Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Berbagi Cerita


__ADS_3

"Hei, jangan tutupi wajah kamu, Sayang...." ucap Radit yang berusaha menyingkirkan kedua telapak tangan Khaira yang berada di wajahnya.


Pria itu tertawa dan berusaha mengurai kedua telapak tangan itu. Istrinya benar-benar lucu seperti anak kecil yang menyembunyikan wajahnya.


"Jawab dong ... dulu kan aku pernah jujur waktu kamu bertanya, kapan aku mulai jatuh cinta kepadamu. Masak kamu enggak mau jujur sih sama aku?" tanya Radit yang kini telah berhasil mengurai kedua telapak tangan Khaira.


"Aku enggak tau, Mas...." ucap Khaira dengan jujur.


Radit seketika kehilangan tawanya. "Jawab jujur aja Sayang. Gak papa kok ... aku dengerin semua cerita kamu. Kalau kamu enggak menjawab, gak boleh bobok. Jawab pertanyaanku dulu baru boleh bobok."


Khaira pun cemberut. "Lahh, terus gimana dong kalau aku ngantuk?" tanya Khaira sembari menggerak-gerakkan matanya.


"Jawab dulu." ucapnya yang syarat akan paksaan.


Khaira lantas diam dan mencoba mengingat kembali memorinya. Perlahan dia menatap wajah suaminya. "Mungkin ingatanku bias, Mas ... kapan juga aku mulai mencintaimu. Hanya saja sejak Ayah dan Bunda menjodohkanku, aku hanya berusaha menerima takdirku saja. Pernah aku sempat sebel sama kamu, pernah aku merasa biasa aja sama kamu, ya pokoknya seperti itu. Aku sudah pernah bilang, bahkan aku bertahan di rumah itu dulu karena kamu. Setelah kamu pergi, buat siapa lagi aku bertahan. Kalau aku mungkin benar-benar merasakan jatuh cinta karena sudah terbiasa denganmu. Namun ada perasaan saat Bunda Ranti menunjukkan foto kita berdua saat kecil. Saat tahu bahwa kamu adalah Mas Adit kecilku, aku berketetapan untuk bertahan sama kamu. Kamu sudah baik padaku, sejak aku kecil. Pria yang menciumku waktu aku kecil dulu." ucap Khaira dengan jujur.


Radit pun mendengar setiap cerita yang keluar dari mulut istrinya itu. "Apa yang membuatmu paling sebel sama aku dulu, Sayang?" tanyanya dengan terus menatap lekat wajah istrinya.


"Ya saat kamu bilang bahwa kamu meminangku tanpa cinta. Itu paling nyesek banget dalam hidupku." jawab Khaira dengan mata yang nampak berkaca-kaca.


Radit segera membawa kepala istrinya bersandar di dadanya. "Sudah jangan diteruskan. Maafkan aku, Sayang ... aku sungguh-sungguh minta maaf."


Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Itu sudah masa lalu, Maskuw ... sekarang sudah berbeda. Sekarang aku bahagia bersama kamu. Besok mau aku bantuin jalan Mas? Mungkin lama-lama aku bisa alih profesi dari Dosen menjadi Perawat." ucap Khaira sambil terkekeh geli.


Radit pun menyetujui. "Iya, boleh ... kalau Arsyila bobo, bantuin aku jalan ya. Kamu beneran mau bantuin aku?"


"Sudah pasti aku akan membantu kamu, Mas. Aku mau jadi kaki kamu, kita latihan pelan-pelan, Mas." ucapnya yang memotivasi suaminya.


"Oke, besok bantuin aku berjalan ya...." ucap Radit sembari memeluk tubuh istrinya.


Sedikit Khaira mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah suaminya. "Sekarang kamu sudah lega kan Mas? Sudah selesai masalahnya dengan Tama kan? Apa masih ada yang menjadi unek-unek kamu?"


"Udah Sayang ... aku sudah lega. Hanya saja aku perlu menata hatiku sendiri, kenapa aku terkadang merasa ironis meminta pria lain untuk melupakan Istriku sendiri. Padahal Istriku ini adalah seorang Istri yang setia, tidak pernah bermain api. Namun seolah-olah, aku meminta pria itu karena dia terlibat affair sama Istriku." ucap Radit sembari tersenyum kecut.

__ADS_1


...🌺🌺🌺...


Keesokan harinya sebagaimana janjinya kepada sang suami, begitu Arsyila tidur di siang hari, Khaira langsung membantu suaminya untuk latihan berjalan.


Persiapan yang dilakukan Khaira pun sangat matang. Dengan alat terbatas, setidaknya bisa digunakan oleh suaminya. Khaira menata penyekat yang biasa digunakan untuk bermain Arsyila untuk menjadi pembatas berjalan bagi suaminya. Bahkan Khaira menempelkan jejak-jejak kaki di lantai.


"Ayo Mas ... kita latihan." ucap Khaira dengan semangat.


Radit pun tersenyum. "Kamu totalitas tanpa batas banget sih Sayang."


Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Aku mau kamu segera pulih Mas ... berjalan pelan-pelan, pegangin penyekat ini ya Mas. Gak usah jauh-jauh, penting sendinya bergerak dulu." jelasnya dengan begitu teliti kepada suaminya itu.


Radit pun mendengarkan penjelasan dari Khaira, perlahan kedua tangannya mencengkeram penyekat berwarna-warni milik Arsyila itu, lalu mulai melangkahkan kakinya.


Satu langkah...


Pria itu nampak goyah, tetapi tangannya segera memegang penyangga supaya tidak jatuh.


Dua langkah...


Pria itu menunduk, lalu mengangkat perlahan wajahnya hingga kini dia bisa menatap wajah istrinya yang berdiri dalam jarak sekian meter darinya.


Nampak Khaira mengepalkan kedua tangannya, memberi semangat kepada suaminya itu.


"Ayo Mas ... batasnya di aku berdiri ini. Yuk bisa yuk...."


Radit mulai menstabilkan kembali posisi berdirinya, kemudian dia berusaha melangkahkan kembali kakinya.


Satu langkah...


Dua langkah...


Tiga langkah...

__ADS_1


Radit kembali berhenti dan menyeka buliran keringat di keningnya. Bagi Radit ini justru lebih sulit daripada seorang bayi yang tengah belajar berjalan. Radit mengambil napas, mengisi paru-parunya dengan oksigen. Tinggal beberapa langkah kaki, tetapi dia sudah kelelahan.


Akan tetapi, Radit tidak patah semangat. Dia akan berusaha lagi. Ada istrinya yang sudah selalu mendukungnya selama ini. Radit yakin bahwa Khaira adalah orang yang akan paling berbahagia jika dia benar-benar sembuh.


Radit sedikit memejamkan mata, sebelum mulai melangkahkan kakinya kembali.


Satu langkah...


Dua langkah...


Tiga langkah...


Empat langkah...


Lima langkah...


Yeay! Dia berhasil berjalan menuju pada Khaira, sekalipun di langkah terakhir dia sempat terhuyung. Untung saja Khaira segera menahan tubuh suaminya dalam pelukannya.


Khaira sedikit bertepuk tangan. "Bisa kan Mas...." ucapnya dengan bahagia dan mata yang berbinar-binar.


Sementara Radit justru terengah-engah menstabilkan deru napasnya dan posisi berdirinya.


"Capek banget Sayang...." keluhnya sembari memejamkan matanya.


Khaira lantas mengurai pelukannya, dia berlari kecil mengambil segelas air minum untuk suaminya. "Diminum dulu Mas ... pasti haus kan. Abis ini sekali lagi ya, udah. Gak usah dipaksa, pelan-pelan aja." ucap Khaira sembari menyeka keringat di kening suaminya dengan menggunakan tissue.


"Kamu baik banget Sayang ... nanti kalau aku udah bisa jalan, kamu pengen hadiah apa dari aku? Aku akan berikan buat kamu, karena aku bisa sampai seperti ini karena kamu juga yang tulus merawatku dan memotivasi aku." ucap Radit dengan menatap wajah istrinya.


Khaira hanya menggelengkan kepalanya. "Mas Radit bisa berjalan tanpa memakai tongkat ini sudah menjadi hadiah terbesar dari Allah buatku, Mas ... jadi itu saja sudah cukup."


Merasa tidak puas dengan ucapan istrinya, sekalipun apa yang dikatakan Khaira tidak salah, tetapi kali ini Radit ingin sesekali istrinya meminta padanya. Bukan balas budi, tetapi karena Khaira benar-benar tulus kepadanya, Radit ingin memberikan sebuah hadiah bagi istrinya itu.


"Kamu minta enggak apa-apa, Sayang ... aku akan coba berikan." ucap Radit serius.

__ADS_1


Khaira akhirnya menghela napasnya. "Ya sudah ... Mas Radit kasih aja apapun buat aku, pasti aku terima. Yang terpenting Mas harus sembuh dulu. Jangan coba-coba memberiku hadiah jika belum bisa berjalan. Sebab aku pasti akan menolaknya."


__ADS_2