
"Ayah... Bunda..., Khaira kesini mau maen sekaligus mau meminta doa restu dari Ayah dan Bunda." ucap Khaira sembari menatap wajah kedua orang tuanya.
"Jadi begini Ayah dan Bunda... Dua hari lagi, Khaira akan mengikuti sidang skripsi, doakan supaya Khaira bisa mengikuti sidang dengan baik, bisa lulus dengan nilai maksimal, dan wisuda bulan depan." Ucap Khaira sembari menghela nafasnya.
Ayah Ammar dan Bunda Dyah yang wajahnya semula tegang, kini keduanya tersenyum bahagia.
"Pasti Khai, Ayah dan Bunda akan mendoakan Khaira. Sudah sejauh apa persiapan sidangmu nanti?" Tanya Ayah Ammar sembari mengambil tempat duduk di sisi Khaira.
"Khaira sudah belajar Ayah, tinggal mempersiapkan diri saja supaya bisa yakin untuk menjawab pertanyaan dari Dosen Penguji nanti Ayah."
Ayah Ammar nampak menganggukkan kepalanya, di dalam hatinya Ayah memang yakin bahwa Khaira adalah anak yang pintar dan selalu belajar setiap hari, di saat anak lainnya seringkali belajar dengan sistem SKS (sistem Kebut Semalam), tetapi Khaira adalah anak yang selalu belajar tiap hari. Maka dari itu, Ayah Ammar nampak yakin anaknya akan mampu melampaui sidang skripsinya.
"Pesan Ayah hanya dua, Khai. Pertama jangan lupa belajar. Kedua, jangan lupa berdoa. Belajar rajin harus dibarengi dengan doa ya. Kalau Tuhan yang tidak menolong dan membuka jalan bagi umat-Nya siapa lagi? Hmm." Nasihat Ayah Ammar yang selalu diulang-ulang sejak Khaira kecil.
"Iya Ayah, Khaira selalu ingat dengan nasihat dari Ayah."
Ayah Ammar mengacak lembut rambut Khaira, "Kamu memang anak Ayah yang pinter, Khai..." Ayah tersenyum bangga melihat Khaira. "Kalau sudah lulus nanti, kamu akan bekerja atau gimana Khai? Kamu sudah harus memikirkan next step segera ya."
"Hmm, Khaira mau sekolah lagi Yah..." ucap Khaira dengan suara agak lirih sembari menatap satu per satu wajah Ayah dan Bundanya.
Bunda Dyah yang mendengar ucapan Khaira langsung mengajukan protesnya. "Langsung lanjut S2 Khai, apa Radit mengizinkan? Harus dengan pertimbangan dan persetujuan suami. Karena sekarang kamu sudah bersuami."
"Sudah Bunda, Ayah... Bahkan Ayah Wibi dan Bunda Ranti juga mengizinkan Khaira. Bahkan Ayah Wibi pernah bilang akan menyekolahkan Khaira lagi." cerita Khaira yang pernah berdiskusi kepada kedua mertuanya.
Ayah Ammar menggelengkan kepalanya, "Wibi memang tidak pernah berubah. Dia selalu baik, dan Ayah lega karena kamu mendapatkan mertua sebaik Wibi dan Ranti. Ayah dan Bunda sudah saling kenal sejak lama."
"Ayah, tetapi kalau bisa Khaira ingin mengambil kuliah S2 di luar negeri Yah?" ucap Khaira perlahan, sebenarnya ia cukup takut untuk mengatakan keinginannya kuliah di luar negeri.
__ADS_1
Ayah Ammar sejenak mengamati wajah Khaira, "kalau kuliah di luar negeri, bagaimana dengan suamimu, Khai? Belum tentu dia akan mengizinkan. Kenapa tidak lebih baik kamu pikirkan dulu, karena sekarang kamu juga adalah seorang istri yang juga harus mengabdi kepada suami."
"Mas Radit mendukung kok Yah. Khaira juga sudah bilang untuk mengambil kursus Bahasa Inggris untuk TOEFL dan IELTS, Mas Radit nya ngebolehin kok Yah." jawab Khaira untuk memastikan Ayahnya.
"Sekarang doa restu suami itu nomor satu, Khai. Karena sekarang kamu menjadi hak suamimu. Anak gadis itu ketika sudah bersuami, otomatis suaminya lah yang memiliki hak atas dirinya, karena Ayah sudah meminangkanmu dengannya. Dengan demikian, restu Ayah dan Bunda itu adalah nomor dua. Doa dan restu suamimu itu yang pertama dan terutama. Jadi, jika Radit mendukung tentu Ayah dan Bunda juga mendukung." ucap Ayah Ammar sangat bijaksana.
Khaira kembali tersenyum melihat Ayah dan Bundanya, "Apa benar Khaira dan Mas Radit sudah saling mengenal sejak kecil ya?" Lantas Khaira mengeluarkan handphonenya dan menunjukkan foto masa kecil keduanya yang Khaira foto kembali dengan handphonenya.
"Dua anak kecil di Candi Prambanan ini Khaira dan Mas Radit ya Yah, Bun?"
Bunda Dyah pun mengangguk dan tersenyum. "Benar sekali Khai, itu adalah kamu dan Radit. Kalau Bunda tidak salah dengar, waktu kecil kamu memanggilnya Mas Adit karena kamu yang belum bisa mengucapkan huruf R dengan jelas."
"Ini foto di Candi Prambanan, waktu itu kamu berusia 5 tahun, dan Radit mungkin berusia 10 tahun waktu itu. Kamu bahagia banget kalau Radit datang mengunjungi kita, sementara kamu akan menangis kalau mereka pulang." sambung Bunda Dyah.
Khaira mengusap foto kamera di layar handphonenya. "Lucu ya Bunda, ternyata Khaira menikah dengan Mas Radit, orang yang sudah Khaira kenal waktu kecil, tetapi sekian lama Khaira melupakan dan tidak mengenalinya." ucapnya sembari tersenyum.
"Dari mana kamu dapat foto itu Khai?" tanya Bunda Dyah.
"Dari Bunda Ranti, Bun... Bunda Ranti menceritakan masa kecil kami berdua waktu masih tinggal di Jogja dulu." kenang Khaira sewaktu Bunda Ranti bercerita dulu.
"Benar Khai, dan Bunda berdoa kamu bahagia selalu sama Radit sampai tua ya. Saling menyayangi, saling mengisi satu sama lain." doa dan nasihat dari Bunda Dyah tulus untuk Khaira.
"Iya Bunda, Amin." jawab Khaira.
***
Di sementara di rumahnya, Radit tidak bisa santai barang sejenak. Pria itu masih merasa resah lantaran kesalahannya semalam yang ingkar dengan janjinya kepada Khaira.
__ADS_1
Terlebih hingga siang ini, pesan yang ia kirimkan pada Khaira juga belum terbaca. Pesan yang ia kirim semalam masih hanya tercentang satu.
Radit mengacak rambutnya frustasi. "Kamu kemana sih Khai? Sampai pesan aku aja belum kamu baca." gumamnya sembari berjalan kesana kemari di dalam kamarnya.
Apa aku mendatangi Khaira sekarang di rumahnya? Tetapi, bagaimana jika Khaira tidak ada di rumah.
Radit yang semula cuek bahkan seringkali menyakiti Khaira, hari ini dia merasa bersalah pada Khaira. Ingin menemukan Khaira, tetapi ia tidak tahu keberadaan istrinya saat ini.
Sementara jika hanya diam di dalam rumah, dan menunggu pesannya terbalas sampai kapan ia juga tidak tahu.
"Aktifkan handphonenya dong, Khai... Balas pesanku." Batin Radit dalam hatinya.
Akhirnya karena merasa otaknya semakin buntu, Radit akan keluar rumah. Menyegarkan sejenak otaknya. Ia telah berganti pakaian dan mengambil helm full-facenya.
Baru saja ia keluar dari pintu kamar, Felly ternyata sedang duduk melihat televisi di ruangan depan.
"Mau kemana Ay?" tanya Felly yang tengah memperhatikan Radit yang telah bersiap dan hendak pergi.
"Mau muter-muter aja. Nenangin kepala dulu." ucapnya singkat.
"Jadi mau beneran pergi, Ay? Ceritanya aku ditinggalin?"
Rafit menghela nafasnya, "Iya, cuma keluar sebentar. Nanti aku balik lagi kok, gak lama."
Felly seketika memasang wajah cemberut, "seharian di rumah gak bisa ya Ay?"
"Kenapa aku enggak boleh pergi lagi? Jadi, aku cuma boleh keluar rumah cuma untuk kerja?" Radit menjawab pertanyaan Felly dengan ketus, emosinya sudah berada di ubun-ubun.
__ADS_1