
Begitu sampai di apartemennya, Khaira memilih langsung mandi, menyegarkan dirinya, sekaligus membuat penatnya. Usai mandi, ia duduk sejenak di depan meja rias berukuran kecil hanya sekadar mengaplikasikan toner, serum, dan night cream di wajahnya.
Radit sedang berada di dapur, membuat dua cangkir Teh hangat untuk mereka berdua.
Ketika Khaira usai memanjakan wajahnya, ia langsung duduk bersandar di sofa yang berhadapan dengan televisi yang tidak menyala itu.
"Udah seger? Udah hilang capeknya?" Radit datang sembari menyodorkan segelas teh hangat untuk Khaira.
"Lumayan sih Mas, tapi otakku masih berat buat nyiapin Thesis. Kira-kira aku bisa enggak ya Mas, karena karya tulisnya kan dalam bahasa Inggris." ceritanya kepada Radit sembari meminum teh hangat di tangannya.
"Bisa. Aku yakin kamu pasti bisa. Inget, kamu punya aku di sini, aku akan bantuin kamu. Kamu bisa manfaatin aku di sini. Hmm." Radit memberi semangat kepada Khaira dan mengingatkannya bahwa Khaira memilikinya.
Khaira kembali meminum teh nya yang masih hangat, aroma melati yang menguar dari tehnya itu sedikit memberinya ketenangan.
"Mas, mau cerita boleh?" Khaira mendongakkan wajahnya, dan menatap Radit yang duduk di sebelahnya.
"Boleh, cerita aja. Kenapa?"
"Tadi waktu aku di Perpustakaan, waktu baca-baca buku tiba-tiba aku kangen sama Ayah dan Bunda. Apa aku mulai homesick ya Mas?"
Radit mengamati wajah Khaira, pantas saja sejak istrinya pulang, wajahnya terlihat lesu, senyumannya pun tidak bersinar seperti biasanya. Barulah kini Radit ketahui penyebabnya, rasa rindu dengan rumah dan keluarga yang membuat Khaira "feeling homesick".
"Mungkin bisa saja. Homesick kan kerinduan akan kampung halaman, rumah, dan keluarga akibat terpisah jauh dari keluarga dan tempat-tempat yang terbiasa kamu kunjungi. Bekerja dan kuliah di tempat yang jauh kan bisa menjadi penyebab homesick. Perasaan itu wajar kok. Mau videocall sama Ayah dan Bunda?" Radit menawarkan Khaira untuk melakukan panggilan video, karena untuk pulang ke Indonesia rasanya tidak memungkinkan, ditambah kuliah dan rencana pengajuan Thesis yang akan diambil Khaira.
Praktis videocall adalah salah satu cara yang Radit tawarkan untuk sedikit mengurangi perasaan homesick yang Khaira rasakan.
"Boleh?" Khaira menatap Radit.
"Pasti boleh dong Sayang. Kamu mau telepon Ayah Ammar dan Bunda Dyah kan?"
Khaira menganggukkan kepalanya, tanpa menunggu waktu lama Radit melakukan panggilan video kepada Ayah Ammar dan Bunda Dyah.
Tidak berselang lama, Ayah Ammar yang dihubungi pun menerima panggilan video dari Radit.
[Assalamualaikum Ayah, Bunda....] Radit menyapa kedua mertuanya begitu panggilan itu tersambung dan memperlihatkan wajah mertuanya.
__ADS_1
[Wassalamualaikum Dit, ada apa?]
[Ada yang kangen ini Ayah, Bunda....]
Radit lantas memberikan handphonenya kepada Khaira.
[Halo Ayah, Khaira kangen sama Ayah dan Bunda....]
Tanpa basa-basi langsung mengatakan bahwa ia begitu kangen kepada orang tuanya. Memeluk rindu kepada orang tua setelah sekian lama, lebih dari 1 tahun Khaira tinggal di Manchester dan perasaan rindunya tak terbendung lagi.
[Iya. Ayah dan Bunda juga kangen. Gimana di sana sehat? Radit juga baik dan sehat kan?] Tanya sang Ayah melalui sambungan video itu.
[Sehat Ayah, tetapi Khaira kepikiran dengan Ayah dan Bunda. Rasanya ingin sekali pulang ke Indonesia.]
[Iya, Bunda kamu kurang sehat, Khai.]
Khaira sontak kaget mendengar kabar bahwa Bundanya kurang sehat.
[Bunda sakit apa Yah?] tanyanya dengan wajah yang nampak cemas.
Begitu wajah Bunda Dyah terlihat di layar handphone, Khaira tak kuasa menahan air matanya.
[Bunda, Bunda sakit apa? Maaf... Khaira tidak ada di situ saat Bunda sakit.]
Melihat Khaira yang nampak bersedih, Radit mengusap lembut lengan Khaira. Menyalurkan kekuatan melalui sentuhannya.
[Bunda menopause, Khai. Sebenarnya memang bukan penyakit, tetapi ketika fase itu datang sepanjang malam Bunda tidak bisa tidur, rambut Bunda rontok, berkeringat di malam hari, kelelahan. Badan Bunda rasanya seperti osteoporosis.]
[Bunda sudah ke Dokter? Sekarang bagaimana keadaan Bunda?]
Khaira cukup panik dengan fase menopause yang ternyata dialami Bundanya lebih dini.
[Sudah Sayang, jangan khawatir. Bunda sudah menemui Dokter. Advice dari Dokter tidak apa-apa, karena perlahan-lahan gejalanya bisa hilang dengan sendirinya. Bunda hanya harus menghindari jenis makanan tertentu seperti makanan yang mengandung kafein, mengenakan pakaian berbahan katun yang bisa menyerap keringat, dan menerapkan teknik relaksasi. Ada obat antidepresan juga yang Dokter berikan jika mengalami gejala hot flashes dan suasana hati.]
[Pasti sakit ya Bunda?] ucap Khaira sembari menyeka air matanya yang telah terkumpul di sudut matanya.
__ADS_1
[Sakit Khai, tetapi bersyukur Ayah selalu menemani Bunda. Sehingga secara psikologis Bunda tetap semangat dan bisa menjalani ini semua. Tidak apa-apa, ini memang kodrat kita sebagai wanita, Sayang.]
[Maaf ya Bunda, saat Bunda sakit justru Khaira berada sangat jauh dari Bunda.]
Khaira sungguh menyesal, karena tidak bisa menjaga Bundanya. Khaira yakin secara psikologis pastilah Bundanya juga membutuhkannya.
[Tidak apa-apa Sayang. Bunda sudah lebih sehat sekarang. Bunda justru bersyukur ada Radit yang menemani kamu dan menjagamu. Hati-hati di sana ya Sayang. Bunda dan Ayah selalu berdoa untuk kalian berdua.]
Khaira menganggukkan kepalanya, seolah-olah ia berbicara berhadap-hadapan dengan Bundanya secara langsung.
[Ya sudah Bunda. Kami tutup ya, Bunda dan Ayah istirahat. Khaira dan Mas Radit juga selalu mendoakan Ayah dan Bunda.]
Begitu panggilan video usai, Khaira menyerahkan handphone kepada suaminya.
"Ternyata firasatku kangen rumah karena Bunda sakit, Mas...."
Radit membawa kepala Khaira untuk bersandar di bahunya. "Ikatan Ibu dan Anak memang kuat ya Sayang, tetapi jangan kepikiran ya. Bunda bisa melewatinya di sana. Kamu pun bisa melewati semuanya di sini. Kamu punya aku di sini."
Radit mendaratnya kecupannya di kening Khaira. Sembari tangannya mengusap lembut lengan Khaira.
"Sama seperti Ayah Ammar yang selalu menemani Bunda Dyah, begitu juga aku akan selalu menemani kamu. Apa pun itu, aku akan menemani kamu. Dalam sehat maupun sakit, dalam susah maupun senang, kita lewati bersama ya."
Khaira menyerukkan kepalanya di bahu Radit. Kemudian ia sedikit mendongak menatap wajah suaminya.
"Makasih ya Mas...."
"Iya. Diminum lagi tehnya. Mumpung belum dingin. Sambil ngeteh, kita bisa sambil ngobrol. Tea time Sayang...." ucapnya sembari tersenyum berusaha menenangkan Istrinya itu.
"Saatnya ngeteh saatnya bicara ya Mas? Iklan banget ya?"
Radit sedikit mencubit ujung hidung Khaira, "Hmm, kamu ini. Jangan gitu kan kita enggak di-endorse Sayang...."
Seketika senyuman terbit di wajah Khaira.
"Kamu emang paling bisa buat aku langsung bahagia ya Mas?"
__ADS_1
Radit hanya mengedikkan bahunya. "Alih-alih bersedih, aku lebih senang melihatmu bahagia...."