
__ADS_1
Ya Khaira tau dengan apa yang Metta ucapkan. Akan tetapi, berkaca dari pengalamannya sendiri, dia yang semula tidak mencintai suaminya bahkan ia pergi ke Manchester tanpa pamit, tetapi sekarang ia sungguh mencintai suaminya. Kedekatan dan kebersamaan yang mereka bangun membuat cinta itu bersemi di dalam hati keduanya.
"Cinta yang tulus yang akan mengubahkan hati dan perasaan seseorang, Ta. Selain itu, bawa nama orang itu dalam setiap sujud kita. Bermunajat kepada Allah semata. Karena Dia lah yang bisa membolak-balikkan hati manusia." ucapnya sembari menatap lembut pada sahabatnya.