
Cemburu menjadi salah satu bumbu penyedap dalam membina cinta dalam hidup berumah tangga. Walau pun hasrat hati ingin menepisnya, tetapi kecemburuan nyatanya datang begitu saja.
"Euhm, Mas Radit enggak sedang cemburu kan?" tanya Khaira sembari sedikit mendongakkan wajahnya supaya bisa melihat wajah suaminya itu.
Di dalam hatinya Radit justru tertawa geli, mengapa mudahnya ia cemburu pada Khaira. Padahal istrinya juga tidak pernah macam-macam, wanita berperilaku baik. Namun entah, setiap melihat Tama, hatinya seakan tercubit. Bukan tanpa alasan, Radit menilai Tama selalu memandang dirinya dengan tatapan tidak suka. Mungkin pria adalah makhluk yang tidak banyak berbicara, tetapi sering kali sorot mata seorang pria berkata banyak hal melebihi mulutnya.
"Kalau cemburu dalam batas wajar gak papa kan Sayang... Apalagi punya istri seperti kamu, layak dicemburui. Kan orang bilang, cemburu itu tanda cinta." jawab Radit dan kini tengah membukakan pintu mobilnya bagi istrinya.
Khaira mengangguk setuju. "Iya cemburu boleh, asal jangan banyak-banyak ya Papa...." satu kalimat yang terucap ternyata sangat ampuh merobohkan setiap tembok kecemburuan di dalam hati Radit.
Panggilan 'Papa' yang diucapkan Khaira selalu bisa menenangkan hatinya.
Setelahnya ia mengitari mobil, lalu mengambil duduk di kursi kemudi. "Mau langsung pulang atau mau mampir lagi?" tanya Radit kepada Khaira.
"Aku mau pulang aja Mas, kangen rebahan. Pinggang aku capek rasanya kebanyakan duduk." keluhnya sembari kembali menyandarkan bahunya ke kursi mobil.
Akhirnya Radit kemudian mengemudikan mobil menembus kemacetan Ibu Kota. Sejak Khaira hamil, pria itu memang lebih pelan menjalankan mobilnya karena ia tidak ingin ada guncangan yang mengakibatkan sesuatu pada Khaira dan baby nya.
Begitu sampai di rumah, Radit segera membukakan pintu mobil untuk Khaira. Tidak lupa ia membawakan hand bag milik istrinya dan mengambil sebuah plastik yang berada di jok belakang.
"Plastik apa itu Mas?" tanya Khaira yang cukup penasaran dengan kantong plastik yang tengah dijinjing suaminya.
"Ini? Aku tadi mampir susu hamil buat kamu. Stok di rumah kan sudah mau abis. Aku belikan yang rasa Stroberi nih kesukaan Bumilku." jawabnya seraya sedikit mengangkat kantong plastik itu.
Khaira justru memeluk suaminya. "Makasih ya Papa, di sini adek pasti tambah sehat karena susu yang Papa belikan. Udah minum vitamin dari Dokter, masih minum susu yang tinggi asam folat, adeknya pasti sehat deh." ucap Khaira.
"Hmm, iya ... Adek harus sehat-sehat di dalam perut Mama ya. Biar nanti kalau kita ketemu, adek lahir sehat, lengkap, dan sempurna." balas Radit dengan mata yang berkaca-kaca. Hatinya selalu berdesir jika membayangkan momen pertemuannya dengan anaknya kelak. Buah cintanya bersama Khaira.
"Ya sudah rebahan dulu Sayang, tadi bilangnya pinggangnya capek. Ganti baju, terus rebahan. Aku mau mandi dulu bersih-bersih dulu." ucap Radit yang langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Kurang lebih 15 menit Radit membersihkan dirinya di kamar mandi. Saat itu keluar dengan wajah yang lebih segar, ia melihat ke tempat tidur bahwa istrinya itu telah tertidur.
__ADS_1
Perlahan ia mengambil tempat di sisi Khaira, ia mengamati wajah cantik istrinya yang tengah tidur dengan pipi yang lebih chubby. Tangannya membelai lembut pipi itu. "Istirahat Sayang...." ucapnya pelan. Lalu ia menarik selimut guna menyelimuti tubuh istrinya itu.
Tidak turut tidur, Radit memilih kembali bekerja dengan laptopnya sembari duduk bersandar di head board di sebelah istrinya.
Menit berganti menit, jam pun berganti jam, kurang lebih hampir 2 jam Khaira telah tertidur. Perlahan ia mengerjap dan kelopak matanya membuka perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah suaminya yang masih bekerja dengan memangku laptop di sebelahnya. "Mas..." dipanggilnya suaminya itu. Panggilan yang membuat Radit langsung menoleh dan menatap Khaira.
"Hmm, apa Sayang?" tanyanya sembari menaruh laptopnya di sisi nakas tempat tidurnya.
"Ini jam berapa sih? Aku ketiduran lama ya?" tanya Khaira sembari mengucek matanya.
"Baru jam delapan malam, Sayang. Masih sore ini. Kenapa?" tanyanya kepada Khaira.
"Mas Radit sudah makan? Maaf aku tadi malahan ketiduran deh." ucapnya sembari mengubah posisinya menjadi bersandar di head board tempat tidurnya.
Radit menggelengkan kepala. "Aku belum makan, tapi gak papa. Aku tahu kamu kecapean, sudah wajar kalau Bumil lebih sering mengantuk."
Sebenarnya tidak hanya Khaira yang belajar seputar kehamilan, Radit pun ternyata sering berselancar di dunia maya untuk membaca perihal kehamilan. Ia ingin mengisi informasi seputar kehamilan dan janin juga, sebagai calon ayah, ia merasa bahwa informasi kehamilan, janin, bahkan persalinan perlu juga ia ketahui. Ia ingin menjadi suami yang selalu bisa diandalkan oleh Khaira, menjadi suami siaga.
Mengangguk, akhirnya Radit menutup terlebih dahulu file-file di laptopnya lalu memasukkan laptopnya ke dalam tas ranselnya.
Sementara itu di bawah, Khaira mulai menyiapkan nasi dan memanaskan sayur yang ia masak siang sebelum mengajar di kampus. Hanya menu sederhana yang Khaira masak, oseng tempe dan kacang panjang, sambal tomat, dan juga ayam goreng serundeng.
Ia sudah tersaji di meja makan, ia sekaligus mengisi dua gelas dengan air putih. Tidak lama berselang, Radit pun turun ke bawah.
"Wah, masakannya enak nih." ucap Radit begitu melihat menu makan mereka malam itu.
"Cuma masakan rumahan aja kok Mas." sahut Khaira.
"Masakan rumahan pun tetapi kamu memasaknya kan dengan cinta Sayang, dan masakanmu itu selalu enak." puji Radit kepada Khaira.
"Mas, tapi aku tiba-tiba pengen sesuatu tuh..." ucapnya menghentikan aktivitasnya mengunyah makan malamnya.
__ADS_1
"Hmm, pengen apa?" tanya sang suami.
"Mau omelette. Tapi Mas yang bikinin..." ucapnya sembari tersenyum.
Radit pun ikut tersenyum. "Aku habisin makannya sebentar, abis ini langsung aku buatin gimana? Bisa sabar nungguin enggak?" tanya Radit.
Khaira pun menganggukkan kepala. "Iya, bisa. Makan dulu aja Mas...."
Akhirnya Radit menghabiskan makanannya lebih cepat, setelahnya ia segera mengambil dua butir telor di kulkas. Dengan gesit ia mengaduk telor itu dan menambahkan sedikit susu.
"Sayang, takaran garamnya seberapa ya buat bikin omelette?" Serunya sembari menoleh melihat Khaira yang masih duduk di meja makan.
"Sejumput aja Mas...." sahutnya.
Radit menghentikan kegiatannya sejenak, ia kembali berbalik melihat Khaira. Menunjukkan ibu jari dan jari telunjuknya yang saling bertaut dan justru membuat simbol finger heart. "Sejumput segini?" tanyanya sambil mengangkat finger heart yang di buat dengan ibu jari dan jari telunjuknya itu.
"Iya, sejumput aja Mas...." balas Khaira sembari bertopang dagu menunggu omelette buatan suaminya.
Radit ingin menggodai istrinya. "Sayang, yakin sejumput?" masih mengangkat finger heart nya.
Khaira tersenyum malu, lalu ia pun membuat simbol finger heart serupa. "Mas...." panggilnya pada sang suami yang membuat pria itu menoleh.
"Sejumput ini Mas..." ucapnya.
Radit menganggukkan kepala. "Hmm, iya. Saranghae Khaira...." balasnya sembari menunjukkan simbol finger heart itu.
Tidak berselang lama, omelette buatan Radit sudah jadi. "Nih, omelette spesial pake cinta buat Bumilku cantik..." ucap Radit.
Khaira tersenyum menerima omelette buatan suaminya itu. Tanpa bicara ia sedikit menarik lengan suaminya, wanita ia mendaratkan bibirnya di pipi suaminya.
Cup.
__ADS_1
"Makasih Papa, saranghae...."