Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Bedtime Stories


__ADS_3

Melanjutkan obrolan mereka berdua malam itu, Radit pun kemudian teringat dengan pengalamannya bekerja di saat dia terbilang masih muda. Perlahan, dia menatap wajah istrinya itu, "dulu aku pernah bekerja di sebuah perusahaan besar Sayang, sebelum aku bekerja di Bank dan kemudian menikah denganmu," ucap pria itu memulai ceritanya.


mendengar bahwa suaminya sedang berbicara serius, Khaira lantas duduk supaya bisa memandang wajah suaminya, "terus Mas? Gimana?" Tanyanya kepada suaminya.


"Waktu aku masih muda banget dulu, biasa kan kalau masih muda, belum lama lulus kuliah itu semangatnya tinggi. Waktu itu aku bekerja di perusahaan konstruksi besar namanya Jaya Corp. Nah, saat itu aku dipercaya menjadi Ketua Tim untuk menguak kasus dugaan korupsi yang dilakukan oleh anak kandung CEO nya," ceritanya lagi.


Akan tetapi sebelum Radit melanjutkan ceritanya, Khaira justru terlebih dahulu membuka suaranya, "Wah, kamu keren dong Mas ... masih muda sudah dipercaya untuk menguak kasus dugaan korupsi, tapi susah enggak Mas?" Tanyanya kepada suaminya itu.


Radit kemudian tersenyum melihat wajah istrinya yang terlihat excited dengan ceritanya, ekspresinya begitu mirip dengan Arsyilla sewaktu dibacakan buku dongeng anak-anak. Radit pun memegangi kedua tangan istrinya, "ya itu dulu, Sayang ... karena berhasil membongkar kasus dugaan suap dan penggelembungan dana perusahaan, namaku jadi terkenal di seluruh perusahaan. Ya, banyak orang yang menceritakan namaku, katanya aku masih muda sudah bisa membongkar kasus korupsi di perusahaan. Menurutmu apa perasaanku saat itu?" Kali ini justru Radit yang meminta istrinya untuk menebak bagaimana perasaannya saat itu.


Khaira nampak melihat terlebih dahulu wajah suaminya, berusaha mencari jawaban yang mungkin saja tercetak di dalam kedua bola matanya, "euhm, mungkin di satu sisi kamu senang karena berhasil membongkar kasus korupsi. Akan tetapi, di satu sisi kamu merasa terbebani karena pasti sejak saat itu, pimpinan dan mungkin rekan kerja jadi berekspektasi tinggi terhadap kamu. Jadi istilahnya, bekerja harus benar-benar bagus, terus kalau melakukan proses audit dinantikan banget temuannya." Khaira yang menjawab dengan menerka-nerka bagaimana perasaan suaminya saat itu.

__ADS_1


Radit pun mengangguk, "bener banget ... aku merasa puas dan yakin berarti kemampuanku sebagai Auditor bagus karena bisa mengungkap kasus korupsi, sampai menyeret dua tersangka ke penjara. Namun, usai itu jujur saja aku justru tertekan. Benar yang kamu ucapkan, Kepala SPI dan rekan kerja jadi berekspektasi tinggi kepadaku. Ekspektasi itu yang menuntutku untuk bekerja dengan sempurna. Akhirnya aku memilih resign dari perusahaan itu. Namun, tidak lama kemudian aku udah dapat pekerjaan juga sebagai Auditor di Bank Swasta saat itu terus ketemu kamu pertama kali di pernikahan kita itu." Pria itu mengenang kembali kisah perjalanan hidupnya yang dia bagikan bersama istrinya.


Khaira terus mendengarkan cerita dari suaminya itu, tanpa ingin menyela, dia hanya membuka indera pendengarannya lebar-lebar untuk bisa mendengar semua cerita dari suaminya itu. Khaira lantas mengisi sela-sela jari suaminya itu dengan jari tangannya. Saling menautkan jari selayaknya mereka saling mengisi satu sama lain.


Radit lantas tersenyum, "dari kisahku dulu, aku jadi belajar memang kalau seseorang menaruh ekspektasi tinggi kepada kita, justru kitanya yang terbebani. Dituntut harus bekerja sempurna, jangan sampai membuat kesalahan. Begitu juga denganmu Sayang, mungkin saja Kepala Prodi di kampusmu itu berekspektasi tinggi kepadamu. Sebab kamu masih muda, gelarmu lulusan dari Manchester of University, cara mengajarmu bagus, dan kamu tentu memiliki kompetensi sebagai pengajar yang baik. Aku cuma mau pesan, apa pun ekspektasi orang di luar sana, pokoknya kamu jangan sampai terbeban. Lakukan saja apa yang membuatmu suka dan nyaman."


Khaira pun menganggukkan kepalanya, "mungkin ya Mas ... mungkin saja Kepala Prodinya jadi berekspektasi tinggi ke aku. Padahal, aku sendiri masih harus banyak belajar. Sekarang justru waktuku banyak buat ngasuh Arsyilla daripada buat belajar atau menambah kompetensiku sebagai Dosen. Kurang lebih sih aku sama seperti kamu waktu muda dulu, senang ya kalau kita dinilai layak, tetapi mungkin suatu saat itu justru bisa menjadi beban."


Merasakan suaminya tengah memberinya nasihat, Khaira pun menganggukkan kepalanya dan kini dia bergeser guna bisa menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu, "bener Mas ... makasih ya buat nasihatnya. Seperti ini loh yang aku suka tiap kali ngobrol sama kamu, bukan hanya ceritaku kamu dengerin, tetapi juga kamu juga memberikan nasihat."


Radit tertawa dan melabuhkan ciumannya di kening istrinya itu, "bukan gitu juga Sayang ... aku cuma teringat dengan ceritaku dulu. Waktu aku masih muda dan banyak orang berekspektasi tinggi kepadaku. Hampir seperusahaan di Jaya Corp dulu tahu siapa Radit. Namun, semua itu justru membuatku tidak nyaman. Hal yang sama aku juga pengen terjadi pada Syilla besok. Kita sebagai orang tua jangan terlalu berekspektasi tinggi kepadanya. Biarkan dia mengejar mimpi dan cita-citanya sesuai minat, bakat, dan passionnya. Kalau orang tuanya berekspektasi tinggi dan berakhir dengan menekannya, kasihan dia Sayang," lagi ucapnya sembari merangkul bahu istrinya.

__ADS_1


"Setuju Mas ... bagiku, Arsyilla dan adiknya nanti berhasil. Mau jadi apa pun aku enggak masalah sih. Mau jadi Auditor seperti Papanya ya gak apa-apa, mau jadi Dosen seperti Mamanya juga gak apa-apa. Kita sebagai orang tua itu, membimbing dan mengarahkan mereka untuk mengejar mimpinya." Khaira berbicara dengan penuh keyakinan.


"Iya Sayang ... semua profesi itu mulia kok. Biarkan Arsyilla dan adiknya nanti meraih mimpinya sendiri. Sebagai orang tua, tidak dipungkiri kita memiliki mimpi buat anak-anak kita, tetapi biarlah mereka mengejar mimpi mereka sendiri," ucap Radit dengan terlihat begitu serius saat ini.


"Kamu juga Sayang ... kalau situasi dan kondisi sudah memungkinkan kamu sangat boleh untuk mengejar mimpimu. Ingatlah, suamimu ini akan terus mensupportmu," Sambungnya berbicara kepada Khaira.


Khaira menganggukkan kepalanya, hatinya terasa begitu hangat mendengar cerita dan nasihat dari suaminya tersebut. Terkadang memang ada waktu bahwa ekspektasi yang berlebihan membuat seseorang merasa tidak nyaman. Namun, saat kita berani melangkah dan melakukan apa yang kita senangi, justru itu yang membawa kelegaan dan kepuasan dalam hati.


"Makasih Mas ... wah, jadinya justru bedtime stories nih sama kamu. Diceritain kisahnya kamu yang baru aku tau. Rupanya suaminya ini memang ujung tombak SPI toh ternyata. Bangganya aku punya suami kayak kamu," puji Khaira secara tiba-tiba kepada suaminya itu.


Radit pun tergelak dalam tawa, "kamu bisa saja sih Sayang. Ya sudah, udah malam ... Yuk, bobok ... Aku peluk sepanjang malam ya. Love U My Lovely Wifey." tutupnya menutup ceritanya dan melabuhkan kecupan penuh kasih sayang di kening istrinya.

__ADS_1


__ADS_2