
"Jadi sekarang sudah lega?" tanya Radit lagi kepada istrinya.
Khaira kemudian mengangguk dan tersenyum menatap wajah suaminya itu. "Sudah." jawabnya dengan begitu singkat.
Kendati demikian, Khaira sesungguhnya benar-benar merasa lega karena bisa bercerita dan membagi apa yang dia rasakan kepada suaminya itu. Wanita itu menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Menikmati semilir angin malam yang membuai wajahnya. Rona sinar rembulan di malam hari yang seolah menjadi panorama terindah yang menemani keduanya di balkon itu. Malam yang begitu tenang dengan sinaran lampu yang begitu temaram dan sepasang kekasih itu sama-sama hening, membiarkan kedamaian kala itu menemani keduanya.
Sejenak menepi dari rutinitas sehari-hari yang terkadang membutuhkan sedikit saja waktu untuk sejenak menikmati hari, kendati petang yang menemani. Sementara Radit masih setia merangkul bahu istrinya dan membiarkan istrinya bersandar kepadanya.
“Aku senang tiap kali kamu bersandar seperti ini. Aku seolah menjadi pria kuat dan selalu menjadi tempat sandaran untukmu.” ucap Radit yang memecah keheningan malam itu.
Sedikit mendongakkan wajahnya guna bisa menatap wajah suaminya, Khaira pun tersenyum. Wanita itu semakin mencerukkan wajahnya di dada suaminya. “Dan, aku pun suka sekali bersandar padamu.” ucap Khaira dengan lirih. Beberapa kali dia memejamkan matanya, merasakan kedamaian yang selalu saja dia dapatkan dari suaminya itu.
“Menjadi seorang Mama dengan dua anak itu luar biasa ya Mas … kalau ditanya capek enggak? Jawabannya sih pasti capek banget. Aku enggak memungkiri kalau terkadang aku ingin istirahat pas siang hari gitu. Akan tetapi, waktu lihat Arsyilla dan Arshaka tersenyum, rasanya semua senyuman dan sorot mata bening mereka berdua membuatku semangat lagi untuk mengasuh mereka. Kalau malam, mereka sudah pada bobok, giliranku buat me time sebentar sama Papanya anak-anak.” ucap Khaira lagi. Seolah saat malam tiba, menjadi waktu yang dia manfaatkan untuk sekadar berkeluh kesah, curhat, atau pun sedikit manja dengan suaminya itu.
“Iya … waktu buat kita berdua kalau anak-anak sudah tidur. Aku pun juga senang sih Sayang … sekarang, aku sudah menjadi Papa buat dua bocil.Terlepas dari semuanya, aku juga bahagia.” ucap pria itu dengan jujur.
Tidak memungkiri banyaknya pekerjaan di kantor terkadang membuat Radit menjadi capek, tetapi saat pulang dan ada dua malaikat kecil yang menyambutnya pulang, harinya yang capek hilang seketika. Mata bulat yang berbinar, sapaan “Papa” dari Arsyilla, dan juga pandangan dari si kecil Shaka menjadi momen yang selalu Radit nanti setiap sore.
Setelah itu, ternyata handphone dari Radit terdengar, kemudian pria itu segera mengambil handphone yang sejak tadi hanya tergeletak di atas nakas.
“Bunda Ranti telepon Sayang.” ucapnya sembari menggeser tombol hijau dan mendekatkan telepon ke telinganya.
“Halo Bunda … ada apa?” tanya Radit melalui panggilan seluler itu.
“Besok Bunda datang ke rumah ya Dit … Bunda tadi mengirim pesan ke Khaira, tetapi tidak dibalas.” ucap Bunda Ranti melalui panggilan seluler itu.
“Khaira baru duduk sama Radit di balkon ini, Bunda … mumpung anak-anak tidur. Ada apa Bunda? Ni Khaira di samping Radit kok.” jawabnya
Kemudian Radit memberikan handphonenya kepada istrinya itu. “Kamu yang bicara aja Sayang.” ucap Radit kepada Khaira.
“Halo Bunda … maaf Khaira duduk-duduk sama Mas Radit ini, handphonenya di dalam kamar.” ucapnya begitu berbicara kepada mertuanya itu.
“Besok Bunda main ke rumah ya. Kamu mau dimasakin apa? Biar Bunda masakkan dari rumah.” tawar dari Bunda Ranti kepada menantunya itu.
__ADS_1
Khaira kemudian tersenyum, “Di rumah kan sudah ada Bi Tinah yang memasak Bunda …” jawabnya.
“Enggak apa-apa, sapa tahu kamu pengen sesuatu. Biar Bunda masakkan dari rumah.” tanya Bunda Ranti lagi,
Setelah beberapa detik diam, kemudian Khaira sedikit tertawa, “Kalau tidak keberatan, Khaira pengen Cumi Goreng Telor Asin, Bunda.”
Rupanya Busui itu tengah menginginkan Cumi Goreng Telor Asin, dengan malu-malu Khaira pun berbicara kepada Mertuanya itu.
Di seberang sana, Bunda Ranti pun tersenyum, “Oke … besok Bunda bawakan ke rumah ya. Bunda sudah kangen sama Syilla dan Shaka.”
“Iya Bunda … makasih banyak ya Bunda.” ucap Khaira yang tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Bunda Ranti.
Setelahnya, dia mengembalikan handphone itu kepada suaminya. “Besok Bunda mau ke sini Mas … ngomong-ngomong aku beruntung karena punya mertua yang baik. Ditanyain aku pengen makanan apa katanya mau dimasakin sama Bunda Ranti.” ceritanya lagi kepada suaminya itu.
“Bunda Ranti itu sayang sama kamu, Ayah Wibi juga. Bahkan dulu aku merasa, Bunda dan Ayah lebih sayang sama kamu daripada sama aku. Sampai-sampai dulu Bunda dan Ayah itu ngebet banget jodohin kita berdua.” cerita Radit kali ini kepada istrinya.
Khaira kemudian tertawa, “Jadi kamu nyesel dijodohin sama aku?” tanya Khaira yang sejujurnya hanya menggoda suaminya saja.
Radit ikut tertawa, “Nyesel Yang … kenapa enggak dari dulu dijodohin sama kamu. Misalnya abis aku lulus kuliah gitu. Bakalan nikah muda, aku.” ceritanya sambil tertawa.
Tawa Radit pun pecah, “Hahahaa … benar ya. Kamu masih SMA. Pasti masih unyu-unyu gitu.” balasnya sembari membayangkan bagaimana istrinya itu mengenakan seragam SMA pastilah sangat unyu dan menggemaskan.
“Tuh bahagia kan, pasti ngebayangin aku memakai seragam putih abu-abu.” ucapnya sembari menunjukkan jari telunjuknya ke arah suaminya.
Radit kemudian mengurangi tawanya, pria itu kemudian mengusap puncak kepala istrinya. “Besok Bunda Ranti ke sini tuh, kalau kamu mau istirahat, istirahat aja. Bunda pasti akan bantuin mengasuh Syilla kok. Waktu Shaka tidur siang, kamu ikutan aja.” Radit berbicara dengan nada yang lembut.
Khaira pun mengangguk, “Iya … aman kok Mas. Udah pokoknya malam bisa cerita sama kamu udah senang. Lagian kan mood anak itu turun naik, enggak apa-apa.”
***
Keesokan harinya …
Pagi menjelang siang rupanya Bunda Ranti benar-benar datang. Wanita paruh baya itu datang dengan membawa masakan yang semalam diinginkan menantunya yaitu Cumi Goreng Saus Telor Asin. Dengan bahagia Bunda Ranti menyerahkan masakan itu kepada Khaira.
__ADS_1
“Ini, yang kamu pengen … dimakan ya. Dihabiskan. Bunda juga buatkan sayur daun katuk biar ASI nya makin lancar.” ucap Bunda Ranti menyerahkan kedua masakan itu kepada Khaira.
Dengan wajah berbinar pun Khaira menerima kedua masakan yang dibawakan Bunda Ranti. Wanita itu sedikit menunduk dan mencium aroma dari kedua masakan yang seolah menggoda indera penciumannya. “Wah, keliatannya enak sekali ini Bunda …” ucapnya dengan tersenyum.
“Kamu makan dulu saja, Khai … anak-anak biar sama Bunda.” ucap Bunda Ranti yang menyuruh Khaira untuk makan terlebih dahulu.
“Tadi sudah makan, Bunda.” jawab Khaira.
“Sudah, makan dulu sana. Makan enak tanpa diganggu anak-anak kan. Makan dulu biar kenyang nanti kan biar ASI nya melimpah.” ucap Bunda Ranti.
Akhirnya Khaira pun menurut, dia meminta izin terlebih dahulu untuk makan. Sementara Bunda Ranti nampak begitu bahagia bermain dengan Arsyilla dan menimang Arshaka.
***
Yang komentar kok repot banget sih Khaira?
Namanya juga pasangan yang sudah mandiri, ada kalanya orang tua dan mertua tidak datang ke rumah anak-anak mereka setiap hari untuk membantu mengasuh cucunya. Akan tetapi, tenang saja Bestie tuh Bunda Ranti udah datang jadi bala bantuan buat Khaira. :D
Happy Reading^^
Satu Bab 1 lagi menuju tamat ya Bestie... 🙏🏻🧡
Ikutin akunku karena kita akan lanjut ke cerita selanjutnya.
Spill Blurb dan Covernya dulu yah...
Blurb
Petaka satu malam yang seolah menjadi awal dari semua bencana yang memporak-porandakan hidup seorang Arsyilla Kirana. Berprofesi sebagai seorang Dosen Muda di salah satu Universitas di Ibukota. Hidupnya justru jungkir balik karena segelas alkohol yang dia minum tanpa sengaja, membuatnya berakhir dalam hubungan satu malam dengan seorang pria.
Di satu sisi tunangan dari Arsyilla, yaitu Vendra mulai ingin segera menikahi Arsyilla. Sayangnya, noda yang kini ditanggung Arsyilla membuat gadis itu memilih untuk mengakhiri jalinan cinta yang sudah dijalin selama 1 tahun dengan Vendra.
__ADS_1
Sementara itu, ada Aksara Adhinata Pradana. Pria yang dalam diam justru menyembunyikan identitasnya dan menjadi pelaku utama dalam petaka satu malam bersama dengan Arsyilla.
Bagaimana benang kusut semua kisah ini terpecahkan? Mungkinkah Arsyilla akan menerima pertanggungan jawab dari Aksara? Dapatkah juga Aksara membuka rahasianya selama ini yang dia simpan dengan begitu rapat? Memangkah Aksara tercipta hanya untuk Arsyilla?