Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Obrolan Malam


__ADS_3

Usai memberikan hadiah spesial bagi suaminya. Keduanya lantas sama-sama membersihkan diri. Sekarang keduanya telah duduk bersama di sofa yang berada di kamar mereka. "Kalau udah dapat menu buka puasa, wajah kamu keliatan bahagia banget sih Mas, seolah mentari terbit di wajah kamu...." ucap Khaira yang hanya ingin menggoda suaminya itu.


Radit hanya tersenyum sembari mengacak gemas rambut istrinya. "Puasaku udah lebih dari 40 hari Sayang ... lama banget. Emang sejak kapan palang merah kamu berhenti Sayang?" tanyanya.


"Sudah beberapa hari yang lalu sih, tapi aku pastiin bersih dulu. Sama biar kamu belajar sabar, Mas." Ucapnya sembari terkekeh geli.


"Jadi ceritanya ngerjain aku?" tanya Radit sembari tangannya memainkan rambut Khaira yang masih setengah basah.


Khaira tersenyum. "Bukan ngerjain. Cuma aku memastikan benar-benar bersih dulu. Emang aku salah?"


Radit pun menggelengkan kepalanya. "Enggak. Kamu bener kok. Makasih ya hadiahnya tadi. Dikasih hadiah tiap hari juga mau kok."


Khaira lantas mendaratkan pukulan di lengan suaminya. "Kalau disuruh modus pinter banget sih... Dulu sekolahnya di mana sih Mas kok kalau modusin pinter banget." Ucapnya.


Senyuman mengembang di wajah Radit. "Modusin kamu itu candu Sayang. Gak ada obatnya." ucapnya sembari memberikan dua jempolnya.


Khaira terkekeh. "Kalau aku gak ada obatnya, kamu dababest berarti Mas...."


Keduanya tergelak bersama dengan obrolan malam ringan keduanya. "Sini, Mama Khaira dipeluk Papa dulu. Kalau Arsyila bobok kan Mama dan Papanya bisa pacaran dulu. Nanti Arsyila bangun, udah gak bisa pacaran. Fokus lagi ke Arsyila."


Khaira pun beringsut dan mendaratkan kepalanya di dada suaminya dengan kedua tangan yang melingkari pinggang suaminya. Posisi yang selalu Khaira sukai ketika bisa bersandar di dada suaminya, merasakan detak jantungnya yang berirama, menghirup aroma Woody yang selalu menjadi aroma kesukaannya. Dekapan yang membuat hari lelahnya hilang seketika.

__ADS_1


Sementara Radit pun mencium kening istrinya dan satu tangan yang mengusap lengan istrinya. Keduanya sama-sama hening sejenak. Menyandarkan diri pada satu sama lain. Menikmati kebersamaan mereka di sela-sela aktivitas harian mereka.


Pelukan yang menenangkan dan memberi rasa aman. Pelukan yang mampu menghapus segala lelah. Pelukan yang menjadikan pasangan kita sebagai rumah, tempat untuk kita pulang dan mendapatkan semua kenyamanan.


"Aku suka banget tiap kamu peluk kayak gini Mas ... semua lelahku seakan hilang saat sudah memelukmu seperti ini." Ucapnya sembari memejamkan matanya.


Radit pun tersenyum dan membelai lembut rambut Khaira. "Sama ... aku juga suka meluk kamu seperti ini. Nanti kalau Arsyila udah agak besar, ada dua wanita cantik yang memelukku. Satu bahuku untuk kamu dan bahu satunya untuk Arsyila."


"Mas, karena Arsyila sudah lahir, kita buatkan tabungan junior buat Arsyila mau enggak Mas? Buat tabungan pendidikan dia ke depannya. Ke depannya sekolah akan semakin mahal, biar semua pendidikan dia ter-cover." Ucap Khaira kepada suaminya.


Radit pun menganggukkan kepalanya. "Kamu bijak banget sih Sayang ... sampai kebutuhan Arsyila untuk kemudian hari aja sudah kamu pikirkan. Ada pepatah bilang " Istri yang bijak melebihi permata", dan itu adalah kamu Sayang. Kamu bijak banget, kamu bahkan mengalokasikan dana pendidikan buat Arsyila, kamu juga baik hati mau menolong Aksara. Rasanya aku beruntung memiliki kamu, Sayang. Tidak henti-hentinya aku bersyukur kepada Allah karena Dia memberikanku pendamping dan rekan hidup yang sebaik dirimu." ucap Radit dengan tulus.


Khaira justru menyipitkan matanya. "Kamu berlebihan, Mas ... aku enggak sebaik itu kok. Banyak sisi kekuranganku."


Mungkin efek tertawa yang agak keras, hingga membangunkan Arsyila. Bayi cantik itu terbangun dari tidurnya dan menangis.


"Isshhhss ... Papa tertawanya kenceng sih. Arsyila jadi bangun deh." ucap Khaira sembari mencubit lengan suaminya.


Radit pun berdiri. "Kamu tunggu di sini aja Sayang... Biar aku yang bawa Arsyila ke sini."


Dengan cepat Papa Muda itu berjalan menghampiri box bayi Arsyila yang berada di sisi tempat tidurnya.

__ADS_1


"Anak Papa kebangun dengar Papa tertawa ya? Yuk, sini gendong Papa ya Sayang ... Arsyila mau minum ASI lagi. Yuk, Papa gendong ... cantik banget sih kamu Sayang. Putri kecilnya Papa."


Khaira yang melihat suaminya menggendong Arsyila sembari mengajaknya berbicara merasa bahagia. Tangannya terulur untuk menerima Arsyila dan bersiap memberikan ASI sebagai sumber makanan bagi bayi berusia hampir dua bulan itu.


"Sini Arsyila Sayang ... mau ASI lagi? Kebangun ya kamu, dengar tertawanya Papa." ucap Khaira yang terlebih dahulu mencium pipi chubby milik anaknya itu.


Tangisan Arsyila pun mulai reda ketika dia telah mendapatkan ASI, Khaira tersenyum melihat ekspresi tenang dan damai dari bayinya itu.


Radit yang melihat Arsyila, menggenggam jari jemari mungil itu. "Minumnya kamu kuat banget Sayang...." ucapnya sembari tersenyum mengamati putrinya yang telah mendapatkan ASI. "Bayi minum ASI sampai berapa tahun Sayang?" Tanyanya kepada Khaira.


"ASI ekslusif pertama itu sampai bayi berusia 6 bulan. Dilanjutkan tahap kedua sampai usia 2 tahun, Mas. Yang penting 1000 hari kehidupannya mendapatkan ASI karena bermanfaat banget buat kesehatan, perkembangan otak, dan sistem imun bayi." Jawabnya yang direspons anggukan oleh suaminya.


"Arsyila Sayang dengerin tuh perkataan Mama. Minum ASI supaya kamu sehat dan kuat ya. Kamu besok kalau gede cita-cita kamu apa Sayang? Sekolah yang pinter ya...."


Khaira pun menjawab dengan suara layaknya anak kecil. "Iya Papa ... Arsyila akan sekolah pinter."


Radit tertawa gemas pada istrinya itu. "Setelah jadi orang tua itu yang dipikirkan anak ya Sayang ... Aku pengen bisa memberikan yang terbaik buat Arsyila. Dia sekolah yang tinggi nanti, jadi wanita yang pandai, bijak, dan tangguh seperti kamu."


"Jadi sosok yang perhatian dan penyayang seperti kamu juga, Mas. Kamu kan Papanya, seorang Papa itu akan menjadi cinta pertama bagi anak ceweknya. Sudah pasti nanti Arsyila jika tumbuh besar bakalan sayang banget sama kamu dan mengidolakan Papanya. Gak jarang setelah mereka dewasa nanti, kriteria cowok yang dia idamkan adalah sosok yang seperti Papanya." Ucap Khaira.


"Berarti kamu juga mengidolakan Ayah Ammar ya Sayang?" tanya Radit kepada istrinya itu.

__ADS_1


Dengan cepat Khaira menganggukkan kepalanya. "Iya ... sudah pasti aku mengidolakan Ayah Ammar. Beliau itu sosok Ayah yang baik, pekerja keras, sayang kepada anak dan istri, bijaksana juga. Tetapi, aku punya pria lain yang aku idolakan sekarang. Aku mengidolakan suamiku yang paling cakep dan paling modus ini. Kamu pria kedua yang paling aku cintai di hidupku, pertama Ayah Ammar dan kedua kamu, Mas Radit nya Khaira ... Papa Radit nya Arsyila. Love U Hubby...." Ucapnya sembari mencuri satu ciuman di pipi suaminya.


__ADS_2