
Keesokan paginya, Radit nampak ogah-ogahan untuk masuk ke kantor. Satu kantor, terlebih satu ruangan dengan Miko membuatnya serasa berhadapan dengan rival. Walau pun semalam moodnya sudah berubah menjadi baik dan tidur nyenyak semalaman, tetapi pagi hari saat ia bangun, membayangkan kembali bertemu Miko membuatnya serasa enggan untuk berangkat ke kantor.
"Pagi-pagi kok manyun sih Mas? Kalau pagi udah manyun, nanti pasti seharian deh begitu. Mood yang baik dimulai sejak membuka mata di pagi hari loh Mas." pagi-pagi Khaira sudah memberikan siraman rohani untuk suaminya itu.
"Boleh enggak kalau aku pindah tempat kerja aja? Males harus ketemu sama Miko itu." ucapnya sembari mendaratkan dirinya di sofa, seolah enggan untuk turun sarapan.
Khaira mengikuti suaminya duduk di sebelahnya. "Boleh ... Mau pindah tempat kerja juga boleh, aku kan enggak memaksamu kerja di tempat Ayah. Yang mau kerja sama Ayah siapa coba? Kalau aku kan bilangnya yang penting kamu bekerja aja." ucapnya sembari menatap Radit.
Radit menghela nafasnya. "Kenapa sih, malahan seruangan sama Miko itu, mana nitip-nitip salam lagi buat Istriku. Gak terima deh."
Khaira hanya mengelus lembut lengan suaminya. "Gak usah ditanggapin. Sabar ... Lagian kan aku gak ngapa-ngapain juga. Aku dari dulu gak pernah meladeni dia. Kalau dulu aku meladeni, beda ceritanya Mas."
Radit menyandarkan kepalanya ke bahu Khaira. "Dulu pasti banyak ya yang naksir kamu di kampus? Ada berapa biji sih?"
"Yakin nih mau nanyain masa lalu? Dijawab jujur atau enggak nih?" tanya Khaira dengan nada terdengar menggoda di telinga suaminya itu.
Radit menaikkan kelopak matanya, "Jujur aja, aku cuma pengen tahu kok."
"Aku gak ngitungin dan enggak peduli, Mas. Karena fokusku dulu cuma kuliah. Eh, malahan di semester akhir Ayah Ammar menjodohkanku denganmu. Aku udah berusaha keras menolaknya, tetep aja akhirnya aku menikah denganmu." Khaira seolah mem-flashback memorinya kembali.
Dia mengingat bagaimana ia tak mempedulikan setiap pria yang menyatakan cinta kepadanya. Hanya fokus untuk belajar dan kuliah. Namun, nyatanya sering kali Allah dengan skenario di tangan-Nya membuat kehidupan manusia kian berwarna.
Radit menatap wajah istrinya. "Kamu terlalu baik Sayang. Aku beruntung banget bisa memiliki kamu sebagai pasangan hidupku."
"Ya sudah, turun ke bawah yuk Mas. Sarapan dulu. Jangan terlambat masuk ke kantor, walaupun itu kantor Ayah. Professional dalam bekerja, miliki etos kerja yang baik." Khaira menceramahi suaminya itu untuk semangat bekerja.
"Iya Sayang, aku akan bekerja untuk kamu dan buah hati kita nanti. Aku mau pria yang keren buat kamu." ucapnya tertawa sembari mencuri satu ciuman di pipi istrinya.
Akhirnya keduanya turun ke bawah menuju meja makan, sementara Ayah Wibi dan Bunda Ranti sudah terlebih dahulu duduk di sana.
__ADS_1
"Pagi Ayah... Bunda..." sapa keduanya kepada orang tua mereka.
"Pagi juga. Gimana kerjanya kemarin, Dit? Bisa ngikutin ritmenya?" tanya Ayah Ammar sembari menikmati menu sarapannya.
Radit menganggukkan kepala. "Iya, bisa Ayah. Tetapi, Radit masih harus belajar."
"Iya, belajar aja pelan-pelan. Lagipula prinsip akuntansinya kan sama, mungkin jurnalnya yang berbeda." lagi Ayah Wibi berkata kepada Radit.
"Iya Yah, memang begitu. Tetapi, gak papa ... Radit mau belajar." ucap pria itu yang langsung dihadiahi senyum oleh Khaira.
Ayah Wibi dan Bunda Ranti pun mengangguki setuju ucapan Radit. Hingga akhirnya sarapan selesai dan seperti kemarin, Khaira mengekori suaminya berjalan hingga di depan pintu.
"Pasangan baru memang beda ya Bun..." ucap Ayah Wibi yang berjalan di belakang anaknya. Sementara bunda Ranti hanya tersenyum melihat anak-anaknya yang justru terlihat begitu bahagia.
"Justru seneng Yah, karena mereka akur dan rukun tanpa settingan." jawab Bunda Ranti sembari setengah berbisik di telinga Ayah Ammar.
Begitu sampai di depan pintu rumah, seperti biasa Khaira mencium punggung tangan suaminya dan Radit pun mengecup kening istrinya. "Aku mengais rupiah dulu ya Sayang. Hati-hati di rumah." pamitnya seraya memeluk Khaira sejenak.
***
Dua puluh menit kemudian Radit dan Ayah Ammar telah tiba di kantor WNS Finance. Radit langsung menuju kubikal tempatnya bekerja.
Baru saja ia menaruh tas ranselnya. Miko rupanya sudah menyambut Radit. "Gimana Bro, salam dari gue sudah disampain sama Khaira? Dapet salam balik enggak?" tanya pria itu dengan penuh percaya diri.
Radit berusaha tenang, walau pun dalam hatinya dia begitu sebal. Masih pagi sudah diberondong pertanyaan menyebalkan dari Miko.
Rasanya pengen gue geprek! gumamnya dalam hati.
"Udah disampein, tapi enggak ada salam balik," jawab Radit sembari menyalakan personal komputernya.
__ADS_1
Miko mengusap-usap wajahnya. "Gak dulu, gak sekarang selalu aja enggak ditanggepin sama Khaira." Pria itu pun akhirnya berlalu pergi dari meja Radit dan kembali ke tempatnya.
Mendengar ucapan Miko, tawa terbit dalam hati Radit. Nyatanya memang Khaira tidak membalas salam dari Miko, bahkan istrinya juga berkata jujur jika ia tidak menanggapi siapa pun pria yang mencoba mendekatinya saat di kampus dulu.
"Rasain deh jadi cowok, kepedean banget. Nitip salam ke cewek, lewat suaminya sendiri. Sableng emang."
Menghiraukan Miko, Radit kembali berkutat dengan pekerjaannya. Hingga menit berganti menit, jam berganti jam, pria itu fokus dengan berbagai file cetak dan digital, mengeceknya satu per satu. Hingga akhirnya, menjelang jam tiga sore, Ayah Ammar mendatangi Radit.
"Dit, ada yang mau mampir nih." ucap Ayah Wibi yang membuat fokus Radit teralihkan begitu saja.
"Siapa Yah?" tanyanya penasaran.
Di balik Ayah Ammar, Khaira berdiri lalu menampakkan dirinya perlahan.
"Mas...." sapanya sembari tersenyum manis kepada suaminya.
"Sayang, kok kamu di sini sih? Sejak kapan? Sama siapa?" tanya Radit dan seketika ia berdiri dari tempat duduknya.
"Aku nganterin dokumen Ayah yang ketinggalan di rumah, udah setengahan jam sih, tapi tadi aku langsung ke ruangan Ayah dulu." jawab Khaira perlahan, takut mengganggu karyawan lain yang sedang bekerja.
"Ya sudah, Ayah tinggal ya." Ayah Wibi pun kembali ke ruangannya dan Khaira masih berdiri di depan meja kerja Radit.
Radit pun berdiri matanya mengedar ke sekeliling mencari kursi supaya istrinya bisa duduk. "Duduk Sayang, nunggu sampai aku selesai kerja ya? Tinggal satu jam lagi. Mau?"
Khaira sedikit berpikir, "hm, aku ganggu enggak Mas? Takut ganggu," ucapnya sembari mengamati meja kerja Radit.
"Enggak ganggu kok. Santai aja." balas Radit kemudian dia kembali mengerjakan tugas-tugasnya yang belum selesai.
Sembari Khaira menunggu, sesosok pria masuk ke dalam ruangan. Pria itu begitu kaget sekaligus tertarik mengetahui Khaira ada di tempat kerja Radit.
__ADS_1
"Hei Khaira, kamu Khaira kan...." sapanya sembari tersenyum lebar.