Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Tinggal Bersamamu


__ADS_3

"Izinkan aku tinggal bersamamu ya Khai ..."


Khaira yang baru aja akan mencecap teh hangat nya, tiba-tiba ia menaruh kembali cangkirnya di kitchen island. Matanya membelalak sempurna. "Apa, tinggal bersama?"


Rasanya Khaira semakin tidak percaya dengan perkataan Radit. Mengapa tiba-tiba pria itu ingin tinggal bersama dengannya.


Radit menatap Khaira dengan wajah yang serius. "Iya. Izinkan aku tinggal bersamamu di sini. Aku datang kesini untuk mengejarmu. Karena itu, biarkan aku ikut tinggal bersamamu. Aku buktikan kalau aku sungguh-sungguh minta maaf, aku sudah berubah. Beri aku kesempatan kedua, Khai...."


"Kita bahas nanti saja Mas, aku buru-buru ke kampus." sahutnya cepat dan enggan berdiskusi pagi-pagi karena bisa membuat moodnya seharian rusak.


Oleh karena itu, Khaira lebih memilih menghabiskan sarapannya dan bergegas ke kampus pagi ini. Usai sarapan, Khaira mengambil jaket tebalnya dan sarung tangan lalu berangkat ke kampus.


"Berangkat dulu Mas..." Pamitnya sembari menatap wajah Radit sekilas dan berlalu pergi.


"Khai, tunggu. Mas anterin kamu ya, sekalian Mas mau ambil koper ke hotel dan balik lagi ke apartemenmu."


Khaira sontak memutar bola matanya, jengah dengan keras kepala suaminya itu. Khaira memilih tidak menjawab, dia memilih segera berangkat ke kampus. Sementara Radit dengan santai mengikuti Khaira.


Keluar dari apartemen, angin dingin terasa menusuk hingga ke dalam tulang.


"Biasanya musim dingin sekolah libur kan Khai? Kampusmu enggak libur ya?" tanyanya sembari berjalan di sisi Khaira.


"Ini minggu terakhir masuk, sehabis itu libur hingga awal tahun." jawab Khaira sembari matanya lurus menatap jalan di depannya.


"O, berarti benar ya kalau musim dingin sekolah libur."


"Iya, sekolah di luar negeri biasanya liburan di bulan Desember sampai awal Februari. Setelah itu full pembelajaran, paling ada jeda sejenak liburan musim semi bulan Maret/April nanti."


Radit menganggukkan kepala mendengarkan penjelasan Khaira. "Kamu nanti kuliah sampai jam berapa?"

__ADS_1


"Aku kuliah sampai jam 11. Hanya 3 jam saja."


"Hmm, baiklah."


Setelah itu keduanya terus berjalan tanpa saling berbicara. Khaira menatap lurus ke depan, sementara Radit sesekali mengedarkan pandangannya melihat sekeliling, sekaligus menghafalkan rute jalan, sehingga saat kembali nanti dia tidak tersesat. Untung Radit juga menyalakan aplikasi peta digital, sehingga dia bisa berjaga-jaga jika nanti tersesat.


Perjalanan nyaris 20 menit terasa begitu lama untuk Khaira, tetapi begitu singkat bagi Radit.


Di depan gerbang, universitas yang berdiri lebih dari 100 tahun ini, keduanya berpisah. Khaira memperlambat langkah kakinya.


"Ya udah, aku masuk dulu Mas." pamitnya sembari berdiri menatap Radit.


"Iya, yang rajin ya kuliahnya." Radit menjawab sembari satu tangannya mengelus puncak kepala Khaira.


Khaira pun segera masuk ke dalam kampusnya, dan Radit masih berdiam di tempatnya. Kedua netranya memandang hingga punggung Khaira menghilang, setelah itu barulah Radit menuju hotel untuk mengambil kopernya dengan menaiki bus yang kebetulan haltenya berada di depan Manchester of University.


Siang hari menjelang jam sebelas, Radit ternyata sudah berdiri di depan gerbang kampus. Matanya fokus melihat orang-orang yang lalu lalang keluar dan memasuki universitas yang menempati posisi ke delapan sebagai universitas terbaik di Inggris Raya.


Tepat jam 11 siang, tetapi Khaira juga masih belum kelihatan batang hidungnya. Namun, Radit mencoba sabar, ia akan menunggu. Apabila semalam ia bisa menunggu berdiri sekian jam lamanya, kini ia pun tidak keberatan untuk menunggu Khaira lagi.


Perasaan Radit menjadi lebih lega, ketika bola matanya melihat Khaira keluar bersama teman-temannya. Ya, Khaira keluar bersama Tina, Adam, dan juga Mark. Dada Radit terasa bergemuruh ketika dua pria tampan, satu berwajah Indonesia dan satu lagi pria bule berjalan di belakang Khaira. Muncullah pikiran-pikiran yang membuat Radit merasa cemas seketika.


Sadar ada sepasang mata yang memperhatikannya, Khaira berusaha santai. Dia masih saja berjalan sembari berbicara dengan ketiga temannya. Ketika jarak Khaira semakin dekat, Radit melambaikan tangan kepada Khaira.


"Hei, who is that man?" (Siapakah pria itu) tanya Mark penasaran. Sebab baru kali ini terlihat seorang pria berdiri di depan universitas mereka untuk menunggu Khaira.


"Guys, this is Radit. He is my husband." (Teman, dia adalah Radit, suamiku).


"What?" Ketiga teman Khaira pun tak menyangka bahwa Khaira benar-benar telah bersuami. Dan kini, suaminya ada di hadapan mereka.

__ADS_1


Radit tersenyum, hatinya bahagia ternyata sejauh apa pun Khaira pergi, dia tetap mengingatnya sebagai seorang suami. Bahkan saat Khaira pergi melintasi benua yang berbeda, gadis itu tetap tidak menutupi dirinya sebagai seorang istri.


"Hello guys. Aku Radit, suami Khaira." ucapnya memperkenalkan dirinya kepada ketiga teman Khaira.


Adam mendekat kepada Radit, "Jadi benar kamu suaminya Khaira? Aku Adam, WNI juga tetapi aku tinggal di Singapura."


"Ya, aku suaminya Khaira." Jawab Radit penuh kepercayaan diri.


"Ya sudah guys, aku akan pulang. Minggu depan kita ketemu lagi untuk membahas seminar kita. Bye all." Pamit Khaira kepada ketiga temannya.


Usai itu ia kembali berjalan bersama Radit.


"Kenapa repot-repot ke sini sih Mas?" Tanyanya sembari sedikit melirik pada Radit.


"Enggak repot. Menjemput istri sendiri. Kan aku bilang, aku datang untuk menebus kesalahanku. Jadi, karena aku di sini hanya pengangguran, jadi kegiatanku full 24 jam untukmu." Ucapnya santai sembari terus mengikuti Khaira.


"Jadi pengangguran kok dibanggakan." Cibirnya dengan nada cukup lirih. Tetapi, tetap saja Radit bisa mendengarnya.


"Enggak pengangguran juga, aku memang sudah keluar dari Bank tempat aku bekerja, tetapi aku sekarang bantuin Ayah Ammar dan Ayah Wibi ngaudit laporan keuangan perusahaan Ayah kita. Selain itu aku juga memiliki sejumlah saham. Cukup untuk hidup kita berdua selama di sini." Radit menceritakan bahwa sebenarnya dia tidak benar-benar menjadi pengangguran.


Khaira tetap mendengarkan ucapan Radit, tetapi seperti biasa gadis itu hanya berjalan dan enggan melihat suaminya. Keduanya kini berjalan hingga akhirnya telah sampai di apartemen Khaira dan terdapat dua koper yang tentunya milik Radit yang masih berada di dekat sofa.


"Aku gak mungkin menyusulmu kemari tanpa persiapan yang matang, Khai ... Termasuk persiapan finansial sudah aku siapkan matang-matang." ucap Radit.


Setelah itu Radit mengambil sesuatu dari tas ranselnya, ia menyerahkan sebuah buku tabungan dan debit card kepada Khaira. "Ini terimalah."


"Apa ini?" tanya Khaira ketika menerima buku tabungan dan debit card dari Radit.


"Aku menjual rumah hadiah pernikahan kita, Khai. Dan itu hasil penjualannya. Aku tahu rumah itu menjadi kenangan kelam bagimu, dengan izin dari Ayah Wibi dan Bunda Dyah aku menjualnya. Dan itu hasil penjualannya, tetapi tidak bisa kita cairkan sekarang, karena aku memilih mendepositokan selama 2 tahun ke depan. Ketika kuliah kamu selesai, barulah kita membeli rumah yang baru."

__ADS_1


__ADS_2