Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Dokter Anak Kejutan


__ADS_3

Jauh di luar bayangan Radit dan Khaira, kurang lebih 8 jam pasca persalinan baby Arshaka sudah bisa dipindahkan dari inkubator dan kini bayi mungil itu berada di dalam box bayi. Seorang perawat mendorong box bayi tersebut, dan membawanya ke dalam ruangan Khaira.


“Bu Khaira … babynya sudah sehat dan kondisi baik. Sehat. Jadi sudah bisa dipindahkan dari inkubator.” jelas seorang perawat tersebut.


Khaira dan Radit yang semula hanya duduk dan dalam diam, kini keduanya sama-sama tersenyum saat perawat membawa kabar bahwa Arshaka dalam kondisi sehat. Rasanya keduanya diguyur dengan hujan kebahagiaan. Baru tadi pagi keduanya menengok Arshaka yang masih berada di dalam inkubator, dan sekarang bayi kecil dengan kulitnya yang masih merah itu sudah berada di dalam kamar rawat inap Khaira. Kebahagiaan yang membuat Khaira meneteskan air mata tentunya.


“Mau saya bantu untuk memandikan bayinya Bu?” tawar sang perawat lagi kepada Khaira.


“Iya, saya mau.” jawab Khaira dengan cepat.


Maka dari itu, seorang perawat segera menyiapkan air hangat untuk memandikan Arshaka. Baju bayi dan beberapa perlengkapan bayi lainnya juga disiapkan oleh Khaira.


“Memang bayi yang baru lahir, sebaiknya tidak langsung dimandikan untuk mencegah hipotermia pada bayi, menjaga lapisan kulit yang disebut Vernix untuk menjaga kelembaban kulit bayi. Jadi baru sekarang dimandikan ya Bu.” penjelasan dari perawat tersebut kepada Khaira.


Sudah tentu Khaira sedikit banyak tahu karena selama kehamilan dirinya juga membekali dirinya sendiri dengan berbagai informasi seputar kehamilan dan janin. “Iya … terima kasih ya.” ucap Khaira yang berterima kasih kepada perawat tersebut.


Setelah bayi Arshaka usai dimandikan, dan perawat sudah keluar dari kamar Khaira. Mulailah Khaira untuk memberikan ASI kepada bayinya tersebut. Melihat si bayi yang begitu tenang dan dekapannya dan merasa nyaman, membuat Khaira begitu bahagia, hatinya terasa hangat. Momen bisa menggendong dan memberikan ASI secara lamgsung seperti ini selalu menjadi momen bahagia dan penuh haru bagi Khaira.


“Shaka haus ya Sayang … minumnya cepet banget.” ucap Radit yang sembari menowel pipi Arshaka.


“Iya … haus, Mas. Aku senang deh, Mas … akhirnya bisa menggendong dan meng-ASI-hi Shaka kayak gini. Senang dan bahagia banget.” ucapnya.


“Aku juga bahagia, Sayang. Makasih ya, kamu selalu melanjutkan perjuanganmu bahkan di saat kamu pun tidak kuat dan ingin berhenti di tengah jalan. Terima kasih sudah menjadi wanita terbit buatku dan anak-anak kita.” ucapnya.

__ADS_1


Tidak lama setelah mendapatkan ASI, bayi Arshaka pun tertidur di dalam timangan Khaira. Menimang bayi seperti ini membuatnya teringat bagaimana kali pertama dia menimang Arsyilla. Akan tetapi, baru sesaat terjadi, rupanya ada visiting dari Dokter Anak yang datang ke dalam kamar Khaira.


“Selamat siang …” sapa Dokter Anak tersebut.


“Siang Dok …” sapa Khaira dan Radit bersamaan.


“Eh, Dokter Bisma ya.” ucap Khaira dengan reflek karena Dokter Bisma adalah Dokter Anak bagi Arsyilla. Mulai dari imunisasi hingga setiap Arsyilla sakit, Dokter Bisma menjadi pilihan bagi Khaira untuk memeriksakan Arsyilla.


“Ah, iya … Ibu ini Ibunya Arsyilla Kirana kan?” tanya Dokter Bisma yang ternyata masih mengingat Arsyilla.


Melihat keakraban istrinya dengan Dokter Anak tersebut, Radit pun berbisik kepada istrinya, “Kamu kenal ya Sayang?”


Akan tetapi, Radit sedikit mengamati wajah sang Dokter. Dalam benaknya kenapa wajah Dokter ini terlihat begitu familiar dan tidak asing baginya.


“Iya Dok …” jawab Khaira dengan mengangguk.


“Jam 02.15 dini hari tadi, Dok.” Radit lah yang menjawab pertanyaan dari Dokter Bisma.


“Berat dan Panjangnya berikan Pak?” rupanya kini Dokter Bisma juga bertanya kepada Radit.


“3,32 kilogram dan panjangnya 50 cm, Dok.” jawab Radit lagi dengan begitu tepat.


Dokter Bisma pun tersenyum, “Wah, Bapaknya luar biasa hafal semua momen kelahiran si bayi ya. Sama kayak saya dulu waktu menyambut putra saya hampir 8 tahun yang lalu.” kenangnya saat dulu menyambut kelahiran putranya.

__ADS_1


“Menyambut kelahiran buah hati memang terasa begitu istimewa, Dok.” Radit berbicara sembari menatap pada wajah bayi Arshaka yang masih terlelap itu.


“Benar Pak … saya mengalaminya sendiri. Oh, iya … ngomong-ngomong ini bayi yang semalam lahir tanpa menangis itu ya Bu?” tanya Dokter Bisma lagi.


“Benar Dok … anak saya yang semalam lahir dan tanpa menangis sama sekali. Benar-benar sunyi, untung Dokter Indri dan para perawat bergerak cepat dan ada cairan yang keluar dari hidung dan mulut bayi barulah dia mau menangis.” cerita Khaira kepada Dokter Bisma.


Dokter Bisma pun mengangguk dan mendengarkan cerita Khaira tersebut, “Alhamdulillah sekarang bayinya sehat ya Bu … Nah, bayi dengan kasus seperti ini, sebaiknya terus diberikan ASI ekslusif ya Bu, terlebih colostrum yang sangat bagus untuk sistem imun dan daya tahan babynya.” penjelasan dari Dokter Bisma kepada Khaira.


Khaira pun mengangguk, “Iya Dok …” sahutnya.


“Baik Bapak dan Ibunya Arsyilla, saya pamit ya. Selamat sekali lagi dan semoga babynya sehat selalu. Sampaikan salam saya dan putra saya untuk Arsyilla ya.” ucap Dokter Bisma dan kemudian keluar dari kamar rawat inap Khaira.


Setelah Dokter Bisma keluar, mulailah Radit bertanya-tanya bagaimana bisa Dokter itu bisa terlihat mengenal Arsyilla dan juga istrinya.


“Keliatannya kamu dan Syilla kenal banget sama Dokter itu ya Sayang?” tanya Radit yang terdengar posesif.


“Iya kenal … kan dia Dokter Anaknya Syilla, Mas. Tempat Syilla imunisasi dan kalau sakit selalu ke Dokter Bisma.” jawab Khaira.


Radit pun mulai menganggukkan kepalanya, “O … sampai hafal ya sama Syilla?” tanya Radit lagi.


Khaira pun tersenyum, “Iya … hafal.”


“Kenal juga sama putranya Dokter itu?” tanya Radit lagi kepada Khaira.

__ADS_1


“Enggak kenal, cuma dulu Dokter itu ngasih Khaira Karamel katanya itu permen kesukaannya anaknya.” jelas Khaira kepada Radit.


Radit pun mengangguk, “O … gitu. Namun, kenapa wajah Dokter itu terasa familiar ya. Rasanya aku kayak pernah ketemu tapi di mana ya?” ucap Radit sembari terus mengingat-ingat siapa Dokter Bisma itu.


__ADS_2