
Menyadari rasa sakit yang datang tiba-tiba dengan begitu hebatnya, Khaira pun segera memprediksi bahwa anaknya akan lahir tidak lama lagi. Wajahnya telah memerah menahan rasa sakit yang datang tiba-tiba itu. Doanya sekarang hanya satu yaitu suaminya bisa segera tiba. Sehingga dia bisa segera berangkat ke Rumah Sakit dan mendapatkan pengecekkan lengkap dari Dokter Indri.
Melihat Khaira yang beberapa kali menahan napas, dan wajahnya memerah Bunda Dyah pun mulai curiga. “Kamu tidak apa-apa Sayang? Apa mulai terjadi kontraksinya?” tanya Bunda Dyah yang kini mulai mengusapi perut Khaira. Sudah pasti Bunda Dyah pun merasa khawatir. Perasaan seorang yang begitu lembut tidak akan tega melihat anaknya kesakitan. Kendati demikian, di hadapan Khaira, Bunda Dyah berusaha untuk tetap tenang dan tidak menunjukkan kekhawatirannya.
Khaira mengangguk, “Iya Bunda … baru saja datang. Duh, sakit banget. Mules dan kencang banget rasanya, Bunda.” ucapnya sembari menyeka buliran keringat di keningnya.
Wanita itu pun masih berusaha tersenyum, walaupun beberapa menit tadi rasanya sakit itu datang dengan begitu hebatnya. Setidaknya rasa sakit kali ini masih bisa dia tahan, sehingga Khaira tetap berusaha tersenyum, sekali pun begitu kesakitan.
Hingga akhirnya terdengar pintu gerbang terbuka, mulailah Bunda Dyah berdiri untuk membukakan pintu. Rupanya sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Radit yang datang, dari gerbang pria itu sedikit berlari untuk memasuki rumahnya.
“Mana Khaira, Bunda?” tanyanya yang terlihat cemas dan juga khawatir.
“Itu Dit, keliatannya baru saja kontraksi.” jawab Bunda Dyah sembari menunjuk Khaira yang tengah duduk di ruang tamu.
Tanpa banyak bertanya, Radit segera membopong istrinya untuk masuk ke dalam mobilnya, sementara Bunda Dyah membawakan koper dan tas yang sudah Khaira siapkan sebelumnya. Pria itu pun menghela napasnya berharap bahwa istrinya bisa bertahan hingga ke Rumah Sakit. Sementara Khaira hanya tersenyum dan tangannya melingkari leher suaminya untuk berpegangan di sana.
“Padahal aku masih bisa berjalan loh.” gumam Khaira lirih. Berusaha menyingkirkan rasa khawatir dan panik yang dirasakan Radit saat ini. "Sebatas jalan dari rumah ke mobil masih kuat akunya." ucap Khaira lagi kepada suaminya itu.
“Aku gendong saja Sayang … aku enggak tahan liat kamu kesakitan dan masih harus berjalan. Sakit banget kan pasti? Jadi, biar aku gendong saja.” jawabnya.
__ADS_1
Setelahnya dengan perlahan, Radit mendudukkan Khaira di kursi depan dan memasangkan sit belt untuk istrinya itu. Kemudian Radit pun berpamitan dengan Bunda Dyah dan Arsyilla.
“Bunda, Radit pamit ya Bunda … kami titip Syilla dulu, doakan semuanya lancar.” ucapnya sembari mencium punggung tangan mertuanya itu.
“Iya iya Dit … kabarin kami ya. Yang sabar dan kuat menemani Istri melahirkan.” sahut Bunda Dyah.
Beralih pada Arsyilla, pria itu pun mencium pipi kanan dan pipi kiri Arsyilla, “Papa mau antar Mama ke Rumah Sakit dulu ya Syilla. Doakan Mama bisa melahirkan dengan sehat dan selamat.”
Gadis kecil itu pun mengangguk, “Bye Papa … Bya Mama … nanti Syilla susul ke Rumah Sakit kalau adik bayinya sudah lahir ya.” sahutnya dengan begitu menggemaskan.
Setelah berpamitan, Radit mulai melajukan mobilnya dan kali ini dia mengendarai dengan sedikit lebih cepat. Ada rasa takut jika istrinya kenapa-napa dan ditambah bahwa air ketubannya sudah merembes, jadi bisa sampai di Rumah Sakit tentu lebih baik.
“Bagaimana Bu?” tanya Dokter Indri yang rupanya juga sudah bersiap di Rumah Sakit.
“Keliatannya air ketubannya rembes, Dok. Tadi juga sudah terasa kontraksi.” jawab Khaira.
Mulailah Dokter Indri akan melakukan pemeriksaan cek dalam kepada Khaira guna mengetahui berapa centimeter pembukaan yang sudah terjadi. Mulailah Dokter Indri memberikan instruksinya.
“Sekarang mohon dengarkan instruksi saya ya Bu. Buka kakinya, tarik napas panjang dan jangan berpikiran yang aneh-aneh. Saya akan melakukan cek dalam, dan jangan mengejan ya Bu. Tunggu. Sekarang ya Bu Khaira, tarik napas … tahan.”
__ADS_1
Mulai tiga jari Dokter Indri masuk guna melakukan cek dalam, begitu tangan itu keluar tampaknya darah di sana.
“Sudah pembukaan lima, Bu. Sudah lima centimeter. Tadi yang Ibu rasakan basah dan merembes itu memang air ketubannya. Sekarang sudah memasuki fase pembukaan aktif ya Bu, jadi rasa kontraksi akan datang dengan lebih sering dan lebih sakit. Hanya saja, biasanya untuk kelahiran anak yang kedua biasanya prosesnya lebih cepat karena sudah ada jalan lahirnya. Jadi kita akan tunggu, jika lancar, kurang lebih 5 jam lagi kita bisa menyambut baby boynya.” penjelasan Dokter Indri yang sangat detail kepada Khaira dan Radit.
“Ibu Khaira masih bisa makan dan minum, karena kita nanti akan upayakan persalinan normal ya. Kalau mau Caesar, sayang sekali karena pembukaannya sudah setengah jalan. Boleh untuk jalan-jalan atau miring ke kiri ya Bu. Kalau butuh bantuan, silakan cek tombol di atas kepala Ibu nanti akan ada perawat yang datang dan menolong Ibu.” jelas Dokter Indri lagi.
Khaira pun mengangguk. Usai Dokter Indri keluar dari ruangannya, mulailah dia merasakan rasa sakit yang begitu hebatnya di perut dan menjalar ke seluruh tubuhnya. Beberapa kali Khaira bahkan mendesis setiap rasa sakit itu datang. Memori ingatannya juga seolah berputar saat dirinya melahirkan Arsyilla dulu.
Kendati demikian, jika boleh meminta. Khaira akan meminta proses persalinan kali ini bisa lebih cepat. Tidak terlalu lama saat melahirkan Arsyilla dulu. Terlebih ada suaminya yang saat ini ada di sisinya, Khaira akan menguatkan dirinya sendiri untuk bisa menjalani setiap proses persalinan. Masih harus menunggu lima pembukaan lagi dan setelah itu, dirinya akan bertaruh untuk menjalani persalinan normal.
“Sakit Sayang?” tanya Radit kepada istrinya itu.
“Sakit, Mas … tetapi, aku masih bisa tahan.” jawab Khaira.
Sekalipun benar-benar sakit, tetapi dia memang akan menahannya. Dirinya akan mengeluh jika memang sudah tidak mampu lagi bertahan.
“Kuat ya Sayang … aku temenin. Sama seperti saat kita menyambut Syilla dulu, sedetik pun aku enggak ninggalin kamu. Kali ini pun begitu, aku akan selalu disisimu, menemanimu. Kita sambut baby boy bersama-sama ya.” ucap pria itu dengan terus menggenggam erat tangan Khaira.
Berharap dan berdoa bahwa istrinya bisa melahirkan dengan lancar tanpa ada drama yang membuat hatinya begitu sesak seperti persalinan Arsyilla 3,5 tahun yang lalu. Bahkan jikalau Tuhan mengizinkan, Radit akan sukarela untuk menggantikan Khaira, merasakan semua rasa sakit bersalin yang memang begitu sakit itu.
__ADS_1