
Kepergian Khaira tanpa pesan dan pamit kepada Radit, merupakan sangat mengguncang hati dan pikiran Radit. Usai melihat status media sosial Khaira di handphone Dimas, berbagai pikiran dan penyesalan berkecamuk dalam pikiran Radit.
Dimas yang tahu keadaan temannya sedang tidak baik-baiknya akhirnya mengajak Radit untuk nongkrong di kafe sebentar. Melupakan sejenak permasalahannya, dan kembali bersemangat.
"Dit, nongkrong kafe biasa yuk ... di Mall itu, sambil cari makan."
"Yuk."
Dengan perjalanan selama 15 menit, akhirnya keduanya tiba di sebuah kafe yang berada di dalam satu pusat perbelanjaan.
Dimas dan Radit mengambil tempat duduk di pojokan. Sembari menikmati suasana sore.
"Bro, gue mau nanya dong." ucap Radit membuka pembicaraan. "Khaira itu sering bikin update status di media sosialnya?"
"Kenapa lo tertarik sama Khaira?" tanya Dimas sambil tertawa.
"Enggak, gue terakhir ketemu dia kan dia abis sidang skripsi gitu kok sekarang udah ke luar negeri aja." ucapnya sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kalau menurut gue, Khaira itu cewek berkemauan kuat sih. Gue dengar juga di kampus dia waktu wisuda kemarin dapat predikat IPK terbaik dan Skripsi terbaik. Tekadnya besar buat ngejar di pendidikan. Tapi aneh enggak sih, cewek cantik, pinter, baik kayak Khaira gak pernah pacaran coba." Cerita Dimas panjang lebar.
"Kamu tahu dari mana?" tanya Radit dengan wajah penuh selidik.
"Tahulah. Instagramnya aja cuma isi fotonya beberapa, buku, dan sepak bola aja kok. Statusnya juga kebanyakan tentang kuliahnya. Gue ngerasa aneh aja dulu waktu nobar dia bilang kalau udah nikah. Kalau udah nikah masak iya dia wisuda sendirian gak ada keluarga dan suaminya. Wisuda hari bahagia loh, kalau emang suaminya gak datang mungkin aja Khaira sebenarnya belum nikah atau kalau sudah bersuami ya berarti suaminya gak berperasaan."
Radit tiba-tiba terbatuk saat Dimas menyebut perihal suami Khaira yang tak berperasaan. Ibarat kata ia tertampar oleh ucapan sahabatnya sendiri.
"Minum dulu Bro, pake batuk segala." Dimas menyuruh Radit untuk minum. Dimas menggelengkan kepala melihat Radit yang sedang terbatuk-batuk.
"Lo gimana sekarang sama cewek lo? Aman? Tapi wajah lo kusut terus?" Lagi Dimas bertanya kepada Radit.
"Kok gue ngerasa pengen lepas ya Bro, ibarat kata kayak cuma gue sendiri yang berjuang di sini. Makin hari dia makin posesif. Sementara beban kerja yang tinggi kayak gini, kalau gue lembur dia nya marah."
Dimas terkekeh mendengar cerita Radit. "Hubungan lo udah Toxic tahu enggak. Lepasin aja."
"Tapi gue gak bisa lepasin begitu aja, gue perlu alasan yang jelas dan kuat jika harus ninggalin dia."
__ADS_1
"Daripada bertahan dan melukai diri sendiri? Ada kalanya kita harus melepaskan apa yang saat ini kita genggam untuk mendapatkan sesuatu yang lebih bernilai." Dengan bijak Dimas memberitahu kepada Radit.
Saat asyik kedua pria itu tengah mengobrol, rupanya Felly pun datang ke kafe itu dengan menggandeng seorang pria.
Dimas yang mengetahui kedatangan Felly, langsung memberi kode kepada Radit.
"Bro, cewek lo tuh datang. Tapi sama cowok lain, pake masker lo."
Dimas pun mengambil potret Felly yang sedang berjalan dalam gandengan pria yang bersamanya.
[To: Radit]
[Picture send]
"Liat handphone lo, Bro. Gue kirim pesan."
Radit pun mengangguk lalu membuka layar handphonenya.
Felly yang bergelayut manja dengan pria itu tak menyadari jika Radit tahu keberadaannya.
Lantaran tempat duduk Felly dan Dimas tidak berjarak jauh, jadi pembicaraan keduanya bisa Dimas dengar.
"Boleh deh, aku nginep di apartemen kamu. Tapi, malam ini gak boleh nakal loh yah ... Awas kamu kalau nakal." ucap Felly sambil terkekeh kepada pria itu.
Radit yang juga mendengarkan, diam-diam mengepalkan kedua tangannya. "Oh, mungkin aja Felly memang enggak kerja shift malam, tetapi nginep di apartemen pria itu." gumamnya dalam hati.
"Sabar Bro, jangan gegabah. Kalau lo emosi, pasti kita kalah. Karena emosi gak akan nyelesain apa pun."
Radit pun mengangguk dan mengikuti instruksi Dimas.
"Gue rasa sekarang gue punya alasan kuat mengapa gue harus ninggalin dia dan mengakhiri hubungan ini, Bro." Ucapan Radit direspons anggukan oleh Dimas.
"Lebih baik denger sekarang Bro, daripada kelamaan. Cinta itu kayak kanker gak sih, datang gak diundang, tapi merusakmu sangat dalam bahkan sampai membunuhmu. Sebelum kanker itu menggerogoti tubuh lo, mending langsung lo amputasi kan?" ucap Dimas panjang lebar.
"Iya, mending langsung gue amputasi."
__ADS_1
"Ya udah pulang aja yuk, daripada di sini lo tambah panas."
Akhirnya keduanya memilih pulang, dan Radit pun memilih pulang ke rumah yang sebelumnya ditempati Khaira. Lebih baik ia segera meninggalkan Felly.
Dengan sepeda motornya, Radit memasuki kawasan perumahan yang ditempati Khaira. Begitu sampai di depan pintu gerbang, sejenak ia mengamati bahwa rumah itu masih bersih, walau pun sepi. Mobil Khaira sudah tidak ada di garasi mobilnya.
Radit memasuki rumah kosong itu dengan langkah gontai. "Ternyata seperti ini rasanya memasuki rumah sendiri dalam keadaan kosong. Namun selama ini kamu bertahan, Khai..." ucapan lirih Radit begitu ia memasuki pintu rumahnya.
Setelah itu, Radit menaiki anak tangga menuju lantai dua. Kamar pertama yang ingin ia masuki adalah kamar Khaira. Memorinya kembali berputar bagaimana ia meninggalkan Khaira di malam pertamanya untuk menikahi Felly secara siri, bagaimana ia mengantar Khaira masuk ke kamar saat kaki Khaira terkilir, bayangan saat Khaira yang hanya berdiam sepanjang hari di dalam kamar. Pandangan Radit menyapu seluruh bagian kamar bercat putih itu, pandangan matanya berhenti, saat melihat selembar kertas yang berada di atas meja belajar.
Radit segera berjalan ke arah meja belajar, tangannya meraih kertas yang begitu menonjol berada di atas meja belajar.
Dengan perlahan ia mengambil kertas itu dan membacanya.
To: Mas Radit
Bagaimana kabarmu Mas?
Jauh di dalam hatiku, aku selalu mengharap kau selalu sehat dan bahagia. Saat kamu menemukan dan membaca surat ini mungkin aku sudah tidak lagi berada di sini.
Aku ingat kata pertama yang kau ucapkan usai pernikahan kita bahwa kau meminangku tanpa cinta. Jujur kata itu menggores teramat dalam di hatiku. Ada satu hari di mana aku ingin bertahan. Ada pula satu hari di mana aku ingin mengakhiri semua ini. Namun, hari terberat adalah ketika harus berjuang dan bertahan hidup sendiri.
Pernah aku memintamu untuk menalakku dan membebaskanku dari hubungan tanpa cinta yang rumit ini, tetapi kau tidak akan menalakku dan membiarkan hubungan ini kian suram setiap harinya. Di lain waktu, aku hanya ingin kau lebih bijaksana. Berjuanglah untuk apa yang inginkan, bertanggung jawablah untuk setiap apa yang kau lakukan. Terima kasih, karena darimu pun aku belajar apa itu belajar, berjuang, dan bertahan.
Aku belajar untuk memahami kondisi kita berdua. Belajar mengenalmu. Belajar menerima keputusanmu.
Aku berjuang untuk hidup dalam pinangan tanpa cinta yang rumit dan tanpa masa depan.
Aku bertahan hidup dalam kesepian dan kesendirian yang perlahan-lahan menjadi keseharian.
Selamat tinggal Mas Radit. Bahagialah dengan pilihanmu.
Khaira.
Untuk pertama kali dalam hidupnya seorang Radit merasakan hatinya terisi perih. Pengkhianatan yang ia lihat saat Felly bersama pria lain tak sesakit ini, tetapi saat membaca surat yang Khaira tinggalkan, hatinya terasa sesak dan teriris perih.
__ADS_1
"Aku memang berengsek, Khai ...."