Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Teringat Kenangan Masa Kecil


__ADS_3

Dari jarak beberapa meter, Radit dan Khaira sama-sama duduk di bangku taman yang lainnya. Mereka tersenyum melihat Aksara dan juga Arsyila.


"Dulu waktu kecil kita sama seperti mereka ya Sayang...." ucap Radit yang tiba-tiba teringat dengan masa kecilnya bersama Khaira dulu di Jogjakarta.


Dengan cepat Khaira menggelengkan kepalanya. "Mana ada Mas ... yang ada tiap ketemu, kita cuma main dan lari-larian. Mana pernah kamu bacain aku buku kayak Aksara gitu." jawabnya sembari mengerucutkan bibirnya.


Radit justru tertawa. "Abis aku enggak punya teman bermain Sayang ... jadi kalau ketemu kamu enaknya main-main. Kamu itu dulu udah aku anggap adek sendiri." kenangnya yang sejak kecil udah menganggap Khaira seperti adeknya sendiri.


"Hidup memang lucu ya Mas ... dulu kita waktu kecil saling kenal. Belasan tahun enggak ketemu saling benci, setelahnya saling menyayangi. Sungguh semuanya misteri Ilahi." ucapnya sembari menghela napasnya.


Jika dipikir memang terkadang ada beberapa fase atau momen dalam hidup manusia yang terkesan lucu. Akan tetapi, semuanya memang sudah memiliki garis takdirnya sendiri yang sudah ditentukan oleh Yang Kuasa.


"Mungkin dulu kamu kayak Arsyila itu Sayang, merasa aku lebih besar darimu jadi sejak kecil kamu nempel aku terus. Tuh sama kayak Arsyila, memperlakukan Aksara kan seperti mendapat seorang Kakak." ucapnya sembari menunjuk Arsyila yang masih asyik membaca buku bersama Aksara.


Khaira pun tertawa. "Ya kan dulu Bunda Dyah dan Ayah Ammar memang bilangnya kamu itu Masku, jadi memang aku menganggap kamu itu Mas...." jawab Khaira sembari mengedikkan bahunya.


"Namun, sekarang di hadapan Arsyila, aku harus memanggilmu Papa ... karena Arsyila sudah protes kenapa Mamanya memanggil Papanya dengan sebutan Mas." lagi Khaira bercerita kepada suaminya perihal Arsyila yang sudah mulai banyak protes, termasuk bila Mamanya memanggil Papanya dengan sebutan Mas.


Gadis kecil itu agaknya mau semua orang di rumah memiliki panggilan seperti apa yang dia tahu. Tidak boleh memiliki panggilan tersendiri yang berbeda dengan dirinya.


"Enggak papa Sayang ... kamu manggil aku apapun, aku tetap suka kok. Mau Mas, mau Papa, gak masalah buat aku." ucapnya sembari mengerlingkan matanya.

__ADS_1


"Waktu kecil apa kita juga sebahagia itu waktu berdua ya Mas? Tuh di Arsyila sampai sejenak lupa sama Papa dan Mamanya." kali ini Khaira menunjuk Arsyila yang seolah asyik berdua dengan Aksara hingga melupakan Papa dan Mamanya.


Radit pun menganggukkan kepalanya. "Sudah pasti Sayang ... seingatku, aku selalu bahagia saat dulu bisa ketemu dan bermain sama kamu. Waktu kecil dulu, kamu kayak Arsyila itu. Cantik, lucu, nggemesin, tapi kamunya cengeng." godanya sembari mencubit hidung istrinya.


"Sakit loh Mas ... hidungku pasti merah ini." Khaira seraya mengusap hidungnya dan memasang wajah cemberut.


Sementara Radit justru terkekeh geli dengan istrinya. "Kamu ingat enggak Sayang, kapan pertama kali aku menciummu waktu kecil dulu?" kali ini Radit bertanya tiba-tiba kepada Khaira.


Khaira sontak menolehkan kepalanya dan memandang wajah suaminya itu. "Emangnya kamu ingat?" giliran Khaira yang justru balik bertanya kepada suaminya dan mencari-cari jawaban di wajah suaminya apakah pria yang kini menjadi suaminya itu mengingat pertama kali dia mencium Khaira.


Dengan penuh percaya diri Radit pun menjawab. "Di Candi Prambanan Sayang ... Saat kita memasuki Candi Siwa. Melihat patung Dewi Durga yang besar dan keadaan di dalam candi yang gelap, kamu menangis. Lalu, aku lah yang menghapus air matamu dan mencium pipimu. Aku berjanji akan menemanimu dan kamu tidak perlu takut akan gelap dan patung Dewi Durga yang besar itu, karena Mas Adit akan selalu di sisimu. Benar kan?"


Sontak wajah Khaira pun bersemu merah merona. Dia begitu malu mendengar cerita dari Radit bagaimana dulu waktu kecil dia begitu penakut, hingga melihat patung Durga di dalam Candi Prambanan saja dia menangis.


Benar-benar kenangan yang membekas di hati keduanya. Baik Khaira dan Radit sama-sama mengingat kenangan keduanya di Candi Prambanan dulu.


"Kamu mencari kesempatan dalam kesempitan banget sih Mas ... dari kecil rupanya memang udah modus ya. Ada anak kecil nangis, malahan main cium-cium." ucapnya Khaira sembari tertawa dan menggelengkan kepalanya.


"Lagipula sehabis aku cium, kamu terus diem. Enggak menangis lagi. Aku genggam tangan kamu keluar dari Candi Siwa saat itu. So sweet kan Sayang ... dari kecil saja aku sudah selalu menjagamu." ucap Radit dengan penuh percaya diri.


Lagi-lagi Khaira terkekeh geli, wajahnya hingga memerah lantaran malu mengingat kenangannya bersama Radit saat masih kecil dulu.

__ADS_1


"Kamu pria pertama yang menciumku, tentunya setelah Ayah." jawab Khaira. Kemudian dia menjeda ucapannya sejenak dan melirik suaminya itu. "Kamu juga pria pertama yang aku cintai di dunia ini, tentunya juga setelah Ayah. Terima kasih sudah menceritakan kenangan masa kecil kita berdua. Aku ingat dulu, setiap kali bisa bertemu kamu rasanya aku bahagia sekali. Bermain, lari-lari kesana kemari, atau main apa pun terasa sangat menyenangkan."


Radit kemudian menggenggam satu tangan Khaira. "Sekarang hidup bersamamu juga sangat menyenangkan Sayang ... menjalani keseharianku bersama Istri sekaligus Mama yang hebat membuatku bahagia."


Sayangnya cerita dan ulasan kenangan Papa dan Mama muda itu berakhir saat Arsyila sedang berlari ke arah mereka dan tiba-tiba terjatuh. Hingga lututnya berdarah. Radit segera berlari menghampiri Arsyila, disusul oleh Khaira. Pun demikian dengan Aksara yang turut panik dan berlari ke arah Arsyila.


"Tidak usah berlari, Sayang ... jalan pelan-pelan saja. Lututnya pasti sakit kan?" ucap Radit sembari meniup lutut Arsyila yang nampak berdarah itu.


Seketika Arsyila pun menangis merasakan sakit dan perih di lututnya. "Iya...." jawabnya dengan berderai air mata.


"Ayah tunggu dulu ya, Aksara ambilkan kotak obat." Aksara pun kembali masuk ke dalam dan mengambil kotak obat untuk Arsyila.


Khaira terlebih dahulu membersihkan luka di lutut Arsyila, kemudian mengoleskan sedikit obat merah dan menutupnya dengan plester.


"Sudah Mama obati ya Sayang ... lain kali jalan saja pelan-pelan ya. Lebih berhati-hati ya." ucap Khaira sembari memeluk Arsyila yang masih menangis.


Melihat Arsyila yang masih menangis, lantas Aksara mengeluarkan permen Karamel dari saku celananya dan memberikannya kepada Arsyila.


"Syila jangan nangis lagi ya ... Kakak punya permen rasa Karamel, Arsyila mau ini? Kalau Syila makan Karamel ini Syila akan merasa bahagia dan tidak sakit lagi." ucap Aksara yang sedang mencoba menenangkan Arsyila.


Kemudian Aksara memberikan satu permen Karamel kepada Arsyila. "Bagaimana manis kan Karamelnya? Sudah tidak terasa sakit lagi kan?" tanya Aksara perlahan

__ADS_1


Arsyila pun dengan cepat menganggukkan kepalanya. "Iya, permen Karamelnya manis. Sudah tidak sakit lagi." jawab Arsyila dengan menyeka air mata di sudut matanya.


__ADS_2