
Radit masih memeluk istrinya dengan mengambil duduk di tepian brankar, sementara orang tua dan mertuanya masih bahagia memandangi Baby Arsyila yang masih tidur.
"Kapan diperbolehkan pulang, Khai?" tanya Bunda Dyah kepada Khaira.
"Palingan besok Bunda ...." jawab Khaira kepada Bundanya itu.
Obrolan mereka terjeda karena pada Perawat yang membawakan makan malam untuk Khaira.
"Silakan Ibu Khaira, ini menu makan malamnya." kata Perawat itu sembari menyerahkan menu makan malam dalam satu nampan.
Radit segera berdiri dan meraih nampan itu. "Ayo makan dulu Sayang ... diisi dulu tenaganya. Pasti sekarang laper banget karena tadi kecapean mengejan. Aku suapin ya...." ucapnya yang sudah bersiap menyendokkan nasi dan sayuran ke mulut Khaira.
Akan tetapi, Khaira menggelengkan kepalanya. "Aku gak mau makanan itu, Mas ... rasanya hambar." ucapnya sembari berusaha menutup mulutnya.
Kemudian Bunda Dyah dan Bunda Ranti sama-sama mengamati perilakuan anak-anaknya.
"Itu dimakan nasi dan sayurnya, Khai ... kamu biar sehat. Bener kata Radit, kamu pasti laper karena tadi abis berjuang mengejan buat lahirin Arsyila. Bunda bawakan Sup Ayam ini, kamu makan juga."
Mendengar bahwa Bunda Dyah membawakan Sup Ayam, mata Khaira langsung berbinar. "Aku makan Sup Ayam dari Bunda aja ya Mas ...." ucapnya sembari tersenyum kepada suaminya.
Radit pun mengalah. Lebih baik istrinya makan dan terisi kembali tenaganya. Dengan telaten, Radit menyuapi istrinya dengan Sup Ayam. Rupanya istrinya benar-benar kelaparan usai mengejan sekian waktu lamanya. Satu mangkok nasi dan Sup Ayam pun tandas.
Khaira pun ingat bahwa suaminya sama sekali belum makan, sejak mengantarnya masuk Rumah Sakit hingga malam hari. Khaira lantas meminta suaminya mengambil lagi satu porsi nasi dan Sup Ayam dalam mangkok yang baru. Setelah Radit mendekat, Khaira lantas mengambil sendok dan menyuapkannya untuk suaminya.
"Kamu makan juga, Mas ... sejak siang kamu bahkan belum makan." ucapnya tulus.
Radit pun tersenyum dan menerima suapan dari tangan istrinya itu dengan bahagia. "Makasih Sayang, aku sebenarnya bisa makan sendiri. Lagipula kamu masih sakit, aku makan sendiri aja ya." ucapnya di sela-sela kegiatannya mengunyah makanan.
Khaira menggelengkan kepalanya. "Aku suapin ... makasih ya sudah menemaniku berjuang, padahal aku tahu sekarang kamu juga lapar."
__ADS_1
Radit menatap wajah istrinya. "Sudah pasti aku akan menemani perjuanganmu. Rasa lapar di perutku tidak sebanding dengan rasa sakit yang kamu rasakan Sayang. Makasih ya sudah perhatian padaku, di saat kamu pun juga membutuhkan perhatian." ucapnya tulus.
Dengan tersenyum, Khaira terus menyuapkan satu sendok demi satu sendok, hingga satu mangkok nasi dan Sup Ayam itu habis.
***
Keesokan harinya, Khaira sudah mandi dan menunggu waktu untuk pulang ke rumah.
Pagi tadi dengan didampingi Perawat, Khaira juga belajar memandikan Baby Arsyila. Walaupun masih kaku, tetapi ia melakukan dengan hati-hati.
"Saya masih takut karena masih ada tali pusarnya ini, Suster." ucap Khaira sembari membasuh tubuh mungil putrinya dan menyabunnya.
Perawat itu pun tersenyum. "Tidak apa-apa, Bu. Asalkan setelah mandi, tali pusat harus kering ya Bu. Jangan dipakaian bedak. Nanti tali pusat akan terlepas setelah lima hingga seminggu. Nanti saya ajarin, membungkus tali pusatnya dengan kasa ya Bu." ucap Suster yang mendampingi Khaira.
Setelah memandikan Arsyila, Khaira juga yang memakaikan baju untuk bayi mungil itu dan membedongnya supaya hangat.
"Pagi Sayang ...." ucapnya sembari mendaratkan kecupan sayang di kening istrinya.
Khaira yang tengah menunduk mengamati setiap fitur wajah yang dimiliki Arsyila, perlahan mendongakkan wajahnya dan tersenyum melihat suaminya yang sudah segar lantaran usai mandi.
"Pagi Papa...." jawab Khaira.
Radit sedikit menunduk dan mengamati putrinya yang tengah meminum ASI langsung dari sumbernya itu.
"Hei Arsyila ... sehat ya. Sekarang aset berharga Mama sudah pindah kepemilikan ya. Kamu hanya pinjem ya Sayang, itu punya Papa...." ucap Radit menowel pipi Arsyila yang kemerah-merahan.
Khaira pun memukul lengan suaminya itu. "Ishhh, sama anak sendiri masak gitu sih Mas ... masak Papa nya gak mau ngalah sih. Kamu memang Papa paling nakal."
Radit tertawa. "Kan itu punya aku, Sayang ... semua yang ada di kamu itu punya aku." Radit sejenak tertegun melihat bayi cantik yang sedang meminum ASI dan mulai terlelap itu. "Rasanya aku menjadi pria paling bahagia di dunia deh Sayang." ucapnya sembari mengelus rambut hitam milik putrinya.
__ADS_1
Khaira menatap wajah suaminya itu. "Kenapa?" tanyanya.
"Karena aku punya Queen dan Princess. Kamu adalah Queen di hatiku, dan Arsyila Princess-nya." jawab Radit.
Khaira lantas tertawa, "Kamu emang paling bisa ya Mas."
Satu tangan Radit terulur mengusap puncak kepala Khaira. "Kamu selalu menjadi Ratu di hatiku. Terima kasih Sayang ... oh, iya tadi waktu kamu jalan mandiin Arsyila terus ke sini, apa tidak sakit Sayang? Kan kemarin di jahit."
"Ya masih sakit, Mas ... tetapi sudah bisa buat jalan pelan-pelan kok Mas." jawab Khaira sembari tersenyum.
"Kamu Ibu yang hebat Sayang." Ucap Radit yang kembali mencuri satu ciuman di pipi istrinya.
Khaira menatap suaminya. "Semua Ibu adalah Ibu yang hebat, Mas ... karena semua Ibu telah berjuang mati-matian saat melahirkan buah hatinya."
Setuju dengan perkataan istrinya, Radit pun menganggukkan kepalanya. "Iya, semua Ibu adalah Ibu yang hebat. Dan, kamu adalah Ibu terhebat bagi Arsyila, juga kamu adalah wanita terhebat bagi aku."
Usai dengan obrolan mereka, Dokter Indri kembali datang untuk melakukan pengecekan bersama Dokter Spesialis Anak.
"Ibu Khaira sudah sehat?" tanya sang Dokter yang sudah menemani Khaira sejak proses awal hamil hingga melahirkan.
"Sudah Dok ... terima kasih ya Dok, sudah membantu saya dari awal sampai melahirkan kemarin." ucap Khaira dengan tulus.
Dokter Indri pun tersenyum. "Sama-sama Ibu. Semoga lekas sehat ya Bu ... saya resepkan obat dan vitamin untuk Ibu. Hari ini juga Ibu boleh pulang."
Sementara Dokter Spesialis Anak yang mengecek Arsyila juga memberikan laporannya. "Baby nya juga sehat ya Bu. Kemarin begitu lahir sudah diberikan suntikan Vitamin K dan imunisasi Hepatitis B ya Bu. Selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah jadwal imunisasi untuk si Baby. Jangan sampai terlewatkan dengan jadwal imunisasinya ya Bu. Sehat selalu baby cantik." ucap Dokter itu sembari tersenyum melihat Arsyila yang masih terlelap di dalam box bayi.
Usai memastikan kondisi Khaira dan Arsyila sama-sama sehat, Radit pun mengurus administrasi, berbagai resep obat, setelahnya dia akan membawa pulang segera Queen dan Princess-nya.
Rumah mereka akan bertambah anggota baru yang akan menambah kebahagiaan sepasang orang tua baru itu.
__ADS_1