Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Melepaskan Mimpi


__ADS_3

Memiliki buah hati faktanya memang merubah hidup seorang wanita, hal itu yang dirasakan Khaira dan Metta. Jika Khaira lebih memilih memprioritas keluarga, sembari bisa mengajar walaupun hanya satu kali dalam seminggu. Sementara Metta memilih menjadi ibu rumah tangga usai memiliki Medina. Keduanya lantas sama-sama membagikan pengalaman mereka.


“Dulu kan waktu hamil Medina, aku masih bekerja tuh. Terus waktu melahirkan sebagai guru kan dapat cuti hamil selama 3 bulan. Waktu 3 bulan untuk melahirkan dan mengasuh Medina rasanya nikmat banget. Dari pagi hingga pagi lagi yang dipegang hanya Medina, fulltime Mom lah istilahnya. Terus seminggu sebelum cutiku abis itu mulai deh mellow. Sedih kalau ninggal Medina gimana, nanti ASI-nya gimana, jadi dilemma banget. Banyak pikiran sampai produksi ASIku turun banyak banget. Akhirnya Suami ngasih tahu, untuk melakukan apa yang paling prioritas buat aku. Mulai deh berpikir, akhirnya aku memutuskan resign. Sekarang jadi fulltime mom di rumah.” ucapnya kepada Khaira.


Mendengarkan cerita dari sahabatnya itu, Khaira pun mengangguk dan tersenyum, “Itu dilema para Ibu yang sebelumnya bekerja, kemudian memiliki anak. Tidak jarang banyak Ibu muda yang melepaskan mimpi untuk menjadi fulltime Mom di rumah. Akan tetapi, enggak apa-apa kan kita bisa fulltime mengasuh anak, tahu tumbuh kembangnya seperti apa.” ucap Khaira membesarkan hati sahabatnya itu.


“Iya bener banget … setiap orang, mungkin setiap wanita kayak kita ya ada mimpi yang memang harus dilepaskan sekarang ini. Kamu ada enggak Khai? Apa semua bisa berjalan normal karena kamu masih bisa mengajar kan?” tanyanya kepada Khaira.


Berbicara tentang melepaskan mimpi, sebenarnya sudah beberapa kali Khaira melepaskan mimpi itu. Jenjang untuk mengejar karier, menjadi Dosen Muda dengan jam mengajar yang lebih banyak, kesempatan menjadi Dosen Pembimbing Praktik Lapangan, dan Dosen Pembimbing Skripsi, semua itu sudah Khaira lepaskan. Perlahan Khaira pun tersenyum, “Tentu ada … aku juga melepaskan mimpiku untuk saat ini kok. Namun, ada suami yang mendukungmu dan memberiku kesempatan untuk mengejarnya di lain waktu. Jadi, mungkin sekarang aku melepaskannya, tetapi lain waktu aku akan kejar.” ungkapnya dengan sesekali melihat pada suaminya yang sedang menemani Arsyilla bermain.


“Setidaknya kamu enak, Khai … kamu masih bisa mengajar sekalipun tidak sepenuh waktu.” ucap Metta yang menilai bahwa setidaknya Khaira jauh lebih enak.


Khaira pun tersenyum, “Iya … aku masih bisa mengajar seminggu sekali udah bersyukur banget. Namun, aku pun juga pernah mengalami fase-fase buat melepaskan mimpi aku kok. Itu wajar, semua orang akan mengalaminya.” ucap Khaira pada akhirnya.


“Apa itu Khai?” tanya Metta kepada sahabatnya.


Sedikit menghela napasnya, Khaira pun akhirnya bercerita, “Beberapa minggu lalu, aku mendapat tawaran dari Kepala Prodi untuk menjadi Dosen Pembimbing Lapangan dan juga Dosen Pendamping Skripsi, tetapi aku tolak. Sebenarnya itu peluang bagus banget buat aku, cuma aku sekarang baru hamil, pernah ada riwayat keguguran juga. Jadi, aku lebih memilih melepaskannya dan fokus ke kehamilanku dulu.” cerita Khaira kepada Metta.


“O … sebenarnya kesempatan bagus ya. Kapan lagi coba, kamunya masih muda udah dipercaya buat jadi Dosen Pembimbing Lapangan dan Pendamping Skripsi. Terhitung bagus loh sebenarnya buat jenjang kariermu.” ucap Metta.


Memang tidak dipungkiri sebenarnya, tetapi memang semua itu harus Khaira melepaskan untuk sesuatu yang lebih dia prioritaskan di dalam hidup. Sekarang prioritasnya adalah suami, anak, dan rumah tangganya. Sejak awal komitmennya adalah memprioritaskan rumah tangga dan menjadi pendamping bagi suaminya itu.


“Sama sepertimu Ta … aku juga melepaskan mimpiku kok. Enggak cuma satu, ada beberapa mimpi ya yang memang sengaja aku lepaskan sekarang ini. Sama seperti kamu juga, melihat Syilla yang tumbuh sehat dan bahagia, sebagai seorang Mama aku udah bahagia banget.” ceritanya kepada Metta.


Memang demikianlah persahabatan. Sekalipun mereka berdua jarang berjumpa, tetapi saat bisa bertemu banyak cerita dan curhatan yang bisa dibagikan satu sama lain.


“Bunda … ayo main sama Medina, Bun.” Medina tiba-tiba datang dan mengajak Metta untuk menemaninya bermain. Dengan senang hati, Medina pun bergabung dengan Medina dan Arsyilla yang tengah bermain mandi bola.

__ADS_1


Khaira pun juga lantas bergabung dengan mereka semua, wanita hamil itu lantas berdiri di samping suaminya. Dia ikut tertawa melihat keseruan Arsyilla dan Medina yang sedang bermain bersama.


“Kamu duduk aja Sayang … capek nanti pinggang kamu.” ucap Radit yang meminta istrinya itu untuk duduk saja. Lagipula istrinya tengah berbadan dua dan rentan terkena nyeri di bagian pinggang.


Khaira pun mengangguk, “Iya … tadi kan sudah duduk di sana sama Metta. Tuh, Syilla senang banget.” ucapnya sembari menunjuk Arsyilla.


“Syilla, bolanya itu dibagi sama Medina dong. Sharing is charing, yuk.” ucapnya meminta supaya Arsyilla membagi bola-bola berukuran kecil dengan beraneka warna itu.


Mendengar ucapan Mamanya, perlahan Arsyilla memberikan beberapa bola kepada Medina yang usianya lebih kecil darinya.


“Ini Dina … aku kasih bolanya lima ya. Kamu mau bola warna apa?” tanya Arsyilla sembari menawarkan kepada Medina ingin bola warna apa saja.


“Merah, Kuning, Hijau, dan Biru.” jawab Medina dengan begitu lucunya.


Kelucuan Medina membuat Khaira merasa gemas, kemudian mencium pipi chubby Medina, “Dina lucu banget sih.” ucapnya kali ini kepada Medina.


Sementara Khaira tertawa, dan mengusap lembut puncak kepala Arsyilla, “Iya, Syilla Sayangnya Mama … Mama juga sayaannnggg Syilla. Tuh, Medinanya lucu kan?” tanyanya kepada Arsyilla.


“Syilla tidak lucu Ma?” tanya Arsyilla tiba-tiba kepada Mamanya.


Khaira pun menyadari, mungkin saja Arsyilla sedang cemburu dan tidak ingin Mamanya mencium dan memuji Medina yang lucu. Dengan cepat Khaira memeluk putrinya itu, membiarkan waktu sejenak untuk memeluk Arsyilla. Hingga kemudian, Khaira mengurai pelukannya, “Buat Mama, Syilla juga pasti lucu dong … tapi kan, selain Syilla banyak juga kan anak-anak yang lucu dan imut. Menurut Syilla, itu Medina lucu tidak?”


Arsyilla pun mengangguk, “Iya Ma … lucu.” jawaban Arsyilla pada akhirnya.


“Kalau Medinanya lucu, Syilla boleh kok peluk dan sayang Medinanya, tetapi minta izin dulu ke Om Dimas dan Aunty Metta. Pelan-pelan juga Sayang.” nasihat Khaira kepada Arsyilla.


Dengan cepat Arsyilla kemudian menghampiri Dimas dan Metta, “Om Dim dan Aunty Ta, boleh enggak Syilla peluk Dina?”

__ADS_1


Dimas dan Metta sama-sama mengangguk, “Boleh kok …”


Kemudian Arsyilla memeluk Medina yang tingginya lebih pendek darinya itu. Perilaku anak-anak yang memang lucu hingga membuat Radit, Khaira, Metta, dan Dimas sama-sama tertawa.


“Syilla sudah mau menjadi Kakak ya? Adiknya Kak Syilla cewek atau cowok nih?” tanya Dimas kepada Arsyilla.


“Pa, adiknya Syilla cewek atau cowok Pa?” tanya Arsyilla dengan ekspresi lucunya kepada Radit.


“Insyaallah cowok Sayang.” jawab Radit dengan singkat.


“Kata Papa, insyallah cowok, Om.” jawaban Arsyilla yang begitu lucu hingga membuat Dimas tertawa.


“Keren kamu Bro, kamu benaran cowok sudah lengkap ya, udah komplit.” ucapnya sembari melihat Radit.


Metta pun juga melihat Khaira, “Serius Khai? Debaynya cowok?” tanyanya kepada Khaira.


Khaira pun tersenyum, sedikit menunduk melihat perutnya, “Insyaallah … kemarin waktu USG itu kata Dokter sih ada Monasnya, berarti dia cowok. Ya, semoga enggak berubah sampai melahirkan nanti. Aku juga enggak menyangka kok, soalnya aku dan Mas Radit itu mau dikasih cewek atau cowok enggak masalah ya Mas.”


Radit pun kemudian mengangguk, “Iya … aku dan Istri enggak ada permintaan khusus anak harus cewek atau cowok. Mau cewek atau cowok sama aja kok, tapi pas kemarin cek up kehamilan dan di-USG ternyata babynya cowok ya bersyukur. Alhamdulillah, karena Allah melengkapi keluarga kami dengan anak cowok.” ucapnya.


“Alah-alah Mas Bro ini kian hari makin bijak aja sih … serius deh, untung Khaira yang jadi Istri lo, bukan yang ono.” celetuk Dimas tiba-tiba.


“Yang ono siapa Yah?” tanya Metta yang keliatan penasaran.


Dengan cepat Dimas menggelengkan kepalanya, tidak enak rasanya jika harus menguak luka lama dan itu ada Khaira, “Enggak … enggak ada kok.” jawab Dimas dengan tersenyum aneh.


Sementara Khaira hanya ikut tersenyum dan bersikap biasa saja. Sekalipun tidak dipungkiri bahwa dia lantas memikirkan masa lalunya yang cukup pahit di awal pernikahannya bersama suaminya dulu.

__ADS_1


__ADS_2