
Keesokan paginya, masih berada di kediaman Ayah Wibi dan Bunda Ranti. Khaira dan Radit yang terbiasa bangun lebih dulu, karena couvade syndrom yang dialami oleh suaminya masih belum reda. Beberapa minggu terakhir, pagi-pagi buta selalu dihebohkan dengan Radit yang selalu mual dan muntah. Untungnya Khaira tidak tinggal diam. Dia pun ikut terbangun dan membantu suaminya itu, sekadar memijit tengkuk, mengusapi punggungnya atau pun memberikan minyak kayu putih di bagian perut suaminya.
Lantaran berada di rumah mertuanya, usai membantu suaminya dari morning sickness-nya, Khaira segera turun ke bawah guna membantu Mertuanya menyiapkan sarapan.
"Pagi Bunda ...." sapanya kepada Bunda Ranti yang sudah terlebih dahulu berada di dapur.
"Pagi Khai ... kok masih jam segini kamu udah bangun? Sana, istirahat saja. Biar Bunda yang siapkan sarapannya." Bunda Ranti menyuruh menantunya itu untuk kembali beristirahat.
Sebab Bunda Ranti sangat tahu, menantunya memang rajin. Bahkan sejak dia tinggal satu atap bersamanya, Khaira adalah menantu yang rajin. Akan tetapi, mengingat kondisi Khaira yang sedang hamil muda, Bunda Ranti ingin menantunya bisa beristirahat.
Khaira justru menggelengkan kepala dan mendekati Bunda Ranti. "Dari semalam sudah istirahat Bunda. Biar Khaira bantuin, mau bikin apa Bunda?" tanya ingin membuat sarapan apa kepada Bundanya.
"Yakin? Pokoknya jangan sampai kecapean Sayang. Kamu masih hamil muda, dijaga dulu. Setidaknya hingga usia 4 bulan saat udah plasentanya kan bayinya sudah bisa lebih kuat kan." ucap Bunda Ranti bertujuan mengingatkan usia kehamilan Khaira yang masih sangat muda sebaiknya memang tidak boleh terlalu capek.
"Iya Bunda ... Khaira akan berhati-hati, lagian ada Mas Radit yang selalu siaga." ucapnya sembari sedikit tertawa, tetapi menyebut nama suaminya, wajah wanita itu seketika merona merah. Mengingat setiap hal yang dilakukan suaminya saja membuat wajahnya berseri-seri.
"Syukurlah kalau Radit bisa menjadi suami siaga...." ucap Bunda Ranti dengan perasaan lega.
Akan tetapi, saat Khaira dan Bunda Ranti masih menyiapkan sarapan di dapur sembari mengobrol, terdengar bel pintu rumah itu berbunyi. Khaira nampak kaget, siapa yang bertamu ke rumah mertua pagi-pagi begini.
"Siapa Bunda?" tanyanya yang nampak kaget.
__ADS_1
"Tidak tahu, Khai ... bisa minta tolong bukakan pintu depan?" ucapnya yang meminta tolong kepada Khaira untuk bisa membukakan pintu depan.
Memberikan anggukan, kemudian Khaira berjalan ke depan untuk membukakan pintu. Tidak dia sangka, di hadapannya kini adalah Fanny. Untuk apa wanita itu kembali mengunjungi rumah Bunda Ranti pagi-pagi?
Khaira tersenyum kecut harus melihat wajah wanita ganjen itu pagi ini. "Ada apa?" tanyanya dengan singkat.
Fanny justru membalas dengan senyuman lebar. "Ah, ini ... aku dimintai tolong sama Mama buat anterin sarapan ke sini." ucapnya sembari menenteng paper bag yang di dalamnya ada menu sarapan.
Khaira mengernyitkan keningnya, dalam hatinya dia berpikir untuk apa Namanya Fanny mengirimkan sarapan untuk Bunda Ranti, repot-repot sekali.
"Siapa Khai?" terdengar suara teriakan Bunda Ranti.
Belum sempat Khaira menjawab, Fanny justru menerobos masuk dan menemui Bunda Ranti yang tengah berjalan ke ruangan depan. "Fanny, Tante... Ini disuruh Mama buat anterin sarapan."
Sementara Khaira memilih melanjutkan aktivitasnya di dapur. Gadis itu mulai menyeduh tes dan menyiapkannya menu sarapan lainnya.
Hingga akhirnya Ayah Wibi, Arsyilla, dan Radit datang menuju meja makan. Rupanya Fanny juga turut bergabung dengan mereka, gadis itu mencari cara untuk bisa mengikuti sarapan mereka. Dan tersenyum licik saat mau tidak mau akhirnya Bunda Ranti mengizinkannya.
Suasana di meja makan pun terasa dingin, tidak ada yang berbicara. Bahkan Arsyilla yang masih kecil pun juga turut diam. Anak kecil itu sesekali melihat wajah Papa dan Mamanya, hingga kemudian dia memilih menunduk. Sementara Ayah Wibi memilih menuntaskan sarapannya lebih cepat karena ada pekerjaan yang harus dia kerjakan.
Saat tangan Radit bergerak guna mengambil selai cokelat di hadapannya, tangan Fanny turut bergerak, hingga kedua tangan mereka bersentuhan. Melihat tangan suaminya dan tangan Fanny yang bersentuhan, kedua mata Khaira pun membola seketika. Pagi-pagi dirinya sudah dibuat sebal.
__ADS_1
Dengan cepat Radit menarik kembali tangannya dan mengambil selai yang lain. Sementara Khaira buru-buru menyeka mulutnya dengan tissue lalu meminta izin kepada Bunda Ranti untuk masuk ke dalam kamar.
Di meja makan itu hanya menyisakan Radit, Arsyilla, Bunda Ranti, dan Fanny. Suasana begitu hening, hingga Radit juga memilih menyelesaikan sarapannya. Pria itu lebih memilih mengajak Arsyilla bermain di ruangan bermain di atas yang berada di sebelah kamarnya.
Merasa bahwa kedatangan Fanny tidak memberi dampak yang baik bagi hubungan rumah tangga anaknya, kali ini dengan tegas Bunda Ranti berbicara kepada Fanny.
"Fan, Tante minta maaf sebelumnya. Tante rasa, sejak kemarin kedatangan Fanny di sini justru membuat kecanggungan di sini. Tante mohon, selanjutnya Fanny tidak perlu ke sini. Jika Mamamu ingin memberikan sesuatu atau Tante yang ingin memberikan sesuatu, lebih baik memakai ojek online untuk berkirim barang atau makanan saja. Maaf ya, lebih baik sekarang Fanny bisa segera pulang." ucap Bunda Ranti dengan sehalus mungkin.
Fanny justru tersenyum. "Tante enggak pengen punya menantu lagi, Fanny mau loh jadi istri keduanya Mas Radit."
Saat Fanny mengucapkan itu, Khaira yang baru menuju dapur mendengarnya. Tidak menyangka dia mendengar ucapan seorang wanita yang ingin menjadi Istri kedua suaminya.
Bunda Ranti kemudian berdiri. "Sorry Fan, lebih baik kamu pergi sekarang. Sampaikan terima kasih untuk Mamamu. Dan, menantu Tante selamanya hanya satu, cuma Khaira." Ucap Bunda Ranti dengan tegas.
Sementara Khaira yang sebenarnya ingin turun ke dapur untuk mengambil air minum mengurungkan niat. Gadis itu memilih kembali ke kamar dengan berlinangan air mata.
Usai kepergian Fanny, Bunda Ranti segera menyusul Khaira ke dalam kamarnya.
"Khai, apa yang kamu dengar jangan dimasukkan hati. Bunda enggak akan menanggapinya. Lagipula kamu pun mendengar bahwa selamanya menantu Bunda hanya ada satu, dan itu adalah kamu." ucap Bunda Ranti memberikan penjelasan dan meyakinkan Khaira bahwa selamanya hanya ada seorang menantu yaitu Khaira.
Sementara Khaira yang mulai terisak pun, memilih memeluk mertuanya itu. "Namun yang dia ucapkan menyakiti Khaira, Bunda ... bagaimana mungkin dia bisa berkata mau menjadi istri kedua Mas Radit." Khaira berkata dengan kesakitan dan juga emosi yang memuncak.
__ADS_1
Pertama kalinya, dia menunjukkan bagaimana perasaannya ketika merasakan sakit di hati di hadapan Bunda Ranti.