
Hari ini, sesuai kesepakatan bersama Radit dan Khaira akan mengunjungi Dokter kehamilan dan pilihan mereka tetap jatuh pada Dokter Indri.
Dokter Spesialis Obgyn itu sudah mengenal Khaira cukup lama. Selain penjelasan yang detail, Dokter Indri juga merupakan Dokter yang pro melahirkan normal. Selagi bisa melahirkan normal, Dokter Indri akan sabar mendukung Ibu yang akan melahirkan untuk melewati setiap proses pembukaan. Bagi Khaira dan Radit sendiri, menjalani kehamilan dan mendapat Dokter Obgyn terbaik sangat membantu mereka berdua.
Yang spesial kali ini, Radit dan Khaira tidak berkonsultasi hanya berdua saja. Melainkan pasangan muda itu membawa serta Arsyila juga. Tujuannya tentu supaya Arsyila siap menjadi seorang Kakak dengan dilibatkan selama kehamilan Mamanya. Mempersiapkannya menjadi Kakak sejak dini.
"Selamat sore Dokter ...." sapa Khaira dan Radit bersamaan.
Lantaran sudah mengenal cukup lama dan Dokter Indri tahu persis riwayat Khaira, maka Dokter itu berdiri dan memeluk Khaira.
"Halo Bu ... bertemu lagi." sapanya begitu hangat kepada Khaira.
Kemudian Dokter Indri tersenyum kepada anak kecil yang sudah pasti adalah anak dari Radit dan Khaira. "Halo Anak manis ... siapa namanya?"
"Halo Dokter ... namaku Arsyila." ucapnya memperkenalkan diri sembari melambaikan tangannya.
"Wah ... namanya cantik ya, Arsyila. Yuk, silakan duduk."
Setelah mereka bertiga duduk, Dokter Indri pun lantas bertanya kepada Radit dan Khaira.
"Ada yang bisa saya bantu Bu? Atau ingin menyampaikan kabar bahagia?" tanya Sang Dokter yang juga menanti kabar yang dibawa dari pasiennya cukup lama.
__ADS_1
Khaira dan Radit justru saling melempar pandangan dan tersenyum. "Ya, ada kabar bahagia, Dok...." kali ini Radit lah yang membuka sessi pemeriksaan dan konsultasi sore itu.
"Istrinya saya positif hamil, Dok ... beberapa hari lalu sudah melakukan tes, hasilnya dua garis." ucap Papa Muda itu dengan tersenyum lebar. Kehamilan Istrinya memberi kebahagiaan tersendiri baginya.
Menanggapi berita yang disampaikan oleh Radit, Dokter Indri pun menganggukkan kepala seraya tersenyum. "Alhamdulillah ... saya turut berbahagia. Benar kan Bu Khaira, kuretase beberapa tahun yang lalu tidak menutup pintu untuk hamil lagi. Justru setelah kuretase rahim Ibu lebih bersih. Puji Syukur, akhirnya sudah kembali hamil ya Bu." ucap Dokter Indri yang masih ingat dengan keresahan Khaira perihal peluang untuk memiliki momongan lagi pasca kuretase.
"Alhamdulillah juga Dok ... saya pun tidak menyangka sebenarnya bisa hamil lagi. Di saat Arsyila sudah request minta Adik, pas Tuhan jawab dan memberikan anugerahnya di dalam sini." ucap Khaira sembari mengelus perutnya yang masih rata.
"Baik jika begitu, kita cek usai kehamilannya ya Bu."
Dokter Indri mempersilakan untuk berbaring di atas brankar, kemudian mengangkat kemeja yang dia kemudian. Ultrasonografi Gell sudah diberikan di atas perut Khaira, hingga menghadirkan sensasi dingin di sana. Kemudian Dokter Indri mulai menggerakkan alat USG di atas permukaan perut Khaira. Menggerakkannya berputar guna mengetahui posisi janin.
Begitu alat USG sudah bisa mendeteksi janin, terlihatlah di dalam layar, benar bahwa janin tengah tumbuh di sana.
Seperti biasanya, terkait penjelasan kehamilan dan janin, Dokter Indri adalah sosok yang sangat detail. Informasi yang begitu lengkap ini jugalah yang membuat Khaira dan Radit mantap untuk kembali dilayani oleh Dokter Indri.
Khaira nampak menganggukkan kepala dan mendengar penjelasan dari Dokter Indri.
"Dijaga baik-baik ya Bu ... karena ukuran janin masih sangat kecil. Nanti saya akan berikan obat untuk penguat rahim mengingat riwayat Ibu pernah keguguran. Usahakan jangan terlalu kecapean dan stress." ucap Dokter Indri yang memberikan saran kepada Khaira supaya tidak kecapean dan juga stress.
Usai pemeriksaan dan sebuah print hasil USG diberikan, pasangan muda itu kembali melanjutkan konsultasi dengan Dokter Indri.
__ADS_1
"Sejauh ini apa ada keluhan Bu?" tanya Dokter Indri kepada Khaira.
Dengan cepat Khaira menggelengkan kepalanya. "Kalau saya bersyukurnya sehat-sehat saja Dok ... rasanya tidak ada yang berubah dalam diri saya. Namun, justru suami saya yang mengalami morning sickness setiap pagi." ucap Khaira sembari menatap wajah suaminya.
Mendengar cerita dari Khaira bahwa suaminyalah yang mengalami morning sickness, Dokter Indri justru tersenyum.
"Itu namanya Couvade Syndrom atau kehamilan simpatik ya Bu ... biasanya bisa dialami kaum Bapak selama Trimester awal, tetapi banyak juga yang gejalanya kian parah menjelang Trimester akhir. Gejala Couvade Syndrom bukan sebatas mual dan muntah di pagi hari, tetapi bisa juga sakit perut, kecemasan berlebih, kram pada kaki, perut kembung, perubahan berat badan, bahkan perubahan hasrat melakukan hubungan suami istri. Untuk mengatasinya bisa melakukan teknik relaksasi, mengonsumsi obat herbal saat terjadi mual atau perut kembung bisa menyeduh jahe, juga jika gejala berlanjut bisa konsultasi ke Dokter." penjelasan Dokter Indri yang begitu detail perihal Couvade Syndrom.
"Kenapa bisa terjadi kehamilan simpatik ya Dok?" kali ini nampak Radit yang bertanya kepada Dokter Indri.
"Secara penelitian memang belum ditemukan dengan pasti, Pak ... hanya saja para ilmuwan dan ahli psikologis meyakini bahwa rasa empati terhadap kehamilan pasangan kemudian membuat pria ikut merasakan kemunculan gejala." jawab Dokter Indri.
Radit pun kemudian berbisik di telinga istrinya itu. "Benar berarti Sayang ... aku terlalu berempati padamu."
Sementara Khaira justru diam dan kembali fokus pada penjelasan Dokter Indri.
Mengakhiri sessi konsultasi, Dokter Indri pun memberikan pertanyaan kepada Arsyila.
"Wah, Arsyila sudah mau menjadi Kakak ya? Seneng enggak saat ini di perut Mama ada adik bayinya?" tanyanya sembari menatap wajah Arsyila.
Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya. "Senang Dok ... Arsyila akan punya adik, punya teman bermain di rumah." jawabnya dengan kepolosan yang terlihat di dua bola matanya yang bening.
__ADS_1
"Adiknya disayang yah ... karena di dalam perut Mama ada babynya, jangan terlalu sering digendong Mama dulu ya Sayang ... belum kuat soalnya babynya. Kalau sudah ada plasenta, barulah babynya lebih kuat di dalam perutnya Mama." Ucap Dokter Indri yang juga menjelaskan dengan sederhana kepada Arsyila.
Dengan cepat Arsyila pun menganggukkan kepala. "Iya Dokter ... Syila mau menjadi Kakak yang baik." ucapnya dengan penuh harapan bahwa dirinya akan menjadi Kakak yang baik bagi adik bayinya nanti.