
Suatu hari, terlihat seekor Ibu Itik sedang mengerami telur-telurnya. Ia sudah tidak sabar menunggu anak-anaknya lahir ke dunia. Akhirnya, hari yang di tunggu ibu itik pun tiba. Telur-telur pun satu per satu menetas dan anak-anaknya keluar dari cangkangnya. Namun, ibu itik sangat terkejut dari beberapa anaknya ada yang berbeda. Satu anaknya tersebut memiliki warna yang berbeda dari saudara-saudaranya. Ia memiliki warna abu-abu dan memiliki badan yang lebih besar dari yang lain.
Melihat anaknya yang berbeda ibu itik terheran-heran. Namun, ia tidak peduli dan menyambut anak-anaknya lahir ke dunia. Ibu itik langsung mengajak anak-anaknya berenang bersama di danau.
Ketika mereka berenang, mereka pun melewati hewan lain yang melihat ibu itik dan anak-anaknya. Namun, mereka pun berbisik-bisik.
"Siapa itu? Dia sangat berbeda dari saudara-saudaranya yang lain, ia pun sangat jelek." Bisik-bisik hewan yang melihat keluarga itik tersebut. Mendengar yang di katakan hewan-hewan yang lain membuat sang ibu merasa sedih. Namun, ia tidak peduli karena satu anaknya memang berbeda dari yang lain. Akan tetapi, dia tetap anaknya.
Semua hewan mengejek itik abu-abu. Bahkan saudaranya sendiri. Itik abu merasa sangat sedih. Ia pun memutuskan untuk pergi karena ia tidak mau lagi tinggal di sana. Ia pun berjalan kesana-kemari dan bertemu dengan seorang anjing yang sedang mencari makan. Melihat sang anjing, itik abu pun ketakutan karena ia takut di makan olehnya. Namun, sang anjing malah berlari menjauhi itik abu-abu. Melihat anjing yang berlari menjauhinya, ia merasa semakin sedih karena anjing pun takut melihatnya.
Ia pun melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan tersebut ia merasa kelelahan dan tertidur di depan sebuah rumah. Tiba-tiba, datanglah seekor Kucing dan Ayam datang menghampirinya. Itik abu-abu pun bangun dari tidurnya dan melihat dua binatang tersebut. Namun, mereka langsung mengusir Itik abu-abu agar segera pergi dari depan rumah tersebut.
Dengan perasaan sangat sedih, ia pun melanjutkan perjalanan. Ia berjalan sangat jauh dan akhirnya, ia beristirahat di pinggir sungai. Ia melihat serombongan angsa lewat. Ia pun sangat iri melihat kecantikan Angsa-angsa tersebut.
"Kenapa kamu bersedih?" sapa salah satu Angsa yang menghampiri Itik abu.
"Aku sedih karena aku jelek dan tidak bisa seperti kalian." Jawab Itik abu sedih.
Rombongan Angsa hanya tertawa.
"Siapa yang bilang kamu jelek? Kamu sangat cantik seperti kami." Jawab Angsa.
Rombongan Angsa pun mengajak Itik abu mendekat ke tepi sungai. Itik abu-abu sangat terkejut melihat sosok Angsa putih di dalam air. Ia tidak melihat dirinya yang jelek dan di takuti di dalam air tersebut. Ia heran, siapa Angsa yang sangat cantik tersebut.
"Angsa cantik itu adalah dirimu. Kamu sama seperti kami."
Itik abu-abu sangat senang. Kini, ia bukan Itik yang buruk rupa lagi. Ia adalah seekor Angsa yang sangat cantik. Ia pun ikut terbang bersama Angsa yang lain dan mencari tempat yang sangat hangat untuk mereka tinggali bersama.
(Itik Kecil Buruk Rupa - Hans Christian Andersen)
Khaira membacakan sebuah dongeng berjudul "Itik Kecil Buruk Rupa" Karya Masterpiece Dongeng Dunia yaitu Hans Christian Andersen.
__ADS_1
Anak-anak yang mendengarkannya pun terlihat antusias. Akan tetapi, usai Khaira selesai mendongeng dan anak-anak lain memilih untuk menikmati berbagai snack dan makanan yang disiapkan, ada seorang anak laki-laki yang masih duduk di hadapan Khaira. Khaira pun menghampiri anak kecil itu.
"Hei ... halo ... nama kamu siapa Nak?" tanya Khaira yang kini sudah duduk di hadapan anak kecil itu.
"Namaku Aksara Adi Narotama. Biasa dipanggil Aksara." jawab bocah itu dengan penuh percaya diri.
"Aksara umurnya berapa tahun?" Lagi tanya Khaira.
Bocah kecil itu mengangkat ketiga jarinya. "Tiga tahun ...."
"Kenapa Aksara tidak ikut makan kue bersama teman-teman yang lain?" Tanya Khaira kepada bocah kecil bernama Aksara itu.
"Aksara suka dongeng Itik Kecil Buruk Rupa itu. Aksara merasa kalau Aksara adalah Itik buruk rupa itu." Ucap bocah itu dengan polosnya.
Khaira beringsut dan membawa bocah kecil itu dalam pangkuannya. Pemandangan itu pun tak lepas dari tatapan mata Radit. Pria itu pun juga turut duduk di sebelah istrinya.
"Iya, karena Aksara tidak punya siapa-siapa. Buktinya Aksara tinggal di Panti Asuhan ini. Akan tetapi, Aksara mau menjadi anak yang berhasil suatu saat nanti." ucap bocah itu dengan penuh percaya diri.
Khaira mengusap rambut hitam milik bocah bernama Aksara. "Bu Lisa dan teman-teman di sini adalah keluarga Aksara. Di lain waktu Tante dan Om akan main ke sini lagi untuk menengok Aksara ya. Aksara harus sekolah yang pandai. Jadi anak yang pintar, supaya menjadi anak yang berhasil di kemudian hari ya...." ucap Khaira dengan lemah lembut.
"Bolehkah Aksara memanggil Tante dan Om dengan sebutan Ibu dan Ayah?"
Sontak Khaira pun memandang pada suaminya, dan saat itu Radit menganggukkan kepalanya.
"Kamu boleh memanggil kami Ibu dan Ayah. Sekarang, Aksara main bersama teman-teman yang lain ya. Di lain waktu, kami akan main ke sini untuk tengokin Aksara. Belajar yang rajin ya." ucap Radit sembari mengacak puncak kepala bocah bernama Aksara itu.
"Iya Ayah ... Aksara akan jadi anak yang pandai. Aksara ingin menjadi Dosen saat dewasa nanti." Balas Aksara.
Radit tergerak hatinya saat bocah itu memanggilnya Ayah, terlebih saat bocah itu memiliki cita-cita menjadi Dosen, yang ada dipikiran Radit bahwa Aksara akan seperti Khaira.
"Ibu juga adalah seorang Dosen, Aksara...." Sahut Radit.
__ADS_1
"Wah, Ibu hebat. Aksara ingin menjadi seperti Ibu." jawab bocah itu dengan bahagia.
Tidak berlangsung lama, Aksara pun bergabung dengan teman-teman yang lainnya.
Khaira lantas duduk dan menghadap pada suaminya. "Mas, mau enggak nolongin Aksara?" tanya Khaira dengan hati-hati.
Radit lantas tersenyum. "Coba kamu ceritakan maksudmu dulu, aku akan mendengarnya."
"Euhm, kita bantu untuk menyekolahkan Aksara. Mas Radit setuju enggak? Kita akan kirimkan uang pendidikan buat dia melalui Bu Lisa." ucap Khaira kepada suaminya.
"Hati kamu memang baik Sayang ... baiklah, kita nanti ke Bu Lisa dan sampaikan niat baik kita berdua ya." jawab Radit sembari merangkul bahu istrinya.
"Jadi kamu setuju Mas?" Lagi tanya Khaira kepada suaminya.
Radit nampak menganggukkan kepalanya. "Sudah pasti aku setuju. Hati kamu baik banget Sayang."
Sebelum pulang, Radit dan Khaira menemui Bu Lisa dan menyatakan niat baik mereka untuk menyekolahkan Aksara. Gayung pun bersambut, Bu Lisa juga menerima baik bantuan dari Radit dan Khaira.
Setelahnya mereka meminta untuk berfoto bersama dengan Aksara.
"Aksara foto dengan Ayah dan Ibu dulu ya." ajak Radit kepada bocah bernama Aksara itu.
Berfotolah mereka dengan kamera dan pocket kamera yang langsung jadi.
"Aksara simpan foto ini ya, kami adalah Ayah dan Ibumu, dan dia adalah adek kamu. Namanya Arsyila. Aksara di sini sekolah yang pintar. Nanti di lain waktu kami ke sini lagi ya." ucap Radit sembari mengelus lembut puncak kepala Aksara.
Bocah kecil itu tersenyum, lantas dia berkata. "Bolehkah Aksara mencium adek bayi yang cantik?" Tanyanya dengan polos.
Radit dan Khaira pun lantas tertawa. "Boleh..."
Usai diperbolehkan Aksara mencium pipi chubby milik Arsyila.
__ADS_1
"Terima kasih Ayah, Ibu, dan Arsyila. Aksara janji akan belajar dengan baik di sini dan di sekolah nanti. Kapan-kapan kunjungi Aksara lagi ya."
Mereka pun lantas berpisah dan terus membawa perasaan bahagia untuk bocah kecil yang baru mereka temui hari itu. Aksara Adi Narotama....