
Pagi ini, Khaira kembali pulang bersama suaminya setelah semalaman menginap di kediaman mertuanya.
Lantaran hari ini adalah awal minggu, praktis Radit hanya menurunkan Khaira di rumah, kemudian ia kembali melajukan mobilnya menuju ke kantornya.
"Aku lanjut ke kantor ya Sayang ... hati-hati di rumah, jangan capek-capek. Tunggu aku pulang ya, nanti kita sama-sama cek Debay ya." ucap pria itu sembari mengecup kening istrinya dan juga mengecup perut tempat di mana buah hatinya ada di sana. "Papa berangkat kerja dulu ya ... Adek baik-baik di sini. Aku berangkat ya...." Pamit Radit sembari melambaikan tangannya.
Khaira segera menuju lantai dua menuju kamarnya, entah mengapa dia merasa lebih lelah dibandingkan dengan hari sebelumnya. Akhirnya Khaira memilih tidur sebentar, rasanya pinggangnya lebih pegal.
Khaira tidur beberapa jam lamanya, ia terbangun menjelang makan siang. Rasanya kini berteman dengan tempat tidur begitu disukai Khaira di usia kehamilannya yang berjalan 17 hingga 18 minggu ini.
Sementara di kantornya Radit seperti biasanya fokus dengan pekerjaannya. Lebih fokus dengan pekerjaan membuat Radit merasa lebih cepat bekerja. Hingga tidak terasa hari sudah sore.
Segera bergegas, Radit langsung pulang ke rumahnya. Ia ingat bahwa petang ini dia akan mengantar Khaira untuk melakukan cek up rutin kehamilan. Mengantarkan istrinya ke Dokter Kandungan telah menjadi rutinitas bagi Radit di setiap bulannya.
Begitu sampai di rumah, Khaira sudah menunggu di ruang tamu. "Sudah pulang Mas..." sapanya ramah sembari mengekori suaminya.
"Iya sudah, aku mandi dulu sebentar ya Sayang. Abis ini kita langsung ke Dokter ya?" ucap pria itu dengan melesat cepat menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.
Kurang dari 15 menit, Radit telah keluar dengan wajah yang segar dan siap mengantarkan istrinya untuk menemui Dokter Kandungan guna melihat perkembangan janin.
Keduanya bersiap pergi ke Dokter Kandungan dan tidak lupa menjadi Buku Kesehatan Ibu dan Anak untuk mencatat setiap hasil pemeriksaaan.
__ADS_1
Mengantri terlebih dahulu sekian menit, akhirnya kini Khaira dan Radit sudah dipersilakan untuk memasuki ruang pemeriksaaan.
"Halo Bapak dan Ibu, kita bertemu lagi ya.... " sapa Dokter Indri itu dengan ramah.
Khaira dan Radit juga tersenyum ramah menyapa Dokter itu.
"Apakah ada keluhan dalam satu bulan ini?" tanya Dokter Indri kepada Khaira.
"Euhm, tidak ada Dok. Alhamdulillah, sehat." sahut Khaira.
"Baiklah kita lihat kondisi adek bayinya dulu ya Ibu...." Dokter Indri pun mempersilakan Khaira untuk berbaring, membuka sedikit kemeja di bagian perutnya. Lalu USG Gell dioleskan ke atas perut Khaira.
"Selamat memasuki kehamilan 17-18 Weeks ya Bu... Ukuran janin kira-kira sudah seukuran lobak ya Bu. Panjang badan dari kepala hingga kakinya 12 centimeter dan beratnya sekarang 150 gram. Tempurung di kepala bayi ini sudah terbentuk ya Bu. Ini kaki dan tangan kakinya. Fase ini bayi mulai masuk dalam Osifikasi di mana tulang-tulang rawan dalam tubuh janin mulai mengeras. Tapi, bagian dari janin yang paling berkembang pesat di usia 17 minggu kehamilan adalah plasenta. Plasenta janin sudah berkembang pesat dengan ribuan pembuluh darah yang dapat membantu mengoptimalkan fungsinya untuk menyalurkan nutrisi dan oksigen ke janin dan membuat zat sisa janin. Tali pusatnya pun sudah menjadi lebih kuat dan tebal." Penjelasan Dokter Indri sembari menggerakkan USG di tangannya.
Belum menjawab, Khaira terlebih dahulu menatap mata suaminya, mengirimkan sinyal apakah mereka ingin melihat jenis kelamin anak mereka sekarang.
Radit nampak menundukkan kepala dan tersenyum. Maka, Khaira pun langsung mengiyakan tawaran dari Dokter Indri untuk mengetahui jenis kelamin bayi.
"Ya, Dok. Kami mau tau. Penasaran aja sih Debaynya cewek atau cowok." jawab Khaira sembari tersenyum.
Lalu Dokter itu pun mengarahkan USG di perut Khaira. "Halo Adek... Ditengokin Ayah dan Bunda nih. Ayah dan Bunda pengen tahu Adek bayi cewek atau cowok ya." Begitulah Dokter Indri pun turut mengajak janin berbicara sembari menggerak-gerakkan USG di perut Khaira.
__ADS_1
"Ini perutnya ya Bu ... kita agak turun ke bawah ya. Wah, ternyata tidak ada Monas nya Bu. Jadi bayi Ibu dan Bapak ini Perempuan. Selamat ya." Ucap Dokter itu setelah bisa melihat dengan bantuan USG.
Radit dan Khaira pun sama-sama tersenyum. "Debaynya cewek Mas...." ucap Khaira lirih, tetapi ucapan itu pun terdengar oleh sang Dokter.
"Bapak dan Ibu inginnya baby nya cewek atau cowok?" tanya Dokter Indri kepada mereka berdua.
Radit nampak tersenyum. "Cewek atau cowok tidak masalah kok Dok. Kami berdua memang tidak menargetkan, yang penting mendapatkan buah hati." jawaban Radit sangat bijak di telinga Khaira.
Ya di saat banyak orang di luaran sana lebih memilih banyak anak laki-laki seorang Sulung lebih diharapkan, tetapi Radit sejak awal tidak pernah mempermasalahkan jenis kelamin anaknya kelak. Sejak mengetahui Khaira hamil, suaminya itu hanya bersyukur dengan kehamilan istrinya.
"Wah bagus Pak. Benar mau laki-laki atau Perempuan sama saja. Sekarang banyak juga perempuan-perempuan yang hebat dan sukses di luar sana." lagi kata Dokter Indri yang diangguki oleh Khaira dan juga Radit.
"Baik, bulan depan pemeriksaaan rutin ya Bu. Jaga pola makan, pola tidur, emosi juga. Untuk saat ini kenaikan berat badan masih stabil ya, di bulan-bulan ke depan biasanya Ibu hamil akan lebih naik berat badannya seiring dengan bertambahnya berat badan janin. Makan lebih sering dalam porsi kecil ya Bu. Berhubungan suami istri boleh asalkan tidak menekan perut. Masih ada yang ingin ditanyakan?" tanya Dokter Indri sembari menuliskan resep.
Radit dan Khaira sama-sama menggelengkan kepalanya. "Sudah sangat jelas, Dok. Terima kasih banyak ya Dok."
Selesai mengunjungi Dokter Kandungan dan mengetahui janin mereka sangat sehat, Radit nampak begitu bahagia. "Benar tebakanku Sayang, kamu lebih cantik sekarang, pantas saja anak kita cewek. Bumilku cantik." ucap pria itu sembari mengelus perut istrinya.
Khaira mengerucutkan bibirnya. "Itu hanya mitos Mas. Lagipula kalau aku hamil anak cowok, terus aku jadi jelek, kamu akan mengataiku jelek Mas?"
Radit segera menggelengkan kepalanya. "Enggaklah. Kamu tetep paling cantik buatku. Dan, inget nanti bulan-bulan ke depan jarum timbangan mengarah ke kanan. Jangan insecure ya, jangan mikirin gemuk dan sebagainya. Cintaku gak terhalang dengan berat badanmu. Di sini ada anak kita, dan Papanya akan selalu ada dan selalu sayang sama dia..." Radit menjeda sejenak ucapannya, lalu menggenggam tangan Khaira. "dan Mamanya ... Love U Sayang."
__ADS_1
Khaira pun turut menggenggam lebih erat tangan suaminya itu. "Makasih Papa sudah selalu sayang pada kami berdua. Makasih Papa...." ucapnya sembari memberikan senyuman manisnya kepada suaminya.