
Hari yang dinantikan Radit dan Khaira pun tiba. Hari ini, mereka berdua berbahagia menghadiri pernikahan kedua sahabat karibnya yaitu Metta dan Dimas.
Jodoh yang tidak disangka-sangka, hanya sebatas beberapa kali bertemu dan tidak sengaja bersamaan menengok baby Arsyila, keduanya justru bersatu dalam ikatan pernikahan yang suci.
Sedari pagi, Khaira telah bersiap dengan kebaya berwarna ice blue yang ia kenakan. Lengkap dengan bawahan batik yang dibuat sarimbitan dengan kemeja batik yang dikenakan oleh Radit. Sementara Arsyila juga mengenakan dress berwarna ice blue.
"Ayo Sayang ... sudah siap belum? Jangan sampai kita terlambat." ucap Radit yang sudah siap dan menunggu Khaira.
Khaira masih duduk di depan meja riasnya. "Mas, tolong pasangin ini dulu dong." ucapnya sembari menunjukkan sebuah kalung dan lionton kepada suaminya.
Radit pun menaruh Arsyila sejenak di playmart, kemudian menghampiri istrinya. "Sini, aku pakaikan...." ucapnya sembari memasangkan pengait kalung yang dikenakan istrinya.
Usai memasangkan kalung, Radit tidak langsung pergi. Dia justru mencuri satu ciuman di puncak kepala istrinya.
"Jangan cantik-cantik Sayang ... aku gak rela ada banyak pasang mata yang melihat kecantikanmu." ucapnya sembari mendaratkan dagunya di puncak kepala istrinya.
Khaira hanya mengedikkan bahunya. "Posesif ... padahal aku juga kemana-mana gendong Arsyila dan nempelin kamu terus loh, Mas."
Radit justru tertawa. "Harus nempel aku dong Sayang. Kan kita sepaket. Aku, kamu, dan Arsyila kan satu paket." ucapnya sambil tertawa. "Jadi, sudah belum? Jangan sampai kita terlambat di pernikahan sahabat kita sendiri Sayang."
Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Yuk, udah siap Papa...."
***
Sebuah ballroom hotel di hias dengan berbagai bunga mawar pink. Para penerima tamu berjajar di sepanjang pintu utama tempat Ijab Qoubul dilangsungkan.
Khaira, Radit, Arsyila, beserta kedua orang tuanya mendatangi tempat Ijab Qoubul yang sekaligus akan menjadi tempat resepsi pasangan yang berbahagia hari ini.
Radit dan Khaira datang bukan sebagai tamu, tetapi mereka telah dianggap sebagai keluarga bagi Dimas dan juga Metta. Mereka semuanya duduk menunggu calon pengantin keluar. Layaknya Papa siaga, Radit dengan senang hati memangku Arsyila sembari berbicara lirih dengan istrinya.
__ADS_1
"Jadi keinget pernikahan kita ya Sayang?" tanyanya berbisik di telinga istrinya.
"Meriah ini Mas ... dulu kita cuma sederhana banget di rumah. Pernikahan sederhana dulu yang kita langsungkan." ucap Khaira sembari mengenang momen pernikahannya dahulu bersama suaminya.
Radit pun menganggukkan kepalanya. "Maaf ya, tidak bisa memberikan pernikahan seperti yang kamu impikan. Padahal aku yakin setiap wanita memiliki pesta pernikahan impian mereka."
Mendengar ucapan suaminya, Khaira lantas menggenggam tangan suaminya. "Euhm, tetapi kamu sudah memberikan kehidupan rumah tangga yang aku impikan. Ini kehidupan rumah tangga yang aku impikan. Punya suami yang mencintaiku, mensupportku, dan berbagi denganku. Aku juga punya Arsyila. Ini rumah tangga impianku. Terima kasih Papa...." ucapnya sembari tersenyum kepada suaminya.
Pembicaraan mereka terhenti kepada pengantin pria yang tak lain adalah Dimas tengah berjalan memasuki ruangan Ijab Qoubul mengenakan pakaian pengantin berwarna putih dan peci berwarna putih bertengger di kepalanya.
Tidak lama kemudian, Metta pun juga berjalan diiring oleh keluarganya menuju tempat diselenggarakannya Ijab Qoubul.
Hingga akhirnya dalam satu tarikan nafas, Dimas dengan lantang dan sepenuh hati.
"Saya terima nikah dan kawinnya Metta Andriana binti Supardiyana dengan mas kawin tersebut tunai."
"Sah!"
Sementara Khaira pun turut meneteskan air mata, melihat bagaimana sahabatnya akhirnya melepas masa lajangnya. Melihat istrinya yang terharu hingga meneteskan air mata, Radit lantas menggenggam tangan istrinya. "Kamu pasti terharu ya ... jangan nangis. Diliatin Arsyila ini. Mama nangis ya Sayang...."
Benar saja, Arsyila yang tengah duduk di pangkuan Papanya melihat wajah Mamanya yang tengah menangis.
"Ma ma ma ma...." celoteh bayi itu tentu dengan bahasa bayinya.
Khaira pun lantas menyeka air matanya. "Mama cuma terharu Sayang ... bahagia Mama bisa melihat Aunty Metta menikah sama Om Dimas." ucapnya sembari mengusap puncak kepala Arsyila.
Mereka akhirnya menunggu hingga acara Akad Nikah selesai, setelahnya mereka menghampiri Dimas dan juga Metta.
"Selamat ya Ta...." ucap Khaira sembari memeluk sahabatnya itu. "Jahat banget sih, gak bilang-bilang kalau sama Kak Dimas... Tau-tau married aja."
__ADS_1
Metta pun hanya tertawa. "Gue ngikutin jejak lo, Khai ... diem aja tau-tau married."
Khaira pun kembali memeluk sahabatnya itu. "Gue doain kalian berdua menjadi pasangan yang Sakinah, Mawaddah, Warammah ya Ta ... Kak Dimas orang yang baik. Dia akan menjaga lo." ucap Khaira dengan tulus.
Radit pun juga memeluk sahabatnya itu. "Selamat ya Bro ... SaMaWa ya ... Bahagia bersama istri." ucap Radit kepada sahabatnya itu.
Dimas pun tertawa dan memeluk sahabatnya itu. "Makasih ya Dit, kata lo dulu menikah itu ibadah. Ya gue mau beribadah. Gak perlu waktu lama ketika jodoh udah di depan mata kan?" ucapnya sembari tertawa.
Radit pun turut tertawa. "Lo hutang sama gue ya, gara-gara nengokin Arsyila dapat jodoh kan." ucapnya yang hanya sekadar bercanda.
Dimas pun tertawa. "Anak menantu Ayah Dimas memang membawa berkah ya. Jadi, biar Arsyila jadi anak menantu gue ya." Candanya sembari menepuk pundak Radit.
Radit pun tertawa. "Biar dia mendapatkan jodohnya sendiri Bro. Jodoh dari Allah tentunya."
Dimas pun menganggukkan kepalanya. "Bijak banget Papa Radit ini. Kalian di sini sampai resepsi kan? Masak sahabat deket nikah enggak ditemenin sampai selesai sih."
Radit pun hanya mengedikkan bahunya. "Tergantung Ibu Negara kalau gue ... tapi, Arsyila nya balik duluan sama Eyangnya ya ... kasihan dia terlalu lama di keramaian."
"Sip-sip Bro." ucap Dimas.
Setelahnya mereka mengambil foto sebagai kenang-kenangan. Barulah Radit dan Khaira kembali turun dari panggung pelaminan dan menyerahkan Arsyila kepada Bunda Ranti dan Ayah Wibi.
"Bunda, nitip Arsyila ya...." ucap Radit sembari menyerahkan Arsyila ke dalam gendongan Bundanya.
"Iya, Arsyila biar di rumah Eyang. Kalian nikmati aja di sini. Sahabat sendiri kan yang nikah." ucap Bunda Ranti.
Khaira lantas menyerahkan tas yang berisi seluruh perlengkapan Arsyila. "Ini perlengkapannya Arsyila ya Bunda ... sudah ada ASI dan MPASI nya. Kami nitip Arsyila ya Bunda." ucap Khaira dengan sopan.
Akhirnya Arsyila dibawa pulang oleh Eyang mereka, sementara Radit dan Khaira kembali duduk ke dalam ballroom hotel tempat resepsi akan digelar sesaat lagi.
__ADS_1
"Kalau cuma berdua masih kayak pengantin baru enggak Sayang?" tanya Radit sembari menggandeng tangan istrinya memasuki ballroom hotel tempat resepsi akan digelar.
Khaira pun tertawa. "Kita pengantin lama rasa baru kali Mas...." ucapnya sembari terkekeh dan melirik suaminya.