Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Papa Siaga


__ADS_3

Malamnya Khaira sudah bisa beristirahat lantaran jam tidur baby Arsyila masih banyak. Dengan pelan-pelan, Khaira menidurkan Arsyila di dalam box bayi. Memastikan bayinya tidur. Kemudian dia mengambil alat pumping elektrik guna menyimpan ASI-nya.


Sembari duduk dan bermain gadget, Khaira melakukan pumping. Gerakan peristaltik dari alat pumping bisa menghasilkan ASI sedikit demi sedikit sehingga Khaira merasa lega karena ASI-nya bisa di keluarkan.


"Kamu baru ngapain Sayang?" tanya Radit begitu dia kembali masuk ke dalam kamar.


"Aku baru pumping, Mas ... karena kalau tidak dikeluarkan nanti aku bisa kena demam yang terparah bisa kena Mastitis (peradangan pada jaringan payudara. Kondisi ini kerap dialami oleh ibu menyusui sehingga mengganggu proses pemberian ASI kepada bayi)." ucapnya sembari menanti seluruh ASI-nya sudah dipompa.


Radit yang mengamati istrinya, mengusap lembut puncak kepalanya. "Perjuangan seorang Ibu mulia banget ya Sayang."


Khaira menatap wajah suaminya sembari tersenyum. "Semua Ibu akan melakukan yang terbaik buat anak-anaknya, Mas ... bahkan memberikan nyawanya pun seorang Ibu pasti rela."


Mendengar ucapan istrinya, Radit kemudian mengambil tempat duduk di sisi Khaira. "Benar banget, semua Ibu adalah orang yang hebat. Juga kamu, Sayang. Kamu hebat banget..." Radit menjeda ucapannya sejenak. "Sayang, buat syukuran Arsyila nanti aku pengen berbagi kepada anak-anak yang ada di Panti Asuhan apa boleh?"


Khaira mendengarkan perkataan suaminya. "Boleh Mas ... boleh banget. Kita ke Panti Asuhannya saja, Mas. Langsung terlibat di sana."


Radit menganggukkan kepalanya. "Iya ... nanti langsung ke Panti Asuhan saja, tapi nunggu Arsyila lebih kuat dulu dan kamu pulih dulu. Selama kamu belum pulih, aku gak bakalan izinin kamu kemana-mana."


"Ishhh, lebay banget sih Mas ... aku turun ke bawah aja gak boleh. Kemana-mana juga enggak boleh. Padahal aku enggak papa." Ucap Khaira sembari menyimpan ASIP dalam kantong ASI dan membubuhkan tanggal di sana.


"Aku khawatir Sayang ... kemarin aku lihat benang dan jarum yang dibawa Dokter Indri rasanya ngilu. Terus perjuangan kamu kemarin, keingat kamu yang lemes dan nyaris menutup mata, hatiku sesak banget Sayang ... aku takut terjadi apa-apa sama kamu." Ucapnya dengan serius.


Khaira tersenyum sembari memegangi tangan suaminya. "Aku beneran kemarin gak kuat rasanya, Mas. Seluruh badanku kesakitan. Mengejan beberapa kali masih belum keluar Arsyila nya. Bersyukur, akhirnya bisa menyelesaikan perjuangan. Tuhan masih mengizinkanku untuk bertemu Arsyila dan mendampingimu." ucap Khaira dengan berkaca-kaca.


"Bentar aku simpan ASIP-nya dulu ya Mas." Khaira berdiri dan menyimpan ASIP dalam lemari es, kemudian kembali duduk di samping suaminya.


"Sudah semua?" tanya Radit kepada istrinya itu.

__ADS_1


Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Iya sudah ... kamu mau apa Mas? Minuman atau apa, aku bisa buatkan." ucap Khaira menawarkan sesuatu kepada suaminya karena sesungguhnya Khaira masih tidak enak hati dirawat oleh suaminya sedemikian rupa.


Dengan segera Radit menggelengkan kepalanya. "Aku gak pengen apa pun Sayang. Sini aja ... peluk Sayang. Kangen...."


Tanpa ragu, Radit merengkuh tubuh istrinya dan memeluknya erat. "Kamu wangi bayi, Sayang. Kayak Arsyila...." ucapnya sembari menciumi kening istrinya.


Sementara Khaira hanya terkekeh geli. "Abis sekarang ngurus Arsyila, Mas ... punya baby, jadi aku wanginya kayak baby deh."


"Jam tidurnya bayi itu gimana Sayang? Kalau tengah malam apa begadang juga sih?" tanya Radit sembari masih memeluk istrinya.


"Kalau abis lahir gini, masih ngikutin aktivitasnya dia selama di dalam rahim dulu, Mas. Setelah 40 hari bakalan berubah. Nanti kita terapkan Sleep Training aja Mas, supaya Arsyila belajar waktu dari bayi, punya jam tidur yang benar juga." ucap Khaira yang masih betah berlama-lama dalam pelukan suaminya.


Radit nampak mendengarkan ucapan istrinya. "Kalau malam, jam segini Arsyila sudah bobok, kita jadi punya waktu berdua ya Sayang. Bisa pacaran sama kamu."


Khaira sedikit mendongakkan kepalanya guna melihat wajah suaminya. "Cuma boleh gini aja, gak boleh lebih ya Mas ... aku masih masa postpartum (masa nifas), ditahan ya." ucapnya sembari tersenyum menggoda pada suaminya.


Menurut akhirnya mereka berdua berjalan menuju tempat tidur mereka, Radit mematikan lampu dan hanya menyalakan lampu tidur di sisi nakas.


***


Menjelang malam, Khaira tiba-tiba terbangun karena mendengar suara tangisan bayi. Wanita itu masih mengerjap dan mulai bangun, tetapi di sisinya suaminya sudah tidak ada. Tempat tidur Radit kosong.


Kemudian Khaira duduk, mengucek matanya sebentar, baru dia akan beranjak dari tempat tidur rupanya Radit terlebih dulu sudah bangun dan tengah menggendong Arsyila.


"Kamu gendong Baby Arsyila, Mas?" Ucap Khaira sembari berjalan mendekati suaminya.


Radit pun menoleh melihat Khaira. "Iya, begitu dia nangis, aku langsung bangun tadi. Aku gendong dulu, tetapi masih nangis. Aku enggak tega membangunkanmu, kamu boboknya nyenyak banget." ucapnya sembari tersenyum menatap wajah istrinya.

__ADS_1


"Sini Mas, Baby nya. Aku kasih ASI dulu. Makasih ya, kamu Papa siaga banget...."


Arsyila kini telah berpindah tangan, Khaira membawanya dan memberikannya ASI. Tangisannya segera reda dan bayi kecil itu menghisap ASI dengan begitu kuatnya.


Radit masih menunggui dan duduk di sisi istrinya. Khaira sontak mengernyitkan keningnya. "Kamu tidur aja Mas, besok kerja ke kantor kan? Biar aku kasih ASI dan tidurin Arsyila dulu."


Radit menggelengkan kepalanya. "Aku masih libur kok Sayang, ambil cuti sepuluh hari. Semoga selama itu, kamu udah pulih ya." ucapnya.


Tidak berselang lama Arsyila kembali tidur dan Khaira kembali menaruhnya pelan-pelan ke dalam box bayi.


"Ayo bobok lagi Mas, masih tengah malam...." Ucapnya sembari menepuk-nepuk tempat tidurnya yang kosong.


Radit langsung mengambil tempat di sisi Khaira. Membawa kembali istrinya dalam buaiannya. Sembari berharap Arsyila tidak rewel dan bangun ketika hari sudah pagi.


Malam yang gelap telah berlalu, surya mulai menyingsing dan cahayanya perlahan masuk melalui celah tirai mereka. Khaira bangun dan langsung mandi terlebih dulu, sementara suaminya dan Arsyila masih tertidur.


Beberapa menit berlalu, saat Khaira keluar dari kamar mandi rupanya suaminya telah bangun. Khaira tersenyum dan menyapanya. "Pagi Mas...." ucapnya sembari kemudian duduk di depan meja rias.


"Pagi Sayang...." sahutnya sembari berdiri dari tempat tidurnya, lalu menengok box bayi Arsyila. "Hai, anak Papa ... bangun yuk Nak, sudah pagi." ucapnya.


Khaira yang melihatnya dari pantulan cermin, tersenyum melihat interaksi suaminya dan bayinya.


Setelah menyapa Arsyila, Radit lantas menghampiri istrinya. Pria itu mencuri satu ciuman di pipi istrinya. "Aku mandi dulu Sayang...." Ucapnya sembari terkekeh memasuki kamar mandi.


Kurang lebih 15 menit, Radit telah kembali dan wajahnya sudah segar. "Aku sudah siapkan air hangat untuk mandi Arsyila juga, Sayang." ucapnya begitu keluar dari kamar mandi.


Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Makasih Mas ... kamu Papa siaga banget deh. Love U Papa...."

__ADS_1


__ADS_2