
Keesokan harinya adalah hari Senin. Hari di mana Radit akan kembali bekerja di kantor Ayahnya. Tidak seperti hari biasanya, pagi ini pria itu bangun dengan mengeluh meriang kepada istrinya.
"Ayo Mas ... bangun. Sudah pagi, kamu ke kantor enggak?" Ucapnya membangunkan suaminya untuk bersiap ke kantor.
Enggan bangun, Radit justru menarik selimutnya. "Bentar Sayang ... rasanya aku ngantuk banget, meriang badanku Sayang." Keluhnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Khaira pun duduk di sebelah tempat tidur suaminya, tangannya terulur menyentuh kening suaminya mengecek suhu tubuhnya. Namun saat tangan itu menyentuh kening suaminya, rasanya tidak demam. Suhu badan suaminya masih normal.
"Mau cuti Mas? Kita bisa ke Dokter untuk periksa. Aku khawatir, biasanya kamu kan jarang banget ngeluh sakit. Atau mau aku kerokin. Ya, walaupun kerokan itu hanya mitos buat meredakan masuk angin, tetapi kalau kamu mau, biar aku kerokin."
Radit justru menggelengkan kepala dan menarik tangan istrinya hingga kini istrinya terjatuh dalam pelukannya. "Peluk aku saja Sayang ... sepuluh menit ya. Biarkan seperti ini." ucapnya dengan mata yang masih terpejam dan memeluk istrinya itu dengan begitu erat.
"Padahal sepanjang malam udah dipeluk loh, paginya masih manja. Tumben-tumben sih Mas ... biasanya kamu kan rajin bangun pagi. Bahkan sering kali kamu yang bangun duluan loh." ucapnya dengan tangan yang melingkari pinggang suaminya.
Radit hanya tersenyum. "Dengan meluk kamu seperti ini, meriangku sembuh Sayang. Merindukan Kasih Sayang, meriang." ucapnya sembari terkekeh geli.
Khaira pun memukul dada suaminya itu. "Modus pasti. Pagi-pagi udah dimodusin. Ya sudah, bangun yuk Mas ... aku mandiin Arsyila dulu dan buatin sarapan." ucapnya sembari mengurai pelukan suaminya itu.
"Hmm, iya ... bentar lagi aku bangun ya." ucapnya memilih memejamkan mata dan menarik kembali selimutnya.
Sementara Khaira hanya tersenyum dan menggelengkan kepala melihat perilaku suaminya yang pagi itu terlihat aneh itu. Meninggalkan suaminya, Khaira kemudian membangunkan Arsyila, kemudian memandikan Arsyila, setelah selesai Khaira melanjutkan aktivitasnya di dapur.
"Ma ... Papa mana Ma?" tanya Arsyila yang menanyakan keberadaan Papanya, karena Papanya masih belum kelihatan batang hidungnya.
"Mungkin masih di dalam kamar, Syila Sayang. Minta tolong panggilkan Papa bisa?" pintanya meminta tolong kepada Arsyila.
Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya. "Oke Ma ... Syila naik ke atas buat memanggil Papa."
__ADS_1
Baru saja Arsyila naik ke atas guna memanggil Papanya, ternyata Arsyila berteriak memanggil Mamanya. "Ma ... Papa sakit, Ma." teriakannya yang membuat Khaira meninggalkan kegiatannya di dapur dan kemudian dengan cepat menaiki tangga.
Begitu sampai di dalam kamar, dia melihat suaminya yang tengah berdiri di depan wastafel dan berusaha memuntahkan isi perutnya. Dengan sigap, Khaira berdiri di belakang suaminya itu dan memijit punggungnya perlahan.
"Kamu kenapa sih Mas? Perasaan kemarin aja sehat-sehat sekarang kok malahan muntah kayak gini." ucapnya khawatir kepada suaminya itu.
Membilas wajah suaminya usai muntah, kemudian Khaira mengambilkan tissue untuk menyeka mulut suaminya.
"Makasih Sayang ... kamu perhatian banget. Padahal aku baru muntah. Kamu enggak jijik?" tanyanya dengan menyeka bibirnya dengan menggunakan tissue.
Khaira pun menggelengkan kepalanya. "Kamu suamiku, kamu imamku, kamu orang yang selalu kucintai jadi aku tidak jijik kepadamu. Gimana badannya?" tanyanya masih khawatir karena perubahan kondisi suaminya yang cukup mendadak.
"Gak apa-apa, paling cuma masuk angin aja." ucapnya.
Keduanya lantas keluar dari kamar mandi dan Syila tengah menunggu di atas tempat tidur. "Papa sakit apa Pa?" Kepanikan juga tercetak jelas di wajah cantik Arsyila.
Arsyila menatap wajah Papanya, kemudian memeluknya. "Get well soon Papa...."
"Makasih cantiknya Papa ...." balasnya sembari memeluk Arsyila dengan penuh sayang.
Melihat suami dan anaknya itu, Khaira tersenyum. Kemudian dia berniat turun ke bawah sebentar. Membuat sesuatu yang bisa meredakan meriang dan mual yang dialami suaminya itu.
Hanya berselang lima menit, Khaira kembali naik ke atas dan membawa jahe hangat dan juga minyak kayu putih.
"Jahe hangat Mas ... biar mualnya reda. Sama aku olesin minyak kayu putih di perut kamu ya."
Melihat Mamanya yang membawa minyak kayu putih, Arsyila pun turun dari pangkuan Papanya. "Syila, punya minyak telon Ma ... Syila ambilin ya buat Papa. Biar Papa sembuh." ucapnya dengan begitu lucu yang ingin mengambilkan minyak telon untuk Papanya.
__ADS_1
Khaira tertawa kemudian mulai menuangkan beberapa tetes minyak kayu putih ke telapak tangannya, kemudian mengusapkannya ke perut suaminya.
Melihat perhatian yang diberikan oleh Khaira, Radit pun tersenyum. "Makasih banget Sayang ... sudah pasti perutku jadi enakan." ucapnya berterima kasih sembari mengusap lembut puncak kepala istrinya.
Khaira masih mengusapi perut suaminya itu, lalu menatap wajah suaminya. "Pagi-pagi mual kayak morning sickness aja sih Mas." ucapnya sembari mengerucutkan bibirnya.
Mendengar ucapan Khaira, Radit kemudian mengernyitkan keningnya. "Apa jangan-jangan...." perkataannya tertahan, kemudian dia menatap wajah istrinya.
"Sayang, bentar deh ... kapan terakhir kali kamu dapat?" tanyanya mendadak.
Khaira pun nampak berpikir, kapan terakhir kali dia mengalami masa menstruasi. Dengan segera Khaira mengambil handphonenya yang berada di atas nakas mengecek sebuah kalender dalam aplikasi kesuburan di sana.
Mata wanita itu pun membelalak. "Eh, kok telat ya Mas ... telat dua mingguan ini. Aduh, gimana ya Mas?" ucapnya panik karena ternyata dia sudah telat dua minggu.
Berbeda dengan Radit, pria itu justru tersenyum dan merentangkan kedua tangannya hendak memeluk tubuh istrinya itu. "Sini Sayang...." ucapnya sembari memeluk istrinya itu dengan begitu erat.
Kemudian dia mengurai pelukannya sejenak dan menatap wajah istrinya itu. "Sapa tau ... di sini ada baby lagi Sayang. Adiknya Arsyila sedang mulai bertumbuh di dalam sini." ucapnya perlahan sembari mengelus perut istrinya yang masih rata.
Mendengar ucapan suaminya dan dirinya yang juga sudah telat, Khaira berusaha mencerna apa yang terjadi. Kemudian dia menatap wajah suaminya. "Apa kamu kena couvade syndrom Mas? Gejala kehamilan yang biasa dialami oleh kaum pria. Mungkinkah?"
Radit justru terkekeh geli dan kembali memeluk istrinya itu. "Mungkin saja Sayang ... Kamu mau cek? Aku beli test pack sebentar di apotek yang berada di ujung jalan. Mau?"
Menggelengkan kepala, tetapi Khaira justru cemas. Memang selama ini dia tidak memasang kontrasepsi, dan jika hamil lagi dirinya harus kembali beradaptasi. Terlebih saat ini dia sudah memiliki Arsyila, sudah pasti jika benar-benar hamil maka kehamilan kedua itu akan berbeda.
"Besok pagi aja cobanya Mas ... tetapi, aku enggak yakin loh. Soalnya aku sehat-sehat saja. Enggak merasa aneh di badanku." ucapnya dengan matanya yang menatap deretan kalender di aplikasi handphonenya dengan latar berwarna pink itu.
Radit justru kian mengeratkan pelukannya. "Kamu sehat-sehat aja Sayang ... kita tunggu hasilnya besok ya, semoga calon baby sedang bertumbuh di sini. Arsyila biar punya adek dan dia enggak sedih setelah berpisah dari Aksara. Aku yakin, baby ini yang Tuhan kirimkan untuk menghibur Arsyila."
__ADS_1