
Hari sudah malam, tetapi usai acara pengajian empat bulanan membuat Khaira merasa kegerahan, sebelum benar-benar rebahan, wanita hamil itu lebih memilih untuk mandi terlebih dahulu.
Di sisi lain, ketika Khaira tengah mandi. Radit memilih turun ke dapur. Ia membuatkan susu untuk ibu hamil rasa Stroberi kesukaan Khaira. Salah satu cara Radit mendampingi istrinya yang tengah hamil adalah dengan membuatkan susu untuk ibu hamil secara rutin. Pria itu membaca bahwa susu ibu hamil tinggi asam folat yang bagus untuk mencegah cacat lahir pada otak dan saraf bayi.
Kondisi rumah yang sudah hening, hanya dentingan adukan sendok dalam gelas kaca. Kegiatan Radit pun terhenti, ketika Bundanya tiba-tiba datang menghampirinya.
"Baru ngapain Dit?" tanya Bunda Ranti yang baru saja keluar dari kamar dan berniat mengambil air putih untuk Ayah Wibi.
"Eh Bun ... Radit sedang bikin susu buat Khaira, Bun. Susu ibu hamil...." jawabnya terus mengaduk susu berwarna agak merah muda itu.
Bunda Ranti tersenyum melihat anaknya yang sedang serius mengaduk susu untuk istrinya itu. "Bikinnya yang bener, jangan sampai asam folatnya pecah." ucap sang Bunda.
Radit pun mengangguk. "Iya Bunda, Radit sudah baca sebelumnya kok. Air hangat ditaruh terlebih dahulu, barulah susunya dituangnya perlahan-lahan supaya asam folatnya tidak pecah." jawab Radit yang mendapatkan tepukan di bahunya oleh sang Bunda.
"Bagus. Anak Bunda pinter ... sudah siap jadi Ayah ya. Sabar sama Istri, seorang wanita yang hamil itu paling membutuhkan kasih sayang dan kesabaran suaminya. Itu lumrah, karena kami mengalami perubahan hormon, emosi pun berubah, badan juga berubah. Jadi suaminya yang harus mengasihinya sepenuh hati dan sabar." Nasihat dari Bunda Ranti didengarkan oleh Radit dengan baik-baik.
Pria itu pun menganggukkan kepalanya. "Iya Bunda, Radit akan selalu mencintai Khaira, sabar, bertanggung jawab sebagai seorang Suami dan Calon orang tua nanti."
Setelah dirasa bahwa susu ibu hamil yang ia buat sudah larut semua, Radit pun berpamitan kepada Bundanya untuk naik ke kamar. "Ya sudah, Radit naik ke atas ya Bun ... malam Bunda."
Begitu telah sampai di dalam kamar, Khaira rupanya telah selesai mandi. Bumil cantik itu tengah duduk bersandar di head board tempat tidurnya.
"Mas...." sapa Khaira begitu suaminya telah memasuki kamar tidur mereka.
__ADS_1
"Hei, Bumil ... udah mandi, udah seger?" tanya sembari terus berjalan mendekat, pria itu kemudian mengambil tempat di sisi tempat tidur duduk menghadap istrinya.
"Ini aku buatkan susu, diminum dulu. Kan susu kehamilan itu di minum rutin, asam folatnya bagus untuk Debay dan juga buat Mamanya." ucapnya sembari menyerahkan segera susu kehamilan dengan rasa Stroberi itu.
Khaira mengulurkan tangannya, menerima susu itu dengan senang hati. Setiap malam memang suaminya lah yang selalu berinisiatif membuatkannya susu. "Euhm, makasih banyak ya Papa ... aku minum ya."
Pelan-pelan Khaira meminum susu itu, sesekali ia tersenyum kepada suaminya yang masih duduk di depannya.
"Sehat-sehat ya Bumilku Cantik dan Debay." ucap Radit begitu segelas susu itu telah tandas tak bersisa.
"Ah, kenyang deh Mas...." ucap wanita hamil itu sembari mengelus perutnya yang telah membuncit. "Tiap hari minum susu, pasti berat badanku tambah banyak banget."
Radit membawa satu tangan Khaira dalam genggamannya. "Justru berat badannya harus naik Sayang, soalnya di dalam perut kamu kan ada Debaynya juga. Jangan menghiraukan ketika jarum timbangan mengarah ke kanan, jangan insecure, yang penting kamu dan anak kita sehat." ucapnya dengan serius.
Dengan cepat Radit menggelengkan kepalanya. "Aku tidak masalah kok. Aku akan menerima semuanya, Sayang. Aku justru beruntung kamu rela mengalami berbagai fase kehamilan selama 9 bulan. Tidak berhenti di situ, melahirkan dan merawat bayi juga tidak kalah hebatnya. Aku justru harus berterima kasih padamu, Sayang...." ucap Radit dengan tulus.
Khaira tersenyum menatap wajah suaminya. "Semoga beneran ya Mas. Saat badanku semakin melar, bisa saja kakiku pun bengkak, kuharap kamu tetap memandangku dengan cara yang sama, tidak ilfeel karena perubahan yang terjadi pada diriku di bulan-bulan selanjutnya."
Radit segera merengkuh tubuh Khaira, membawanya dalam pelukannya. "Tidak akan! Bagiku yang terutama kamu dan anak kita sehat. Aku gak peduli dengan semuanya itu." ucap Radit dengan sangat serius.
Khaira itu membenamkan wajahnya di dada suaminya. "Makasih Mas buat semuanya."
"Ssssttt... Jangan berterima kasih. Yang aku lakukan tidak seberapa." ucap Radit sembari menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya Khaira.
__ADS_1
Khaira hanya tersenyum, kedua tangannya melingkari pinggang suaminya. "Mas, sebenarnya menjelang bertambahnya usia kehamilan aku takut Mas ... bukan ketakutan karena mengandung. Tidak. Tetapi lebih ke proses bersalin nanti."
Radit tahu setiap wanita hamil tentu akan mengalami ketakutan yang demikian, tetapi saat melahirkan memang ia hanya bisa mendoakan, memberi dukungan, dan menemani istrinya. "Kamu jangan takut ya, ada aku. Nanti kita jalani bersama-sama. Kita masih sama-sama awam, jadi kita belajar sama-sama. Jangan kepikiran ya." ucap Radit yang berusaha menenangkan istrinya.
Khaira menghela nafasnya. "Iya Mas, janji ya Mas akan selalu menemani aku saat aku berjuang melahirkan nanti ya...." ucapnya.
"Iya ... Mas akan selalu menemanimu. Kita berjuang bersama nanti. Ya sudah masih mau ngobrol atau mau tidur?" tanya Radit sembari mengambil posisi di sisi Khaira dengan bersandar di head board.
"Euhm, sebentar ya Mas. Perutku masih kekenyangan abis minum susu tadi." jawabnya seraya mengelus perutnya.
Mengamati perut istrinya yang agak menyembul keluar, Radit kini tidur di atas paha istrinya, dengan wajahnya menatap kepada perut yang semakin terlihat baby bump nya itu.
"Halo Anak Papa ... anak Papa di dalam sini baru ngapain sih? Sehat-sehat ya. Nanti kita bertemu saat usiamu sudah 9 bulan..." ucapnya sembari menyerukkan kepalanya di perut Khaira.
Melihat pemandangan indah di depan mata, Khaira tersenyum, hatinya begitu hangat. Dengan lembut jari jemari Khaira membelai rambut suaminya.
"Menstimulasi janin ya Mas?" tanya Khaira.
Radit tersenyum dengan mengecup sayang istrinya itu. "Iya, biar Adek dengar suaranya Papa. Biar Debaynya tahu, Papa dan Mama sangat menyayanginya..."
"Kamu baik banget Mas, Debaynya pasti bisa ngerasain kalau Papanya sangat menyayanginya. Oh, iya... Besok kita cek up kehamilan lagi ya Mas. Besok sudah 17-18 weeks, seharusnya sudah bisa terlihat jenis kelamin Debaynya." ucap Khaira dengan mata berbinar.
"Iya, besok jam biasa kan? Aku pulang dari kantor kita langsung cek up ya. Wah, semoga besok Debaynya enggak malu-malu, dan udah ketahuan cewek atau cowok ya Sayang." ucap pria itu dengan sorot mata yang juga berbinar bahagia.
__ADS_1