Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Luluh Lantak


__ADS_3

Khaira kembali memasuki kamar di mana Radit tengah dirawat dengan berlinang air mata. Hatinya terasa sakit dan sesak rasanya. Mendapati kenyataan bahwa temannya sendiri yang menabrak mereka berdua, seolah tak percaya, tetapi itulah faktanya.


Khaira segera menyandarkan badannya di tembok Rumah Sakit yang dingin itu. Suaminya juga masih belum sadar. Hati Khaira serasa kian berkecamuk.


"Bangunlah Mas Radit ... aku merindukanmu. Sangat merindukanmu." ucapnya dengan isakan dan bibir yang bergetar.


Tidak dipungkiri betapa takutnya Khaira saat ini, selama dia menjadi istri seorang Raditya Wibisono, tak pernah dia melihat suaminya berada di atas ranjang kesakitan. Takut apabila sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Entah berapa lama dia menangis saat ini, tetapi hatinya masih belum lega karena suaminya masih belum siuman.


Dengan berjalan perlahan, Khaira mengambil tempat duduk di samping brankar suaminya. "Berapa lama pengaruh obat bius ini Mas? Aku sudah kangen kamu Mas ... kangen sama jahilnya kamu. Modusnya kamu. Jangan hanya tidur seperti ini Mas ... kamu enggak kangen sama aku dan Arsyila?"


Luluh lantak. Itulah perasaan Khaira saat ini. Dalam kekalutannya, Khaira memejamkan matanya. Membiarkan air matanya berlinangan. Orang bilang menangis bisa memberikan kelegaan dan itu yang sedang Khaira lakukan. Menangis berharap dirinya sedikit beroleh kelegaan, tetapi nyatanya hatinya kian sesak rasanya.


Perlahan dia memegang tangan Radit yang tidak dipasangi jarum infus. Dia menggenggamnya dan beberapa kali mencium punggung tangannya.


"Setidaknya sadarlah Mas ... aku kangen ... aku rindu. Mas Radit...." suaranya lirih dan isakan saja yang terdengar.


Isakannya mereda saat Bunda Dyah dan Ayah Ammar kembali datang untuk mengunjunginya.


"Kamu pulang saja Khai ... sama Bunda. Biar Ayah yang menjaga Radit. Sejak tadi kamu bahkan belum istirahat, tidak mau makan. Kamu harus sehat ... ada Arsyila yang membutuhkan Mamanya." ucap Ayah Ammar.


"Tetapi Khaira juga butuh Mas Radit, Yah ... kapan Mas Radit bangun Yah? Kenapa dia masih belum bangun." tanya Khaira dengan sangat khawatir.


Bunda Dyah mengelus puncak kepala anaknya itu. "Kita pulang ke rumah yuk Sayang ... Arsyila butuh kamu juga. Ayah benar, biar Ayah yang menjaga Radit. Nanti kalau Radit sudah sadar, pasti Ayah menghubungi kamu." ucap Bunda Dyah menenangkan anaknya.


Khaira menggeleng. "Biarkan Khaira di sini malam ini, Bun ... satu malam saja. Khaira ingin menjadi orang pertama yang Mas Radit lihat saat dia sadar nanti. Besok pagi Khaira akan pulang. Izinkan Khaira, Bunda...." pintanya terdengar pilu.

__ADS_1


Bunda Dyah dan Ayah Ammar pun saling pandang. Sebagai orang tua, mereka tau pasti bahwa Khaira ingin menemani suaminya. Ayah Ammar pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah ... kamu boleh di sini malam ini. Akan tetapi, besok kamu harus pulang. Arsyila butuh kamu ... nanti kalau Radit bangun, hubungi kami ya. Sekarang jagalah suamimu, dan Arsyila sudah dalam penjagaan Eyangnya. Arsyila tetap di rumah kalian, Eyangnya yang menginap di sana. Stok ASIP juga banyak. Ingat, jangan terus-menerus menangis. Radit pasti akan segera sadar. Dia pria yang kuat."


Khaira menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Ayahnya. "Terima kasih Ayah sudah mengizinkan Khaira menemani Mas Radit malam ini."


Akhirnya kedua orang tuanya berpamitan pulang, tinggallah Khaira sendirian menemani suaminya.


Menenangkan sejenak hati dan pikirannya, Khaira memilih mengambil wudhu. Setelahnya dia mulai bermunajat kepada Allah. Menengadahkan kedua tangannya kepada Sang Khalik.


"Ya Allah ya Tuhan kami ... hamba datang kepadamu untuk memohon. Sekiranya boleh, sembuhkanlah suami hamba. Setiap sakit yang dia alami, kiranya Allah berkenan menyembuhkan. Berbelas kasihanlah kepada kami. Sembuhkanlah Mas Radit dan biarlah suami hamba segera sadar ya Allah ya Robbi. Amin...."


Khaira lantas melipat sajadah dan mukena yang dia kenakan. Dia kembali duduk di sebelah brankar suaminya.


"Harusnya aku yang merasakan semua ini, bukan kamu, Mas. Aku pun rela berbaring di ranjang kesakitan asalkan kamu selamat, Mas."


Seorang istri yang baik akan mendampingi suaminya....


Seorang istri yang baik akan mendampingi suaminya dalam suka maupun duka, dalam sehat mau pun sakit....


Aku akan selalu mendampingimu, Mas....


Aku mau menjadi istri yang baik bagimu, Mas....


Kepingan kejadian sepanjang hari ini bersama suaminya begitu indah, hingga berakhir pada kecelakaan yang terjadi sore hari tadi. Bahkan dalam mobil ambulance pun, Radit yang masih sadar masih meminta kepada Khaira untuk tidak menangis. Namun apa daya, hatinya begitu rapuh saat ini. Begitu luluh lantak rasanya.


Kelamaan menangis, Khaira memilih menyandarkan kepalanya di tepi brankar suaminya. Tepat di sisi tangan suaminya. Dalam posisi duduk, matanya terus melihat pada suaminya. Hingga sekian waktu berlalu, mata Khaira mulai terpejam.

__ADS_1


Membiarkan malam membuainya untuk sesaat. Menyandarkan hidupnya kepada Pemilik Hidup yang Agung. Sekalipun terpejam, tetapi air matanya masih berlinangan. Dalam tidurnya pun Khaira berharap suaminya akan segera bangun dan menyapanya.


Tanpa terasa Khaira merasakan gerakan tangan suaminya. Sekalipun gerakan yang halus, tetapi itu cukup mengusik Khaira. Dengan segera Khaira mengerjapkannya matanya. Kelopak mata yang semula tertutup itu perlahan terbuka, dan pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah suaminya.


Matanya suaminya masih terpejam, tetapi jari jemarinya seolah bergerak perlahan. Dalam harap dan kecemasan, Khaira menunggu dan terus berharap suaminya akan bangun.


Detik berganti detik, menit berganti menit, jari-jarinya suaminya bergerak. Dengan segera tangannya bergerak dan menautkan jari jemarinya ke dalam tangan suaminya.


"Mas Radit...." dipanggilnyalah suaminya dengan lirih.


Hingga perlahan, kelopak mata suaminya terbuka.


"Khaira ... Khairaku...." ucapnya dengan tak kalah lirih.


Luruh seketika air mata Khaira. Yang dia minta kepada Tuhan, yang dia harapkan terkabul. Suaminya telah bangun.


"Mas Radit ...." lagi ucapnya lirih dengan menggenggam erat tangan suaminya.


Dengan segera Radit menggeleng lemah. "Berapa lama kamu menangis? Hmm. Lihatlah, aku sudah tidak apa-apa."


"Kamu membuatku khawatir, Mas ... aku ketakutan di sini." ucapnya dalam isakan yang memenuhi ruangan itu.


"Sssttsss ... jangan menangis lagi. Mata kamu sampai bengkak gitu. Sudah, tidak apa-apa. Aku sudah bangun kan ... aku sudah kembali padamu." ucapnya.


Khaira pun menganggukkan kepalanya. Dengan segera dia menyeka air matanya. "Aku panggilkan Dokter dulu ya Mas ... biar diperiksa lagi sama Dokternya. Tadi Dokter bilang kalau sudah sadar pasiennya, disuruh ngasih tahu."

__ADS_1


Radit pun kembali menganggukkan kepalanya. "Iya...."


Khaira segera memencet tombol untuk memanggil perawat. Dia berharap suaminya yang sadar akan segera membaik. Sedikit kelegaan Khaira rasakan, saat suaminya bangun dan memanggil namanya. Inilah waktu yang paling Khaira nantikan, saat suaminya sadar. Waktu seolah berjalan begitu lama, namun saat pria itu telah bangun dan mengucapkan suara walau begitu lirih, Khaira seolah memperoleh oase di padang gurun yang menyejukkan dan melegakan jiwanya.


__ADS_2