
Dengan masih mendekap erat tubuh Khaira, Radit seolah menyalurkan kehangatan tubuhnya untuk melindungi tubuh kecil Khaira dari terpaan angin musim dingin.
Bukan musim dingin yang membuat Khaira membeku, justru dekapan Radit yang membuat Khaira membeku di tempat.
Khaira seolah terbatuk. "Hem-hem."
Radit justru makin mengeratkan dekapannya. "Kenapa batuk? Hmm."
Belum Khaira sempat menjawab tiba-tiba buliran-buliran kecil berwarna putih berjatuhan dari langit.
Salju!
Satu tangan Khaira terulur ke depan, merasakan salju pertama di hidupnya. Momen berharga baginya melihat dan merasakan salju turun untuk pertama kalinya.
"Salju, Khai..." ucap Radit sembari mengusapkan dagunya yang menumpu di punduk Khaira.
"Hem, iya." jawabnya singkat sembari tangannya masih terulur merasakan setiap salju yang berjatuhan di telapak tangannya yang telanjang.
"Jangan begitu tangannya, merah telapak tangan kamu kedinginan terkena salju." ucapnya sembari memperingatkan.
Khaira tak bergeming, ia masih mengulurkan tangannya dan merasakan salju di telapak tangannya.
"Indah banget ya Mas." ucapnya sembari tersenyum.
Satu tangan Radit meraih tangan Khaira yang sedang terulur merasai salju yang sedang turun.
"Kamu lebih dari indah, Khai."
Kini bukan hanya telapak tangan Khaira yang merah lantaran kedinginan merasai salju yang turun. Wajah Khaira pun memerah seketika mendengar ucapan Radit.
Saking malunya, senyuman di wajah Khaira pun tiba-tiba terbenam begitu saja. Hanya malu dan kikuk yang ia rasakan sekarang ini.
"Khaira..." Radit memanggil dengan suaranya yang terdengar begitu lembut di telinga Khaira.
"Hmm. Apa mas?" jawabnya.
"Gak papa. Aku seneng aja manggil nama kamu, deket sama kamu seperti ini. Aku mensyukuri setiap moment bersama kamu seperti ini. Demi kamu, aku rela meninggalkan semuanya, termasuk pekerjaanku." ucapnya sembari menghirupi aroma rambut Khaira yang begitu wangi.
__ADS_1
"Kamu berlebihan Mas, sebenarnya tak perlu juga sampai segitu. Di saat banyak orang berlomba mencari pekerjaan, kamu yang sudah punya pekerjaan dan penghasilan tetap justru melepasnya begitu saja." jawab Khaira.
"Aku mau melepaskan semuanya asal bisa mendapatkanmu kembali. Kamu pusat hidupku, pusat hatiku, pusat duniaku. Kamu seperti matahari bagiku, dan aku akan selalu mengorbit padamu." Radit sungguh-sungguh mengucapkan perkataannya.
"Tolong buktikan ucapanmu ya Mas, aku perlu bukti itu. Jika suatu saat kamu ingkar bagaimana? Jika cinta lamamu kembali lagi bagaimana?" tanya Khaira.
"Itu semua tak akan mengalihkan cintaku padamu. Aku sudah jatuh cinta padamu, dan aku akan buktikan itu. Dengan hidup bersamamu seperti ini, aku harap semakin bisa meyakinkanmu."
Khaira sedikit menganggukkan kepalanya, lalu ia terpikir untuk mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Tau enggak Mas, ada beberapa tradisi orang-orang merayakan salju pertama." ucap Khaira.
"Apa aja tradisinya?"
"Macem-macem sih Mas. Di Swedia ada satu daerah bernama Kiruna, saat musim salju warga di sana memahat es lalu membuat Kiruna Show Festival. Di China saat musim dingin tiba keluarga akan membuat onde-onde dan membuat acara minum bersama. Di Korea Selatan saat menyambut musim salju para ibu akan membuat Kimchi bersama. Seru ya, tiap negara punya perayaan khusus dan unik menyambut musim salju." ceritanya dengan mata yang menerawang ke depan, melihat setiap salju yang turun hingga membuat jalanan dan gedung-gedung di sekitarnya menjadi putih lantaran tertutup serpihan salju.
Radit mendengarkan cerita Khaira, dia tak menyangka istrinya ini memiliki banyak pengetahuan. Tidak salah jika Khaira memiliki ratusan buku di rumahnya, pastilah semua pengetahuan itu Khaira dapatkan dari membaca buku.
"Kamu memang pintar. Istrinya siapa sih? Kalau kita berdua menyambut salju pertama dengan berpelukan seperti ini ya. Bersyukur banget pertama kali aku melihat salju dalam hidupku, dan itu bersama kamu..." Niatnya mencoba menggoda, namun dalam hatinya Radit sangat bersyukur, ia melihat salju pertama dalam hidupnya dan itu bersama Khaira.
Radit tergelak tertawa, "Aww... Sakit tau." Sembari tangannya memegangi perutnya yang terkena sodokan siku tangan Khaira.
"Salah sendiri, modus dan godain melulu. Ya udah masuk yuk, Mas... Lama-lama dingin di sini."
Akhirnya Radit dan Khaira kembali masuk ke dalam. Khaira memilih duduk di lantai, menyelonjorkan kakinya. Sementara Radit mengikuti Khaira duduk di lantai.
"Kenapa enggak duduk di sofa aja? Dingin tau."
"Bentar Mas, kakiku pegel."
"Mau aku pijitin." tawarnya sembari melihat wajah Khaira.
"Jangan. Gak usah Mas." tolaknya sehalus mungkin, supaya tidak menyakiti perasaan suaminya itu.
"Ya udah deh." Radit pun menggeser duduknya.
Tidak lama kemudian, pria itu berdiri lalu mengambil sesuatu dari tas ranselnya.
__ADS_1
"Lihat foto ini deh." Radit menunjukkan beberapa foto yang ia ambil dari tas ransel.
"Foto? Foto siapa?" tanya Khaira sebelum menerima foto-foto itu dari tangan Radit.
"Coba lihat deh."
Khaira menerima foto-foto itu, lalu wajahnya tersenyum mengamati setiap foto satu per satu.
"Foto masa kecil kita berdua. Lucu banget ya." ucap Radit sembari duduk di sebelah Khaira.
"Hmm, iya. Kamu lucu nih Mas." Khaira menunjuk pada foto yang memperlihatkan keluarga Ammar dan Wibisono di Museum Jogja Kembali.
"Kamu juga lucu, cantik deh. Adeknya sapa dulu." celetuk Radit sambil terkekeh geli.
"Adek? Aku gak punya kakak loh." Sahutnya sembari cemberut.
"Adek kesayangannya Mas Adit dong, Aira kan adeknya Mas Adit kan..." Jawabnya sembari mengerlingkan matanya.
"Ya udah, berarti sekarang kita kakak - adek ya. " ucap Khaira serius.
"Enggak dong, sekarang kamu istriku dong. Cuma dalam praktiknya kita bisa menjadi berbagai macam peran kan dalam hidup rumah tangga kita ini. Kita bisa menjadi suami - istri, kakak - adek, sahabat, bahkan nanti menjadi ayah dan ibu untuk anak-anak kita kelak." Radit menjeda sejenak ucapannya. "Dan, kamu satu-satunya buat aku, Khaira."
Khaira mendengarkan setiap perkataan Radit. Entah mengapa sekian hari hidup bersama dengan pria itu, mendengar cerita-ceritanya, sedikit demi sedikit es balok di hatinya perlahan mulai mencair.
Sejatinya memang seperti itulah pasangan suami istri dalam pernikahan. Peran suami dan istri bisa berganti dengan kakak dan adik, sahabat yang bisa berbagi cerita dengan pasangan kita, dan menjadi orang tua bagi anak-anak kita kelak.
"Khai, ada satu foto lagi nih. Ini foto paling lucu di antara foto yang itu." lagi Radit berusaha menggoda tetapi ia enggan menunjukkan foto itu kepada Khaira.
"Foto apa sih Mas? Lihat dong." Khaira berusaha meraih tangan Radit yang sedang memegang foto itu.
"Mas, pinjem dong. Foto apa sih?" Khaira masih berusaha meraih foto yang masih dipegang Radit. Sementara pria itu justru tertawa dan mengangkat tinggi-tinggi foto itu dengan tangannya.
"Gak boleh. Cuma aku yang boleh lihat foto ini."
Merasa jengah akhirnya Khaira justru mencoba menggelitik Radit. Jari-jari Khaira menyerang titik geli di perut Radit yang membuat pria itu kelimpungan. Radit terkekeh geli dan kini ia berdiri. Merasa kurang tinggi, Khaira pun menaiki sofa ingin merebut foto itu dari tangan Radit. Khaira yang fokus dengan foto yang dipegang Radit tidak menyadari bahwa salah satu kakinya tidak menginjak sofa dengan benar. Badan Khaira rasanya terhuyung, ia merasa seperti akan jatuh dari sofa itu.
Khaira berteriak tertahan, menutup matanya, ketakutan tiba-tiba menyerangnya berharap dirinya tidak terhuyung hingga akhirnya jatuh ke lantai.
__ADS_1