Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Kurang Hati-Hati


__ADS_3

Menjelang sore, saat siang hari tidak begitu terik, Khaira memilih mengajak Arsyilla untuk merawat berbagai tanaman mereka. Meramu pasir, sekam, dan juga pupuk organik untuk mengganti setiap tanah dalam pot yang menjadi media tumbuhnya berbagai jenis tanaman dan bunga yang dimiliki Khaira di samping rumahnya.


Bahkan Khaira menggunakan tanaman dan semua media tanam untuk mengajari Arsyilla bahwa menanam seperti ini adalah sebuah hobi dan harus dilakukan dengan baik. Merawat tanaman itu menyenangkan, mereka tidak hanya mempercantik rumah, tetapi juga banyaknya tanaman hijau di dalam rumah bisa membuat sirkulasi udara di rumah terjaga, rumah juga terlihat semakin asri. Oleh karena itu, Khaira pun melibat Arsyilla dengan kegiatan tanam-menanamnya.


“Yuk, Syilla bantu Mama bisa? Campuran pasir, pupuk, dan sekam ini masukkan ke dalam pot-pot itu ya Sayang … nanti Mama yang akan tanam benihnya. Mama beli benih bunga jam 9 ini Sayang. Kalau sudah tumbuh, bakalan cantik-cantik bunganya.” ucapnya sembari memberikan contoh bagaimana mengisi pot-pot tersebut.


Arsyilla pun mengangguk, dan dia mulai mengisi pot-pot itu. Gadis kecil itu sembari bergumam, layaknya sedang bermain masak-masakan. Sementara Khaira tersenyum melihat putrinya yang sekaligus berimajinasi dengan media tanam yang ada di depannya itu. Sebab, berimajinasi pun sangat baik untuk perkembangan anak.


Ya, dengan berimajinasi anak-anak akan belajar untuk berpikir kreatif dan menganalisa, memperkaya pengetahuan anak, memunculkan bakat anak, dan anak menjadi lebih percaya diri, mandiri, dan mampu bersaing. Oleh karena itulah, Khaira tidak membatasi ruang gerak Arsyilla. Justru dia akan menyiapkan lingkungan tumbuh kembang bagi putrinya itu.


“Ma, ini semua pot-nya sudah Syilla dengan tanah itu Ma … Syilla main air sebentar boleh Ma?” tanya Arsyilla kepada Mamanya.


Khaira pun mengangguk, tentu saja dia setuju jika Arsyilla bermain air sebentar. “Boleh Sayang … tetapi, usai Mama selesai langsung mandi sekalian ya Sayang.” ucapnya sedikit berteriak.


Arsyilla pun mengangguk, “Oke Ma …”


Untuk sesaat Khaira lebih fokus dengan berbagai tanaman di hadapannya. Mengganti tanah dalam pot dengan tanah yang baru, menanam benih-benih yang baru, kemudian menata satu per satu pot-pot tersebut di tempatnya. Sementara Arsyilla masih terlihat bahagia dengan bermain air dari air kran, Syilla beberapa kali juga memercikkan air itu ke segala arah hingga area yang dipaving itu pun menjadi basah.


Saat Khaira hendak mengambil pot yang lainnya, hanya dengan menggunakan sandal jepit dan paving yang dia injaknya pun cukup licin karena beberapa lumut juga hidup di atas paving itu. Lantaran tidak berhati-hati, Khaira pun terpeleset dengan bagian kiri perutnya yang terkena beberapa pot. Mengakibatnya setidaknya empat pot berjatuhan dan satu pot nyaris mengenai perutnya.


Saat jatuh, dan pantatnya mendarat di atas paving, sontak saja Khaira berteriak dan memegangi perutnya. Takut terjadi apa-apa dengan kehamilannya. Airnya berderai begitu saja.

__ADS_1


Dengan cepat Arsyilla pun mendatangi Mamanya itu, “Ma, kenapa Ma?” wajah Arsyilla 


Tampak Khaira masih meringis kesakitan sembari memegangi perutnya, “Ambilkan handphone Mama di meja itu Sayang dan tolong teleponkan Papa ya.” ucapnya yang meminta tolong kepada Arsyilla untuk menelponkan Papanya.


Sedikit berlari, Arsyilla pun mengambil handphone Mamanya dan mulai menelpon Papanya. Gadis itu bahkan sudah tampak akan menangis, takut terjadi sesuatu dengan Mamanya.


“Papa … Pa.” panggil Arsyilla kepada Papanya itu melalui sambungan telepon.


“Iya Sayang, ada apa?” tanya Radit kepada putrinya yang tengah menelpon itu.


“Pa, Mama jatuh Pa, terpeleset. Kasihan Mama, Pa.” 


“Ya ampun Sayang, kamu kenapa sih?” ucapnya sembari membopong istrinya dan segera memasukkanya ke mobil.


Khaira pun menggeleng, “Kemana Mas?” tanyanya.


“Kita periksa sekarang, takut terjadi apa-apa sama kandungan kamu.” ucap pria itu tampak panik.


Setelah itu, Radit memilih Arsyilla yang kini tampak menangis itu, Radit pun lantas segera berlari dan menggendong Arsyilla, “Kita ke Rumah Sakit sekarang ya Syilla. Kok Mama bisa jatuh sih?” tanyanya kepada putrinya itu.


“Mama terpeleset Pa …” jawab Arsyilla yang memang hanya tahu Mamanya terpeleset.

__ADS_1


Radit sedikit mengamati istrinya, keningnya yang berair menandakan istrinya itu tengah berkeringat, juga dengan bagian kakinya yang sedikit luka di ibu jarinya, mungkin itulah yang terluka karena terpeleset.


“Perut kamu gimana Sayang?” kali ini Radit bertanya karena dia panik dengan perut istrinya, sebab istrinya sedang hamil.


Sedikit merintih, Khaira pun berkaca-kaca, “Agak sakit Mas … kenceng rasanya.” akunya sembari mendesis merasakan sakit di perutnya.


Radit menghela napas panjang, sungguh dia berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja. Satu tangannya terulur mengusapi perut istrinya itu dan juga merapalkan doa-doa kebaikan untuk babynya yang masih tumbuh di dalam rahim istrinya.


Kurang lebih 20 menit, mereka tiba di rumah sakit, Radit langsung mencari kursi roda untuk mendudukkan istrinya. Sebenarnya dia mau-mau saja membopong istrinya, tetapi sudah pasti dengan cara demikian akan menyita semua perhatian dari pasien di rumah sakit. Maka dari itu, dia lebih memilih mendorong istrinya dengan menggunakan kursi roda. Oleh karena, kondisi Khaira yang habis jatuh dan tergolong emergency, sehingga dia didahulukan untuk diperiksa oleh Dokter Indri.


“Bagaimana Pak?” tanya Dokter Indri yang seketika juga tampak panik. Pasalnya sekarang belum saatnya waktu konsultasi bagi Khaira, tetapi justru mereka datang dan keliatannya cukup emergency.


Dari wajah Radit pun terlihat jelas bagaimana pria itu panik, kemudian Radit mengajak Arsyilla duduk, “Barusan Istri saya terjatuh Dok, saya khawatir ke kandungannya.” ucapnya yang memang panik dengan kondisi kehamilan Khaira.


Dokter Indri pun mengangguk, dia kemudian meminta Radit untuk mengangkat Khaira dan menidurkannya ke atas brankar. Dokter itu mengamati terlebih dahulu kondisi Khaira, sebelum mulai melakukan pemeriksanaan dengan USG. Melihat lecet di bagian kaki Khaira, dan memprediksi mungkin saja Khaira jatuh dalam posisi duduk, Dokter Indri pun menyarankan USG transV kepada Khaira. Sebab USG transV bisa digunakan untuk mendeteksi jika ada pendarahan dan juga nyeri panggul yang tidak normal.


Mulailah transduser dimasukkan, dan beberapa organ dalam reproduksi wanita pun bisa terlihat mulai dari serviks, tuba fallopi, hingga kandung kemih. Namun, sebelumnya Dokter Indri melihat ada bercak darah di pakaian dalam Khaira.


“Ada bercak darah di sini ya Bu, jadi mungkin Ibu terpelesetnya cukup keras. Sekarang kita lihat kondisi janinnya ya. Bapak juga bisa langsung melihat di monitor ya. Janinnya ini masih sehat ya Bu, bisa terlihat debaynya bergerak-gerak di dalam sini. Namun, karena ada bercak darah, maka nanti saya akan resepkan obat penguat rahim ya untuk Ibu. Supaya menguatkan debaynya. Detak jantung bayi juga masih normal, kondisi ketuban juga masih baik.” penjelasannya kepada Radit dan Khaira.


Awalnya Radit panik saat Dokter Indri mengucapkan ada bercak darah yang keluar, tetapi saat mengetahui bahwa janinnya masih sehat, maka Radit pun merasa lega.Setidaknya hal buruk yang sempat terlintas di dalam pikirannya tidak terjadi. Kendati demikian, pria itu masih belum lega, karena istrinya kesakitan sekarang ini. Saat istrinya kesakitan, dia pun merasa kesakitan, tidak tega dengan istrinya yang harus merasakan semua sakit tersebut.

__ADS_1


__ADS_2