
Beberapa menit berlalu dan Khaira masih berada di dapurnya dentingan air hujan di luar sana seolah seirama dengan dentingan sendoknya saat mengaduk cokelat panas di dalam cangkir keramik. Aroma cokelat seketika menguar dan menggoda indera penciumannya.
Di atas sebuah nampan, Khaira menaruh dua gelas cokelat panas dan kue nastar yang bisa menjadi camilan baginya dan juga suaminya. Mengobrol berdua dengan secangkir cokelat panas dan kue nastar nampaknya bisa menjadi paduan sempurna menikmati malam dalam guyuran hujan.
Kemudian Khaira kembali naik ke kamarnya dengan membawa nampan tersebut. Begitu memasuki kamar, dia melihat Arsyila telah tertidur di dalam tempat tidurnya berukuran kecil yang berada di sebelah tempat tidur mereka. Sementara Radit nampak meredupkan lampu di dalam kamar mereka, mengganti lampu utama menjadi lampu tidur yang lebih redup.
Pelan-pelan, Khaira mengambil tempat di sofa dan meletakkan nampan yang dia bawa di atas nakas. "Arsyila nya sudah bobok Mas?" tanyanya pelan-pelan.
Radit pun berjalan mendekati istrinya itu dan menganggukkan kepala. "Sudah ... tadi kamu keluar, gak lama kemudian dia sudah bobok."
Pria itu mengambil tempat duduk di sebelah istrinya, sementara Khaira segera menyerahkan secangkir cokelat panas kepada suaminya. "Cokelatnya Mas ... awas, masih panas. Tadi aku buatnya pakai air yang mendidih." ucapnya sembari mengulurkan tangannya memberikan secangkir cokelat panas itu kepada suaminya.
"Terima kasih Sayang...." ucapnya sembari menerima cokelat panas itu dengan tangan kanannya.
Keduanya kini sama-sama menyeruput cokelat panas dengan uapnya yang masih mengepul ke udara itu, ditemani dentingan hujan di luar sana nampaknya membuat malam itu terasa kian syahdu rasanya.
"Enak ya Sayang ... masih kurang dari jam 8 malam dan Arsyila sudah bobok. Kita bisa Quality Time seperti ini." ucapnya sembari memainkan jari jemarinya di atas puncak kepala istrinya.
Khaira pun mengangguk setuju. "Iya, karena dari kecil sudah dibiasakan sleep training, Mas ... dan pola hidupnya teratur, jadi Arsyila sudah punya semacam alarm gitu di badannya dia buat aktivitas keseharian."
"Karena kamu biasakan juga sih Sayang ... tapi enak sih, kita bisa pacaran. Bisa ngobrol ini itu, nonton film, ngemil camilan bareng, berdua sama kamu itu lebih baik Sayang." ucapnya sembari mengerlingkan satu matanya.
__ADS_1
"Terkadang kita juga butuh waktu berdua, bahkan butuh waktu sendiri juga Mas ... semoga aja sampai besar nanti Arsyila memiliki pola hidup yang teratur." ucap Khaira sembari kembali meminum cokelat panasnya.
Radit sejenak menaruh cangkir berisi cokelat yang dia pegang dan menaruhnya di atas nakas. Kemudian dia menatap istrinya sembari tersenyum, kini satu tangannya terulur menyentuh sudut bibir atas istrinya. "Kamu ini ... tiap minum cokelat pasti belepotan sih Sayang."
Sementara Khaira hanya menggerak-gerakkan bola matanya dan melihat bagaimana ibu jari suaminya nampak membersihkan sisa cokelat di sudut bibirnya.
Namun kini perlahan Radit justru semakin mendekatkan wajahnya, hingga napasnya mampu menyapu sisi wajah istrinya. "Kalau cuma dibersihkan pakai jari enggak bisa Sayang...." ucapnya dengan suaranya yang terkesan dalam.
Dalam seperkian detik, bibirnya mendarat dengan sempurna di bibir ranum berwarna merah jambu milik istrinya. Pria itu nampak memejamkan matanya dan memberikan ciuman yang begitu lembut, diikuti dengan kecupan yang membuat Khaira turut memejamkan matanya.
Keduanya sama-sama membuai dalam ciuman yang begitu lembut dan hangat hingga terdengar decakan yang dihasilkan keduanya. Decakan yang bersenandung dalam dentingan hujan membuat keduanya larut dalam simfoni. Bahkan kini tangan pria itu berusaha menahan tengkuk istrinya guna memperdalam ciumannya. Bibir dan lidah yang saling menyapa seolah keduanya menemukan sumber mata air yang menyejukkan keduanya. Akan tetapi, Radit melepaskan ciuman itu sejenak guna menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk memenuhi rongga paru-parunya.
"Rasa cokelat...." ucapnya sembari merapikan beberapa juntai rambut yang berada di wajah Khaira.
Memberanikan diri. Khaira memajukan sedikit badan, dia mendaratkan bibirnya di atas bibir suaminya. Wanita itu memejamkan matanya dan menyapa hangatnya bibir suaminya itu. Sekian detik berlalu, giliran pria itu yang membuka sedikit mulutnya dan mencecap manisnya bibir yang begitu manis layaknya cotton candy itu. Bahkan Radit membawa kedua tangan Khaira untuk mengalung di lehernya.
Keduanya lagi-lagi sama-sama membuai dan menyalurkan perasaan cinta keduanya. Ciuman yang tidak akan pernah membuat keduanya bosan. Ciuman yang tidak akan pernah gagal, dan ciuman yang sesungguhnya hanyalah menu pembuka saja.
Secara refleks, tangan wanita itu turun menarik tepian kaus yang dikenakan suaminya. Menariknya ke atas hingga melenyapkan kaus itu begitu saja. Bahkan tangan mungil itu nampak meraba dada suaminya. Akan tetapi, Radit seolah tidak membiarkannya. Dia membawa tangan mungil itu ke depan wajahnya dan mengecupnya perlahan dengan sepenuh hati.
Kecupan di tangan itu pun berganti saat dia membopong istrinya dan membawanya ke atas ranjang yang menjadi tempat peraduan keduanya. Perlahan, tangannya bergerak dan melepaskan piyama yang dikenakan istrinya. Kemudian, pria itu kembali mencium istrinya, kali ini dengan napas yang kian menderu.
__ADS_1
Tangannya bergerilya ke sana ke mari, merasakan lapisan kulit epidermis yang begitu lembut itu. Jari jemarinya itu seakan ingin menyapa setiap inci kulit halus itu.
Sementara Khaira memberi diri dengan sukarela untuk menerima perlakuan cinta dari suaminya itu. Membiarkan dirinya hanyut. Tidak, bahkan dia tenggelam dalam permainan yang begitu syahdu saat itu. Setiap ciuman, setiap sentuhan diterima Khaira dengan sepenuh hati. Membiarkan sang pemilik mahkotanya untuk membuainya.
Saat gerakan tangan suaminya menyapa buah persik yang ranum itu membuat Khaira memekik dan menggigit bibir bagian dalamnya. Hingga keduanya sama-sama menyingkirkan pakaian yang menempel pada tubuh mereka dan membiarkan kepolosan mutlak yang akan menemani mereka beberapa waktu ke depan.
Menyalurkan gelora cinta yang kian membara, pria itu pun segera membuka kedua kaki istrinya dan membenamkan dirinya di dalamnya. Membuat Khaira menahan napas saat keduanya telah sama-sama bersatu. Dalam gerakan seduktif yang begitu lembut dan berirama, pria itu bergerak dengan sorot mata yang seolah mengunci titisan Hawa yang kini berada di bawahnya.
Khaira tahu, saat suaminya bergerak lembut di atasnya, setiap sentuhan dan gerakan yang mereka lakukan bukan hubungan intim belaka. Ada perasaan yang menyertai hingga membuat keduanya sama-sama larut dalam alunan surgawi yang begitu mendamaikan jiwa.
Pria itu mempercepat gerakannya dengan sesekali memejamkan matanya. Merasakan gelora cinta yang semakin kuat dan dalam. Pun demikian dengan Khaira, dia menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada suaminya. Terbuai dalam gerakan seduktif yang membuatnya hanyut dalam gelombang gairah yang semakin lama semakin deras memeluk dirinya.
Dalam gerakan dan geliatan yang berirama, keduanya saling merengkuh. Hingga pria itu semakin dalam menghujam dan menggertakan rahangnya saat satu remasan kenikmatan yang menerpa dirinya di dalam sana. Dalam kehangatan yang melingkupinya.
Hingga kemudian keduanya sama-sama tak mampu lagi bertahan. Membiarkan gelora itu pecah. Keduanya hancur berkeping-keping, layaknya kembang api yang memercik ke udara. Menghasilkan warna-warni di langit. Penuh keindahan dan tentunya sarat akan makna.
"Aku mencintaimu Sayang... I Love You." ucap pria itu sembari menjatuhkan dirinya di atas tubuh istrinya.
"Aku juga mencintaimu Mas Radit... I love you too." balas Khaira sembari memejamkan matanya dan memeluk erat suaminya.
Menstabilkan deru napas keduanya yang seolah masih memburu Radit kemudian sedikit mengangkat tubuhnya sendiri. Dia mendaratkan lagi kecupan di kening istrinya. "Terima kasih Sayang... Everyday I Love You."
__ADS_1
Sementara Khaira tak mampu lagi membalas ucapan cinta dari suaminya, dia hanya kembali merengkuh tubuh pria yang selalu dicintainya itu. Menyalurkan rasa cintanya dengan memeluk suami yang selalu mengisi air tangki cintanya dengan penuh bahkan hingga meluap itu.