Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Tak Semestinya Cemburu


__ADS_3

Akad nikah yang kemudian dilangsungkan dengan resepsi digelar sangat meriah. Mengusung konsep standing party di dalam ruangan, seluruh tamu bisa berjalan dan membaur dengan tamu undangan lainnya.


Sementara di pelaminan, kedua mempelai yakni Dimas dan Metta berdiri dan menerima ucapan selamat dari para undangan. Wajah keduanya terlihat begitu bahagia, dengan senyuman yang seolah tak pernah pudar dari wajah keduanya.


Begitu juga dengan Radit dan Khaira, mereka berdua seolah menjadi dua orang yang juga berbahagia ketika melihat secara langsung sahabatnya menikah. Keduanya menikmati pesta yang meriah, sekaligus pesta ini menjadi ajang reuni bagi Radit karena beberapa rekannya sewaktu masih bekerja di bank dulu pun turut datang.


"Hei, Bro ... Gimana kabarnya?"


"Ini Istri atau pacar, Bro?"


"Sekarang kerja di mana...."


Berbagai pertanyaan diajukan kepada Radit. Maklumlah karena Radit resign saat itu dengan alasan keperluan pribadi, sehingga rekan-rekan di tempat kerjanya yang dulu tidak ada yang tahu jikalau dia sudah menikah.


"Alhamdulillah ... gue baik. Oh, iya ... kenalin, ini Istri Gue." ucapnya dengan bangga saat memperkenalkan Khaira sebagai istrinya kepada beberapa temannya.


Khaira pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya kepada rekan-rekan suaminya di tempat kerjanya yang lama.


"Udah sejak kapan nikahnya, kenapa enggak undang-undang kita?" tanya salah satu rekannya.


"Sudah lama Bro, kami udah nikah tiga tahunan lah ... jalan ke empat tahun." jawab Radit singkat.


Sementara Khaira hanya mendengarkan suami dan rekan-rekannya yang mengobrol. Lagipula tidak masalah, karena pesta pernikahan memang seringkali menjadi ajang reuni bagi sesama keluarga, kerabat, maupun rekan kerja.

__ADS_1


Sekalipun mengobrol dengan rekan-rekannya, tetapi Radit selalu menggenggam tangan Khaira. Tak sedetik pun, dia membiarkan jari jemari istrinya terlepas dari tautannya.


Hingga akhirnya, keduanya memilih duduk lantaran sudahlah terlalu lama berdiri.


"Duduk dulu yuk Sayang ... kamu pasti capek berdiri terus. Lagipula, kamu pakai heels. Pasti capek." ucapnya seraya menggandeng tangan istrinya mencari tempat duduk.


Khaira pun mengikuti ke mana suaminya membawanya. Kakinya sudah pasti pegal karena berdiri terlalu lama, tetapi Khaira begitu bahagia karena ini adalah hari bahagia sekaligus bersejarah bagi sahabatnya. Kecapean memakai heels sehari tidak terasa, karena dia bisa melihat wajah penuh kebahagiaan dari Dimas dan Metta yang terus-menerus tersenyum bahagia di atas pelaminan.


"Mau aku ambilin minum?" tanya Radit begitu mereka telah duduk.


Khaira pun mengangguk. "Mau ... aku juga haus Mas. Euhm, tapi aku air mineral aja ya Mas. Jangan minuman dingin, takut masuk angin." ucapnya yang meminta air mineral kepada suaminya.


Tidak menunggu waktu lama, Radit pun mengambil air mineral untuk istrinya. Hanya mengambil satu botol berukuran kecil. Pria itu juga mengambil beberapa makanan kecil untuk istrinya.


"Ini Sayang ... Aku bawakan camilan juga." ucapnya sembari menyerahkan air mineral terlebih dahulu yang sudah dibuka seal-nya.


Dengan segera Radit menggelengkan kepalanya. "Enggak Sayang ... masih kenyang. Kamu sendiri enggak makan? Enggak ada yang dipenginin dari menu makanan sebanyak ini?" tanyanya.


"Enggak ada ... pestanya selesai kapan ya Mas? Sudah hampir dua jam dan ini tamu undangan masih banyak banget. Untung dulu waktu kita menikah cuma sederhana dan di rumah ya Mas ... aku rasa, aku gak akan sanggup berdiri terus selama ini. Kakiku bisa gempor beneran deh pasti." ucapnya sambil tertawa.


Radit pun sekilas melirik Khaira. "Emang pernikahan yang kamu impikan apa memang hanya sederhana Sayang?"


Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Iya ... aku menginginkan pernikahan sederhana saja kok, Mas. Bagiku semua ini hanya perayaan, pernikahan yang sesungguhnya saat kita menjalani kehidupan berumah tangga itu. Mengisi tangki air cinta kita. Ngomong-ngomong, aku sudah kangen sama Arsyila, Mas." ucapnya sembari cemberut.

__ADS_1


Radit justru tertawa. "Jika memang kamu menginginkan pernikahan sederhana, aku tidak terlalu merasa bersalah Sayang. Karena pernikahan kita dulu sederhana banget. Hanya di rumah dan tamu undangan hanya terbatas. Tidak sebanyak ini. Hmm, sekarang kalau kemana-mana yang diingat Arsyila ya Sayang ... Gak bisa jauh-jauh dari Arsyila. Aku kalah deh sekarang." gerutunya kepada sang istri.


Khaira justru memukul lengan suaminya itu. "Ya kan fokus kita berdua sekarang ke Arsyila dulu, Mas ... dia membutuhkan kita berdua. Lagipula, posisi kamu selamanya selalu nomor satu di hati aku. Enggak ada yang bisa ngalahin posisinya kamu di hati aku ini." Ucapnya sembari tersenyum dan melirik pada suaminya.


Mendengar ucapan Khaira ditambah air mukanya yang nampak malu-malu justru membuat Radit semakin gemas rasanya. Ingin sekali dia mengecupi wajah ayu istrinya itu. Akan tetapi, karena berada di tempat umum, Radit hanya bisa tersenyum sembari menautkan jarinya di setiap sela jari Khaira.


"Kamu sekarang makin pinter gombal sih. Belajar dari mana?" ucapnya sembari berbisik di sebelah telinga istrinya.


Khaira pun terkekeh geli. "Dari kamu dong ... suami paling gombal dan paling modus sedunia. Gak ada yang bisa ngalahin kamu, Mas." ucapnya sembari satu tangannya menutup mulutnya yang tengah tertawa.


Sama seperti Khaira, Radit pun juga tertawa. Di tengah keramaian seperti ini pun keduanya bisa larut dengan obrolan mereka berdua. Saking asyiknya mengobrol dan bercanda, keduanya tidak menyadari ada sepasang mata yang sejak belasan menit memandangi keduanya.


Sepasang mata dengan sorot yang tajam seolah tak mengalihkan pandangan dari sepasang suami istri yang tengah duduk dengan tangan saling menggenggam dan tertawa bersama.


Siapakah pria itu?


Tama.


Ya, Tama juga datang sebagai tamu undangan dalam pernikahan Dimas dan juga Metta. Sebagai teman satu fakultas, sudah pasti Tama pun mendapat undangan dari Metta.


Berada di tempat pernikahan ini, Tama sebelumnya tidak mengira akan melihat Khaira dan Radit berada di sini. Sejenak dia benar-benar lupa dengan sosok Khaira dan kemungkinan akan bertemu dengan wanita yang begitu dicintainya untuk waktu yang panjang itu.


Sementara kini, Tama melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Khaira dan Radit terlihat bahagia berdua, hatinya kembali terasa teriris perih.

__ADS_1


Jika beberapa hari yang lalu saat Tama bertemu dengan Khaira dan dia sempat meminta maaf, tetapi diperhadapkan dengan kenyataan di depannya betapa bahagianya Khaira saat ini membuat Tama justru terasa sesak.


"Harusnya aku yang mendampingimu, Khai... Harusnya aku yang membuatmu tertawa dan bahagia seperti itu. Kenapa kamu tidak pernah melihatku sebagai pria yang mencintaimu, Khai? Bisakah sekali saja kau melihatku sebagai pria yang mencintaimu, Khai? Bagaimanapun, tak seharusnya aku cemburu bukan?" gumamnya dalam hati sembari mengepalkan tangannya. Menahan luapan emosi dan gejolak jiwanya yang bergemuruh.


__ADS_2