
Arsyila masih nampak menangis saat Khaira tengah menggendong bayi kecil yang bernama Medina itu.
Melihat Arsyila yang menangis sedih, Metta pun merasa kasihan. "Udah Khai, kasihan Arsyila ... nangisnya berasa sedih banget." ucap Metta sembari mengulurkan tangannya berniat menerima baby Medina dari gendongan tangan Khaira.
Perlahan, Khaira pun menyerahkan Medina kepada Metta. "Padahal masih pengen gendong, masoh keinget waktu Syila masih kecil dulu. Gak kerasa, dulu Syila sekecil ini dan sekarang udah bisa jalan anaknya tinggal ngomongnya aja yang belum lancar." ucap Khaira sembari menyerahkan Medina kepada Metta.
"Oh iya, si Baby manggil kalian apa, Ta?" tanya Khaira yang penasaran dengan panggilan untuk Metta dan Dimas sebagai orang tua baru.
"Manggilnya Ayah dan Bunda saja, Aunty Khaira ...." sahut Metta sembari tertawa.
Selepasnya Khaira lantas memangku Arsyila yang masih saja menangis. Rupanya Arsyila masih belum diam dan air matanya masih berlinang.
"Mama ... Mama ...." ucapan dari Arsyila yang memanggil Mamanya dengan bibir yang masih mengeluarkan isakan tangis.
Khaira pun lantas memeluk putri kecilnya itu dan menyeka air matanya, "Arsyila kenapa menangis?" tanya Khaira kepada Arsyila dengan perlahan.
Arsyila pun memeluk erat Khaira dan berkata. "Baby nya ...." ucapnya sembari menunjuk Baby kecil yang bernama Medina itu.
Sebagai seorang Mama, sudah pasti Khaira tahu bahwa putri kecilnya tengah cemburu. Maka dari itu, Khaira memeluk Arsyila sejenak dan mengusap punggung Arsyila dengan lembut. "Syila kenapa menangis? Mama cuma gendong adik bayinya sebentar." ucap Khaira perlahan.
Sontak saja Arsyila menggelengkan kepala. "No Mama ... No." sahut Arsyila dengan cepat.
"Mama tidak boleh menggendong baby ya Arsyila Sayang?" tanya Metta yang tersenyum melihat perilaku Arsyila.
Lagi-lagi Arsyila menggelengkan kepala. "Mamanya Syila ...."
__ADS_1
Khaira pun terkekeh geli melihat gaya lucu akibat kecemburuan seorang Arsyila hanya karena Mamanya sedang menggendong baby Medina.
"Cemburu dia, Khai ...." ucap Metta yang juga tertawa dengan perilaku Arsyila.
"Iya, benar. Biasa, Ta ... anak kecil ya seperti ini. Merasa tersaingi, merasa punya rival. Itu namanya Sibling Rivalry. Kadang nanti juga gitu antara Kakak dan Adiknya saling cemburu, berantem, menangis-nangis. Mungkin Arsyila baru di fase itu, menganggap saat Mamanya menggendong Medina, si baby jadi rivalnya. Mamanya harusnya megang dan gendong dia, sekarang gendong baby Medina. Merasa cemburu. Kadang kalau dipikir lucu banget ya anak kecil, tetapi memang tahapan perkembangannya seperti itu." penjelasan Khaira yang begitu detail kepada Metta.
Sahabatnya itu nampak menganggukkan kepala mendengar penjelasan Khaira. "Terus biar enggak cemburu gimana caranya Khai?" tanya Metta yang juga ingin tahu supaya bisa mengendalikan kecemburuan pada seorang anak kecil.
"Ya tidak bisa instans sih, Ta ... dikasih tahu pelan-pelan, terus-menerus. Karena dikasih tahu berulang-ulang itu lama-lama akan membentuk di otak dia, sehingga perlahan dia tahu kalau adik itu bukan rival, kalau adik itu harus disayang, kalau adik itu saudara. Memang enggak instans sih. Juga sering diajak main bersama, berantem pun boleh asal berantem sehat. Karena dari berantem anak-anak juga belajar untuk mengendalikan dirinya, mengenali emosinya, dan belajar berdamai dengan adik atau temannya dan dengan dirinya sendiri." jawab Khaira.
"Oh begitu ya ... tricky juga ya mengasuh anak-anak itu. Nanti kalau baby Medina udah agak besar, sering-sering playdate ya Khai ... biar mereka bisa jadi sahabat, kayak kita berdua. Karena anak gue cewek, gagal deh jadiin Arsyila sebagai menantu masa depan." Metta terkekeh geli.
Pun demikian dengan Khaira. "Gak papa Ta, tetapi nanti Syila dan Medina bisa saling berteman, saling bersahabat. Kita kan sudah seperti keluarga, karena keluarga tidak hanya berdasarkan pada darah. Iya kan?"
Metta mengangguk dan mengacak gemas puncak kepala Arsyila. "Benar sekali. Kamu beruntung Syila, Mama kamu itu orangnya baik, pinter, pengetahuannya luas. Arsyila nanti seperti Mama ya."
"Ke bawah yuk Khai, kasihan kaum Bapak pada di bawah sementara kita asyik ngobrol di sini." ajak Metta kepada Khaira untuk turun ke bawah.
Khaira lantas mengangguk dan berdiri, "Kamu sudah bisa jalan? Sudah bisa turun anak tangga? Kalau enggak bisa gak papa di sini saja." Khaira sedikit mencegah karena belum terlalu lama sahabatnya itu pasca melahirkan.
"Iya, sudah bisa kok ... tempo hari waktu teman-teman kerjanya Kak Dimas nengokin Medina, aku juga turun ke bawah. Kan, aku enggak ada jahitan di situ Khai ... jahitannya di perut." Metta terkekeh sembari memegang bagian perutnya.
"Oh bener-bener ... aku dulu kan dijahit banyak, Ta. Jadi, waktu itu Mas Radit enggak ngebolehin aku naik turun tangga. Aku cuma berada di dalam kamar aja, dia yang naik turun. Katanya biar sembuh dulu baru dibolehin naik turun tangga." cerita Khaira sembari mengingat bagaimana suaminya yang saat itu tidak memperbolehkannya naik dan turun tangga.
Metta pun tertawa. “Itu karena Mas Radit cinta banget sama
__ADS_1
lo. Perhatian banget. Jadi Istrinya tidak dibolehin naik turun tangga, takut
jahitannya kenapa-napa. Iya kan?”
Sontak Khaira pun tergelak. Wajahnya memerah setelah
mendengar ucapan Metta. Suaminya memang sangat mencintai dan memperhatikannya
sehingga terkadang banyak larangan yang diberikan dan Radit ingin memastikan
kesembuhan Khaira.
“Iya ... katanya jahitannya biar sembuh dulu. Dia kalau cerita dulu lihat aku melahirkan dia ngilu banget. Sakit banget katanya. Ya, aku tahu dia sebenarnya tidak tega melihatku menderita, tetapi bagaimana lagi orang melahirkan memang seperti itu. Namun selama ini, aku selalu bersyukur karena aku memiliki Mas Radit, dia yang selalu ada di sisiku mensupportku, bahkan sekarang kami juga kerja sama untuk mengasuh Arsyila.” Kali ini cerita keluar
dari Khaira, dia mengakui bahwa dia begitu bersyukur dengan keberadaan suaminya. Pria yang selalu dia cintai dan banggakan tentunya.
“Keliatan banget sih kalau Mas Radit sayang dan perhatian dengan kalian berdua. Semoga kami bisa mengikuti jejak kalian ya, apalagi aku masih awam banget. Aku terkadang takut untuk memegang Medina. Badannya masih kecil dan terlihat rapuh, aku takut.”
Khaira pun tersenyum. “Gak papa, pelan-pelan belajarnya. Nanti lama-lama sudah terbiasa makin jago. Aku awal-awal juga takut kok, tetapi aku belajar dan didukung Mas Radit akhirnya dari mulai melahirkan bisa megang Arsyila sendiri.”
Setelah lama mengobrol berdua, mereka pun memilih turun ke bawah. Metta menyerahkan Medina kepada Ayahnya, sementara Arsyila nampak
menangis begitu melihat Papanya.
“Papa ... babynya.” Ucap Arsyila yang kembali berderai air mata.
__ADS_1
“Tadi menangis saat Mama gendong baby Medina, Pa ... dikiranya Mamanya menjadi milik baby. Biasa anak kecil.” Cerita Khaira kepada suaminya yang saat itu menggendong Arsyila dan menyeka buliran air mata yang keluar dari mata bulat nan jernih milik putrinya.