Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Pagi-Pagi Pasangan Baru


__ADS_3

Liburan di Paris nyatanya tidak hanya sekadar liburan, tetapi menjadi sebuah kenangan yang tak akan pernah dilupakan oleh Radit mau pun Khaira.


Di kota inilah, keduanya menyatukan jiwa dan raga mereka. Kota romantis ini menjadi saksi perjalanan cinta keduanya. Terlebih bagi Khaira, ia telah mampu menerima suaminya seutuhnya dan sepenuhnya.


Khaira tengah duduk di depan meja rias dengan wajahnya yang cemberut. Pergumulan semalam bersama suaminya, ternyata masih ada session lanjutan ketika mereka sedang mandi tadi. Bukan sekadar menggosok punggung, tapi juga melakukan berbagai aktivitas fisik lainnya. Kegiatan baru bagi pasangan yang baru saja naik kelas ke level selanjutnya.


Radit berdiri di belakang Khaira, pria itu mengambil lilitan handuk kecil yang masih melingkar di rambut Khaira. Setelah itu, Radit mencoba mengeringkan rambut Khaira yang masih basah.


"Kok manyun sih Sayang?" tanyanya dengan tangan yang sibuk mengeringkan rambut Khaira dengan handuk.


"Sakit loh Mas, pegel semua kaki aku. Niatnya jalan-jalan jadi gak bisa deh ini." ucap Khaira sembari memanyunkan bibirnya.


Radit justru terkekeh melihat wajah Khaira yang sedang manyun. "Abis enak sih Sayang, jadi nambah lagi deh. Porsi dobel." ucapnya seraya mengerlingkan matanya. "Ya sudah abis ini, kamu istirahat aja kita nambah 1 hari di Paris ya, besok siang aja lanjut ke Vienna. Kamu pasti kesusahan berjalan kan sekarang."


"Jelas kesusahan berjalan lah, gitu masih bertanya. Retoris banget sih." wajah Khaira semakin cemberut. Akan tetapi cemberutnya Khaira justru membuat Radit gemas.


"Ya sudah, istirahat aja hari ini ya. Aku gak akan nakal lagi. Janji."


Khaira mengamati wajah suaminya yang terlihat serius dari pantulan cermin. "Janji enggak nakal?"


Radit menundukkan kepalanya, lalu mencium kening Khaira. "Iya, janji. Padahal kalau sudah terbiasa nanti enggak sakit lagi loh Sayang. Serius. Aku baca seperti itu kok."


"Modus palingan. Kalau nambah terus, bisa-bisa gagal deh liburannya. Karena gak nyaman jalan kemana-mana." sahut Khaira jutek.


Sesudah rambut Khaira setengah kering, Radit kemudian mengambil sisir. Pria itu sekalian menyisiri rambut Khaira. "Dikasih hair mist sekalian enggak Honey?"


Tangan Khaira pun langsung menunjuk pada botol berwarna orange di meja riasnya. "Botol orange tutup pink itu hair mist Mas."


Radit langsung mengambil botol itu, lalu menyemprotkan hair mist beraroma cherry blossom itu ke rambut Khaira. "Pantes rambut kamu harum, suka aku aromanya." Ucapnya seraya menghirupi aroma Cherry Blossom yang keluar dari rambut Khaira.

__ADS_1


"Kamu selalu memperlakukan wanitamu seperti ini ya Mas?" tanya Khaira sembari keningnya yang nampak berkerut.


Radit yang menyadari jika arah pembicaraan Khaira mengacu pada hal lainnya, pria itu segera memberikannya penjelasannya. "Wanitaku cuma kamu, Honey."


Khaira memincingkan matanya, "Yang dulu?"


"Enggaklah. Enggak pernah." jawab Radit cepat.


"Pernah pun, aku juga gak tahu." sahut Khaira.


"Enggak pernah Khairaku Sayang, kamu yang pertama buatku." wajah Radit kini nampak serius.


"Emang sama yang dulu gak ngapa-ngapain? Kan tinggal serumah? Lagi pula kok kamu keliatan berpengalaman semalam?"


Jari telunjuk Radit mendarat di bibir Khaira, mengisyaratkan supaya istrinya itu diam. "Kami gak pernah melakukannya, kamu yang pertama buatku. Kamu sendiri tahu semalam gimana aku gagal berkali-kali. Kalau seperti itu, tanpa pengalaman pun bisa. Karena kan kita punya insting. Bibirku aku aja yang ternoda, kalau yang lain masih orisinil."


Khaira mengamati sorot mata suaminya, berusaha mencari kebenaran apakah suaminya tidak berbohong kepadanya.


Radit kini benar-benar menunduk, "Tolong percayai aku untuk hal ini, Khaira. Aku benar-benar gak berbohong untuk urusan kali ini. Udah ya, jangan membahas masa lalu yang justru membuat kita bad mood, kan kita kesini liburan, mencari kebahagiaan. Masih mau duduk di sini atau di sana." Radit menunjuk sebuah sofa yang berada di dekat jendela kaca besar dengan pemandangan langit biru kota Paris dengan kemegahan Menara Eiffel nya.


"Ke sana aja Mas." ucap Khaira sembari jarinya menunjuk pada kursi di dekat jendela.


Sebelum Khaira berhasil berdiri, pria itu justru langsung membopong tubuh Khaira dan mendudukkannya di atas sofa.


"Makasih Mas, padahal aku bisa jalan sendiri tadi." ucap Khaira ketika ia tengah berhasil duduk manis di sofa itu.


"Gak apa-apa, kaki kamu pasti masih sakit buat berjalan. Biar aku yang menjadi kaki bagi kamu. Sekarang kamu tunggu di sini ya, Mas turun ke bawah beli Sarapan. Kita makan di kamar aja ya."


"Mas..." Khaira memanggil Radit sebelum pria itu melangkah pergi.

__ADS_1


"Hmm, apa Sayang?" sahutnya cepat seraya menoleh pada Khaira.


"Pakai jaketnya Mas, bagaimana pun ini musim dingin. Nanti bisa flu loh." Khaira mengingatkan Radit untuk mengenakan jaketnya.


"Oh, iya lupa. Makasih Sayang sudah diingatkan. Ada pesanan makanan khusus? Biar Mas carikan."


Khaira nampak berpikir sejenak, lalu ia pun tahu apa yang diinginkannya. "Cokelat panas kalau ada ya Mas."


Radit tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, "Sudah kuduga kalau itu. Oke, tunggu ya. Jangan kemana-mana. Tunggu Mas balik."


Selang 15 menit, Radit kembali datang dengan berbagai kue seperti macaroons dan croissant. Tidak lupa cokelat hangat pesanan istrinya tercinta.


"Silakan Wifey, cokelat hangatnya." Tangannya terulur menyerahkan cokelat hangat kepada Khaira.


"Makasih Mas." jawab Khaira sembari tersenyum menerima cokelat hangat di tangannya.


Radit pun turut duduk di sebelah Khaira dengan satu tangannya meraih pundak Khaira, merangkulnya.


"Gimana enak cokelatnya? Pemandangannya dari sini indah ya. Menara Eiffel jelas banget dari sini." ucap Radit seraya meminum kopinya.


"Mas, tahu enggak. Dulu aku pernah bermimpi bisa mengunjungi Eropa, dan salah satu kota yang pengen banget ku datangi adalah Paris. Hem, dulu aku bermimpi mau ke sini sama orang yang aku sayangi. Sekarang gak nyangka aku bisa sampai di sini dengan suamiku."


Radit menatap wajah Khaira, "Bagus dong, berarti orang yang ada diimpianmu itu kan aku. Setiap kota yang kamu datangi, aku harap aku juga datang bersamamu di kota itu. Kota-kota itu akan menjadi jejak perjalanan cinta kita Sayang."


Khaira menganggukkan kepalanya, "Iya Mas, aku juga. Semua kota yang kutuju, aku berharap bisa bersama denganmu di kota-kota itu." Khaira menjeda ucapannya sejenak. "Mas..." dipanggilnya suaminya itu.


"Aku harap Mas jangan berubah lagi, jangan bermain api lagi ya walau pun aku tahu dia yang lebih dulu bersamamu, tetapi dalam pernikahan ini biarlah hanya ada aku dan kamu ya Mas." ucap Khaira dengan serius.


Radit menatap keseriusan wajah Khaira. "Iya Sayang, maafkan aku. Ya, di pernikahan ini hanya ada aku dan kamu, dan juga nanti buah hati kita ke depannya." Radit menjeda ucapannya. "Sekarang kita punya banyak waktu berdua ya, aku seneng bisa seperti ini. Semoga bisa Sakinah, Mawadah, dan Wa Rohmah till Jannah ya Sayang."

__ADS_1


"Amin...." sahut Khaira sembari menyandarkan kepalanya di bahu Radit.


__ADS_2