
Keesokan harinya, Radit kembali membawa istrinya ke Rumah Sakit. Tujuannya adalah untuk mengecek kembali bahwa janin yang berada dalam rahim istrinya itu sudah sepenuhnya sehat. Kondisi Khaira pun juga harus mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan bahwa wanita itu benar-benar sehat.
"Semoga aku dan babynya sudah sehat ya Mas … aku enggak enak sebenarnya karena merepotkan kamu terus." ucap Khaira yang kini tengah menunggu daftar antrian pemeriksaan di Rumah Sakit, tepatnya di poli kandungan itu.
"Enggak merepotkan juga dong Sayang. Kan dulu waktu kakiku luka dan aku harus bedrest juga kan, kamu yang sudah merawat aku. Semuanya kamu rawat, sampai aku bisa jalan lagi. Saat aku down banget karena kakiku yang harus di-gips ada kamu yang selalu semangatin aku. Sekarang, biar aku yang merawat kamu, Sayang." ucap pria itu dengan begitu lembut.
Mendengar ucapan suaminya, Khaira pun lantas tersenyum, "Kok kayak balas budi gitu, Mas … kan ya aku dulu itu melakukan kewajibanku sebagai seorang Istri yang melayani suaminya." ucapnya kepada sang suami.
"Bukan balas budi, Sayang … aku melakukan semua ini kan karena aku cinta sama kamu. Bukan hanya Istri kok yang harus melayani Suami, para Suami pun juga harus melayani Istrinya. Kunci dalam berumahtangga kan saling Sayang." ucap pria itu sembari mengangguk.
“Makasih banyak ya Mas … kamu baik banget, aku nya justru kadang merasa tidak enak.” ucapnya.
Tidak dipungkiri memang, ketika seorang istri yang tidak melayani suaminya, dan justru dilayani memang membuat perasaan menjadi tidak enak. Akan tetapi, Khaira beruntung karena suaminya justru mau berbagi apa pun dengannya. Melakukan semuanya berdasarkan cinta, bukan semata-mata lantaran balas budi. Sebab, cinta yang dijadikan sebuah dasar justru akan semakin mengeratkan hubungan pasangan suami dan istri.
Radit pun lantas tersenyum, “Sama aku biasa saja Sayang … gak usah merasa sungkan. Kalau merasakan apa pun ya bilang aja kok. Gak perlu ditahan dan dirasakan semuanya sendiri. Dua orang menikah itu kan untuk menjadi satu, berbagi hidup. Aku kan sudah membagi hidupku denganmu, kamu pun harus begitu. Sebab, jika kamu justru menahan semaunya sendiri, aku akan marah. Aku yang akan memaksa kamu untuk mau berbagi semuanya denganku.” ucapnya dengan begitu serius.
Pembicaraan mereka terhenti, karena nama Khaira sudah dipanggil oleh perawat, keduanya lantas masuk ke dalam ruang pemeriksanaan.
“Selamat sore Bu Khaira dan Pak Radit …” sapa Dokter Indri dengan ramah kepada mereka berdua.
Kali ini pun menjadi pemeriksaan paling rutin karena selang tujuh hari, mereka sudah kembali memeriksakan kondisi janinnya.
__ADS_1
“Iya, sore Dokter …” keduanya pun bersamaan mengucapkan selamat sore kepada Dokter Indri.
“Bagaimana Bu, masih ada flek dan keluhan?” tanya Dokter Indri terlebih dahulu kepada Khaira.
Dengan cepat Khaira pun menggelengkan kepalanya, “Tidak Dok … sudah tidak ada flek.” jawab Khaira yang memastikan bahwa dirinya sudah tidak lagi mengeluarkan flek darah.
Seolah lega, Dokter Indri pun tersenyum, “Namun, untuk lebih jelasnya kita tetap lakukan pemeriksanaan ya Bu.”
Maka dari itu, Khaira pun kembali menaiki sebuah brankar, dan perawat membantu untuk menaikkan kemejanya, kemudian mengoleskan USG Gell di atas perutnya, mulailah Dokter Indri menggerakkan transduser di atas perut Khaira.
“Baik kita akan cek ya. Ini posisi babynya, masih sangat aktif ya. Ibu dan Bapak bisa lihat di layar monitor USG kalau babynya sedang bergerak-gerak ya. Plasentanya juga ada di sini, dan juga kondisi air ketuban baik ya Bu, di sini terlihat bahwa ketubannya tidak keruh. Jadi, pemeriksaan kali ini janin dalam kondisi sehat ya.” ucap Dokter Indri.
“Saya menyarankan lebih berhati-hati ya Bu. Hindari tempat-tempat yang licin supaya tidak terjadi kecelakaan seperti tempo hari. Bapak dan Ibu jika mau berhubungan Suami Istri juga diperbolehkan asalkan tidak menekan perut ini ya. Sudah hampir setengah jalan Bu, jadi harus lebih berhati-hati. Tidak lama lagi, sudah bisa menggendong debaynya nih.” ucap Dokter Indri kepada pasangan suami istri tersebut.
“Kalau saya mau kembali beraktivitas bagaimana ya Dok? Jujur saja, setelah bedrest kemarin, mau bergerak rasanya terus menjadi takut, Dok.” tanyanya kepada sang Dokter.
“Tidak apa-apa Bu, asalkan tetap berhati-hati, jangan terlalu kecapean, juga hindari mengangkat barang-barang yang berat. Luar biasa ya Bu, kehamilan Kak Arsyilla dulu dan sekarang ceritanya berbeda, jadi Ibu sudah punya pengalaman yang berbeda di kehamilan pertama dan sekarang.” ucap Dokter Indri kepada Khaira.
Memang benar apa yang disampaikan Dokter Indri, cerita kehamilan Arsyilla dan adiknya ini berbeda. Kali ini, Khaira justru harus merasakan bedrest selama 7 hari. Semua cerita ini tentu akan selalu Khaira ingat, bahwa kehamilannya selalu memiliki cerita yang unik.
“Baik Dokter, terima kasih. Berarti untuk pemeriksaan rutin kembali normal kan Dok?” kali ini giliran Radit yang bertanya kepada Dokter Indri.
__ADS_1
“Benar Pak, kembali sebulan satu kali saja. Sehat selalu ya Bu …” ucap Dokter Indri mengakhiri sessi konsultasi dan pemeriksanaannya untuk Khaira.
Keluar dari ruang pemeriksanaan, Khaira tersenyum dan tangannya beberapa kali mengusapi perutnya itu, “Adik bayi sehat-sehat di dalam perut Mama dulu ya. Sudah setengah jalan Sayang … nanti kalau sudah tiba waktunya, kita akan bertemu. Mama dan Papa akan gendong-gendong adik.” ucap wanita itu dengan begitu lembut.
Radit pun tersenyum, “Sayang, karena baby nya cowok, kita harus beli baju-baju dan perlengkapan untuk dia loh. Kapan kita mau mempersiapkan dan menyambut kelahiran babynya?” tanya Radti kepada istrinya itu.
“Nanti aku pilihin dulu saja yang baju-baju bayinya Syilla, Mas … kan banyak juga tuh warna-warna yang netral, nanti yang pink aku pisahin deh. Manusia aneh ya Mas, padahal warna itu netral, tetapi manusia yang mengkotak-kotakannya kalau warna pink untuk cewek dan warna biru untuk cowok.” ucapnya sembari terkekeh geli.
“Benar Sayang … semua warna itu general ya, tetapi manusianya yang mengkategorikan kalau cewek harus memakai pink, dan cowok memakai warna biru.” sahut suaminya itu. “Ya sudah, nanti biar ditemenin Bi Tinah buat memilih baju-baju bayinya Syilla, Sayang … aku juga harus siapkan kamar lagi untuk adik bayi nanti.”
“Mas, nanti kalau lahir adik bayinya bobok sama kita aja ya? Kayak Syilla dulu yang menaruh box bayi di sebelah tempat tidur kita saja, jadi kalau bayinya nangis kan cepat. Gimana?” tanya Khaira kepada suaminya itu.
Radit pun mengangguk, “Iya Mama Khaira Sayang … aku sudah bisa menebaknya, tetapi tetap sediakan kamar untuk si bayi ya. Sekarang tinggal fokus ke kehamilan kamu dan Syilla, urusan rumah dan dapur kan sudah ada Bi Tinah.” ucap pria itu dengan perasaan lega sesungguhnya. Lega karena istrinya bisa lebih fokus dengan kehamilan dan Arsyilla saja, tidak perlu terlalu capek dengan urusan di dapur.
“Juga, aku bisa fokus ke kamu. Masak aku cuma ngurusin bayi dan Arsyilla saja sih … Papanya juga diurusin, jangan sampai Papanya ini terbengkalai, nanti malahan uring-uringan.” ucapnya sembari mencubit lengan suaminya itu.
Mendengar ucapan istrinya, Radit pun tertawa, “Betul banget Sayang … Papanya anak-anak ini butuh perawatan khusus dan bisa melakukannya cuma kamu.” sahutnya dengan mengerlingkan satu matanya kepada istrinya itu.
“Genit deh … Papa genit. Nak, besok kamu kan cowok, jangan genit-genit kayak Papa ya.” ucap Khaira yang berbicara kepada suaminya itu.
Sontak Radit pun tergelak dalam tawa mendengar pembicaraan istri dan bayinya yang masih berada di dalam kandungan itu.
__ADS_1