Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Kelegaan Mutlak


__ADS_3

Menyambut kelahiran seorang bayi dengan begitu dramatis dan mengharubiru baru saja dihadapi Radit dan Khaira saat ini. Kelahiran tersunyi, saat baby yang baru saja dia lahirkan sama sekali tidak menangis. Ada rasa terguncang dalam hati, takut kehilangan, bahkan semua pikiran negatif seolah menghinggapi Khaira dan juga Radit.


Bahkan wanita yang baru saja melahirkan itu, tidak menghiraukan rasa sakitnya. Hatinya berkecamuk dan terus memanggil bayinya itu.


"Adik … Adik, Mama di sini, Dik." suara Khaira yang begitu lirih dan terdengar begitu menyayat hati.


"Mas, Adik Bayinya gimana?" lagi ucap Khaira sesaat setelah berhasil melahirkan bayinya.


Sementara diamnya Radit juga menjadi pertanda bahwa kondisi bayinya tidak baik-baik saja. Sepuluh menit yang bagai membuat Khaira berada di tepi jurang yang dalam. Sepuluh menit yang membuatnya begitu sesak.


Hingga dengan tindakan medis yang dilakukan Dokter Indri dan perawat, akhirnya bayi laki-laki mungil itu pun menangis. Tangisan yang mereka nantikan akhirnya memenuhi ruangan itu. Kali ini, bayi itu ditaruh di atas dada Khaira, tak henti-hentinya Khaira menangis dan sekaligus bersyukur dalam hatinya.


"Adik … Mama sayang kamu, Nak." ucap Khaira sembari mengelus kepala anaknya yang berada di dadanya itu.


Sama seperti Radit yang tak kuasa menitikkan air matanya. Bukan sebatas berkaca-kaca, tetapi pria itu benar-benar menitikkan air matanya. Pria itu lantas membiarkan jari telunjuknya berada dalam genggaman bayi mungilnya itu.


"Papa sayang kamu, Nak." ungkapan kasih sayang dari seorang Radit kepada bayinya itu.

__ADS_1


Kurang lebih hampir satu jam, bayi mereka berada di atas dada Khaira dan melakukan proses Inisiasi Menyusui Dini (IMD), dan di bawah sana Dokter Indri pun melakukan tindakan untuk kembali menjahit jalan lahir Khaira. Setelah itu, bayi itu kembali diambil untuk dibersihkan dari sisa-sisa air ketuban yang masih menempel di badannya, memakaikannya diapers perekat, dan juga memakaikan baju. Lantas Dokter Indri menyuntikkan Vitamin K dan HB (Hepatitis B) 0 yang harus diberikan dalam jangka waktu 12 jam setelah bayi dilahirkan.


Suntikan Vitamin K diberikan di otot paha. Tujuan suntikan ini adalah untuk mencegah pendarahan di berbagai organ tubuh. Sementara Suntikan HB 0 diberikan untuk melindungi bayi dari virus Hepatitis B yang bisa menimbulkan gangguan berbahaya pada tubuh.


Setelah bayi ditangani dengan baik, Khaira pun kini juga sudah dibersihkan. Saat Dokter Indri mendekat untuk mengucapkan selamat ada rasa penasaran yang menghinggapi Khaira, sehingga membuat wanita itu untuk bertanya.


"Selamat ya Bu Khaira, Ibu dan babynya selamat. Alhamdulillah …" ucapan selamat dari Dokter Indri untuk Khaira.


Khaira pun mengangguk dan meneteskan air mata, "Terima kasih ya Dok, saya sudah dibantu dari mulai melahirkan sampai sekarang." balasnya. "Namun, tadi Adik Bayinya mengapa ya Dok? Bagaimana bisa dia lahir dan tidak menangis sama sekali. Jantung saya nyaris copot, Dok." penuturan Khaira dengan jujur.


Rasa sesak yang beberapa lalu dia rasakan, seolah masih menyeruak di dalam dadanya.


"Bagaimana bisa Dok? Bukankah waktu pemeriksaan terakhir, kondisi air ketuban masih baik. Saya rasanya sangat hancur, Dok." cerita Khaira saat ini.


Tidak dipungkiri secara mental, dirinya merasa sangat hancur. Bayangan dia saat melahirkan tentu akan seperti saat melahirkan Arsyilla dulu, di mana proses mengejan yang terakhir dan bayi yang lahir akan menangis. Akan tetapi justru kali ini benar-benar menjadi persalinan tersunyi.


"Iya Bu, hasil USG terakhir dan hasil CTG (Cardiotocography adalah sebuah alat yang berfungsi untuk memantau denyut jantung dan kontraksi lahir saat bayi masih berada di dalam kandungan) juga baik. Saya pun cukup kaget dengan peristiwa tadi. Baik Ibu istirahat dulu ya. Babynya sekarang ditaruh di dalam inkubator setidaknya selama 6 jam untuk memantau organ-organnya. Pesan saya, upayakan untuk ASI yang akan menguatkan setiap organ tubuhnya ya Bu." ucap Dokter Indri sebelum berpamitan.

__ADS_1


Sementara bayi mereka kini ditaruh dalam inkubator. Khaira pun kemudian menatap suaminya yang masih duduk di depannya.


"Mas, peluk aku sebentar …" panggilnya kali ini kepada suaminya itu.


Radit pun mengangguk dan kemudian mendekat untuk memeluk Khaira. Tangannya tidak hanya sebatas mendekap, tetapi juga bergerak untuk membelai kepala hingga punggung istrinya itu. Sementara Khaira lagi-lagi menangis. Wanita itu membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu.


"Aku tadi takut banget, Mas … aku ketakutan. Bahkan badanku gemetaran semuanya." pengakuan Khaira saat ini. Wanita itu pun kian terisak dan berderai air matanya. "Aku tidak bisa membayangkan jika hal-hal yang buruk terjadi. Aku akan tiada pasti, Mas." ucap Khaira dengan terisak. Bahkan kedua tangannya yang melingkari pinggang Radit pun masih bergemetaran.


Sama halnya dengan Radit, pria itu juga turut menitikkan air matanya. "Sama Sayang … aku juga takut banget. Setelah Adik Bayinya bisa menangis barulah aku merasa lega." ucapnya.


Khaira pun mengangguk, "Iya … setelah mendengar tangisannya aku merasa lega. Aku jadi trauma melahirkan, Mas. Takut banget."


Mungkin secara fisik dirinya tetap merasakan sakit bersalin dan kelelahan, tetapi secara psikologis pun ada ketakutan yang membuat Khaira seolah merasakan trauma melahirkan. Terlebih, bayi yang menelan ketubannya juga bisa berakibat fatal. Khaira dan Radit masih beruntung sebab Dokter Indri dan Tim Medis melakukan tindakan dengan cepat dan tepat, sehingga bayinya boleh selamat.


"Iya Sayang … sudah anaknya dua aja. Kamu juga hebat, Sayang … Terima kasih sudah berjuang sekuat tenaga untuk melahirkan si Adik. Terima kasih buat semuanya. Aku benar-benar cinta kamu, Istriku." Radit berbicara sembari mencium kening istrinya. "Tenang ya, kita akan jalani semuanya bersama-sama. Kita saling menguatkan. Kita berdua butuh waktu untuk sama-sama menenangkan pikiran dan hati kita."


Memang tidak dipungkiri menyambut kelahiran yang begitu dramatis dan di luar ekspektasi membuat Radit dan Khaira sama-sama membutuhkan waktu untuk menenangkan hati dan pikiran masing-masing. Secara mental, mereka sedang sama-sama jatuh, goncangan di mental. Andai bisa berharap, sudah pasti mereka berdua bisa mengalami momen melahirkan sama seperti saat Arsyilla lahir dulu.

__ADS_1


Akan tetapi, setiap kelahiran memiliki ceritanya masing-masing. Manis dan pahitnya, suka dan dukanya, seolah berjalan beriringan menyertai kelahiran si Bayi. Itu juga yang dialami dan dirasakan Radit dan Khaira saat ini. Dua kali kehamilan, dua kali persalinan normal, dan dengan dua cerita yang berbeda.


__ADS_2