
Menjelang sore, Khaira mempersiapkan diri untuk menemui Metta di salah satu Mall di Ibukota yang sudah dijanjikan sebelumnya.
Khaira hanya mengenakan jeans berwarna navy, kemeja berwarna pink, dan tak lupa sneakers kesayangannya. Tampilan Khaira untuk sebatas ke kampus atau ke Mall memang tampilan yang kasual, bahkan jarang sekali Khaira berpenampilan girly.
Untuk make up wajahnya, Khaira hanya mengaplikasikan bedak tipis di wajahnya, dan lipstick berwarna pink di bibirnya yang tipis.
Selesai dengan penampilannya yang dinilai cukup, Khaira segera turun ke bawah dan mengendarai mobilnya menuju ke Mall untuk menemui Metta.
Karena bertepatan dengan akhir pekan, jalanan ibu kota pun cukup ramai. Dengan perlahan Khaira melajukan mobilnya hingga selama setengahan jam berkendara, barulah ia sampai di pusat perbelanjaan yang dijanjikan dengan Metta.
Di Mall yang cukup besar dan ramai tentunya karena weekend, Khaira seolah melihat Felly tengah bergandengan tangan dengan seorang pria. Tetapi, pria itu bukan Radit.
Dengan pelan-pelan, Khaira mencoba mengikuti Felly. Tingkah Khaira saat ini layaknya seorang penguntit, bahkan Khaira sengaja memakai masker di wajahnya untuk mengikuti Felly, hingga Khaira lupa untuk menghubungi Metta kalau ia telah sampai.
Pikiran dan pandangan Khaira hanya tertuju pada Felly dan pria di sampingnya. Tidak hanya sebagai penguntit, tetapi Khaira pun bahkan memotret keduanya. Bukti fisik tentu akan lebih menguntungkan, tetapi Khaira sama sekali tak ingin memberitahukan kepada Radit. Terlebih, Radit nampaknya cinta mati dengan Felly, memberitahukan kebenaran kepada Radit sama halnya menabur garam di lautan lepas.
Ketika Felly bersama pria yang entah siapa namanya, memasuki sebuah restoran, sayup-sayup terdengar Felly menceritakan tentang Radit kepada pria itu. Karena Khaira duduk tepat di belakang Felly. Keduanya saling berpunggungan, jadi apa yang Felly katakan terdengar oleh telinga Khaira.
"Cowokku itu udah cinta mati deh sama aku. Aku bodohin aja dia kagak tahu. Dia tahunya, aku cinta sama dia dan setia sama dia. Padahal sebenarnya, aku kasihan sama dia. Dari awal jadi pacarnya, khususnya saat kedua orang tuanya menolak aku, aku langsung enggak tertarik buat serius dalam hubungan ini. Sayangnya, sekarang aku terikat sama dia, jadi mau enggak mau ya aku jalanin. Tapi, lumayan sih dia kasih aku uang jajan yang banyak tiap bulannya. Dia pria yang baik sih, hanya saja dia terlalu bodoh."
Mendengar perkataan Felly yang cukup lantang, membuat Khaira seperti terkena petir di siang hari yang terik. Mengapa ia justru membodohi Radit yang begitu mencintainya. Apakah pantas cinta yang begitu dalam dibalas dengan pengkhianatan?
Salah satu syarat mutlak menjalin sebuah hubungan, selain cinta adalah kesetiaan. Sebab dengan kesetiaanlah kita memberikan bukti nyata kepada pasangan kita untuk mendampingi pasangan, setia menunggu, atau bahkan setia mempertahankan hubungan di tengah berbagai masalah.
Untuk apa mempertahankan sebuah hubungan jika di dalamnya tidak ada kesetiaan. Sebab, satu-satunya yang paling berharga di dunia ini adalah kesetiaan.
"Good girl. Emang udah berapa lama jalan sama cowok itu? Kalau sama aku, kamu cinta enggak?" Tanya pria itu sambil terkekeh mendengar cerita Felly.
"Udah hampir 2 tahun sih, dia pernah ngenalin aku sama Bokap dan Nyokapnya, tapi mereka gak suka sama aku dari awal. Tapi, cowok itu selalu memperjuangankan dan mempertahankan aku. Udah bucin deh tuh cowok sama aku. Kalau sama kamu beda dong, aku cinta sama kamu. Kamu, gak yakin?"
"Yakin dong, kan selama ini kamu juga udah kasih bukti kalau kamu cinta sama aku." Pria itu menjawab dengan kesungguhan hati.
Mendengar sendiri dengan telinga dan melihat sendiri dengan mata kepalanya justru membuat Khaira merasa iba dengan Radit. Suaminya mencintai Felly dengan sungguh-sungguh, namun wanita yang ia cintai justru bermain serong di belakangnya. Sungguh, Khaira menjadi sedih, bagaimana pun Khaira hanya berharap suaminya itu akan bahagia walau pun tidak bersamanya.
__ADS_1
Puas mengintai Felly, Khaira memutuskan untuk keluar dari restoran itu, ia memutuskan untuk ke Toilet terlebih dahulu.
Setibanya di Toilet, Khaira membuka maskernya. Barulah ia serasa mulai bisa bernafas. Membuntuti Felly membuat dadanya serasa sesak. Bukan dia yang tersakiti, tetapi hatinya sangat sakit. Bahkan rasa empatinya untuk suaminya pun ada, sekali pun suaminya tak pernah memandangnya layaknya seorang istri. Ya, di mata Radit, Khaira hanya seorang anak kecil yang cengeng.
Di Toilet itulah barulah ia teringat kepada Metta. Pastilah temannya itu sudah menunggu lama.
"Ya ampun Metta. Sorry, Ta... Gue ampe kelupaan." Gumam Khaira sembari ia membuka handponenya untuk menghubungi Metta.
Rupanya Metta sudah menunggunya di salah satu coffee shop yang berada di dalam area Mall itu. Segeralah, Khaira berjalan mencari Metta ke coffee shop itu.
"Metta, sorry. Tadi gue ketemu temen dulu, diajakin ngobrol soalnya. Sorry ya..."
"Iya Khai, gak papa... Pesen gih! Abis ini temenin shopping ya, udah lama enggak shopping sama kamu."
"Iya aman. Gue pesen minum dulu, kering tenggorakan gue cepet-cepet ke sini."
Khaira pun memesan Karamel Macchiato untuk dirinya sendiri, karena Metta yang datang lebih dulu juga telah memesan minumannya sendiri.
"Khai, tumben sih lo pake masker segala?" Tanya Metta menyelidik, sebab tidak biasanya sahabatnya mengenakan masker.
"Hmm, iya sih. Lo kan gak tahan sama asap rokok ya. Ngerti sih gue."
"Lo kan emang sahabat yang paling ngertiin gue." Ucap Khaira sambil tersenyum kepada Metta.
"Suami lo gak ikut? Belum ketemu lagi loh gue sama suami lo. Kan mau kenalan juga."
"Di rumah dong dia, tadi gue ajakin gak mau. Ya udah, gue pergi sendiri. Katanya kalau ke Mall sama cewek lama."
"Iya sih, kan kita mau jalan-jalan ya. Udah lama juga kan, lo sibuk ngerjain skripsi sama urus suami kan. Ya udah sambil jalan-jalan yuk."
Akhirnya Khaira dan Metta menyempatkan waktu untuk shopping, keluar-masuk berbagai toko yang berada di pusat perbelanjaan itu. Metta nampak senang karena bisa shopping dan jalan-jalan bersama Khaira.
"Lo, gak belanja Khai?" Tanya Metta yang sudah membawa beberapa paper bag di tangannya.
__ADS_1
"Males belanja gue, semuanya masih. Kalau baju baru enggak pengen beli." Jawab Khaira sembari memegang beberapa baju di hadapannya.
"Beli kaos couple aja yuk. Buat tanda persahabatan kita."
"Ya udah yuk, lo yang pilih ya. Gue ngikut aja."
Akhirnya dua sahabat itu membeli kaos yang sama persis desainnya. Kaos berwarna biru muda dengan gambar karakter Line.
"Kapan-kapan dipakai barengan ya..." Ucap Metta dengan semangat.
"Iya..." Khaira pun mengiyakan perkataan Metta."
Waktu yang mereka habiskan bersama membuat Khaira melupakan sejenak pengingtaiannya Felly dan fakta yang ia dengar tentang Felly. Lantaran hari sudah malam, Khaira memutuskan untuk kembali pulang.
Tetapi, baru saja Khaira hendak turun ke parkiran basement, seorang wanita paruh baya memanggil namanya.
"Khai... Khaira, kamu di sini Nak?" Sapa wanita paruh baya itu lembut.
"Bunda Ranti... Kok Bunda di sini?" Rupanya Khaira bertemu dengan Ibu Mertuanya, dengan segera Khaira menjabat tangan Ibu Mertuanya dan mencium punggung tangannya. Bunda Ranti pun memeluk Khaira dan mencium pipi menantunya itu.
"Bunda jalan-jalan aja Khai, bosen di rumah sepi. Ayah baru banyak pekerjaan. Tau kamu di sini, tadi kita barengan ya. Bunda jadi bisa jalan-jalan sama anak perempuan Bunda."
"Iya Bunda... Bunda, tadi ke sini bagaimana?"
"Bunda naik taksi online tadi Khai, mau nyetir mobil sendiri Bunda ragu soalnya malam minggu."
"Biar Khaira antar pulang ya Bunda... Bunda masih mau jalan-jalan atau pulang? Khaira akan temenin Bunda."
"Kamu memang anak yang baik Khai... Gak salah Radit dapetin kamu. Pulang aja yuk, Khai. Nginep lagi yuk ke rumah Bunda, kangen nih Bunda sama kamu."
"Hmm, tapi Khaira belum izin sama Mas Radit, Bunda. Takut Masnya marah."
"Udah aman, nanti Bunda aja yang telepon Radit."
__ADS_1
Akhirnya Khaira pun mengantarkan Bunda Ranti pulang ke rumahnya. Sekaligus ini untuk kali kedua, Khaira akan menginap lagi di rumah mertuanya.