
Sepasang suami istri itu menatap senja dengan sorot mata yang berbinar. Tiada yang lebih indah selain menikmati senja bersama kekasih hati dan itulah yang tengah dinikmati oleh Radit dan Khaira saat ini.
"Sayang, kamu itu seperti senja...." ucap Radit yang tiba-tiba mengeluarkan suaranya dengan satu tangannya yang merangkul bahu istrinya.
Khaira sedikit meringsut guna menatap wajah suaminya itu. "Hmm, kok bisa Mas?" tanyanya sembari menebak jawaban yang akan Radit berikan padanya.
"Senja itu cantik, secantik kamu. Senja itu kehadirannya memberi ketenangan, sama sepertimu yang menenangkanku. Ada yang tak tenggelam saat senja itu datang, yaitu perasaan cintaku padamu." ucap Radit dengan sungguh-sungguh.
Akan tetapi di sisi lain, dibarengi dengan rona di wajah Khaira, Bumil itu hanya tersenyum dia tidak mengira suaminya akan sepuitis itu.
"Puitis banget sih, Mas ... kenapa suamiku bisa sepuitis ini sih?" tanya Khaira sembari tersenyum kepada Radit.
Sementara Radit kini justru tertawa. "Kamu yang membuatku bisa seperti ini Sayang. Jujur. Bahkan kata-kata yang tidak pernah kuucapkan sekalipun, kepadamu saja bisa kuucapkan, seperti sekarang ini." ucapnya dengan penuh keyakinan.
"Makasih ya Mas ... kamu juga seperti senja bagiku. Seperti senja yang menanti matahari untuk menepi, seperti itu juga perasaanku padamu tak bertepi." ucap Khaira yang sembari menahan tawa. Sungguh, dia begitu malu mengucapkan kata-kata puitis seperti itu kepada suaminya. Akan tetapi, tidak ada salahnya dia mengucapkan apa yang ada di hatinya saat ini kepada pria yang kini paling dicintainya itu.
Radit pun tersenyum, kemudian satu tangannya menggenggam tangan isinya. Mengisi sela-sela jemari istrinya dengan jari-jari tangannya. "Kita menua bersama ya Sayang? Lengkapi aku. Senja di Prambanan ini jadi saksi kalau aku sangat membutuhkanmu."
Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Iya, lengkapi aku juga, Mas ... masih begitu banyak kekuranganku." ucap Khaira yang mempererat genggaman tangannya itu.
Pesona jingga di ufuk Barat itu perlahan sirna, hingga perlahan kegelapan pun menyapa. Akan tetapi, Radit dan Khaira serta beberapa pengunjung yang masih berada di situ nampaknya masih urung untuk meninggalkan tempat itu.
Hingga akhirnya ada beberapa petugas yang menawarkan tiket Sendratari Ramayana Ballet Prambanan kepada beberapa pengunjung yang masih berada di area candi itu.
"Silakan Pak, jika ingin melihat Sendratari Ramayana malam ini mulai jam 19.30 hingga jam 21.30 WIB. Kami akan menggelar pertunjukkan Sendratari Ramayana di Pelataran Candi Prambanan ini, pementasan secara terbuka secara open stage." petugas itu menawarkan kepada Radit yang masih terlihat duduk di area Candi Sewu itu.
__ADS_1
Radit terlebih dahulu bertanya kepada Khaira. "Kamu mau Sayang?"
Seketika terlihat Khaira tersenyum. "Mau Mas, pengen banget aku lihat Sendratari Ramayana ini." jawab Khaira.
Setelah itu Radit langsung membeli dua tiket untuk dirinya dan istrinya. Tidak lupa Radit mengabarkan kepada orang tua dan mertuanya bahwa mereka akan melihat Sendratari Ramayana di pelataran Candi Prambanan.
Tidak disangka rupanya orang tua dan mertuanya pun berniat akan menyusul mereka dan ikut melihat Sendratari Ramayana itu.
Kurang lebih jam 19.00, Ayah Ammar, Bunda Dyah, Ayah Wibi, dan Bunda Ranti telah tiba di Candi Prambanan. Pasangan paruh baya itu segera mencari keberadaan anak-anak mereka. Sementara Radit dan Khaira sudah duduk di bangku-bangku yang berjejer di depan pelataran Candi Prambanan itu.
“Kalian itu ya, pergi ke Candi Prambanan sampai malam-malam gini.” Ucap Bunda Ranti begitu telah bergabung dengan Radit dan Khaira.
“Sayang Bun, sudah di Prambanan jika tidak menonton Sendratari Ramayana.” Jawab Radit sembari tersenyum kepada Bundanya.
Khaira menggelengkan kepalanya. “Khaira sehat dan baik-baik saja kok Bun ... lagian sejak tadi cuma duduk-duduk saja sambil ngobrol sama Mas Radit.” Jawab Khaira kepada Bundanya.
“Ya sudah. Kali ini kalian boleh melihat Sendratari Ramayana ini, begitu sampai di hotel langsung istirahat ya Khai ... jangan begadang. Kasihan bayimu.” Lagi penuturan Bunda Dyah yang mendapat anggukan dari Khaira.
Tepat jam 19.30, Sendratari Ramayana pun dipentaskan. Lebih dari 200 penari profesional dan musisi lokal berpartisipasi dalam Sendratari Ramayana yang bertempat di panggung terbuka dengan Candi Prambanan sebagai latar belakang. Sendratari Ramayana juga diceritakan di relief pada Candi Siwa.
Seperti namanya, pertunjukkan tari ini mengisahkan perjalanan Rama bersama Sinta dan juga Laksmana. Ketika di hutan Dewi Sinta diculik oleh Raja Alengka yaitu Rahwana, hingga bala bantuan pasukan kera yang dipimpin oleh Hanoman. Kisah berakhir dengan penyelamatan Sinta dan juga pembakaran seluruh wilayah kerajaan Alengka yang membuat Rahwana kalah.
“Kamu paham cerita Ramayana ini, Sayang?” tanya Radit kepada istrinya sembari melihat pertunjukkan yang masih berlanjut.
Khaira nampak menganggukkan kepalanya. “Tentu saja, aku tahu. Emangnya Mas Radit tidak tahu?” Khaira bertanya balik kepada suaminya itu.
__ADS_1
“Ya, aku tahu. Cuma aku sempat baca kisah Ramayana yang asli dari India berbeda dengan Ramayana versi Jawa.” Jawab Radit.
“Itu benar Mas, karena cerita itu kemudian dipadukan dengan budaya Jawa, sehingga disebut Epos Ramayana.” Jawab Khaira. “Euhm, tetapi kisah ini romantis loh Mas. Perjuangan Rama sebagai seorang suami yang rela menyeberangi lautan hingga ke Alengka untuk menyelamatkan Sinta. Sweet banget ya Mas.” Ucap Khaira sembari tersenyum.
Radit pun juga tersenyum. “Berarti aku kayak Rama dong Sayang.” Ucapnya yang membuat kedua mata Khaira membola seketika.
“Maksudnya Mas?” jawab Khaira singkat.
“Aku rela terbang dari Jakarta ke Manchester, lintas samudra dan benua untuk mendapatkan hati dan cintamu. Aku sweet juga berarti dong.” Jawabnya.
Khaira lantas tertawa dengan menutup mulut dengan tangannya. “Kamu bisa aja Mas ... aku kan enggak diculik kayak Dewi Sinta. Aku ke Manchester buat menuntut ilmu. Lagipula enggak ada Rahwana juga yang menculikku.” Jawab Khaira.
Radit pun mengedikkan bahunya. “Ya tapi kan aku juga berjuang seperti Rama. Bahkan semua kulepas saat itu buat mendapatkanmu kembali. Beruntungnya aku karena kamu memaafkan dan menerimaku kembali, semakin beruntung karena perasaan kita semakin tumbuh saat ini.”
“Kamu gak mau kalah dari Rama ya?” tanya Khaira sembari menyipitkan matanya.
Radit pun tertawa dan menggelengkan kepalanya. “Enggak, sudah pasti aku akan kalah dari Rama. Kisah cinta Rama dan Sinta sudah sangat melegenda dari abad ke abad. Sementara aku tidak ada apa-apanya.” Sahut Radit.
Khaira lantas menatap wajah suaminya. “Euhm, tapi bagiku kamu tetap sweet dan melebihi Rama kok Mas. Karena Rama tercipta hanya untuk Sinta, dan kamu tercipta hanya untukku. Kita ukir sendiri kisah cinta kita berdua biar itu menjadi catatan emas bagi Baby A nanti bahwa Papa dan Mamanya saling mencintai, dia hadir ke dunia ini karena cinta kita berdua yang sangat besar.” Ucap Khaira.
“Kamu bener banget Sayang, walaupun kisah kita tak melegenda, tetapi Baby A akan tahu bahwa Papa dan Mamanya saling cinta dan dia adalah buah cinta kita berdua. I Love U So Much, Sayang....” ucapnya sembari mencium punggung tangan istrinya.
“I Love U too Mas Radit....”🥰
__ADS_1