Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Kasih Sayang Kakek & Nenek


__ADS_3

Salah satu momen yang paling dinantikan dan disambut dengan penuh sukacita oleh seluruh keluarga adalah menyambut anggota keluarga baru. Ya, menyambut kelahiran bayi memberikan rasa berbunga-bunga untuk seluruh anggota keluarga.


Tak jarang keluarga besar menyambut kelahiran bayi dari jauh-jauh hari. Di hari minggu ini Keluarga Ammar dan Keluarga Wibisono mengunjungi kediaman Radit dan Khaira. Rupanya para Kakek dan Nenek Baby A juga tak kalah excited dalam menyambut kelahiran cucu pertama mereka.


Ayah Ammar dan Bunda Dyah sudah membawa hadiah berupa Stroller, Gendongan bayi dalam tipe Hipseat, serta bantal dan guling bayi. Sementara Ayah Wibi dan Bunda Ranti membelikan Steamer penghangat ASIP, dodot untuk bayi, dan beberapa mainan untuk bayi.


Mereka berempat sengaja memberi kejutan untuk Khaira dan Radit. Bahkan mereka datang pun tanpa memberi kabar lebih dulu.


Kurang lebih pukul tiga sore, mereka tiba di rumah Radit dan Khaira.


"Ayah dan Bunda kok bisa barengan ke sini nya?" sapa Radit begitu mengetahui kedatangan mendadak orang tua dan mertuanya itu. "Mari masuk semuanya. Silakan...." ucapnya mempersilakan orang tua dan mertuanya untuk duduk.


"Khaira mana, Dit?" tanya Bunda Dyah kepada menantunya itu.


"Khaira di kamar Bunda, tadi sedang membaca buku. Sebentar Radit panggilkan." ucapnya langsung pergi ke kamar untuk memanggil istrinya yang sudah memasuki usia kehamilan delapan bulan.


Begitu turun dan mendapati orang tua dan mertuanya, Khaira memberi salam dan memeluk satu per satu orang tua dan mertuanya itu. "Ayah dan Bunda semua kok bisa barengan sih?" tanyanya dengan ekspresi nampak bingung. Sebab, tidak biasanya orang tua dan mertuanya datang bersamaan.


"Kejutan Sayang...." sahut Bunda Ranti. "Ayah dan Bunda kalian sebagai Kakek dan Nenek mau berikan hadiah untuk cucu pertama kami." Imbuhnya sembari mengeluarkan berbagai hadiah untuk calon cucu pertama mereka nanti.


Melihat banyaknya hadiah dari orang tua dan mertuanya sudah pasti Radit dan Khaira begitu bahagia. "Wah, terima kasih Ayah dan Bunda... Hadiahnya banyak banget buat Baby A." Ucapan terima kasih Khaira ketika menerima semua hadiah itu.

__ADS_1


"Kalian sudah punya nama ya buat cucu nanti? Kok sudah dipanggil Baby A." tanya Ayah Wibi sembari mengamati wajah Radit dan Khaira.


"Radit sudah siapkan namanya, Yah... Tetapi, sementara kami berdua cuma memanggil Baby A aja, lebih jelasnya nanti nunggu Baby A launching." jawabnya sembari mengusap-usap perut istrinya.


Keluarga Wibisono dan Keluarga Ammar nampak tertawa hingga menggeleng-gelengkan kepalanya. "Anak sekarang begitu ya Bun, baby nya belum keluar sudah dicarikan nama bahkan sudah dipanggil Baby A sebagai inisial namanya. Kalau dulu kita memberi nama anak itu menunggu bayinya lahir ya Bunda." ucap Ayah Ammar kepada Bunda Dyah yang duduk di sebelahnya.


"Sudah punya nama lengkapnya, Dit?" kali ini giliran Ayah Wibi yang bertanya kepada Radit.


Radit pun menganggukkan kepala. "Sudah Yah... Sudah Radit siapkan namanya." jawabnya.


"Ayah dan Bunda semua, terima kasih untuk kado sebanyak ini buat Baby A. Padahal belum lahir Baby nya, tetapi sudah dapat kado sebanyak ini dari Kakek dan Neneknya. Wah, Baby A pasti seneng." ucap Khaira sembari memegangi banyaknya kado yang diberikan orang tua dan mertuanya itu.


"Kalau sesuai HPL bulan depan Bunda. Minggu depan Khaira akan cek kandungan lagi untuk melihat posisi bayinya. Khaira ingin melahirkan secara normal, Bun." ucapnya sembari menatap wajah Bundanya.


Bunda Dyah mengusap lengan anaknya itu. "Ya kamu cek dulu kandungannya sehingga tahu posisi bayinya apakah bisa melahirkan normal. Melahirkan normal atau Caesar sama saja, perjuangannya sama. Mau normal atau pun Caesar yang penting Ibu dan bayinya selamat."


Sementara itu Bunda Ranti juga duduk mendekati Radit. "Kamu juga persiapan menjadi Ayah ya, Dit. Jadi Ayah yang siaga, suami yang siaga juga. Kalau kalian tidak keberatan, apa tidak lebih baik kalian pulang ke rumah Bunda dulu? Bunda takut kalau Khaira waktu kontraksi dan kamu baru kerja. Gimana?"


Radit dan Khaira nampak saling pandang. Apa yang dikatakan Bunda Ranti ada benarnya, bagi wanita yang memasuki masa kehamilan menjelang persalinan kontraksi bisa datang kapan saja. Namun, Khaira ingin menjalani semua proses itu bersama suaminya.


Melihat isyarat yang seolah diberikan oleh Khaira, Radit pun berbicara kepada orang tuanya. "Euhm, maaf ya Bunda dan Ayah. Akan tetapi, kami di sini saja. Kami mau belajar dan sekaligus menikmati proses menjadi orang tua. Radit pastikan Radit akan selalu siaga untuk Khaira. Pasti Khaira pun sepemikiran dengan Radit, iya enggak Sayang?"

__ADS_1


Khaira juga menatap wajah orang tua dan mertuanya satu per satu. "Maafkan kami ya Ayah dan Bunda. Apa yang disampaikan Mas Radit benar. Berdoa saja semoga saat kontraksi tiba, Mas Radit ada di rumah. Lagipula jarak rumah ini ke kantor juga dekat, Khaira masih bisa menunggu Mas Radit kok."


Bunda Dyah dan Bunda Ranti seketika tersenyum mendengar ucapan anaknya itu. "Dengarkan Istrimu ya, Dit. Sekarang kalau kerja handphonenya harus stand by, soalnya kehamilan Khaira semakin besar. Radit menjaga kamu dengan baik kan Sayang? Kalau Radit macem-macem bilang aja sama Bunda, terbuka sama Bunda ya. Jangan menyimpan apa-apa sendiri." ucap Bunda Ranti.


Segera Khaira menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas Radit baik kok Bunda. Bahkan setiap malam, Mas Radit juga yang kasih minyak zaitun di perut Khaira katanya supaya tidak stretch marks. Untuk keperluan Baby A juga sudah dicukupi sama Mas Radit."


"Bunda seneng banget jika Radit benar-benar sudah berubah. Kalau dia macem-macem, Bunda gak segan buat memberi hukuman sama dia dengan tangan Bunda sendiri." ucap Bunda Ranti yang diangguki oleh semua yang ada di ruang tamu.


"Radit benar-benar sudah berubah, Bunda. Semua ini karena Khaira, wanita yang baik membuat Radit semakin baik. Siapa pasangan kita itu mencerminkan siapa diri kita." ucap Radit yang langsung mendapat tepukan di bahunya oleh Ayah mertuanya.


"Ayah seneng, kalian berdua bisa saling menyayangi. Mengingat betapa pahitnya masa lalu kalian, Ayah harap kalian bisa terus bersama berjuang mempertahankan rumah tangga kalian. Memulai hubungan itu mudah, yang susah adalah mempertahankannya." ucap Ayah Ammar kepada menantunya itu.


Khaira nampak tersenyum melihat kebahagiaan orang tua dan mertuanya. Sekaligus ia bahagia lantaran suaminya benar-benar berubah.


"Ayah dan Bunda, mau melihat kamar Baby A tidak? Mas Radit sampai memanggil desainer interior buat mendesain khusus kamar Baby A." ucapnya.


"Boleh-boleh, yuk ... kita lihat kamar calon cucu." Ajak Bunda Dyah.


Radit dan Khaira pun lantas mengajak orang tua dan mertuanya untuk menaiki lantai dua, melihat kamar Baby A yang didominasi warna pink itu. "Silakan masuk, ini kamarnya Baby A..."


Bunda Dyah dan Ayah Ammar, Bunda Ranti dan Ayah Wibi takjub melihat kamar Baby A yang terlihat indah itu. Bahkan mereka geleng kepala melihat segala sesuatu yang sudah dipersiapkan Radit dan Khaira dengan matang.

__ADS_1


__ADS_2