Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Surat dari Aksara


__ADS_3

Malam hari, begitu sudah tiba di rumah dan semuanya udah dalam keadaan bersih dan segar, karena semuanya langsung mandi begitu pulang panti asuhan. Radit, Khaira, dan Arsyilla tengah berkumpul di ruang keluarga. Khaira pun mendekati Arsyilla, dan menyerahkan sebuah surat yang diberikan oleh Aksara untuk Arsyilla.


Perlahan Khaira menyerahkan surat dengan gambar Putri Aurora itu kepada Arsyilla. “Sayang, tadi waktu di panti asuhan ada seseorang yang menitipkan surat ini buat kamu.” ucap Khaira sembari menatap wajah Arsyilla.


“Siapa Ma?” tanya Arsyilla yang tampak penasaran dengan siapa yang memberikan surat itu.


“Coba kamu buka dulu Sayang.” perintah Khaira kepada Arsyilla untuk membukanya.


Tidak lama kemudian, Arsyilla yang begitu penasaran pun langsung membuka surat tersebut. Mata gadis kecil itu bergerak-gerak seolah mencari-cari siapa yang memberikan surat itu, barulah di lembar kedua, terlihat siapa penulis surat itu.


Untuk Arsyilla


Halo Syilla, bagaimana kabarmu?


Maaf ya Kakak pergi dari panti asuhan tanpa bisa berpamitan dengan kamu, Ayah, dan Bunda. Sekarang Kakak sudah bertemu dengan Mama dan Papa Kakak. Jangan menangis ya Syilla, suatu saat kita akan bertemu lagi ya.


***Selamanya Kakak akan selalu mengingatmu. Doa dari Kakak\, kamu selalu sehat dan tambah pintar. Kakak juga belikan boneka Putri Aurora kesukaanmu. ***


Salam Sayang,


Aksara


“Ma, ini Kak Aksara Ma …” ucap Arsyilla yang tampak berkaca-kaca.

__ADS_1


Dengan cepat Khaira pun mengangguk, kemudian dia menyerahkan paper bag yang di dalamnya ada boneka Aurora dan beberapa cokelat. “Ini juga titipan dari Kak Aksara, Sayang.”


Maka Arsyilla pun membuka paper bag tersebut, memegang boneka Aurora yang mengenakan dress warna pink magenta, dan beberapa cokelat. Biasanya anak kecil akan bahagia saat membuka kotak hadiah yang dia terima, tetapi tidak dengan Arsyilla. Akhirnya Arsyilla pun menangis hingga terisak. Dengan cepat Khaira pun memeluknya.


“Jadi begini Sayang … bulan lalu itu Kak Aksara bersama orang tuanya datang ke Panti Asuhan. Berharapanya dia bisa bertemu dengan kamu. Namun, bulan lalu kan kamu saat sakit Flu Singapura itu. Terus, Kak Aksara menitipkan surat dan hadiah itu kepada Oma Lisa. Arsyilla nya jangan menangis ya, kan Kak Aksara sudah sama Mama dan Papanya. Nanti kapan-kapan kita ke panti asuhan lagi ya. Semoga bisa bertemu dengan Kak Aksara.” ucap Khaira yang menenangkan Arsyilla. Berharap putrinya bisa mengerti dengan ucapannya.


Arsyilla menunduk, air matanya mulai bercucuran. “Daripada ini semua, mending Syilla ketemu Kak Aksara, Ma.” ucapnya sembari terisak.


Tidak tega dengan tangisan Arsyilla, Radit pun lantas menggendong Arsyilla dan berjalan kesana-kemari, Papa muda itu memang suka menggendong Arsyilla sembari berjalan-jalan. Bukan sekadar menggendong, tetapi dia pun memberikan penjelasan kepada Arsyilla. “Arsyilla kalau menangis boleh … tapi jangan terlalu bersedih, Kak Aksaranya kan ya sudah bersama Mama dan Papanya. Sama kayak Syilla kan yang udah berkumpul dengan Mama dan Papa. Syilla senang enggak sama Mama dan Papa?”


Perlahan Arsyilla pun mengangguk, “Iya Pa … Syilla kan sayang Mama dan Papa.” akunya dengan masih terisak dalam gendongan Papanya.


Radit kemudian mencium pipi Arsyilla, “Kak Aksara pasti juga seperti itu, dia senang karena dia juga sayang sama Mama dan Papanya.”


Setelah menidurkan Arsyilla, giliran dia menghampiri istrinya yang tengah memegang surat yang lainnya dari orang tua Aksara itu.


“Kamu sudah baca suratnya Sayang?” tanya Radit kepada Khaira.


Dengan cepat Khaira pun menggelengkan kepalanya, “Belum … aku nunggu kamu. Kita baca bersama-sama ya Mas.”


Radit lantas memposisikan diri di samping istrinya dengan punggung yang bersandar pada head board tempat duduknya, lantas dia merangkul bahu istrinya, sekiranya jika istrinya meneteskan air matanya, bahu dan dadanya siap menampung air mata dari istrinya itu.


“Sudah, yuk kita baca bersama.” ucap Radit sembari tangannya mengelus lengan istrinya itu.

__ADS_1


Perlahan Khaira pun mengeluarkan selembar surat dari amplop berwarna putih itu.


Kepada Ayah dan Bundanya Arsyilla,


Perkenalkan kami adalah orang tua Aksara, orang tua kandungnya. Setelah bertahun-tahun terpisah dari Aksara, akhirnya kami menemukan keberadaan Aksara, oleh karena itulah, kami langsung mengunjungi panti asuhan tempat Aksara selama ini tinggal.


Saat kami ingin membawa Aksara dan tinggal bersama kami, Aksara menolak. Dia keberatan karena di panti asuhan ini dia bertemu dengan keluarga yang sangat baik dan juga seorang adik kecil yang bernama Arsyilla. Saya rasa Arsyilla tentu anak yang cantik dan baik, namanya sangat indah. 


Saya bersama keluarga mengucapkan terima kasih untuk kebaikan hati kalian kepada Aksara selama ini. Di lain waktu, semoga kita bisa berjumpa dan kami bisa berterima kasih secara langsung. Sampaikan sayang kami untuk Arsyilla, Kak Aksara selalu menyayanginya.


Salam Sayang,


Keluarga Aksara


Tepat seperti dugaan Radit, usai membaca surat itu Khaira pun terisak, bahunya terasa bergetar. Dengan cepat Radit membawa kepala istrinya itu dan mencerukkannya ke dadanya. Mengusap kepalanya dengan lembut. Istrinya memang sosok yang mudah tersentuh, selain itu memang Khaira memiliki kebiasaan bahwa di saat hamil, istrinya akan lebih cengeng.


“Sudah aku kira kalau kamu akan menangis. Menangislah Sayang … dadaku ini siap menampung semua air matamu. Hanya saja jangan terlalu bersedih, kasihan babynya.” ucapnya sembari mengusap lembut perut istrinya yang sudah tampak membuncit itu.


Khaira pun mengangguk, “Aku sebenarnya menangis bahagia kok Mas … dibanding semua kesedihan ini, aku lebih berbahagia karena Aksara bertemu dengan Mama dan Papanya. Aku yakin kok seiring dengan berjalannya waktu Arsyilla bisa melupakan semuanya. Ingatan anak kecil bisa berubah seiring dengan banyaknya peristiwa yang mereka hadapi kan. Namun, bertemu orang tuanya kembali setelah sekian tahun, itu yang menggetarkan hatiku. Aku benar-benar tidak terbayang andai menjadi orang tuanya Aksara.” ucapnya


Radit pun tersenyum, “Benar Sayang … aku juga gak bisa membayangkan jika harus menjadi orang tuanya Aksara yang harus bertahun-tahun berpisah dari orang tuanya. Aku saja bekerja 8 jam sehari aja, menjelang sore pengennya langsung pulang karena sudah kangen sama Syilla, sementara mereka harus berpisah sekian tahun lamanya. Benar ucapanmu Sayang.”


Khaira pun mengangguk, “Iya kan Mas … itu dramatis banget sih. Gak bisa membayangkan seperti itu. Makanya, aku justru bahagia. Mereka bisa kembali bersama untuk menebus banyaknya tahun yang hilang.” ucapan Khaira sungguh-sungguh. Sekalipun tidak dipungkiri setiap kali Arsyilla menangis, hatinya sebagai seorang Mama terasa sedih, tetapi dia jauh lebih berbahagia karena Aksara akhirnya bisa bertemu dengan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Bagi Khaira, semua itu adalah kebahagiaan baginya. Sebab rasa aman dan nyaman seorang anak itu muncul saat mereka dekat dengan kedua orang tuanya.


__ADS_2