
Usai melakukan pemeriksaan dari Dokter Spesialis Anak itu, Khaira lantas masih harus menebus obat di apotek dan membayar biaya pemeriksaan. Sembari menunggu, Khaira pun mulai menelpon suaminya, meminta tolong untuk menjemputnya.
Mas Radit
Berdering
“Halo Papa …” sapanya kepada suaminya itu begitu telepon tersambung.
“Iya, halo Sayang … gimana? Dijemput sekarang?” tanya Radit di seberang sana.
Khaira pun tersenyum, karena suaminya yang memang begitu peka. Terkadang, tanpa dia harus mengucapkan, Radit bisa menebak dengan benar. Maka dari itu, Khaira pun berbicara, “Iya Pa … bisa minta tolong jemput kami sekarang?” tanyanya melalui sambungan telepon itu.
“Iya Sayang … tunggu ya, bentar lagi aku turun dan jemput kalian berdua.” jawabnya yang siap untuk menjemput istri dan anaknya dari Rumah Sakit.
“Enggak usah buru-buru Pa … kami juga masih menunggu obatnya Syilla. Senyampainya aja, enggak usah ngebut.” Khaira selalu mengingatkan kepada suaminya supaya tidak usah mengebut ketika menyetir kendaraannya.
Dari seberang sana, Radit pun mengangguk, “Iya Sayangku … tunggu aku ya. I Love U.”
Usai mematikan teleponnya, Arsyilla pun lantas melihat Mamanya yang duduk di sampingnya, “Papa yang akan jemput kita ya Ma?” tanyanya kepada sang mama.
“Iya Sayang … Papa kan dari kantor, sedang jemput kita kemari. Kenapa Sayang?” jawab Khaira.
Arsyilla pun menggelengkan kepalanya, “Tidak kok Ma … Syilla sudah kangen sama Papa. Mau cerita sama Papa, kalau dikasih Paman Dokternya karamel.”
Khaira tersenyum, rupanya mendatangkan kebahagiaan untuk seorang anak kecil itu begitu sederhana. Sesederhana memberikan sebuah permen dan anak kecil yang semula menangis sedih pun, bisa begitu tertawa dan melupakan tangisan dan rengekannya.
__ADS_1
“Iya … nanti kita tunggu Papa di depan ya.” ucapnya kepada Arsyilla.
Usai dengan menebus obat dan membayar biaya periksa, Khaira dan Arsyilla lantas berjalan bersama, menunggu di tempat saat suaminya menurunkannya. Rupanya begitu mobil Papanya terlihat, Arsyilla tampak bahagia. Bertemu kembali dengan papanya dan juga menceritakan Paman Dokter yang menurutnya adalah orang yang baik.
Ada kelegaan di hati Khaira dan Radit, karena putrinya itu sekalipun sakit, tetapi masih terlihat ceria. Tidak terlihat lesu. Sekalipun badannya masoh demam, tetapi Arsyilla justru begitu ceria saat ini.
“Gimana Ma? Syilla sakit apa?” pertanyaan yang langsung Radit lontarkan kepada istrinya.
“Kata Dokter tadi, Syilla terkena Flu Singapura Pa … ini obatnya ada obat demam, dan yang botol ini semacam oral suspensinya Pa. Kalau dalam 3 hari belum sembuh, dan Syilla lemas, harus rawat inap, takutnya kalau terjadi dehidrasi. Bahaya.” cerita Khaira sembari menghela napasnya.
Radit yang mendengarkan penjelasan Khaira juga menunjukkan raut wajah yang berbeda, terlihat cemas saat mendengar bahwa jika 3 hari Arsyilla belum sembuh dan lemas, maka harus rawat inap.
“Kita berdoa saja Sayang … semoga Syilla nya cepat sembuh.” usai mengucapkan itu, Radit sembari menoleh ke belakang sebentar, “Syilla Sayang … nanti usai makan, Syilla minum obatnya ya. Biar Syilla cepat sembuh. Oke anaknya Papa?”
“Oke Pa …” jawab Arsyilla dengan cepat.
Usai pemeriksanaan terhadap Arsyilla, hari-hari berjalan dengan penuh kecemasan bagi Khaira dan Radit. Keduanya, sama-sama berharap bahwa Arsyilla bisa segera sehat dan tidak perlu dirawat di Rumah Sakit. Untung saja, proses kesembuhan Arsyilla berjalan cukup cepat.
Ruam dan luka lepuh di tangan, kaki, dan mulutnya sudah perlahan hilang. Bintik-bintik putih seperti sariawan di rongga mulutnya juga sudah tidak ada, bahkan Arsyilla juga sudah tidak demam. Kendati demikian, obat yang berupa oral suspensi sesuai instruksi dari Dokter harus diminum sampai habis. Maka dari itu, Khaira tetap meminumkan obat tersebut.
Hari ini adalah yang hari yang dinanti, Arsyilla telah sembuh. Radit dan Khaira pun bersyukur karena putrinya sembuh setelah tiga hari. Bahkan sejak sakit, Arsyilla tetap mau makan dan mau meminum obat tanpa drama.
“Akhirnya Syilla sembuh juga Mas … aku lega deh rasanya.” ucap Khaira kepada suaminya itu.
“Iya Sayang, kamu tahu enggak perasaan aku waktu kamu kasih tau kalau Arsyilla harus rawat inap. Bersyukur sekarang dia sudah sehat, sudah sembuh. Aku lega rasanya.” ucap Radit yang juga merasa lega.
__ADS_1
“Ruamnya sudah hilang, sariawan di mulutnya juga sembuh. Aku tuh bersyukurnya Arsyilla dari awal ceria dan enggak lemes. Soalnya katanya Dokter, kalau dia mulai lemes berarti bisa kena dehidrasi. Jadi bersyukur banget sih. Aku takut kalau Arsyilla sampai dehidrasi terus sampai rawat inap di Rumah Sakit. Enggak kebayang harus melihat Arsyilla dirawat di Rumah Sakit.” ucap Khaira lagi.
Sesungguhnya apa yang dirasakan Khaira sama dengan dirasakan oleh Radit, dia pun tidak bisa membayangkan jika Arsyilla harus rawat inap di Rumah Sakit. “Benar Sayang … aku juga. Enggak kebayang kalau Arsyilla harus dirawat di Rumah Sakit. Aku kalau bisa minta sama Tuhan, mending kamu dan Arsyilla itu sehat-sehat, biar aku aja yang merasakan semua sakit itu. Aku benaran enggak tega jika kamu dan Arsyilla kenapa-napa.”
Mendengar ucapan suaminya, Khaira pun tersenyum, “Ah, kamu kalau kayak gini so sweet banget sih Mas … jago banget bikin aku baper, tapi kalau aku melahirkan itu kan mau enggak mau harus aku yang menjalaninya Mas. Melahirkan enggak bisa diwakilkan.”
Terkekeh geli, Radit pun turut tertawa, “kalau itu iya sih Sayang … harus kamu yang menghadapinya. Namun, aku akan menemani kamu kok. Tenang saja Sayang, aku temenin selalu.” ucapnya meyakinkan bahwa dirinya akan menemani istrinya itu.
“Masih lama Mas … baru juga 18 Minggu. Masih harus menunggu sampai 40 minggu nanti.”
Setelahnya rupanya Arsyilla menginterupsi keduanya, “Pa, Ma … kita enggak ketemu Paman Dokter lagi?” tanya Arsyilla dengan tiba-tiba.
Radit tampak membolakan mata dan mulai bertanya kepada Arsyilla, “Paman Dokter siapa Syilla?”
“Paman Dokter yang memeriksa Arsyilla dulu, Pa … namanya Dokter Bisma Adi , P. S.Pa, Pa … Dokternya baik dan dia kemarin yang memberikan Syilla permen karamel. Katanya Paman Dokter itu punya anak yang suka permen karamel sama kayak Syilla, Pa.” ucap Arsyilla dengan binar bening di matanya.
Khaira pun mengangguk, “Benar Pa … Dokter itu punya anak yang suka permen karamel seperti Syilla. Kemarin Syilla nitip salam sayang buat anaknya Paman Dokter.” Khaira menimpali cerita Arsyilla.
Berbisik lirih, Khaira kemudian berbicara kepada suaminya, “Syilla kecil-kecil udah genit nitip salam sayang buat anaknya Paman Dokter. Lucu enggak sih?”
Radit pun tertawa, “Genit kayak kamu …”
“Ya ampun, kamu fitnah banget sih Mas. Rumput yang bergoyang pun tahu siapa yang genit di rumah ini.” sahut Khaira yang merasa tidak terima dengan ucapan suaminya itu.
Kembali Radit tergelak dalam tawa, “Ah, dengan kalian berdua saja seperti ini rasanya aku benar-benar bahagia. Enggak lama ini, kebahagiaan ini akan bertambah dengan lahirnya adik baby nanti. Papa, Mama, Kayak Syilla, dan si Adik.” ucapnya sembari memangku Arsyilla dan mencium gemas putrinya itu.
__ADS_1
“Adiknya nanti namanya siapa Pa? Awalnya huruf A juga ya Pa, biar kayak Syilla.” request dari Arsyilla kepada Papanya itu.
Sementara Radit dan Khaira tampak sama-sama tertawa mendengar permintaan khusus dari Arsyilla itu. Mungkin memang Radit dan Khaira harus mulai memikirkan nama untuk baby mereka nanti.