Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Awal Mula Jatuh Cinta


__ADS_3

Wanita memang adalah makhluk yang membutuhkan pengakuan dan pernyataan. Pun demikian dengan Khaira saat ini, hatinya terasa sesak saat tadi melihat Felly, namun mendengar ucapan Felly bahwa beberapa bulan setelah kemelut pernikahan mereka, Radit mulai jatuh hati padanya. Benarkah itu?


"Mas, sejak kapan kau mencintaiku?" pertanyaan itu meluncur dari mulut Khaira.


Sungguh pria itu tak menyangka bahwa Khaira akan menanyakan hal itu kepadanya. Pertanyaan yang membuat jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba menunduk melihat wajah istrinya, tetapi hanya helaian rambutnya saja yang terlihat.


Khaira mendongakkan kepalanya. "Sejak kapan kau mencintaiku, Mas? Jangan dijawab jika itu kamu bilang sejak kita kecil, karena itu tidak benar. Faktanya setelah dewasa pun kamu memacari wanita lain?"


Radit menghela nafasnya, matanya menerawang dan mencoba mengingat kembali saat ketika ia jatuh cinta pada istrinya.


"Sejak kita berdua menginap di rumah Bunda Ranti dan Ayah Wibi pertama kali. Itu pertama kali aku jatuh cinta padamu. Aku ingat jelas bagaimana untuk pertama kalinya, kita berada di satu kamar. Saat itu aku memang hanya tengkurap di tempat tidur dengan memainkan handphoneku, tetapi melihat wajahmu yang serius saat itu entah rasanya hatiku berdesir hebat. Malam yang kita lalui bersama, kita tidur saling berpegangan tangan tanpa sepengetahuan kita. Lalu, pagi kamu memasak Timlo Solo. Sejak saat itu, aku mencintaimu. Cuma aku yang pengecut, aku tidak berani mengatakannya." ucap Radit dengan sungguh-sungguh.


"Kenapa hanya karena itu kamu bisa jatuh cinta?" tanya Khaira yang nampak ragu.


Radit mendaratkan kecupan sayang di kening Khaira. "Pernahkah kamu mendengar bahwa manusia hanya membutuhkan waktu 90 detik untuk jatuh cinta? Itulah yang aku alami. Kamu punya banyak pesona yang membuatku jatuh cinta padamu saat kita bersama di rumah Bunda saat itu."


Hening sejenak, Radit menjeda ucapannya. "Sekarang, ku mohon. Jangan bersedih lagi. Kasihan buah hati kita, kalau Mamanya sedih terus." ucap pria itu dengan tangannya mengusapi lengan istrinya.


"Lalu, kamu cinta enggak sama aku?" lagi-lagi Khaira bertanya yang sekali lagi membuat jantung Radit berdegup begitu kencang.


"Tentu saja. Apa kamu meragukanku?" tanya Radit kepada istrinya.


"Bukan ragu. Aku hanya ingin meminta kejelasan saja." ucap Khaira yang justru menangis di dada suaminya.


"Apa ucapan dia tadi mempengaruhimu?" tanya Radit perlahan.

__ADS_1


Khaira menggelengkan kepalanya. "Tidak. Hanya saja aku merasa, jika sebelum kemelut itu terjadi, tidak pernahkah kau mencoba memperjuangkanku jauh sebelum aku lari, pergi hingga ke Manchester?"


"Aku pernah datang ke rumah untuk menemuimu. Aku menunggu sekian lama di depan pintu gerbang. Itu kulakukan. Sayangnya, kita memang tidak bertemu. Puncaknya aku justru bahagia lepas darinya dan aku menderita karena kepergianmu. Kamu bisa bertanya semua pada Dimas, karena dia adalah saksiku." ucap Radit dengan sungguh-sungguh.


"Bisakah kita melupakan semua ini? Meninggalkan semua yang ada di belakang kita dan sama-sama menatap masa depan kita." lagi pria itu berkata dengan kesungguhan hati, ia berharap bahwa Khaira akan mengerti.


"Mas...." dipanggilnya lagi suaminya itu.


"Hmm, apa?" jawab Radit dengan cepat.


"Benar aku adalah wanita yang pertama bagimu?"


Radit menganggukkan kepalanya, dagunya ia gerakkan di atas puncak kepala istrinya. "Iya. Cuma kamu."


"Aku mencintaimu, Mas..." ucapnya dengan berderai air mata. Hingga buliran air mata itu juga membasahi wajah Radit.


Pengakuan cinta yang begitu tulus dari Khaira terasa hingga ke dalam jantung dan hatinya. Istrinya bukan tipe orang yang selalu mengucapkan ucapan cinta, tetapi Radit sangat tahu bahwa Khaira mencintainya.


Radit nampak mengusapi wajah istrinya yang basah itu. Mendaratkan satu kecupan di kening istrinya. "Aku juga mencintaimu, Sayang... Semua sudah berakhir bukan? Adakah yang masih mengganggu pikiranmu. Kita bisa bicarakan semua, tetapi alangkah baiknya jangan membahas masa lalu. Jika kamu menangis sedih, aku yang lebih kesakitan. Dan ingat, kondisi emosional Bumil berpengaruh kepada janin yang dikandungnya. Kalian berdua prioritasku. Kamu dan anak kita, aku akan menjaga kalian berdua. Memastikan kalian berdua aman."


Khaira menganggukkan kepalanya. "Maafkan aku, karena tadi aku begitu terbawa emosi. Aku takut kehilanganmu lagi, Mas. Sudah cukup pengalaman buruk di masa lalu, aku tidak ingin mengalaminya lagi." Khaira mengakui tidak ingin mengalami kejadian buruk di masa lalu, semua wanita tidak ingin menerima cinta separuh hati dari suaminya. Semua wanita ingin dijadikan satu-satunya ratu di hati dan hidup suaminya.


Radit masih mengusapi wajah istrinya. "Iya, aku juga tidak ingin kehilanganmu lagi. Jangan berpikir untuk lari, jangan berpikir yang negatif. Karena kita akan selalu bersama seperti ini. Kita menua bersama, Sayang. Dan aku mau hanya kamu yang menemaniku."


Kini pria itu mengungkung istrinya di bawahnya. Radit membalas ciuman Khaira sebelumnya. Merasai bibir yang selalu ia rindukan. Bibirnya yang selembut cotton candy dan semanis serpihan glukosa itu. ******* bibirnya, hingga rasanya jantung Khaira berhenti berdetak.

__ADS_1


Ujung jari Radit bergerak di sisi lehernya yang membuat Khaira meremang seketika. Dalam gerakan yang membuat perutnya berputar-putar. Khaira hanya bisa memejamkan mata dan hanyut dalam ciuman dalam bersama suaminya itu.


Pria itu mengecup ujung bibir istrinya, menyapu bibir ranum dan tipis itu dengan lidahnya. Tidak berlama-lama, ciuman itu berpindah ke dua sisi wajah istrinya. Memberikan kecupan-kecupan basah di sana. Hingga akhirnya gerakan itu semakin turun di leher istrinya. Menghisap area leher itu hingga meninggalkan tanda layaknya lukisan abstrak di sana.


Nafas keduanya berderu, saat Radit berikan gigitan kecil di daun telinga Khaira.


"Khaira... Khaira..."


Di sela-sela cumbuannya itu, Radit berusaha menjaga kewarasannya. Hanya demi memastikan diri untuk mengungkapkan pengakuan penting kepada istrinya.


"Aku mencintaimu, Khaira... Sangat mencintaimu. Jangan Khaira, kumohon. Jangan ragukan perasaanku. Aku mencintaimu."


Pengakuan yang justru membuat Khaira meneteskan air mata.


Dengan cepat, pria itu mengecupi mata basah milik istrinya. Membiarkan perasaannya menyentuh setiap inci epidermis kulit wajah istrinya.


"Sssttt... Ku mohon jangan menangis. Sudah banyak kamu menangis." ucap pria itu dengan lirih.


Khaira membuka matanya dan mendapati wajah suaminya tepat di depan wajahnya. "Aku juga mencintaimu, Mas Radit..."


Kedua bibir mereka saling bertemu layaknya sebuah segel yang mempertegas perasaan keduanya saling mencintai, saling memiliki, bahkan takut kehilangan. Dalam ciuman yang amat berirama, penuh dengan perasaan.


Inilah isyarat nyata dari bentuk sebuah cinta.


Sesuatu yang membuat sepasang suami istri itu tak lagi peduli dengan apa yang terjadi di belakang mereka. Ya, mereka akan membiarkan masa lalu di belakang mereka dan meniti masa depan dengan saling mengisi tangki cinta mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2